Pagi ini Rei sudah mempersiapkan semua kebutuhan buah hatinya. Ia juga telah menyusun rencana harian setelah mendapatkan pekerjaan dari Agus. Memasak nasi goreng andalan yang akan ia sajikan untuk Uca dan Ziel sebelum keduanya berangkat ke sekolah. Setelah kedua anaknya selesai sarapan Rei segera menitipkan Cia, mengantarkan Uca, lalu mengantar Ziel ke sekolah. Seraya menunggu Uca pulang, Rei kembali ke rumah memasak untuk dibawa sebagai bekal untuk makan siang Uca dan Cia. Bukan makanan istimewa hanya telur dadar yang juga ia siapkan untuk Ziel. Sebelum berangkat, ia juga menyuapi Cia yang ia ambil ke warung Cinta untuk disuapi sebelum berangkat.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh, Rei segera bersiap untuk menjemput Uca. Wanita itu membawa tas berisi makan siang dan baju ganti untuk Uca, asi yang berhasil ia pompa untuk Cia. Rei berjalan menuju warung cinta. Cinta tengah duduk seraya bermain dengan ponsel miliknya. Ketika melihat Rei berjalan mendekat ia segera berjalan menghampiri, menggendong Cia, lalu menciumi pipi anak itu dengan gemas.
"Gue titip ya Cin, kayaknya bakal pulang sore. Titip kunci buat Ziel ya. Nanti pulang sama Manda dia." Rei lalu menyerahkan kunci pada Cinta.
"Iya tenang aja Kak. Udah Lu kerja aja yang tenang."
Rei menyerahkan kebutuhan Cia yang sudah ia rapikan di dalam tas. "Ada asi gue sebotol, lumayan bentar lagi dia haus. Ada makan siang juga, gue titip ya?" Pamit Rei kemudian berjalan menuju motor miliknya.
Rei segera berangkat menjemput Uca sebelum ia memuji rumah Agus. Semalam ia sudah bertanya pada Arin dimana alamat rumah Jimmy. Ia juga telah meminta Agus mengirimkan lokasi. Meski banyak yang bilang perempuan bukan navigator yang baik, tapi Rei cukup cakap membaca peta lokasi. Itu adalah skill utama yang dibutuhkan seorang ojek online seperti dirinya.
Siang yang terik Rei sudah berangkat menuju rumah Agus. Uca seperti biasa bernyanyi sepanjang perjalanan, ia terlihat begitu riang. Apalagi melihat sang ibu yang terlihat ceria sejak dari kemarin. Perjalanan tak memakan waktu lama karena jalan yang lengang. Rei telah memasuki arena perumahan dan segera mencari di mana nomer rumah Agus. Tak butuh waktu lama karena rumah itu berada di barisan depan. Apalagi ia kini melihat Jimmy yang duduk sambil melambaikan tangan. Rei segera melajukan motor miliknya kemudian berhenti tepat di depan rumah Agus. Uca segera turun lalu berlari ke arah Jimmy yang memanggil dengan mengayunkan tangannya.
"Parkir di situ aja motornya Rei." Kata Jimmy seraya menunjuk tempat parkir tepat di samping rumah Agus sambil berjalan ke luar.
"Om Jimmy rumahnya di sini?" Tanya Uca.
Jimmy mengangguk. "Iyaa, om di sini. Uca udah makan belum?"
Uca menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Jimmy. "Tadi Uca makan sama teman-teman di sekolah."
Sementara itu Rei sedang mengeluarkan kunci rumah seraya menatap anaknya yang kini mengobrol. "Lo libur Jim?"
"Enggak, gue siang nanti ada pameran gantiin temen."
"Ati-ati kerjanya, gue masuk dulu ya," pamit Rei. "Uca salim dulu sama Om Jimmy ayo temenin mami kerja."
Uca mencium tangan Om, lalu melambaikan tangannya berlari menuju sang mami. "Da da Om Jimmy."
"Semangat bantuin mami kerja ya Uca." Jimmy memberi semangat buat Uca tersenyum kemudian melambaikan tangan.
Rei dan Uca berjalan masuk, meski sedikit bingung karena tak ada Agus si empunya rumah. Tapi, semalam Agus telah menjelaskan tentang rumahnya di mana letak barang-barang yang mungkin Rei butuhkan. Rumah itu tak terlalu besar masuk ke dalam ada ruang tamu yang juga menyatu dengan ruang tengah berjalan ke kanan ada dapur, di samping kanan dapur ada ruang laundry yang bersebrangan dengan kamar, di antara ruang laundry dan kamar ada kamar mandi, sementara kamar Agus berada di atas yang juga menyatu dengan ruang kerja. Ada taman belakang sederhana yang Agus jadikan sebuah kolam ikan
Rei segera masuk ke dalam menuju dapur, ia meletakan tas miliknya di lantai, ia sandarkan pada meja makan. Rei lalu mendudukkan Uca di sana.
"Mi, Uca haus."
Rei tersenyum lalu menggendong Uca dan mendudukkan buah hatinya ke kursi, ia lalu mengambil botol minum milik Uca dari dalam tas. "Minum ini ya. Uca di sini aja ya mami mau kerja dulu," katanya sambil memberikan botol minum pada Uca.
Uca mengangguk segera meneguk minuman yang diberikan sang mami yang kini meninggalkan dirinya untuk menuju ruang laundry. Ia melihat tumpukan pakaian yang belum di setrika dan sedikit pakaian kotor. Rei mulai mencuci, memasukan semua ke mesin cuci.
"Mami!" Uca memanggil.
"Sini Nak, bawa minumnya."
Tak lama anak itu muncul lalu tersenyum. " Uca belum cuci kaki, tangan dan ganti baju."
Rei menepuk keningnya, ia lupa bahwa belum membersihkan tubuh buah hatinya. "tunggu mami ambil baju Uca dulu ya."
Rei berjalan cepat mengambil tas miliknya, lalu kembali dan membersihkan tubuh Uca. Tak lama, ia segera kembali bekerja sementara Uca rebah di sampingnya beralas karpet yang ia temukan di ruang laundry, juga bantal yang ia ambil dari kamar belakang. Anak itu sibuk mengobrol dengan Rei yang tengah menggosok pakaian milik Agus. Sampai ia mengantuk dan tertidur karena ruangan yang dingin.
Rei lalu membersihkan rumah, menyapu juga mengepel. Ia berjalan ke lantai dua, kamar Agus begitu rapi dengan nuansa abu-abu putih dan nuansa minimalis. Di ruang kerja beberapa buku terbuka, hanya saja Rei membiarkan itu. Ia tak berani menyentuh tugasnya hanya membersihkan rumah. Lalu setelah semua selesai, Rei mengecek kulkas. Ada bahan makanan yang bisa ia olah untuk dibuat sayur tumis toge dan juga ada tahu yang akan ia buat pergedel tahu. Rei menyiapkan semua dengan cepat memotong bumbu dan sayur, juga mengolah tahu dan segera menggoreng sambil menunggu sayur tumis matang.
Saat itu, pintu terbuka. Rei segera menghampiri, melihat Agus yang sudah kembali. Tak terasa sudah pukul setengah tiga, pekerjaan cukup lama karena Rei begitu teliti jika menggosok pakaian.
"Assalamualaikum," sapa Agus.
"Waalaikumsalam kak. Aku udah selesai, cuma tinggal nunggu tumisan matang." Rei segera kembali ke dapur karena sedang menggoreng.
Agus mengikuti dari belakang, ia mencuci kaki, lalu mengintip ke ruang laundry melihat Uca yang tertidur beralaskan karpet. Agus lalu berjalan ke dapur, melihat Rei yang sudah menyelesaikan kegiatannya. Ia kini menata makanan di atas meja.
"Kok Uca tidur di bawah? Enggak di kamar aja?" Tanya Agus lalu duduk di kursi.
"Tadi ngobrol sama aku sambil gosok kak, tau-tau dia bobo. Mau makan?" Tawar Rei yang dijawab anggukan oleh Agus. Rei segera berjalan mengambil piring untuk Agus.
"Kasihan di lantai gitu dingin lho."
Rei tersenyum, sambil mengambilkan Agus nasi, lalu menyerahkan piring yang telah berisi nasi pada Agus. "Makan dulu kak," Rei mempersilahkan lalu ia kembali menuju lemari untuk mengambil minuman untuk Agus, air putih hangat.
Rei meletakan gelas berisi air hangat ke atas meja. "Minuman kesukaan Kakak masih sama kan?" Tanya Rei dengan suara yang lembut seperti biasanya. Agus begitu menyukai jika Rei bertanya atau menyapa.
"Masih. Dari dulu cara ngomong kamu enggak berubah ya?"
Rei terkekeh, "aku ini masih sama Kak, cuma bedanya sekarang aku gemuk. Berat aku sembilan puluh kilo, dulu cuma lima puluh delapan. Ya, namanya anak udah tiga kak. Kakak butuh apa lagi?"
"Kamu ikut makan sini sama aku." Ajak Agus.
"Buat kakak makan malam nanti. Aku buat porsi mini semua ini, lagian aku udah masak tadi. Kalau gitu aku pulang ya kak. Kakak kalau mau aku masakin apa gitu chat aku aja."
Agus mengangguk, "Terima kasih."