Dua hari kemudian, Audrey sudah pulih dan dibawa pulang oleh suami dan kedua mertuanya.
"Papa!" Panggilan seorang gadis remaja berusia sekitar 16 tahun membuat Audrey dan semuanya melihat ke arah dalam rumah.
"Papa!" panggil gadis itu lagi sambil menyambar tubuh Satria.
Satria tersenyum bahagia dan memeluk erat gadis remaja yang sangat cantik dan imut itu.
"Kapan pulangnya?" tanya Abian pada yang mengenakan hoodie boneka berwarna merah muda tersebut.
"Tadi sekitar jam tujuh pagi, Kak!" jawab sang gadis seraya melepaskan pelukannya dari sang Papa.
"Kamu pulang sendirian?" tanya Diandra pada gadis itu yang tak lain adalah putri bungsunya.
"Enggak! Bibi Niru tadi menjemput Faya di bandara tadi, Bun!" jawab Faya sambil tersenyum.
"Di mana Niru sekarang?" tanya Satria pada putrinya.
"Adik papa itu sudah pulang ke rumahnya, soalnya ada tamu dirumahnya!" jawab Faya sambil tersenyum manis.
"Kamu makin tinggi sekarang ya, Faya. Terakhir ketemu kamu masih bocah!" ucap Audrey sambil tersenyum.
"Ini Mbak Audrey yang sekarang sudah menjadi kakak iparku? Kalian menikah beberapa Minggu yang lalu kan?" tanya Faya pada Audrey.
"Iya, Dek!" jawab Audrey.
"Mbak Audrey kok sudah hamil? Dan sepertinya usia kehamilannya sudah lama ya?" tanya Faya pada Audrey.
Faya belum mengerti bahwa Audrey dinikahi oleh kakaknya dengan status janda.
"Kamu sudah ikut Oma ke Korea selama tiga bulan ini tetapi masih saja sama ya! Cerewet, banyak sekali pertanyaan!" ucap Abian.
"Hey, Faya berhak bertanya loh!" kesal Faya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Satu tahun yang lalu dan diusia Mbak yang ke 19 tahun, Mbak sudah menikah!" jawab Audrey.
"Oh, jadi kakakku menikahi janda hamil?" tanya Faya.
"Sudahlah, lupakan hal itu! Jangan banyak tanya! Istri kakak baru pulang dari rumah sakit dan dia harus istirahat!" ucap Abian yang kemudian membawa istrinya ke dalam rumah agar bisa istirahat.
"Papa, Faya mau jalan-jalan sama papa!"
"Mama, Faya pengen makan sup ayam buatan mama!"
"Faya juga pengen ajak Kak Bie nonton di bioskop!"
Faya terus mengoceh, ia terus meminta banyak hal pada kedua orang tuanya. Faya adalah tipe anak yang cerewet, keras kepala dan manja, sangat berbanding terbalik dengan kakak sulungnya yang mandiri.
"Iya sayang! Apapun kemauanmu akan Mama penuhi!" jawab Diandra sambil tersenyum.
"Iya, nanti jalan-jalan ya!" ucap Satria sambil tersenyum.
Kedua orang tua Faya tidak merasa kesal dengan sifat manja dan cerewet anaknya sebab mereka sudah mengenal sang anak dari kecil. Dan mereka selalu menuruti semua kemauan Faya yang merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga Satria.
Malam harinya, Abian baru selesai menunaikan ibadah sholat isya bersama dengan istrinya.
Ketika sedang bersalaman, mereka dikagetkan dengan suara pintu kamar yang sepertinya digedor-gedor oleh seseorang dari luar sana.
"Siapa itu, Bie?" tanya Audrey pada Abian.
"Pasti Faya, dia memang begitu!" jawab Abian yang kemudian bergegas pergi ke arah pintu.
"Enggak sopan gedor-gedor pintu, Faya!" marah Abian setelah membuka pintu kamarnya.
"Faya hanya ingin membangunkan kakak!" jawab Faya sambil tersenyum.
"Kamu ini nakal sekali, memangnya kamu nggak sholat isya?" tanya Abian pada adiknya.
"Enggak! Dari kemarin Faya nggak sholat lima waktu!" jawab Faya dengan santai.
"Kenapa?" tanya Abian pada adiknya.
"Faya lagi datang bulan!" jawab Faya sambil tersenyum.
Abian spontan menatap ke arah kalender besar yang ada di dinding untuk mengecek hari ini tanggal berapa.
"Oh, sudah tanggal 22 ya? Baiklah!" jawab Abian seraya menatap wajah adiknya.
Abian memang tahu waktu datang bulan adiknya sebab selama ini ia selalu menunaikan ibadah sholat lima waktu di ruang musholla rumahnya dan sudah pasti semua keluarga akan tahu kapan Faya dan Diandra absen.
"Sekarang mau apa?" tanya Abian pada adiknya.
"Ayo nonton sama Faya! Ada film action terbaru loh di bioskop, ayo nonton!" ajak Faya pada kakaknya.
"Enggak bisa! Istri kakak baru pulang dari rumah sakit dan nggak mungkin kakak meninggalkannya!" tolak Abian dengan tegas.
Pria mana yang tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil sendirian di rumah, terlebih sang istri baru saja pulang dari rumah sakit dan belum benar-benar pulih.
"Pokoknya Faya nggak mau tahu! Faya pengen nonton!" rengek Faya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kakak nggak bisa Faya!" tolak Abian.
"Lalu? Faya pergi sendirian? Kalau Faya di ganggu orang gimana? Kalau Faya dijambret atau apa?" ucap Faya sambil terus mengerucutkan bibirnya.
"Besok saja ya? Sekarang sudah malam, Dek!" bujuk Abian pada adiknya yang merengek minta nobar.
"Papa! Mama! Kakak nggak mau nonton!" Faya berteriak mengadu pada kedua orangtuanya.
"Eh, jangan teriak-teriak! Kasihan Papa dan Mama, mereka pasti mau tidur!" ucap Abian sambil membekap mulut adiknya.
"Ada apa ini?" tanya Diandra yang datang menghampiri anak-anaknya bersama dengan Satria sang suami.
Melihat kedatangan kedua orangtuanya, Abian pun segera melepaskan bekapannya.
"Kakak nggak mau nonton sama Faya!" adu Faya sambil mengerucutkan bibirnya lagi.
"Bie, sebaiknya kamu ikuti saja kemauannya, papa nggak bisa soalnya papa harus istirahat, besok 'kan ada tugas penting!" ucap Satria.
"Besok sajalah nontonnya!" tolak Abian.
"Mama?" rengek Faya sambil mendekati mamanya.
"Bie, cobalah mengalah dengan adikmu! Ikuti saja kemauannya!" pinta Diandra pada putra sulungnya.
"Biarkan dia pergi dengan temannya!" tolak Abian seraya hendak masuk.
"Teman-teman Faya pada sibuk semua, Kak. Sudahlah jika nggak mau, biar Faya pergi sendirian aja!" ucap Faya yang merasa marah pada kakaknya yang tidak memenuhi permintaannya.
Tanpa pikir panjang, Faya kemudian pergi dari hadapan keluarganya.
"Bie, ikutlah dengannya!" titah Satria pada putranya.
"Oh ... baiklah!" ucap Abian yang kemudian segera menyusul sang adik.
Abian terpaksa harus mengikuti kemauan adiknya karena tidak mungkin Abian tega membiarkan adik gadisnya pergi sendirian di malam hari.
"Melihat kasih sayang kakak, papa, mama yang didapatkan oleh Faya membuatku iri!" batin Audrey.
Audrey merasa iri pada Faya yang disayangi dan dicintai oleh keluarga kandungannya serta Audrey merasa iri pada Faya yang dilindungi oleh semua keluarganya. Sedangkan dirinya sangat miris, ia tidak disayangi oleh keluarga kandungnya sendiri, bahkan di saat ia membutuhkan pertolongan tak ada satu orangpun dari keluarga yang mau menolongnya.
Pernyataan sang ayah yang lebih sayang pada harta dan kekayaan dibandingkan dirinya masih teringat dalam benak Audrey serta intimidasi yang dilakukan oleh Nicho terhadapnya juga masih teringat jelas.
"Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari keluarganya!" batin Audrey lagi.
Di depan pintu kamar saat ini masih berdiri Satria dan Diandra dan tak lama kemudian pasangan suami-istri itu berpisah. Satria pergi menuju kamarnya sementara Diandra masuk ke dalam kamar Audrey dan menemui Audrey yang sedang melipat mukenanya.
"Drey, mama akan di sini sampai Abian pulang!" ucap Diandra sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan Papa? Apa dia nggak akan mencari Mama?" tanya Audrey pada Diandra yang saat ini sudah duduk di atas kasurnya.
"Mas Satria nggak akan marah sebab dia sendiri yang menyuruh mama untuk menemanimu di sini!" jawab Diandra sambil tersenyum.
Pukul 22.30 Wib, Abian pulang bersama dengan adiknya, namun sang adik ternyata sudah ketiduran di mobil sehingga ia terpaksa menggendongnya.
"Kamu masih juga belum berubah, dasar anak manja!" ucap Abian sambil tertawa kecil.
Tak beberapa lama kemudian, Abian sudah tiba di kamar Faya, ia kemudian segera menaruh Faya ke atas kasur serta menyelimuti tubuh adiknya dengan selimut berwana merah muda dengan corak bunga tersebut.
***
Setelah selesai mengurus adiknya, Abian pun pergi menuju kamarnya.
Ketika tiba di kamar, pria itu melihat bahwa istrinya belum tidur dan istrinya itu tidak sendirian melainkan sedang bersama mamanya.
"Mama ada di sini?" tanya Abian pada sang mama yang duduk di samping Audrey, kedua wanita beda usia itu sedang membaca buku sejak tadi.
"Iya, Papa menyuruh mama di sini sampai kamu datang!" jawab Diandra. "Baiklah, karena kamu sudah datang, maka mama akan langsung ke kamar mama saja!" lanjut Diandra.
"Baiklah, Ma!" jawab Abian.
Diandra pun beranjak dari duduknya dan segera pergi dari sana sambil membawa buku cerpen horor miliknya.
Diandra memang suka membaca buku sejak kecil ia rajin literasi, namun di usia tua ini dia harus membatasi waktu membaca bukunya sebab kesehatan matanya sudah mulai berkurang.
Setelah sang mama keluar, Abian segera pergi ke arah meja rias untuk menaruh jam tangannya.
"Tadi aku melihatmu membawa Faya ke kamarnya?" ucap Audrey.
"Dari mana kamu tahu? Bukankah kamu ada sama mama di dalam kamar membaca buku sejak tadi?" tanya Abian pada Audrey.
"Ya, tadi sebenarnya aku habis dari luar untuk mengambil air putih dan pada saat itulah aku melihatmu mengendong Faya, tapi aku buru-buru kembali sebab tadi kepalaku tiba-tiba pusing!" jawab Audrey.
"Oh, gitu ya!" ucap Abian.
"Iya, jadi tadi dia ketiduran di mobil dan aku nggak tega membangunkannya!" lanjut Abian yang menjelaskan semuanya pada Audrey.
"Oh, begitu. Baiklah!" jawab Audrey seraya memasang tatapan sendunya.
"Apa kamu merasa nggak nyaman dengan hubunganku dan adikku?" tanya Abian pada Audrey. "A—apa kamu cemburu?" lanjut Abian.
"Bie, aku nggak mencintaimu, aku hanya mencintai Kak Felix. Lalu mengapa aku cemburu? Jadi, aku itu begini karena aku ingat pada Kak Nicho. Kamu sangat menyayangi Faya, sedangkan Kak Nicho sangat berbanding terbalik denganmu!" jawab Audrey. "Kamu terpaksa pergi untuk melindungi adikmu dari kejahatan di luar sana dan kamu mengendong adikmu seperti bayi karena nggak tega membangunkannya. Tapi Kak Nicho nggak pernah melindungi dan menyayangiku, jangankan mengendong, aku telat pulang saja dia nggak mau cari aku dan dia nggak cemas sedikitpun!" lanjut Audrey seraya menatap suaminya yang baru naik ke atas kasur dengan tatapan sendu.
Keesokkan harinya, Faya hendak pergi ke sekolah dengan di antar oleh Satria dan Abian.
"Faya benar-benar sangat beruntung, sekolah dibiayai oleh keluarga dan di antar oleh ayah dan kakak. Sedangkan aku harus kerja banting tulang untuk biaya sekolah dan kuliahku sendiri!" batin Audrey.
"Nak, semoga nasibmu nggak sama seperti bunda!" lanjut Audrey di dalam hati sambil mengelus perut buncitnya.
Siang harinya, Abian dan Satria pulang ke rumah untuk makan siang bersama dengan keluarga.
"Nanti jam dua siang tolong jemput adikmu ya, Bie? Papa nggak bisa, papa sangat sibuk di markas!" pinta Satria pada putranya.
"Baik, Pa!" jawab Abian sambil tersenyum.
Suara isak tangis seorang gadis yang datang secara tiba-tiba membuat Abian dan seluruh anggota keluarganya menghentikan makan siangnya dan bergegas pergi ke ruang tamu untuk mengecek.
Setibanya di ruang tamu, mereka melihat Faya sedang duduk meringkuk di atas lantai sambil menangis tersedu-sedu.
"Faya, ada apa?" tanya Abian pada adiknya dengan panik.
"Ada apa, Sayang?" tanya Diandra sambil bergegas pergi ke arah sang anak dan lantas memeluk tubuh anaknya yang gemetar itu.
"Kamu kenapa?" tanya Satria pada putrinya.
"Dia, Ma! Dia!" ucap Faya sambil menangis terisak.
"Dia siapa?" tanya Diandra pada Faya yang berbicara tidak jelas.
"Ada apa, Dek?" tanya Audrey pada adik iparnya.
"Dia telah mengkhianati Faya, dia jahat!" ucap Faya sambil terisak.
"Siapa Faya?" tanya Satria dengan tegas.
"Akhtar, dia telah mengkhianati Faya! Dia pacaran sama Misha teman kelas Faya!" ucap Faya sambil menangis.
"Astagfirullah, kakak kira apaan, ternyata masalah cinta, toh? Mangkanya jangan main pacar-pacaran, masih kecil juga!" ucap Abian sambil menghela nafasnya.
"Bie, jangan!" Diandra memperingatkan putra sulungnya untuk diam dan tidak memarahi Faya yang sedang menangis karena patah hati.
"Kami sudah jadian lima bulan lalu dan sekarang dia bersama Misha dan dia meninggalkanku!" Faya terus menangis sambil menjelaskan apa permasalahannya.
"Mangkanya, nggak usah pacaran di masa sekolah! Agar apa? Agar kamu nggak patah hati dan sekolahmu nggak terganggu, Faya!" ucap Abian yang tetap menyalahkan adiknya padahal Diandra sudah menyuruh putranya untuk diam.
"Sini ikut Papa!" ajak Satria seraya mengambil tangan kanan Faya.
"Aduh, sakit, Pa!" rintih Faya kala Satria menggenggam pelan pergelangan tangan kanan Faya.
"Sakit apa? Papa nggak menyakitimu?" tanya Satria pada putrinya.
Karena penasaran Diandra kemudian segera menyeka legan baju yang menutupi pergelangan tangan Faya.
"Astagfirullah, ini kenapa?" tanya Diandra setelah melihat ada luka memar di pergelangan tangan kanan Faya.
"Dia bukan hanya memutuskan Faya, Ma! Tapi dia, Misha dan kedua sahabat Misha bully Faya juga!" jawab Faya sambil menangis lebih kuat lagi.
"Apa?" ucap Abian yang terkejut.
"Mereka menjambak rambut Faya dan melukai tangan Faya, mereka juga memukul punggung Faya, Ma!" Faya menjelaskan semuanya sambil terisak.