Bab 11. Sedih dan Bahagia

1423 Words
Mentari tampak bersinar terang, ketika sepasang indah membuka dengan perlahan. Selang infus terlihat menancap pada lengan yang tergolek lemah. Lima jemari lentik itu sebuah menggenggam erat lengan kekar. Seolah tidak mau terpisahkan. "Mas Ivan," panggil Viona dengan suara yang lemah. "Di saat seperti ini kamu masih saja menyebut namanya Vio," batin Regan yang belum tidur semalaman demi menjaga Viona. Suara detik jam seolah mengantar Viona merengkuh alam sadarnya. Wanita itu melihat Regan yang duduk di sisinya. "Regan, kenapa kita berada di sini?" tanya Viona dengan heran. Tanpa melepas genggaman tangan Viona, Regan menjawab, "Semalam kamu pingsan." "Maafkan aku ya, sudah merepotkan kamu lagi," ucap Viona yang jadi tidak enak hati. "Tidak masalah yang penting kamu sudah siuman," jawab Regan yang tidak merasa direpotkan sama sekali. Viona menatap mata Regan yang sayu dan berseru "Pulanglah, kamu pasti belum tidur!" "Iya, nanti bersamamu," jawab Regan yang tidak akan meninggalkan Viona. Viona kemudian menanyakan kesehatannya, "Aku sakit apa?" "Belum tahu karena kamu pingsan. Sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu!" jawab Regan yang juga ingin tahu Viona sakit apa. "Ayo sarapan, aku suapi!" ajaknya yang segera mengambil semangkuk bubur dan dengan telaten menyuapi Viona. Baru beberapa suap Viona sudah merasa kenyang. Ia kemudian menolak disuapi lagi, "Sudah cukup, terima kasih! Apakah kamu sudah memberitahu Mami?" tanya Viona dengan wajah yang masih pucat. "Balum, tapi kalau kondisimu semakin memburuk dalam beberapa hari ini, aku akan membawamu pulang!" jawab Regan dengan serius. Mendengar itu Viona langsung berkata, "Aku tidak apa-apa, besok sudah sehat lagi kok!" "Kita lihat saja!" jawab Regan sambil tersenyum simpul. Dokter yang akan memeriksa kesehatan Viona pun datang. Regan memutuskan untuk ke luar, sambil menunggu, ia menghubungi sekretarisnya di kantor. "Tunda semua jadwal meeting. Selama beberapa aku ambil cuti!" ujarnya memberitahu. "Tapi Pak, ada beberapa meeting penting yang tidak bisa ditunda," sahut seorang wanita dari seberang sana. Regan memberikan perintah, "Suruh Pak Tio menggantikanku, kalau tidak bisa juga batalkan saja!" Demi Viona Regan rela tidak menghadiri meeting penting dengan beberapa relasi bisnis. Baru saja ia memasukan ponselnya, tiba-tiba kembali berdering. Regan tampak terkejut ketika mengetahui siapa yang menghubunginya. "Halo Regan, coba kamu cari kabar Viona. Mami telepon dari semalam sampai sekarang, nggak aktif ponselnya. Perasaan Mami tiba-tiba jadi tidak enak dan kepikiran dia terus!" ujar Mami Linda terdengar cemas. Regan menyahuti dengan setenang mungkin, "Baik Mi." "Nanti kalau sudah ketemu Viona, suruh telepon Mami!" pesan Mami Linda kemudian. "Oke, sudah dulu ya Mi, aku mau meeting!" jawab Regan mengakhiri percakapan itu karena melihat dokter yang memeriksa Viona sudah ke luar dari ruang rawat inap. Ia segera menghampirinya seraya bertanya. "Viona sakit apa Dok?" "Secara pisik baik-baik saja. Tapi sayang Miss Viona tidak mau berterus terang tentang apa yang dirasakannya. Kalau saya perhatikan, sepertinya dia mempunyai beban mental yang besar. Seolah ada kejadian yang membuatnya terpukul hebat," jawab dokter menjelaskan dan bertanya, "Sebenarnya apa yang telah terjadi?" "Miss Viona baru saja bercerai dari suaminya," jawab Regan memberitahu. "Pantas, pasti dia sangat syok sekali. Sebisa mungkin alihkan perhatian Miss Viona agar tidak memikirkan masalah pribadinya. Buat dia senang dan bahagia!" ujar dokter menyarankan. Regan kemudian menyahuti, "Baik Dok!" Setelah berbicara dengan dokter, ia segera masuk ke kamar rawat inap Viona lagi. "Jangan melamun!" serunya ketika melihat wanita itu sedang termangu. "Aku mau pulang!" ujar Viona yang tidak betah berlama-lama berada di rumah sakit karena tidak mau dokter menanyai masalah pribadinya lagi. "Oke, tapi janji kamu harus nurut sama aku !" sahut Regan sambil mengajukan syarat. Viona tampak mengangguk tanda setuju. "Belum lama Mami telepon dan memintamu menghubunginya!" ujar Regan memberitahu. Viona baru ingat kalau ponselnya sengaja dimatikan. Ia tidak mungkin menelepon balik karena ibunya sangat peka bahkan dari suara sekalipun. "Tolong katakan sama Mami aku sedang bulan madu, jadi tidak bisa diganggu dulu untuk sementara waktu!" pinta Viona yang membuat wajah Regan langsung terlihat tidak suka. "Baik, tapi ini untuk yang terakhir kalinya aku membantumu demi laki-laki itu!" sahut Regan dengan ketus, kalau tidak ingat pesan dokter enggan sekali menuruti permintaan Viona. Viona kemudian berkata, "Iya, aku janji." Regan kemudian mengurus administrasi dan akan merawat Viona di apartemennya. *** Sementara itu Dela sudah mulai sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Ivan. Ia sudah membooking wedding organizer dan melakukan prewedding. Padahal pengadilan agama belum mengeluarkan surat cerai Ivan dan Viona secara hukum. Ivan tidak tahu menahu soal pernikahannya dengan Dela. Ia serahkan semuanya sama calon istrinya itu. Ivan sibuk bekerja sampai mendapat tagihan yang membelalakkan matanya. "Apa satu miliar?" tanya Ivan yang terkejut melihat total biaya pernikahannya. "Itu sudah total semuanya. Mulai dari mahar lamaran, WO, souvenir, sewa ballroom sampai kamar hotel dan paket bukan madu. Pokoknya kita tinggal terima beres," ujar Dela menjelaskan. Ivan tampak menghela nafas panjang. Tapi setelah dipikir-pikir tidak apa-apa karena dulu ia menikah dengan Viona cuma di KUA dan tidak keluar duit banyak. Ivan berharap pernikahannya dengan Dela untuk yang terakhir. Hidup dengan harmonis dan bahagia bersama anak-anak mereka. "Ya sudah, kamu atur saja!" ujar Ivan sambil menyerahkan cek senilai satu miliar. Dela tampak tersenyum bahagia sambil menerima cek itu dan berucap, "Terima kasih Sayang. Oh ya nanti kalau kita sudah menikah tinggal di mana? Aku nggak mau tinggal di rumah bekas mantan istrimu itu!" ujarnya yang secara tidak langsung minta dibelikan rumah baru. "Itu urusanku, kamu atur saja rencana pernikahan kita agar berjalan lancar!" sahut Ivan yang dibalas anggukan oleh Dela. Tanpa sepengetahuan siapa pun, sebenarnya Ivan sudah punya rumah baru. Ia memang sudah mengantisipasi kalau berpisah dengan Viona punya tempat tinggal yang lain. Rumah lama memang khusus untuk mantan istrinya. Sebagai rasa terima kasih sudah menemaninya selama ini. Tentunya kediaman itu lebih besar dan megah daripada rumah yang diberikan untuk Viona. Rencananya nanti Mbak Diah dan Pak Adi akan dipekerjakan di rumah baru itu. "Sayang, kapan aku boleh lihat rumah baru kita?" tanya Dela ingin tahu. Ivan menjawab dengan tegas, "Nanti saja setelah menikah biar suprise!" Dela tidak mungkin memaksakan kehendaknya lagi, nanti yang ada Ivan jadi badmood. Setelah resmi menyandang status duda beberapa hari kemudian, Ivan langsung mengelar pesta pernikahannya dengan Dela. Semua keluarga dari pihak pengantin wanita hadir mengenakan kebaya dan batik yang senada. Sementara dari mempelai pria hanya beberapa orang saja itu pun saudara jauh. Kedua orang tua Ivan sudah tiada dan adik perempuan satu-satunya sedang menuntut ilmu di Kairo, Mesir. Jadi pesta itu dihadiri paling banyak oleh keluarga Dela saja. Dela tampak bahagia sekali bisa bersanding bersama Ivan. Ia juga bangga sudah menyandang status sebagai istri pengusaha. "Hebat sekali Dela, bisa mendapatkan suami yang tampan dan kaya," puji salah satu tamu dengan kagum. "Kalau tidak salah dengar suaminya cinta mati sama Dela," sahut tamu yang lainnya. Tiba-tiba Ivan mendapat kabar, kalau orang suruhannya berhasil melacak keberadaan Viona. "Cari tahu apartemen itu milik siapa!" seru Ivan ingin tahu. *** Setelah ke luar dari rumah sakit, Viona belum ceria seperti biasanya. Kesedihan masih terpancar jelas dari sorot matanya, meskipun sudah tidak lagi menangis. Ternyata mengikhlaskan dan melupakan sesuatu yang tidak bisa kita miliki itu tidak mudah. Viona menatap hamparan gedung-gedung di depannya dengan pikiran yang entah ke mana. Rasanya ia ingin menjadi seperti burung. Bebas terbang melepas segala kegundahan hati. "Aku dengar dari asisten kamu cuma makan sedikit," ujar Regan memastikan. Tanpa berbalik Viona menyahuti, "Berhentilah memperlakukan aku seperti anak kecil, Re!" "Aku tidak akan menganggap mu begitu, kalau kamu tidak seperti ini terus. Lupakan dia Viona dan izinkan aku membalut lukamu!" timpal Regan yang tahu Viona masih memikirkan Ivan. Viona tampak menggeleng dan berbalik seraya berkata, "Jangan, nanti kamu terluka. Aku sayang sama kamu, tapi tidak sanggup menyakitimu. Tetaplah menjadi lelaki terbaik bagiku selamanya!" Mendengar itu Regan menghela napas panjang. Ada kekecewaan yang terpancar dari sorot mata tajamnya. "Kamu sudah menghubungi Mami?" tanya Viona mengalihkan pembicaraan. "Sudah, sampai kapan kamu akan terus berbohong? Cepat atau lamat Mami pasti akan tahu yang sebenarnya," tanya Regan tidak mengerti jalan pikiran Viona yang masih saja menutupi perceraiannya. Viona memberi jawaban tidak pasti, "Sampai aku siap memberitahu Mami yang sebenarnya. Tapi sampai waktu itu tiba tolong jaga rahasia ini!" "Aku akan selalu menuruti keinginanmu. Tapi kamu juga tidak boleh menolak ajakanku. Kita akan jalan-jalan ke Raja Ampat besok!" ujar Regan yang ingin membuat Viona bahagia. Viona tampak mengangguk tanda setuju dengan ajakan Regan. Sepertinya ia butuh refreshing untuk melepas kesedihannya. Tiba-tiba seorang asisten memberitahu ada tamu yang ngotot mau masuk menemui Regan dan Viona. "Bilang kami sedang tidak bisa diganggu, kalau tidak mau pergi juga panggil security untuk mengusirnya!" seru Regan dengan kesal. "Oh, jadi kamu selingkuh dengan Regan, Vio?" tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke apartemen Regan. Viona dan Regan tampak terkejut melihat siapa pemilik suara itu. Sehingga membuat keduanya bergeming di tempat. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD