“Gimana sekolahnya? Lancar?”
Kalimat pertanyaan itu menjadi pembuka percakapan tentang sekolah Yuri saat makan malam bersama kedua orang tua dan adiknya, Wandy yang selisih lima tahun.
Karena Yuri tak ingin berdebat dan berusaha menjadi anak yang baik, ia pun menjawab, “Ya.” Jawabannya singkat dan padat. Sepadat perkedel yang ia santap, terlalu banyak kentang, tak ada potongan daun seledri dan kurang bumbu.
Sepertinya wanita yang dipanggil ‘Mami’ atau bernama lengkap Anna Thomas, tidak puas dengan jawaban Yuri. Ia pun bertanya lagi seperti jurnalis meski tangannya menyuap mulutnya dengan lauk kesukaannya, opor ayam. “Apa cowok di sana ganteng-ganteng?” Pertanyaannya membuat Yuri tersedak.
Dengan cepat Yuri meraih gelas yang sudah berisi air lalu meneguk dan menghabiskannya cepat. Yang membuatnya terheran, Anna melanjutkan ucapannya menggoda Yuri. “Pasti ganteng-ganteng ‘kan?” Entah mengapa menyimpulkan sesuatu yang sangat jelas Yuri tidak ingin menjawabnya.
Namun, Anna akan terus mencecar dengan pertanyaan yang sama dan Yuri terpaksa menjawab, meski sebenarnya malas membahas hal yang berkaitan dengan sekolahnya sekarang. “Siapa bilang?” Yuri terpaksa menyudahi makan malam, menyeka bibir lalu menuang air dari pitcher ke dalam gelas. “Mereka belagu, norak, sok cakep, sok kaya dan …,” Entah kenapa wajah Zacky terlintas di benaknya sekarang. Si manusia arogan dan unfaedah. “Jengkelin.” Ia mengakhiri ucapannya lalu meneguk air lagi.
“Masa?” Anna tidak percaya, sudut alisnya terangkat dan ia tersenyum sinis. “Apa orang itu pemilik jaket kulit yang kamu bawa pulang?”
Eh?!
Oh my God! Yuri terkesiap dan hampir tersedak lagi. “Jangan bilang Mami periksa tas aku. Itu punya teman sekelasku. Aku enggak sengaja numpahin jus dan …,”
“Kamu harus cuci?” tebak Anna lalu tertawa sambil memandang Ben Thomas, suaminya yang sejak tadi hanya menyimak dan menyantap makanan. “Apa dia juga nyuruh kamu jadi asistennya?”
Sekali lagi Yuri terkejut. Ia memastikan yang tahu kejadian itu hanya Yoga. Tidak. Ia baru sadar Zacky mengatakan kearoganannya di depan teman-temanya di kelas. Ia juga mengatakan pada dua cewek yang sempat mengancamnya di tangga. Yuri yakin Anna mendengar kabar itu dari salah satu teman sekolahnya. Tapi siapa? Saat ini ia tidak memiliki kawan selain Yoga. Ya, hanya Yoga.
Sambil tersenyum tipis Yuri mengelak. “Siapa yang bilang? Mami kebanyakan ngerumpi sama tetangga ya? Enggak mungkin aku jadi pesuruh Zacky--” Yuri menutup cepat mulutnya lalu bangkit sambil membawa piring kotor untuk menuju kitchen sink, menghindari percakapan itu akan menjadi bola salju yang ujungnya ingin mengetahui ketidak sukaannya pada sekolah pilihan mereka.
Jarak kitchen sink dengan meja makan memang hanya beberapa meter saja dan samar-samar Yuri mendengar ucapan Anna yang berhasil menarik perhatiannya, tapi kali ini justru ia merasa penasaran.
“Seharusnya mereka ganti cara ya, Pi.” Lalu mereka tertawa, tapi tidak dengan Yuri yang reflek berbalik.
“Cara?” Sebelah tangan Yuri masih dalam keadaan memegang piring kotor. “Maksud Mami cara apa?” pertanyaannya memicu mereka bertiga menoleh pada Yuri yang bersandar di dinding kitchen set.
Kedua alis Anna terangkat, ia setengah tertawa kecil melirik Ben Thomas sebentar lalu menjawab, “Loh kamu enggak tahu ya?” Yang terjadi Anna balik bertanya. “Karena dengan cara itulah, Papi deketin Mami.” Mereka pun tertawa kecil dan saling berpandangan seperti pasangan yang sedang kasmaran.
“Sial.” Yuri mengecilkan suaranya. Ia pun mencuci piring sambil berpikir. Apa Zacky melakukan itu ke semua cewek? Apa dia cuma menjalankan tradisi sekolah yang nyeleneh itu? Atau dia sedang taruhan dengan teman-temannya untuk menjadikanku pesuruh?
Begitu banyak pertanyaan mengambang di atas kepala Yuri hingga ia kembali ke kamar dan terduduk di atas ranjang dengan kedua tangan terjulur ke depan mengembangkan jaket kulit Zacky.
Aroma parfum Zacky yang melekat di jaket itu, memaksa hidungnya mengendus dan mendekat. “Astaga!” Ia melempar jaket itu cepat tapi mendengar suara ‘kresek-kresek’ dari saku dalam jaket itu. Karena penasaran, Yuri meraih jaket itu lagi lalu merogoh saku dalamnya.
“Ini siapa?” Yuri menemukan sebuah foto wanita dewasa sedang tersenyum membelakangi jendela. Wanita itu berambut panjang berwarna coklat, tubuhnya tinggi dan ideal. Ia tersenyum hingga terlihat sebuah lesung di sebelah pipinya.
Cantik. Wanita itu cantik meski terlihat berusia tiga puluh tahunan. Yuri tidak tahu hubungan Zacky dengan wanita itu, tapi yang jelas di belakang foto itu tertulis ‘My Love’.
Sekali lagi Yuri berpikir. Apa dia pacar Zacky? Kakak ceweknya atau…
Lamunan Yuri buyar setelah mendengar suara dering ponsel yang tergeletak di samping kasurnya. Setelah membaca nama kontak yang sedang menghubunginya, kedua matanya memutar cepat sambil mendengus.
Oh Tuhan … kenapa dia masih saja berkeliaran? Apakah seperti ini rasanya jadi pesuruh? Sama sekali tidak punya privasi?
Tak ingin berlama mendengar nada dering spongebob itu menyaring di kamar, Yuri bergegas mengangkat meski dengan nada malas. “Apa?” Menyapanya tanpa kata ‘Hallo’ atau kalimat pembuka yang lain.
Sangat jelas Yuri mendengar suara tawa kecil dari seberang sana.
“Apa kamu enggak bisa menyapa aku lebih manis lagi? Kayak; ‘malam, Kak’ atau ‘malam, Mister?’” tanya si penelepon yang tak lain adalah Zacky.
Yuri berdecak sambil menggeleng. Dengan terpaksa ia mengatakan, “Malam, Mister.” Menuruti ucapan Zacky. “Ada yang bisa aku bantu?” Bersikap seperti seorang resepsionis menerima panggilan dari klien. Menyebalkan!
“Good.” Tawa Zacky semakin jelas dan Yuri yakin Zacky tertawa puas sudah berhasil membuatnya melempem seperti kerupuk terkena air.
Deheman Yuri berhasil menghentikan tawa Zacky. “Ada apa?” To the point menanyakan tujuan Zacky meneleponnya malam ini.
“Jaket.” Zacky pun to the point menjawabnya. “Jangan lupa jaket itu harus kamu cuci.”
Sepertinya Yuri mendadak PMS. Kepalanya menjadi panas, jantung berdebar kencang dan bawaannya ingin marah. Akhirnya ia tidak bisa menahan emosi dan mengatakan ini, “Apa aku jadi bahan taruhan kamu?”
“Taruhan?” Zacky balik bertanya. “Aku jadiin kamu bahan taruhan? Come on…,” Ia pun tertawa lagi. “Kamu bukan satu-satunya cewek cantik di sekolah, Yuri. Tapi cuma kamu yang pantas jadi pesuruh aku. Kamu paham?”
“Enggak,” jawab Yuri cepat.
Hening.
Saat ini Yuri tidak mendengar suara Zacky selain embusan nafasnya yang terdengar jelas karena kecewa. Namun, di detik berikutnya, Zacky berkata, “Buka tirai jendela kamar kamu sekarang.”
Yuri terkejut, permintaan Zacky terdengar aneh. Seketika pikirannya bercabang, ia pun reflek bangkit dan berjalan menuju jendela. Tangannya menyibak cepat tirai jendela dan ia terkejut melihat Zacky berdiri sekitar sepuluh meter dari balik pagar. “Oh Tuhan!” Secepat ia menyibak tirai, secepat itu juga menutupnya lagi. Tangannya masih menggenggam ponsel dan yakin Zacky pasti mendengar jelas ucapannya tadi.
“Apa mau kamu?” Yuri berbalik dan bermaksud menuju ranjang. “Kalau mau mastiin jaket itu, kamu enggak usah khawatir. Aku pasti cuci dan kembaliin ke kamu lusa,” jelasnya yang enggan mendengar alasan dia.
“Buka tirainya lagi.” Zacky kembali memerintah. “Satu …,” Ia memberi aba-aba. “Dua…,”
“Ok, ok.” Yuri berbalik lalu membuka tirai dan melihatnya tersenyum. “Ada apa lagi?” Melihat dia masih melekatkan ponsel di telinga.
“Enggak ada.” Zacky tertawa. “Cuma mau ingatin aja, jam istirahat besok kita ketemu di lantai empat.” Lalu ia melambaikan tangan. “ Sampai ketemu besok, Yuri. Bye…,” Senyumnya semakin mengembang.
“Dasar b******k!” Yuri bergegas menutup panggilan dan tirai itu lagi. “‘Sampai ketemu besok, Yuri’” Ia meniru ucapan Zacky dengan bibir melengkung ke bawah. Yuri terdiam sebentar lalu dahinya berkerut. “Apa dia sudah pergi?" Menyibak sedikit tirai itu dan melihat Zacky berjalan menuju jalan besar.
Yuri kembali ke atas ranjang. Menaruh foto wanita dewasa tadi ke dalam ransel lalu melempar jaket kulit itu ke dalam keranjang sambil menggerutu.
❤️❤️❤️
Setelah menghabiskan semangkuk mie ayam bersama Yoga, Yuri pamit dan membuat alasan ingin menemui seseorang. Yoga sempat menebak orang yang dimaksud adalah Zacky, tapi ia mengelak. Ia tidak ingin melibatkan Yoga lebih jauh pada hubungannya bersama Zacky, karena ia yakin bisa menyelesaikan urusan secepatnya untuk terbebas dari status ‘pesuruh’.
Langkah kaki Yuri terhenti di lantai empat. Siang ini angin berembus cukup kencang, langit sedikit redup dan ia yakin tidak lama lagi hujan akan turun.
Zacky menyambut dan menatap sambil bersandar dengan rokok menyalip di kedua bibirnya. Sambil menelengkan kepala dan menyilangkan kedua tangan di depan d**a, Yuri to the point menanyakan tujuan Zacky. “Ada apa?” Rambutnya berkibar terkena angin dan beberapa helai menutupi wajahnya.
“Sini.” Zacky melambaikan tangan memintanya mendekat.
Dengan langkah malas dan berwajah masam, Yuri berjalan mendekat.
“Lebih dekat.” Zacky menyuruhnya lagi dan terpaksa ia menghentikan langkah yang hanya berjarak dua langkah saja.
Asap putih itu terembus dari lubang hidung Zacky, kedua jarinya menjepit rokok yang sudah memendek lalu melempar ke lantai dan menginjaknya kuat-kuat. “Kamu sudah makan?”
Pertanyaan Zacky terdengar seperti basa basi. Secara tidak langsung sudah membuat Yuri tertawa dalam hati, terdengar lucu. Cowok searogan ia menanyakan keadaan Yuri. Sepertinya hujan benar-benar akan turun deras siang ini.
Merasa di balik pertanyaannya ada maksud terselubung, Yuri pun balik bertanya. “Memangnya kenapa tanyain itu?”
Kaki Zacky melangkah pelan dan memaksa Yuri melangkah mundur. Kedua tangannya berada di bahu Yuri, ia menggeser dan membuat punggung Yuri membentur dinding tembok gedung yang setinggi dadanya lalu menatap geram. “Apa kamu enggak bisa jawab bilang ‘sudah, Mister’ atau ‘belum, Mister?’ Apa susahnya kamu jawab seperti itu?!” Setengah berteriak dan membuatnya terkejut.
Kedua tangan Yuri terkepal, matanya membulat membalas tatapan Zacky dan tidak takut dengan ucapannya yang harus menundukkan wajah. Yuri tidak takut sama sekali dan ia membalas dengan kalimat ini, “Terus apa urusan kamu kalau aku sudah makan dan belum makan? Memangnya kamu mau traktir aku? Atau--”
“Aku enggak mau kamu kelaparan karena habis jam sekolah selesai, kamu harus ikut aku!” sela Zacky cepat.
Lagi-lagi mata Yuri membulat. Ia tidak tahu apa yang Zacky rencanakan sekarang setelah memutuskan sesuatu sesuka hatinya. “Apa?!” Tentu saja terkejut. Zacky sudah memonopoli waktu istirahatnya dan sekarang Zacky ingin memintanya menemaninya lagi. Ia pikir siapa? Suamiku? Pacarku? No, dia bukan siapa-siapaku!
“Dengar ya…,” Yuri mengembangkan jari telunjuk dan berusaha untuk tetap tenang. “...Pertama, thanks kamu sudah perhatian. Aku sudah makan mie ayam dan habis jam sekolah selesai, aku pasti lapar lagi. Kedua, harusnya aku bersosialisasi sama teman-temanku karena ini hari kedua aku sekolah, tapi kamu malah nyuruh kita ketemuan di sini dan cuma kita berdua. Ketiga, apa aku jadi bahan taruhan buat jadi pacar kamu terus buat aku tergila-gila sama kamu? Kalau ya…,” Menatap lekat Zacky sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas. “Aku pastiin kalau aku enggak akan pernah jatuh cinta dan jadi pacar kamu, Mister.”