Bab 10. Aku Yang Tak Diinginkan

1536 Words
Keesokkan harinya, Abian dan papanya pergi ke sekolahan Faya sambil membawa surat izin sakit Faya. Setibanya di sana, mereka berdua segara pergi ke ruangan kepala sekolah untuk izin serta melaporkan bullying yang menimpa Faya. "Pak Satria, Mas Abian, ada apa?" tanya sang Kepala sekolah. "Oh, iya. Silahkan duduk dulu Pak, Mas!" lanjut Kepala sekolah yang mempersilahkan kedua pria berseragam loreng itu untuk duduk di bangku yang berada tepat di depannya. "Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Kepala sekolah setelah kedua tamunya duduk. "Ini surat izin sakit Faya, setidaknya Faya izin hingga tiga hari!" jawab Abian seraya menyerahkan surat yang ia pegang kepada kepala sekolah. "Saya sangat menyayangkan keteledoran pihak sekolah sehingga nggak tahu bahwa ada siswinya yang dibully! Bukankah SMA ini adalah SMA terbaik?" ucap Satria yang mempertanyakan soal kualitas sekolah tersebut di akhir kalimatnya. "Apa maksud bapak?" tanya Kepala sekolah seraya mengernyitkan dahinya sebab tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Satria. "Anak saya sakit karena menjadi korban bullying atau perundungan oleh teman-temannya! Saya harap iktikad baik dari pihak sekolah untuk menyelesaikan perkara ini!" jawab Satria dengan tegas. "Maaf, Pak. Mungkin ini hanya kesalahpahaman saja! Enggak mungkin siswa-siswi SMA ini melakukan kekerasan secara fisik!" sangkal Kepala sekolah sambil tersenyum. "Saya tunggu iktikad baik dari pihak sekolah selama dua kali 24 jam, bila sampai batas waktu habis dan belum ada keadilan. Saya akan membawa perkara ini ke jalur hukum!" ucap Satria. "Ke—kenapa pakai hukum, Pak?Diselesaikan secara baik-baik saja! Baiklah, saya akan menyelidiki hal ini dan berjanji akan memberikan keadilan!" jawab Kepala sekolah dengan bibir yang gemetar sebab ia merasa takut pada ancaman Satria. Selama ini ia telah mengenal Satria dengan baik, pria bijaksana itu sangat ramah dan humoris kepadanya atau kepada semua orang tapi kini Satria berubah menjadi dingin dan ia bisa melihat dengan jelas ada kemarahan di mata Satria dan bila Satria sudah memutuskan sesuatu maka itu tidak bisa diganggu gugat sebab Satria tidak pernah main-main dengan ucapannya. "Baik, saya tunggu kabar baiknya!" ucap Satria yang kemudian pergi bersama dengan putra sulungnya untuk dinas. Malam harinya, Abian pergi ke kamar adiknya untuk mengajak adiknya jalan-jalan. "Dek, mau jalan-jalan nggak?" tanya Abian pada adiknya yang hanya duduk diam di atas ranjang. "Mau nonton atau mau jalan-jalan?" tanya Abian lagi. Faya segera menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mau. Faya kini menjadi sosok yang pendiam dan suka mengurung diri di kamar, putus cinta dan bullying membuat mental dan batinnya terguncang sehingga ia masuk dalam fase trauma dan depresi. "Baiklah, kakak harap kamu tidur saja agar jauh lebih tenang!" ucap Abian yang kemudian segera menutup pintu kamar adiknya dan kembali ke kamarnya sendiri. Setelah tiba di depan pintu kamarnya yang terbuka, Abian tidak melihat keberadaan istrinya. "Drey! Drey!" Abian memanggil-manggil Audrey seraya berjalan masuk kamar untuk mencari sang istri. "Apa mungkin dia di luar?" tanyanya pada dirinya sendiri. Pria itu lantas bergegas pergi dari sana untuk mencari sang istri. Setibanya di lantai satu, Abian melihat istrinya sedang bersama dengan Felix. "Tandatangani surat perjanjian itu jika kamu memang nggak mencintai Bie dan masih mencintaiku!" ucap Felix seraya memberikan pulpen pada Audrey. Abian kemudian memutuskan untuk menghampiri istri dan mantan suami istrinya itu. "Ada apa ini?" tanya Abian pada dua orang yang duduk bersandingan di atas sofa ruang tamu. "Itu surat perjanjian yang harus dia tandatangani!" jawab Felix tanpa menatap ke arah Abian sedikitpun. "Enggak! Drey nggak mau tanda tangani surat ini, Kak! Dalam surat itu tertulis bahwa setelah melahirkan dan setelah lepas asi, bayi ini akan diasuh oleh Kak Felix!" tolak Audrey. "Felix, kamu nggak bisa memaksakan kemauanmu begitu saja!" ucap Abian yang membela istrinya. "Drey, jika kamu memang nggak mencintainya dan nggak mengkhianati diriku. Maka, buktikanlah! Tandatangani surat itu sekarang!" titah Felix dengan tegas. "Enggak! Drey nggak mau dipisahkan dari anak Drey!" tolak Audrey seraya menatap Felix dengan tatapan sendunya. "Oke, berarti kamu mengkhianati diriku! Berarti kamu memang mencintai Bie, sehingga kamu nggak mau berkorban sedikitpun untukku!" marah Felix. "Aku nggak mau berkorban dengan menyerahkan bayi ini! Enggak mau!" tolak Audrey dengan tegas. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang rela kehilangan buah hatinya, tidak ada satupun yang sanggup berpisah dengan buah hatinya sendiri, begitupula Audrey. "Baiklah! Ternyata dugaanku benar bahwa kamu sudah mencintai si pengkhianat ini!" ucap Felix. "Felix, kamu hanya tahu separuh dari kebenaran yang ada, kamu belum tahu kisah lengkapnya! Jadi, tolong jangan menghakimi kami berdua!" pinta Abian. "Kisah apa? Kisah bagaimana kalian berpacaran di belakangku? Kisah bagaimana kalian berselingkuh? Hah!" tanya Felix dengan nada tinggi seraya menatap Abian dengan tatapan tajamnya. "Enggak, Felix! Kami berdua nggak pernah mengkhianatimu! Ini semua nggak disengaja!" jawab Abian. "Enggak di sengaja? Ya, wajar nggak sengaja. Nggak sengaja kalian saling mencinta, nggak sengaja kalian menjalin hubungan terlarang di belakangku serta nggak sengaja menikah di saat aku hilang!" ucap Felix sambil tersenyum kecut. "Tolong dengarkan aku Kak!" pinta Audrey. "Enggak! Kalian berdua sama saja! Sama-sama telah mengkhianati dan menyakiti hatiku! Nggak ada kesempatan untuk seorang pengkhianat menjelaskan semuanya!" marah Felix yang kemudian pergi dengan mambawa surat perjanjian yang bahkan belum disentuh oleh Audrey. "Aku masih mencintaimu Kak. Aku nggak akan pernah punya rasa yang lebih dari sekedar teman pada Bie! Aku menolak tanda tangan sebab aku nggak mau kehilangan anak ini, dia adalah kenanganmu dan juga buah hatiku!" ucap Audrey sambil menangis tersedu-sedu. "Drey, tenanglah! Kamu nggak boleh stress sebab itu akan berpengaruh pada kandunganmu!" pinta Abian seraya hendak memeluk istrinya. "Jangan sentuh aku!" marah Audrey sambil mendorong tubuh Abian yang hendak memberi semangat padanya. "Aku hanya ingin menenangkan dirimu, Drey! Aku hanya ingin—" "Cukup!" ucap Audrey seraya memotong ucapan suaminya. Audrey kemudian beranjak dari duduknya dan segera pergi ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamar. "Entah sampai kapan konflik cinta segitiga ini berakhir? Dan entah sampai kapan aku akan terus berseteru dengan sahabatku sendiri! Serta entah bagaimana akhir dari kisah cinta ini!" ucap Abian yang kemudian pergi ke lantai dua untuk menyusul sang istri. Keesokkan harinya, Audrey pergi ke kamar Faya dengan membawa roti sandwich dan s**u hangat sebagai sarapan adik iparnya. "Faya, ini kamu makan ya!" ucap Audrey seraya menaruh nampan berisi makanan dan minuman itu ke atas meja. "Aku nggak mau makan!" tolak Faya dengan tegas. "Nanti kamu sakit, Faya! Kamu harus makan tiga kali sehari! Nih, Mbak suapi ya?" ucap Audrey yang kemudian mengambil piring berisi roti sandwich dan kemudian hendak menyuapi adik iparnya namun Faya marah dan menangkis tangan Audrey. "Aku nggak mau makan!" bentak Faya pada kakak iparnya. "Faya, wajahmu pucat, kalau kamu nggak makan, nanti kamu sakit, loh!" Audrey mencoba membujuk adik iparnya. "Aku nggak mau!" teriak Faya seraya mendorong Audrey agar Audrey turun dari ranjangnya. Namun, akibat dorongan itu Audrey jatuh dan merasakan sakit di perutnya. Audrey merintih setelah terjatuh ke atas lantai, wanita hamil itu merasa sangat sakit di bagian perutnya. "Ada apa ini?" panik Abian yang datang bersama dengan kedua orangtuanya setelah mendengar suara gaduh. "Bie, tolong aku! Sakit sekali!" Audrey memohon seraya terus memegangi perutnya. "Faya, kamu apakan istri kakak?" tanya Abian seraya membopong tubuh sang istri. "Dia yang salah! Dia yang memaksaku untuk sarapan!" jawab Faya. "Dan karena dia keras kepala dan nggak mau pergi, aku mengusir paksa dia!" lanjut Faya dengan nada tinggi. "Faya, kakak iparmu sedang hamil dan kandungannya lemah. Mengapa kamu—" "Biarkan saja, Pa! Lagipula itu bukan keponakanku! Itu anak orang lain, bukan anak Kak Bie!" ucap Faya seraya memotong ucapan Satria. "Faya, jaga sikapmu!" marah Abian pada adiknya. "Faya, papa tahu kamu sedang sakit hati dan trauma, tapi tolong jangan keterlaluan begini!" ucap Satria yang menasehati putrinya. "Sudah! Sudah! Lebih baik cepat bawa Audrey ke rumah sakit dan cukup marahnya, kasihan Faya, dia sedang nggak baik-baik saja!" sahut Diandra. Sadar akan keadaan Audrey, Abian kemudian segera mengendong tubuh sang istri dan bergegas membawa sang istri ke rumah sakit bersama dengan papa dan mamanya. "Sekarang semua orang telah berubah! Sekarang semua orang menyalahkan aku dan baru pertama kali Kak Bie membentak diriku serta baru pertama kali papa memarahiku!" ucap Faya sambil menangis terisak. "Ini semua karena orang baru itu! Ini semua karena Mbak Audrey!" lanjut Faya sambil terus menangis. *** Di lain tempat, Nicho sedang bersama dengan adik tirinya yang bernama Bianca. "Mana janji Kak Nicho? Katanya mau belikan Bianca mobil baru?" tanya Bianca pada kakaknya. "Si payah itu nggak mau tanda tangan dan itu artinya rumah peninggalan bunda nggak bisa dijual!" jawab Nicho. "Jadi kakak nggak jadi belikan aku mobil?" tanya Bianca pada kakaknya. "Enggak! Kakak saja nggak mendapat uang!" ucap Nicho. "Paksa saja Mbak Drey untuk tanda tangan agar kita bisa dapat banyak uang, Kak!" pinta Bianca. "Dia sekarang berada dalam perlindungan keluarga militer, suami dan ayah mertuanya TNI Ad, kakak jadi sulit untuk mengintimidasinya!" jawab Nicho. "Anak itu memang nggak berguna!" ucap Roseana sang ibu Bianca yang tiba-tiba datang menghampiri kedua anaknya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. "Anak itu selalu saja membantah dan membuat masalah, lebih baik dia tiada saja!" sahut Arga yang juga datang menghampiri anggota keluarganya. "Tiada?" ucap Nicho. "Jika dia meninggal maka aku bisa menjual rumah itu dengan mudah? Maka, apa nggak sebaiknya kita lenyapkan dia saja?" lanjut Nicho sambil tersenyum bahagia karena mendapatkan ide. "Lakukan saja apa yang kamu mau, Nic! Ayah nggak peduli pada anak itu, mau kau bunuh, mau kau buang. Ayah nggak peduli!" jawab Arga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD