Danish dan Dwi kini tengah merapikan pakaian. Keduanya berencana berlibur ke Bali. Pasangan itu memang sering berlibur ke Bali atau beberapa tempat yang ingin Dwi kunjungi. Cantika Arselia Dwi Kusuma, perempuan itu memang begitu memikat dan merebut hati Danish hingga seolah seluruh hal bisa Danish berikan untuk perempuan itu. Danish tergila-gila, karena dulu Dwi berikan banyak perhatian dan juga karena wanita itu begitu cantik, dengan tatapan mata yang berbinar, bibir tipis dan tubuh yang semampai.
setelah selesai, keduanya lalu merebahkan diri ke tempat tidur, Dwi rebah di pelukan Danish yang kemudian kecup wajah kekasihnya penuh kasih sayang, kemudian ia membelai kepala Dwi lembut.
Dwi mengadahkan wajahnya menatap sang kekasih kemudian tersenyum. "Bulan depan gantian ke Bunaken ya? Aku pingin banget jalan-jalan keliling Indonesia."
Danish anggukan kepala bak kerbau dicucuk hidungnya. "Boleh, mau kemana aja kamu aku pasti turutin."
"Terus gimana permintaan ibu kamu buat kasih uang anak kamu?"
Danish gelengkan kepala. "Entahlah, aku masih nunggu si janda itu telepon aku. Kalau dia enggak hubungin tandanya semua baik baik aja akan?"
Dwi mengangguk menyetujui omongan pria itu. "Lagian kalau kamu mau kasih dia, jangan terlalu banyak seperti apa yang ibu kamu bilang lah. Lima juta itu banyak banget. kamu kirim lima ratus ribu juga cukup kan dia enggak ada keperluan tang banyak."
Danish mengangguk menyetujui. "Rei harus hemat lah, tau diri dia seharusnya karena urus anak-anaknya."
"Paling enggak kamu kasih dia buat s**u Cia aja sama Uca. Atau langsung kamu beliin s**u aja buat anak-anak. Kalau kamu kasih cash kan enggak tau itu uang buat anak atau buat keperluan pribadi dia sendiri." Dwi memberikan saran seolah paling benar dan tau apa yang Rei rasakan dan alami.
"Hmm, kayaknya aku memang akan kasih dia keperluan Uca dan Cia aja deh. Kamu bener aku enggak tau uang itu dipakai untuk Uca dan Cia atau dia pribadi. Ya, dulu kan aku kenal dia juga karena dia ada di club waktu itu sama suaminya."
Deff dan Rei memang sering menghabiskan waktu berdua dulu. Bahkan setelah mereka mempunyai anak. Keduanya sering menghabiskan waktu berdua sementara Ziel kecil di titipkan bersama pengasuh. Sesekali Deff selalu membuat jadwal khusus untuk dirinya dan sang istri menjalani waktu hanya berdua agar keduanya bisa semakin dekat. Danish melihat Rei di club tanpa sengaja lalu keduanya bertemu lagi kemudian saat Rei sudah bercerai dengan Deff.
Sejak itu Danish tau kalau Rei adalah janda yang bergelimang harta ia mulai mendekati Rei. Awalnya ia hanya ingin hidup nyaman, sampai bertemu dengan Dwi atasannya yang kemudian menjadi selingkuhan Danish dan mulai mengontrol pria yang telah jatuh hati padanya itu. Padahal sebelum bertemu dengan Dwi, Danish sudah berpikir untuk tak ingin bermain-main dan akan mencintai Rei karena mereka juga sudah memiliki dua orang anak. Hanya aja Godaan Dwi lebih kuat daripada, apalagi saat itu Rei sudah tak lagi memiliki tubuh yang sempurna. Sejak hamil Uca berat badannya meningkat drastis semakin meningkat saat kehamilan ke tiganya. Dan akhirnya buat pria itu urung setia dan memutuskan untuk mendua dan menguras habis uang Rei yang saat itu adalah istrinya.
"Ya, kita kan enggak tau ya. Apa Rei itu udah tobat atau gimana, Secara dulu dia kan suka main ke klub." Dwi buka suara seolah paling suci dan berpikir gadis yang pergi ke klub pasti bukan gadis baik-bauk. Padahal saat itu jelas Rei datang ke sana hanya untuk menikmati waktu bersama Deff yang adalah suaminya.
"Y gitulah," timpal danish seolah membenarkan ucapan Dwi barusan.
***
Pagi seperti biasanya saat Rei tengah menyiapkan sarapan, Ziel kini memakaikan sepatu Uca yang akan berangkat ke sekolah. Sementara Uca memangku Cia yang sibuk menikmati biskuit s**u miliknya. Uca memakai sepatu pemberian Mpok Ria yang beberapa waktu lalu diberikan wanita itu. Itu sebenarnya sepatu Manda sewaktu kecil karena buah hatinya itu tak menyukainya, ia menyimpannya dan memberikan pada Uca karena Mona anak bungsu tak suka memaklai pakaian atau perlengkapan berwarna pink. Si Bungsu adik Manda itu sedikit tomboi.
Uca senang sekali akhirnya memakai sepatu baru, beberapa waktu lalu ia sakit jadi tak bisa mengenakan ke sekolahnya da mengenakan sepatu baru.
"Bagus ya Kak Ziel sepatunya?" tanya Uca pada Ziel yang kini mengambil Cia dari pangkuan Uca.
"Iya bagus banget, Ade udah terima kasih sama mamanya Mona belum?"
Uca mengangguk. "Sudah, Uca bilang terima kasih. Gitu."
Ziel tersenyum gemas melihat tingkah Uca. "Pinter, gitu dong adiknya Kakak Ziel."
Uca tersenyum saat Ziel memujinya. Setelahnya Rei datang lalu menyuapi Uca dan Ziel dengan nasi goreng buatannya. Hari ini Rei akan ke sekolah Ziel untuk kembali membayar kekurangan uang pangkal. Setelah mendapat bayaran dari mencuci di rumah Mpok Ria kemarin, uang Rei untuk membayar sekolah Ziel terkumpul.
Setelah semua selesai, Rei bergegas untuk mengantar Ziel ke sekolah, bersama Uca dan Cia. Pagi ini ia tak ingin merepotkan Cinta, karena semalam Cinta mengatakan kalau ia sedikit pusing karena menjelang datang bulan, sementara Arin bekerja. Rei menggendong Cia, sementara Uca duduk di belakang bersama Ziel yang sudah di pakaikan tas pengaman oleh Rei. ia jelas memastikan semua anaknya dalam keadaan aman saat ia mengendarai motor.
Sepanjang perjalanan Uca terus bernyanyi, Cia menyahuti sang kakak. Suara Uca terdengar nyaring saat sang mami terhenti di lampu merah dan itu buat Rei begitu bahagia. Sebelumnya, ia merasa begitu sedih karena Uca begitu pendiam diawal mereka harus pindah rumah. Namun, lambat laun semua berubah dan gadis kecil itu kembali cerita seperti biasanya. Dan hari ini ia terpaksa ikut mengantar sang Kakak, karena waktu masuk paud masih terlalu lama. Pukul delapan, sedangkan Ziel harus tiba sebelum setengah tujuh.
Setelah tiba, Ziel segera mencium tangan sang mami, sementara Rei berjalan menuju ruang tata usaha bersama Uca dan Cia yang tertidur. Sepanjang jalan Uca memerhatikan para siswa dan siswi yang tengah mengobrol atau berlarian itu buat Uca senang.
"Mami sekolah Kakak bagus ya?"
Rei mengangguk mendengar perkataan buat hatinya.
"Uca mau sekolah di sini boleh Mi?" Tanya Uca lagi.
"Mau sekolah kakak yang ini atau yang dulu?" Rei bertanya pada Uca. Dalam hati, jika ia memiliki uang yang cukup, lebih baik ia menyekolahkan Uca di sekolah yang lebih baik lagi. Seperti sekolah Ziel sebelumnya, tentu saja orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.
"Yang ini aja Mi, bagus."
Rei sampai di ruang tata usaha, lalu berjalan masuk setelah meminta ijin. Ada Pak Pri yang tengah duduk sambil menikmati teh manis.
"Ada apa ya Bu?" Tanyanya sopan.
"Maaf pak, saya mau bayar pelunasan pembayaran uang pangkal."
"Atas nama siapa anaknya?" Tanya pak Pri sambil membuka data di komputer miliknya.
"Jazziel Kaivan Bimantara, pak kelas 3," jawab Rei.
Pak Pri kemudian, mencari data nama yang disebutkan Rei. "Ini sudah terbayar lunas sampai SPP pun sudah sampai tiga bulan semester genap Bu."
Reina terkejut lalu berjalan mendekat untuk menata pada layar monitor milik pak Pri yang ada di hadapannya.
"Ibu bawa kartu bayarannya?" Tanya Pak Pri dijawab anggukan oleh Rei yang masih terpaku.
"Ini siapa yang bayar ya Pak?" Tanya Rei sambil menyerahkan kartu SPP pada Pak Pri.
"Untuk siapanya, saya juga kurang tau Bu. Cuma yang saya tau ini yang membayarkan Pak Agus. Ibu bisa coba tanya sama beliau." Pak Pri kini sibuk mengisi kartu bayaran Ziel. Lalu mencetak Nota pembayaran pelunasan pembayaran uang pangkal sekolah. Setelah selesai, ia kembali menyerahkan pada Rei. "Ini ya Bu."
Rei menerima. "Terima kasih ya Pak. Maaf pak, apa Pak Agus sudah datang?"
"Sudah bu, sepertinya tadi ada di ruang BP ibu silahkan ke sana.* Sahut pak Pri sopan dengan aksen Jawa yang kental.
"Baik, terima kasih kalau begitu ya pak."
"Sama-sama Bu."
Setelah nyari menuju ruangan BP bersama Uca dan Cia yang ada dalam gendongannya. Rei sangat yakin kalau yang membayar uang pangkal dan SPP Ziel adalah Agus. Karena hanya sang Mantan kekasih dan Jimmy mengetahui kalau dia bersekolah disana. Tapi sepertinya tak mungkin Jimmy yang melakukannya.
Rei naik ke lantai dua menuju ruang BP melewati lorong dan ruang koperasi sebelum sampai di sana. Setelah tiba ia segera mengetuk pintu setelah mendapat sahutan dari dalam meraih segera membuka pintu dan berjalan masuk. Di dalam terlihat Agus yang tengah duduk sambil membaca baca buku absen. Melihat Rei yang kini ada di hadapannya Sebenarnya Agus sedikit terkejut.
"Assalamualaikum." Rei dan Uca berikan salam bersamaan.
"Waalaikumsalam, Rei? Ada apa kamu pagi-pagi ke sini? Eh, silahkan masuk."
Rei kemudian duduk setelah ia membantu Uca duduk di kursi yang sedikit tinggi untuknya. "Kak, aku mau tanya. Apa Kakak yang bayarin uang pangkal dan SPP nya ziel? Hari ini aku ke sini niatnya mau bayar uang pangkal yang masih kurang, tapi tadi kata Pak Pri pembayaran uang pangkal dan SPP nya dia sudah dibayar lunas sampai semester ganjil ini. Waktu aku tanya siapa yang bayar Pak Pri bilang kurang tau, tapi dia bilang Kalau uang itu dari Kakak?" Tanya Rei.
"Ah, itu—" Agus tak bisa memberikan alasan yg jelas tahu kalau Rey akan menolaknya Karena wanita itu mempunyai harga diri yang tinggi.
Re membuka tasnya lalu mengambil uang yang akan dibayarkan pada Pak Pri tadi, Iya lalu meletakkannya di atas meja dan memberikannya pada Agus. "Aku terima kasih ya kak, cuma aku enggak bisa terima. Ini untuk gantinya, sama SPP dua bulan. Yang uang dua bulan selanjutnya aku cicil bulan depan ya kak."
Agus jelas menolak ia kembali memberikan uang itu pada Rei. "Aku ikhlas ngebantu Ziel bukan karena apa-apa. Anggap aja aku kagum sama dia karena dia pinter banget di sekolah," ucap aku. "Aku enggak memberikan ini sebagai bantuan, tapi ini adalah hadiah buat Ziel."
"Kak, aku tau kaka—"
"Ini hadiah ya Rei, please." Agus memberikan uang with pada Rei. "Kamu bisa bilang sesuatu kalau memang butuh bantuan."
"Aku butuh kerja sih kak."
"Aku ada distro kamu mau kerja di sana? Aku itu lebih banyak dijual untuk barang-barang anak muda dan remaja cewek cowok gitu sih. Kalau kamu mau kamu bisa kerja di sana." Agus menjawab mencoba memberikan solusi untuk Rei.
"Kalau untuk kerja kayak gitu rasanya sulit karena aku harus bawa salah satu antara Uca atau Cia. Aku nggak bisa titipin dua-duanya ke Cinta karena memang dia sibuk banget jadi kalau aku ngojek pun salah satu dari anak aku pasti aku bawa. Kalau Kakak ada tetangga yang butuh jasa cuci atau gosok aku juga bisa kok." Rei menjelaskan.
Aku berpikir sejenak sejujurnya ia merasa iba sekali dengan kehidupan saat ini. "Gimana mau kamu nyuci sama gosok di rumah aku aja? Mulai besok?"
Rei mengangguk yakin dengan senyum yang cerah membuat beban pikirannya sedikit berkurang. "Boleh kak?"
"Boleh, kamu bisa bawa Uca, Cia atau dua-duanya. Anak-anak bisa tidur di kamar belakang kalau ngantuk." Agus kemudian merogoh kantong celananya, mengeluarkan kunci rumahnya dan mengeluarkan salah satu kuncinya. "ini kunci rumah aku. Kamu bisa tanya Arin di mana rumah Jimmy. Rumah aku tepat ada di samping rumah Jimmy. Rumah Jimmy nomor 13 sedangkan rumahku nomor 11."
Rei menerima kunci. Sebenarnya ia masih tak percaya dengan ini. "Kakak serius?"
Agus mengangguk. "Aku serius," jawab Agus yakin.
"Alhamdulillah, makasih banyak ya Kak?"