Ibu Hani

1351 Words
Rei begitu senang hari ini karena bisa bekerja dengan tetap dan memiliki waktu juga untuk mengurus anak-anaknya. Hal yang paling ia inginkan adalah pekerjaan tetap, Rei tak berharap lagi pada hal yang muluk-muluk. Baginya saat ini bisa memiliki uang yang cukup dan bisa mengurus ketiga anaknya sudah menjadi hal yang luar biasa untuknya. Selama menjadi tukang ojek online Rei kesulitan masalah waktu. Waktu yang sedikit menyebabkan ia tak bisa mengumpulkan banyak uang, karena hanya bisa sedikit mengambil orderan. Motor Rei kini terhenti tepat di dalam parkiran kost. Siang ini Ziel pasti sudah pulang, sepulang bekerja tadi wanita itu menyempatkan ke pasar dulu membeli sayuran dan beberapa bahan yang akan ia masak besok. "Uca naik dulu ya, mami ambil adek Cia dulu." "Oke mami," sahut Uca sambil berjalan riang menuju kamar kost membawa snack yang tadi ia beli di pasar. Sang mami kemudian berjalan menuju rumah Cinta. Saat itu Sinta sedang sibuk menata ciki dan aneka wafer di etalase depan. "Ta," sapa Rei buat Cinta menoleh. "Ya kak? Eh, tadi Uca di bawa sama neneknya. Dia ke kost lu kak. Tadi duduk di sini karena gua enggak mau ambil resiko takut aja orang itu nipu terus culik Uca. Terus begitu Ziel dateng gue tanya apa Ziel kenal? Ziel bilang itu nenek. Terus mereka jalan ke kamar Lu." "Oke makasih ya Ta. Gue ke kamar dulu." "Kalau ada apa-apa kasih tau gue kak. Biar Toto sama Anto yang bantuin lu." Cinta berpesan ia takut jika terjadi sesuatu pada Rei. "Hehehe, enggak santai. Kalau nenek itu berarti ibunya Danish. Kalau ibunya emnag baik sama anak-anak. Mungkin beliau kangen. Udah ya gue ke kamar." Rei lalu segera melangkah menuju kamar kost untuk menemui mantan mertuanya. Dari kejauhan ia juga melihat mobil hitam yang terparkir di dekat warung cinta. Rei ingat betul dengan mobil milik Hani. "Assalamualaikum," sapa Rei melihat sang ibu mertua kini duduk di lantai seraya memangku CIA sementara Uca duduk di samping sang nenek. Bahkan segelas teh manis sudah ada di meja belajar di samping Hani. Rei tau kalau si sulung lah yang membuat teh manis hangat untuk sang nenek. "Waalaikumsalam," sahut Ziel, Uca dan Hani. Ziel bahkan berlari lalu mencium tangan sang mami dan membantu membawa belanjaan yang dibawa wanita itu. "Makasih ya Kak." "Iya mi," jawab Ziel kemudian berjalan meletakan belanjaan ke sudut tembok lalu kembali duduk di tempatnya semula. Rei berjalan mendekat lalu duduk berhadapan dengan Hani yang kini tersenyum. Rei segera memberi salam mencium tangan mantan mertuanya itu. Tatapan mata Hani menunjukkan kalau ia benar-benar iba dengan keadaan Rei saat ini. "Semua sehat kan Rei?" tanya Hani. "Alhamdulillah sehat semua Bun. Uca udah sekolah paud di kantor RW dekat dari sini, Ziel juga udah sekolah. Sekarang aku juga udah dapat kerjaan." Rei menjawab. Hani menatap pada Uca, yang kini sibuk dengan wafer cokelat di tangannya. "Uca udah sekolah?" tanya sang nenek. "Udah, Nek." Hani membelai rambut Uca. "Seneng Nak?" Uca mengangguk. "Senang sekali, Uca punya banyak temen. Ada Mona ada Candra banyak sekali." Anak itu menjawab dengan bersemangat. Jawaban dari Uca jelas membuat Hani senang, meski dalam hatinya ia masih merasa prihatin dengan kondisi lingkungan tinggal Rei saat ini. Kamar ini hanya sepetak, satu ruangan yang dijadikan multifungsi. "Bunda belanja beberapa kebutuhan anak-anak. Ada di mobil, tunggu biar bunda suruh sopir bawa naik." Hani kemudian mengambil ponselnya menghubungi Pak Boris sang sopir untuk membawakan makanan dan banyak lagi yang ia beli tadi untuk semua cucu cucunya. "Biar ditunjukan jalannya sama Ziel dan Uca Bun." Reres berikan saran lalu Hani mengangguk. "Ziel ke mobil nenek ya, tunjukin rumah kita ke Pak Boris. Jangan lari." "Siap Mi!" Keduanya menjawab kompak lalu segera berjalan ke luar rumah. Hani memerhatikan Rei, meskipun gemuk setelah melahirkan Cia, tapi Rei selalu tampil modis dan rapi dengan pakaian yang tetap menunjang tubuh gempalnya. Rei juga merawat tubuh dan wajahnya, dulu wanita itu memiliki kulit cerah dan wajah yang glowing. Kini semua terlihat berbeda Rei sedikit menghitam dengan rambut yang sedikit berantakan, juga wajahnya yang kusam akibat banyak terpapar sinar matahari. "Danish enggak pernah hubungi kamu?" Rei gelengkan kepala. "Sejak aku ke luar rumah sama sekali enggak Bun. Tanya gimana kabar Uca sama Cia aja enggak. Padahal, mereka anak kandungnya. Aku kecewa pasti, sejujurnya enggak berharap kalau Danish akan tanya tentang keadaan aku Bun. Seenggaknya dia tanya tentang Uca atau Cia mereka kangen sama Papa-nya." Rei ungkap kekecewaan yang ia rasakan selama ini. Selama ini jelas dirinya terlihat tak terlalu memikirkan tentang mantan suaminya itu. Padahal dalam hati banyak kekecewaan yang ia rasakan. Apalagi, ada dua anak Danish yang tentu saja menyimpan rindu pada sang papa. Uca bahkan hampir tak pernah lagi bertanya kapan papa datang? Di mana papa? Bahkan tak ada niat baik Danish menghubungi melalui video call. Datang ke rumah? Jelas kemustahilan, padahal Rei memberitahu alamat jelas kost yang ia tempati pada mantan suaminya itu. Hani mengambil tasnya, lalu mengeluarkan amplop yang sudah ia siapkan lalu memberikan pada Rei. "Ini buat anak-anak. Bunda harap kamu enggak menolak. Maaf, karena Danish enggak bertanggung jawab. Bunda juga sudah coba ngomong ke dia, tapi sepertinya perempuan itu buat Danish jadi buta segalanya." Rei dengan ragu menerima pemberian ibu mertuanya. Meski jelas ia membutuhkan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari. Hani mengerti keraguan Rei, ia kembali menyodorkan uang ia meletakan ke dalam genggaman Rei. "Terima ini, jumlahnya enggak banyak. Bunda harap ini bisa bantu sedikit kebutuhan kamu. Ini untuk beli obat Uca juga." Rei mengangguk. "Aku terima ini ya Mi. Terima kasih banyak karena udah perhatian ke anak-anak." "Tentu bunda perhatian, mereka itu cucu bunda. Darah daging Danish." Hani menekankan. Saat itu Ziel dan Uca datang dengan senang membawa kantong plastik berisi banyak Snack juga s**u yang dibantu oleh Pak Boris yang meletakan semua belanjaan di dekat pintu masuk. Hari ini Rei bersyukur karena mendapat banyak rejeki untuk dirinya dan anak-anak. Yang paling penting bagi dirinya adalah kebutuhan anak-anak dan kini semua sepertinya sudah terpenuhi untuk beberapa waktu ke depan. *** Malam ini Agus bersama sang kekasih yang baru saja tiba duduk di ruang makan. Mira kini tengah mengecek rumah kekasihnya yang terlihat lebih rapi dari biasanya. Ia juga mengecek ruang laundry semua cucian Agus begitu tertata rapi dan sudah disetrika. Mira lalu kembali ke ruang makan, terlihat dua gelas kopi sudah tersaji di meja makan. Mira lalu duduk berhadapan dengan kekasihnya itu. "Semua rapi Mas, rajin kamu hari ini," puji Mira kemudian meneguk kopi buatan sang kekasih. Wajahnya mengerenyit terlihat tak terlalu menyukai kopi sachet buatan Agus. "Aku bayar orang buat beberes rumah, gimana menurut kamu?" Tanya Agus kemudian menyeruput kopi miliknya. "Bagus, jadi rapi semua. Jadi kamu enggak capek juga kalau pulang bisa langsung istirahat dan kita lebih banyak punya waktu sama-sama. Karena kamu enggak perlu waktu lebih banyak untuk beberes rumah." Mira memberikan pendapat. "Iya sih, aku juga enggak harus buru-buru bangun pagi cuma demi gosok pakaian kerja." "Btw, kayanya kamu harus beli mesin pembuat kopi deh. Jangan keseringan minum kopi begini." Mira berisi saran. "Aku suka kopi sachet gini sejak dulu, rasanya enak kok." "Iya, cuma enggak suka." Agus hanya tersenyum, ya ia paham kalau banyak perbedaan selera di antara dirinya dan Mira. Pria itu lalu menggenggam tangan sang kekasih. "Hari ini jadi jalan?" Mira anggukan kepala. "Aku mau makan steak di tempat biasa aku udah pesan tempat tadi." "Oke, aku udah makan sebenernya." Mira berdecak kesal, melirik pada sang kekasih yang membuat ia sebal. "Aku makan sendiri dong? Males kalau gitu." "Aku makan juga deh, tadi aku nambah beberapa kali. Soalnya lama enggak makan masakan rumah anget gitu." Jawab Agus lalu terkekeh melihat wajah Mira yang kesal. Agus bangkit lalu mengambil kunci mobil miliknya. "Jangan ngambek dong, ayo kita makan." "Kamu makan ya?" Mira membecik sambil memeluk Agus yang berdiri di sampingnya. Agus kecup kening sang kekasih. Mira menunjuk bibirnya, ia meminta sang kekasih mengecup bibirnya. Agus menurut dia mengecup bibir Mira, lalu perlahan menjadi sedikit menghangat dengan gigitan lembut Mira di bibir Agus. Buat Agus menyudahi ketika ia merasa ini sudah terlalu jauh dan itu buat Mira kesal. Pria itu menghapus bibir Mira yang basah. "Kita makan ya," ajaknya, lalu berjalan ke luar. Mira mengangguk lalu berjalan mengikuti meski kesal karena merasa Agus menolaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD