Pacar.
Walaupun orang banyak mengatakan Yuri cantik, tinggi dan lumayan cerdas, tapi percayalah … ia tidak pernah pacaran meski hanya sebatas cinta monyet. Namun, kata ‘pacar’, Yuri gunakan setiap ada cowok yang menyatakan perasaannya. Ia selalu menolak mereka dengan cara mengaku sudah mempunyai pacar. Setidaknya itulah cara mujarab untuk menolak mereka dan … berhasil.
Namun, setelah mendengar ucapan Yoga yang mengaku-ngaku jadi pacarnya tentu saja membuat Yuri terkejut. Yoga mengatakan itu di depan teman-temannya yang sejak tadi menonton mereka dan tidak ada satu pun berani melibatkan diri selain Yoga karena tahu mereka akan mempunyai masalah dengan Zacky. Cowok paling arogan yang Yuri temui di SMA Bhakti Jaya.
Ucapan Yoga membuat Zacky tertawa, menurutnya terdengar konyol dan tentu saja ia tidak percaya. Dalam keadaan ia masih menggenggam tangan Yuri, tawanya pun memudar. Tatapannya berganti serius dengan tatapan tajam seperti seekor elang membidik mangsanya dari jauh. "Gue enggak peduli, lo jadi cowoknya atau tunangannya. Yang jelas selama di sekolah, dia…," Zacky menunjuk dengan tangan yang lainnya ke arah Yuri. "Milik gue!" sambungnya lagi lalu kembali menarik tangan Yuri kencang dan membuatnya meringis merasakan genggamannya terlalu erat.
Yoga hanya terdiam ketika genggaman tangannya terlepas dan menjadi kepalan saat tatapannya memperlihatkan kebenciannya pada Zacky. Ia terpaksa membiarkan Zacky membawa Yuri karena ini bukan waktu yang tepat untuk melawannya lagi. Ia butuh waktu, setidaknya bukan hari ini.
"Mister." Yuri terpaksa melangkah panjang mengikuti Zacky yang membawa keluar dari kelas menuju sebuah tempat yang tidak ia ketahui. Sepanjang mengikuti langkah Zacky, ia meronta untuk bisa melepaskan diri karena menduga Zacky akan kembali mengancamnya seperti yang ia lakukan sebelumnya. "Lepasin aku!" Yuri setengah berteriak, tapi Zacky tidak menggubris ucapannya dan terus melangkah panjang.
Mereka terus berjalan sepanjang koridor yang kosong. Semua siswa telah memasuki kelasnya masing-masing kecuali mereka.
Yuri bisa mendengar suara guru yang sedang mengajar pada kelas yang mereka lintasi, bahkan ada juga beberapa kelas yang masih terdengar gaduh.
Setelah melewati tujuh kelas, langkah Zacky terhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Ruang Kesenian. Langkah Yuri pun terhenti di sana. “Hei buat apa kita ke sini?” Terheran melihat Zacky membuka pintu setelah memasukkan anak kunci lalu menarik Yuri meski terus meronta. “Lepasin aku!” Sekali lagi Yuri meronta, tapi Zacky bergegas menutup dan menguncinya lagi.
Kedua mata Yuri membulat menatap kesal Zacky. "Apa maksud kamu kurung aku di sini? Aku harus ke kelas. Tolong buka pintu ini, kalau enggak aku akan…,"
"Apa? Teriak?" tebak Zacky lalu menyeringai puas. "Kamu tahu, kalau kamu sudah banyak melakukan kesalahan dan aku minta kamu menebus kesalahan kamu, Yuri." Ia mendesak dan seketika wajahnya serius.
Yuri memutar bola matanya cepat sambil setengah tertawa. "Kesalahan? Apa? Karena aku pergi duluan ke kelas? Atau karena aku sudah punya pacar?!" Ucapannya ketus dan berhasil membuat wajah Zacky semakin memerah.
Tiba-tiba Zacky mendorong kedua bahu Yuri ke belakang dan punggungnya membentur dinding. Yuri meringis dan bersyukur bukan kepalanya yang duluan mendarat di dinding itu. Jika ya, mungkin akan bengkak.
“Banyak.” Zacky mengapit Yuri dengan kedua tangan yang terjulur di samping telinganya. "Kesalahan kamu banyak, Yuri. Kamu sudah melawan aku, mengabaikan ancaman dan peraturan yang sudah aku buat!" Ia menjawab kesal sambil melotot.
Kepala Yuri tertunduk dan tak sanggup melihat tatapan Zacky seperti monster yang siap melahapnya hidup-hidup. "Maaf," Hanya kata itu yang keluar otomatis dari mulut Yuri walau batinnya berteriak.
What? Kenapa aku minta maaf ke dia? Aduh ... kenapa aku jadi begini sih?! Batinnya bertolak belakang dengan ucapannya. Lucu. Yuri terlihat tidak punya tenaga untuk berontak.
Zacky melepaskan apitannya lalu berkata, "Oke, kali ini aku maafin kamu, tapi janji, lusa kamu bawa jaket aku dan hari minggu tunggu aku di toko buku Reading Me jam sepuluh pagi. Kalau kamu enggak datang…," Ia kembali mendekati Yuri lalu berbisik. "Tamat riwayatmu, Yuri." mengancamnya sambil menyeringai.
Yuri tak menjawab, hanya mengangguk pasrah. Bukan berarti ia kalah, hanya tidak ingin mendebatkan hal yang menurutnya tidak penting. Ia akan memikirkan strategi untuk menghindar dari ajakan Zacky, tapi tidak sekarang.
Tak lama kemudian, Zacky melangkah menuju pintu lalu membukanya setengah. "Keluarlah. Enggak usah kamu cerita ke siapa pun. Apalagi ke Yoga. Kamu paham?" Sekali lagi ia menunjukkan kearoganannya.
Untuk kesekian kalinya Yuri menjawab, "Baik, Mister." Menjawabnya tidak bersemangat sambil beranjak meninggalkan Zacky di ruangan itu sendiri lalu menggerutu.
Damn!
❤❤❤
"Apa dia mengancam kamu lagi?"
Pertanyaan itu terluncur dari mulut Yoga dengan wajah penasaran ketika Yuri baru saja tiba di kelas lalu duduk.
"Enggak." Yuri menggeleng dan tersenyum kecut, menutupi fakta yang baru saja terjadi antara dirinya bersama Zacky. "Dia cuma mastiin, apa kita benar pacaran atau settingan." Ia terpaksa berbohong.
"Terus kamu jawab apa?" tanya Yoga lagi. Entah kenapa ia menjadi sangat peduli. Apa karena mereka mempunyai musuh yang sama?
Yuri pun kembali melanjutkan kebohongannya. "Aku bilang kita memang pacaran," jawabnya dan pembicaraan mereka terputus setelah guru matematika itu kembali masuk ke dalam kelas.
Mereka pun memulai hari pertama dengan mata pelajaran yang menjengkelkan. Pelajaran yang sama sekali tidak Yuri sukai tapi anehnya materi yang Sugiarti berikan bisa Yuri pahami dengan baik. Aneh, bukan?
Yuri memang tidak menyukai matematika, tapi entah mengapa pelajaran itu paling mudah dan cepat untuk ia pahami dibandingkan pelajaran bahasa Inggris. Lebih anehnya lagi, ia selalu mendapat nilai bagus dari pelajaran itu.
Apa ini pertanda Yuri manusia cerdas seperti Albert Einstein? Jika benar, ia pasti menemukan cara untuk menghindari Zacky. Manusia paling arogan di dunia.
Waktu pun terus berjalan dan tak terasa jam istirahat pun tiba. Semua siswa bangkit dan bergegas keluar kelas.
"Ayo," Yoga menarik tangan Yuri, memaksanya bangkit dari kursi. "Kemana?" Yuri melangkah panjang mengikuti Yoga keluar kelas.
Sekali lagi Yuri menjadi perhatian para siswa. Tentu saja menjadi bahan gibahan mereka, terutama rombongan para cewek yang memandangnya penuh iri semenjak kedatangannya pertama kali tiba di kelas.
Yoga menoleh ke belakang. "Kantin. Kamu bawa bekal?" Ia menghentikan langkahnya dan menanti jawaban Yuri.
"Enggak.” Yuri menggeleng lalu kembali melangkah. "Apa kamu bisa lepasin tangan aku? Kok aku ngerasa mereka liatin kita ya?" pintanya yang merasa tak nyaman dan masih menjadi pusat perhatian dari murid kelas lain.
Karena tak setuju, Yoga menolak dan terus menggenggam Yuri menuju kantin. "Kita harus kayak ini, Yuri. Biar orang yakin kalau kita pacaran dan Zacky enggak ganggu kamu lagi," jelasnya dan melepas genggamannya ketika mereka sudah sampai di kantin lalu duduk saling berpandangan. "Kamu mau pesan apa?" Kembali bangkit, menunggu jawaban Yuri.
Sebelum menjawab, Yuri membaca tulisan menu yang lengkap dengan harganya yang menempel di dinding. "Nasi soto aja sama air mineral," jawabnya yang tak lama Yoga mengiyakan dan berjalan mendekati penjual yang berada di depan beberapa meter dari mereka
Pandangan Yuri menyapu seluruh isi kantin yang lumayan besar dengan beberapa baris penjual yang menawarkan menu yang berbeda. Hampir semua siswa menghabiskan setengah jam istirahat mereka di sana. Selain harganya terjangkau, rasanya sepertinya lezat, itu pun setelah Yuri menjangkau aneka aroma makanan di sekitarnya.
Di saat pandangan Yuri mencoba beradaptasi, tiba-tiba menangkap sebuah pemandangan yang merusak penglihatannya. Pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat. Tak jauh dari tempat duduknya, ia melihat jelas Zacky dikelilingi siswi seangkatannya dan mereka asik berwefie ria sambil tersenyum lebar.
Ya, Zacky tersenyum dan terlihat ramah pada mereka.
Ups!
Mereka bertemu pandang dan Zacky menatapnya serius dari jauh. Dengan cepat Yuri membuang wajah dan bernafas lega melihat Yoga datang dan kembali duduk, menghalangi pandangannya bersama Zacky.
"Kamu lulusan SMP mana?" Yoga memulai pembicaraan lagi sementara pandangan Yuri terbagi dua.
"SMP 10. Kamu?" Yuri melirik sebentar ke arah Zacky yang masih sibuk wefie.
"Filipina." Jawaban Yoga membuat Yuri terkejut.
Kedua mata Yuri membulat tak percaya. "Apa? Filipina? Jauh banget." Bukan ia tidak percaya, hanya saja terheran melihat Yoga terdampar di sekolah aneh ini, begitu juga dengan dirinya.
Kepala Yoga terangguk pelan. "Ya. Nenekku Pinay dan tinggal di sana," jawabnya lagi lalu tak lama seorang pria dewasa membawa pesanan mereka. “Makasih, Kang.” Senyum Yoga mengembang lalu melirik Yuri. “Kamu coba soto ini, rasanya enak. Selama MOS kemarin, cuma ini yang aku makan.”
“Benaran?”
“Iya.”
Selama makan, mereka selingi dengan obrolan ringan dan juga tawa. Yoga menceritakan pengalamannya selama tinggal di Filipina begitu juga dengan kisah percintaan monyetnya yang berakhir karena dikhianati cewek anak orang kaya. Namun, sama seperti sebelumnya, pandangan Yuri terbagi dua. Ia dan Zacky mencuri pandang dan membuang wajah saat beradu pandang.
Setelah menghabiskan seporsi soto, mereka pun beranjak dari kantin dan berpencar. Yoga menemui temannya di lantai dua, sementara Yuri memilih duduk di taman yang letaknya tak jauh dari kantin sambil mendengarkan musik dari ponsel melalui earphone.
"Hai, Cewek?"
Yuri terkejut melihat Zacky mengambil posisi duduk di samping dan ia juga meraih sebelah kabel earphone lalu melekatkan di telinganya. Namun, beberapa detik kemudian Yuri menekan layar ponsel dan tak lama suara musik itu menghilang.
Dahi Zacky berkerut lalu menoleh. "Kok suaranya hilang?” Melihat Yuri merebut kembali earphone dari sebelah telinganya dengan wajah masam.
“Baterainya lowbat.” Itulah alasan Yuri sambil menaruh ponselnya ke dalam saku jas.
Meski ucapan Yuri ketus, Zacky bergegas merangkulnya mesra. Lagi-lagi pemandangan mereka menjadi pusat perhatian siswa lain. Seperti sebelumnya.
Ini hari terburukku sepanjang masa.
Untuk kesekian kalinya, Yuri menggerutu dan menahan diri. “Lepasin.” Ia menggoyangkan bahunya agar terlepas dari rangkulan Zacky lalu menatapnya sinis. "Apa kamu harus merangkul aku dan kasih tahu mereka kalau aku pesuruh kamu yang baru?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Yuri, ia bahkan tidak menundukkan wajahnya seperti perintah Zacky. Namun, rangkulan Zacky semakin erat.
“Enggak juga sih. Cuma kasih tahu mereka kalau kamu milik aku.” Bibir Zacky melengkung ke atas, tidak merenggangkan rangkulannya lalu mengangkat sebelah tangan ke arah temannya yang akan melintas. "Kemana lo? Sini dulu, gue kenalin cewek gue yang baru!" Setengah berteriak dan tersenyum bangga.
Ucapan Zacky membuat Yuri terkejut mendengar kata ‘cewek gue’ dan reflek menolak. "Apaan sih?" Tangannya menepis dan berhasil. Yuri bergegas bangkit tapi Zacky menarik tangannya dan membuatnya terduduk lagi.
Teman Zacky yang bertubuh pendek dan berkepala plontos itu mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas. "Anak kelas 1 ya? Siapa namanya? Boleh juga nih," Dia menghampiri dan berdiri di depan mereka.
Dengan percaya diri, Zacky menjawab, "Iyalah, siapa dulu … cewek gue.” Melanjutkan ucapannya dengan tawa lalu melihat raut wajah Yuri yang kesal. Semakin membuat Yuri kesal, semakin lebar senyumnya.
Tak ingin menjadi bahan bulan-bulanan Zacky lagi, Yuri kembali bangkit lalu berlari kecil dari mereka menuju kelas dan mendengar Zacky berteriak memanggil namanya.
"Yuri! Yuri!" Teriakan Zacky memicu para siswa lain yang berada di taman, menoleh ke arahnya. Ia mengumpat kesal melihat Yuri terus berlari menuju kelas.
Kaki Yuri terus berlari meski menggerutu. “Dasar Zacky sialan! Enak aja dia ngaku-ngaku jadi pacarku! Dasar b******k!”
Baru saja tiba di koridor, tiba-tiba langkah Yuri terhenti saat akan menuju kelas. Seseorang menarik cepat bajunya dari belakang lalu menyeretnya. Ia berpikir orang itu Zacky, ternyata salah.
"Sini, lo. Ikut gue!" Seorang cewek memaksa Yuri berbalik dengan dahi berkerut dan terheran.
Yuri memastikan dua cewek itu bukan siswi kelas satu. Ia sama sekali tidak mengenal mereka. "Apaan sih? Kalian siapa?" Bertanya baik-baik pada mereka, tapi mereka meneruskan sikap kasarnya pada Yuri. Salah satu cewek itu menarik tangan kasar Yuri dan memaksanya melangkah menaiki tangga. Beberapa siswa hanya bisa menonton mereka tanpa sama sekali membantu Yuri.
"Lepasin gue!" Yuri meronta, tapi mereka menghentikan langkahnya lalu salah satu dari mereka mendorong punggungnya ke dinding. "Apa-apaan ini? Kalian mau ngebully gue?!" Ia mengeraskan suaranya, berharap siswa lain mendengar.
Tentu saja mereka mendengar, untuk menuju lantai dua hanya perlu menaiki beberapa langkah lagi. Namun, sepertinya mereka tidak berminat untuk menolong, yang terjadi mereka mengintip sebentar lalu pergi seakan sudah terbiasa melihat pemandangan senior membully juniornya.
Dua cewek itu mengapit Yuri. Salah satu cewek itu menunjuk wajahnya sedangkan sebelah tangannya lagi mencengkram lengannya. "Jawab jujur, lo siapanya Zacky?" tanya cewek yang lumayan cantik dengan rambut panjang sebahu dan bertubuh sedikit rendah darinya. Kedua bulu mata cewek itu diolesi maskara begitu juga lip balm berwarna nude menutupi bibir tipisnya. Sementara temannya berpenampilan ‘biasa’ saja tapi sedikit gemuk, mencengkeram lengan Yuri di sisi berlawanan.
Sambil mengangkat dagu, Yuri menjawab. "Gue cuma adek kelasnya aja. Enggak ada hubungan spesial sama dia! Kalau kalian mau bully orang, kalian salah alamat!" balasnya kasar, tapi mereka tidak percaya.
Cewek cantik itu tak mau kalah. "Eh dengar ya, Zacky itu cowok gue! Sebaiknya lo jangan dekat-dekat dia. Kalau enggak--"
"Kalau enggak apa?" celetuk cowok yang berjalan mendekati mereka dan seketika membuat cewek itu terdiam, sedangkan temannya melepaskan cengkramannya dan menjauh.
“Oh, Tuhan.” Yuri memutar bola matanya menyambut kedatangan Zacky.
Hello … sepertinya ada yang menjadi superhero sekarang.
Cewek cantik itu, menatap sinis Zacky. “Bukannya aku pacar kamu? Kenapa kamu dekatin dia?” Ia membuat alasan dan meminta penjelasan.
Pacar? Boom!
Yuri terkejut sekaligus tertawa dalam hati. Ternyata seleranya seperti itu. Membuatnya setengah tertawa dan menggeleng. Cantik tapi menor.
“Pacar?” Dahi Zacky berkerut. “Ondel-ondel macam lo, pacar gue?” Jarinya menunjuk tepat di depan wajah cewek itu. “Jangan mentang-mentang gue sudah bantuin lo, tapi seenaknya lo ngaku-ngaku pacar gue. Lo bukan siapa-siapa gue.”
“Tapi, Zack. Kamu--”
“Enggak ada tapi-tapian.” Zacky memotong ucapan cewek itu dengan kedua mata membulat. “Di antara kita enggak ada hubungan spesial dan dia…,” Kali ini jari Zacky beralih ke wajah Yuri. “Milik gue. Yuri milik gue dan enggak ada seorang pun yang bisa ganggu dia. Kalau ada, orang itu harus berhadapan dengan gue dan gue buat hidupnya enggak tenang, termasuk kalian!” ancamnya lugas, seperti yang sudah ia lakukan terhadap Yuri di lantai empat. “Kalian paham?” Melihat mereka bergantian.
"Paham, Zack." Mereka menyahut malas, membuat Zacky geram.
"Mister! Mulai hari ini kalian panggil gue Mister! " Zacky menegaskan ucapannya sementara Yuri menyeringai melihat mereka seperti anak kucing yang ketakutan.
Cewek cantik itu sempat melirik Yuri. "Baik, Mister!" Mereka pun terpaksa menjawab lugas meski Yuri bisa melihat tatapan kesal mereka.
Untuk terakhir kalinya Zacky bicara pada mereka. "Sekarang kalian pergi dari sini!" Menunjuk ke lantai dua. "Cepat pergi!"
"Ok. Ok." Mereka bergegas menaiki tangga meninggalkan mereka berdua walau Yuri mendengar jelas gumaman kekesalan mereka yang tidak terima.
Yuri setengah tertawa, tapi Zacky mengapit tubuhnya di dinding dan menatapnya tajam. Yang Yuri bisa hanya menghela nafas berusaha sabar. "Apa lagi, Mister?" Sebaik mungkin ia bertanya dengan nada lembut, tapi tidak menundukkan wajahnya.
"Mulai sekarang kamu temanin aku di jam istirahat. Ini perintah dan kamu enggak bisa nolak lagi." Lagi-lagi Zacky memerintah Yuri dengan gayanya yang sewenang-wenang, seakan menganggapnya boneka. Saat ini Yuri berpikir lebih baik menjadi boneka Annabelle yang bisa menakuti Zacky dari pada Teddy Bear yang hanya bisa manggut-manggut saja.
"Apa aku enggak punya privasi? Setiap hari ketemu kamu, terus hari Minggu ketemu kamu juga?" Yuri bertanya sekaligus menolak dengan bahasa halus. Itupun jika Zacky mengerti.
Sayangnya Zacky menggeleng. "Enggak! Kamu milik aku, sekalipun kamu pacaran sama Yoga. Selamanya kamu milik aku, Yuri!"