Mantu, Ayam Goreng

1779 Words
Ziel tengah mengantuk setelah semalam ia tak bisa tidur karena menjaga Cia si bungsu yang terjaga. Ziel dulu anak yang manja dan sama seperti anak pada umumnya yang banyak menuntut ini dan itu pada sang mami. Namun, semua berubah karena ia melihat Rei yang sering klai terdiam dan terlihat sedih saat menjalani biduk rumah tangga bersama Danish. Bukan hanya itu Danish sering kali melakukan kekerasan fisik pada sang istri seperti mendorong atau menoyor kepala Rei meski jelas Rei melawan kala itu. Tetap saja itu buat Ziel merasa sedih, ditambah saat sang suami harus mengerjakan semua pekerjaan rumah yang buat kelelahan dan tak ada waktu untuk mengajari Ziel dan menemani si sulung belajar. Sikap Ziel kemudian berubah yang ia inginkan adalah agar tak merepotkan Rei yang sudah menjalani hari-hari yang berat. Ia menjadi lebih dan mencoba melakukan hal-hal yang bisa membantu meringankan sang ibu. Meski kadang sisi kekanakannya muncul yang buat Rei kesal. Ziel duduk di barisan depan, hari ini pelajaran matematika membahas mengenai pecahan dan Agus tengah menjelaskan di depan kelas. Ziel merasa mengantuk ia sedikit menunduk karena tak ingin terlihat sesekali memejamkan mata. NAmun jelas asja Agus bisa melihat jika Ziel tak memerhatikan dan sibuk dengan dirinya sendiri. "Jazziel," panggil sang wali kelas. Panggilan Agus buat Ziel menyahut dan mengangkat tangannya. "Ya, Pak!" "Kamu bisa kerjakan soal ini? Bapak lihat kamu tidak memerhatikan," perintah Agus sambil menunjuk soal yang ada di papan tulis. "Bisa pak," jawab Ziel kemudian berjalan maju ke depan. Ziel berjalan ke depan, mengambil spidol yang tergeletak di tepian papan tulis lalu segera mengerjakan soal yang diberikan Agus. Tak lama baginya untuk mengerjakan soal pecahan itu karena memang sudah ia pelajari sebelumnya. "Ini sudah Pak," ucap Ziel. Agus menggerakan tangannya meminta Ziel untuk kembali duduk ke tempatnya. Ia kemudian kembali mendekat ke papan tulis dan kembali menjelaskan pelajaran. Sebelum terpuruk seperti saat ini Rei juga memasukan ke bimbingan belajar yang memang diberikan pelajaran matematika lebih cepat daripada pelajaran yang mereka pelajari di sekolah. Ziel terbiasa dengan pola belajar seperti itu. Ia kini melakukan itu sendiri belajar pelajaran yang belum dipelajari dan itu buat ia lebih baik menyerap pelajaran yang lain di luar matematika. Bel istirahat berbunyi anak-anak yang lain berlarian ke luar kelas untuk segera ke kantin. Sementra di kelas hanya ada tiga orang anak yang masih berada di kelas untuk menyantap bekal yang mereka bawa dari rumah termasuk Ziel ynag dibawakan bekas nasi uduk yang pagi tadi dibeli oleh Rei. Ziel menikmati santap siangnya, lalu mengambil botol air mineral kecil yang ia bawa dari rumah. Isinya tinggal sedikit karena ia kepanasan setelah upacara tadi. Ziell hanya mendesah merasa pasti kekurangan hanya dengan meneguk air yang bahkan tak akan terasa sampai ke dalam tenggorokannya. Ziel juga tak bisa membeli segelas air karena uang jajan miliknya sudah ia tabung. Setiap hari Rei memberi Ziel lima ribu rupiah atau tiga ribu tergantung uang yang ia miliki. dan setiap harinya uang itu Ziel tabung jika ia membawa bekal dari rumah. Seorang teman sekelasnya melihat itu, gadis berhijab itu jalan mendekat membawa botol minum besar yang terlihat masih penuh. "Ziel, mau?" tawar gadis itu sambil menunjukan botol miliknya. "Memang boleh?" tanya Ziel. "Boleh, sini botol kamu." "Makasih Aufa." ucap Ziel pada teman sekelasnya itu. Aufa mengangguk sambil menuangkan air dari botol minum miliknya pada botol minum Ziel. "Ziel, kalau kurang bilang ya." katanya sambil memberikan kembali botol minum milik Ziel yang kini telah terisi penuh. Ziel mengangguk. "Ini cukup kok," ucap Ziel kemudian tersenyum. "Oiya Ziel, kalau aku mau minta ajarin kamu soal pecahan boleh nggak?" Ziel mengangguk yakin. "Boleh kok, silahkan nanti Ziel ajarin kamu." "Oke, makasih ya." "Bilang aja mau kapan, kalau aufa mau bisa tanya Manda rumah Ziel di mana. Rumah Ziel enggak jauh dari sana kita bisa belajar bareng." Ziel menawarkan. "Oke deh, makasih ya." Aufa kemudian kembali berjalan ke mejanya dan kembali melanjutkan kegiatan makan siangnya. Sama dengan Aufa, Ziel juga kini menyantap makan siangnya kembali dengan lahap. Ia senang karena ada teman yang baik terhadapnya. Selama in memang Ziel jarang bergaul karena ia memang terkesan tak ramah dan memiliki wajah yang dingin. Selain dengan Manda , Manda cukup mengenal Ziel karena Rei sesekali mencuci dan menggosok pakaian di rumah orang tua Manda yang adalah keponakan Arin. Seperti hari ini Rei tengah mencuci di rumah Manda. Rumah orang tua manda jaraknya cukup dekat hanya berjarak beberapa RT di kost madame rose. Rei menggendong Cia sambil memilah pakaian sementara Uca bermain dengan Mona adik Manda yang juga satu paud dengan Uca. Uca dan Mona juga cukup akrab. Mpok Ria orang tua Mona dan Manda juga sangat baik pada Rei. Salah satunya pakaian yang dikenakan Cia dan Uca juga banyak pemberian dari Mpok Ria yang masih bagus, layak dan banyak yang bermerk. "Rei, itu bapaknya anak-anak enggak ada kabar?" tanya Mpok Ria yang kini berdiri di samping Rei smbil mengunyah keripik kaca level setan. Rei gelengkan kepala. "Enggak Mpok." Jawab Rei seadanya ia tak ingin membahas Danish lebih jauh lagi. "Itu begitu dia laki mokodo. Lo bisa-bisanya nemu begituan. Menu dimana sih?" tanya Mpok Ria. (Mokodo= Modal Kon(anu) Doang) Rei terkekeh mendengar apa yang dikatakan Mpok Ria. "Nemu di depan rumah Mpok terus aku pungut." "Ckckck, coba itu dia gimana perasaan dia, enggak ketemu sama anak? Bisa-bisanya damai sentosa? Mana lihat itu anaknya cakep-cakep bener. Coba aja itu baba-nya Manda sama Mona saban ari telpon anaknya udah kayak minum obat. Nanti anaknya ngerengek dikit dia ngomel. Padahal emang anaknya aja yang caper." "Bagus itu Mpok alhamdulillah banget." "Bagus sih, ya cuma gitu kalau anaknya nangis dikit kita yang salah. Padahal emang anaknya cengeng apalagi si Manda noh. Asatgfiruloh timbang dicolek ama adeknya udah nangis kaya diapain aja." Rei terkekeh mendengar apa yang dikatakan Mpok Ria. Rei senang bila mpok Ria membutuhkan jasanya paling tidak ia bisa mendapatkan tujuh puluh lima ribu untuk jasanya mencuci dan menggosok pakaian. Kadang Mpok Ria juga minta di creambath dan jika itu ia lakukan REi bisa membawa uang seratus dua puluh lima ribu sehari. Hanya sesekali saja mpok meminta bantuannya jika ia benar-benar malas atau kelelahan seperti saat ini setelah membantu sang suami membereskan toko. "Assalamualaikum," suara Manda terdengar dari luar. "Waalaikumsalam, di tempat cuci sayang!" teriak Mpok Ria memberi kode agar anak perempuannya tak bingung mencarinya. Gadis berambut panjang dengan tubuh yng sedikit berisi itu berjalan mendekati sang ibu lalu mencium tangan Mpok Ria dan Rei, ia kemudian mencium pipi Cia gemas. "Botoh-nya mama kok udah pulang?" "Gurunya rapat," jawabnya sambil duduk di kursi plastik kemudian melepaskan sepatu yang ia kenakan. "Ziel masih nunggu kan Manda?" tanya Rei yang berniat akan menjemput si sulung. manda gelengkan kepala. "Tadi udh pulang sama Baba sama Manda juga." "Lah tumbenan itu calon menantu mau pulang sama Baba lu?" tanya Mpok Ria yang selalu memanggil Ziel dengan sebutan calon menantu karena ia menilai Ziel tampan dan pintar cocok untuk dijadikan menantu. "Ih, mantu mantu apaan sih mama. Ziel tuh banyak yang naksir tau." "Lah lu berjuang lag dapetin hatinya Ziel." sahut sang ibu. "Kalau enggak mau mama pake jasa orang dalem." Mpok Ria menoleh pada Rei. Manda memenye-menyekan bibirnya. "Manda tuh tipenya bukan yang kaya Ziel. Ziel itu judes," ucap Manda. "Ya elah, sok-sokan tipe lu bocah. Emang tipe lu kayak mane Manda?" tanya mpok Ria pada sang anak yang kini berpikiir sambil menopang dagunya. "Manda tuh mau yang humoris kayak Baba." "Saoloh, sok-sokan ngomong humoris. Baba lu kan jelek Manda, bagus aja mama lu cantik gini, lu jadi cantik juga." Manda melirik sang ibu kesal. "kok mama ngejelek-jelekin Baba sih?" "Emang baba lu jelek." lagi Mpok Ria katakan itu buat Manda semakin kesal. "Dih, liatin aja mama Manda aduin baba biar enggak di kasih duit buat belanja onlen." MAnda eksal kemudian berjalan cepat menuju kamarnya. Sementara sang ibu tertawa lepas karena berhasil membuat sang anak kesal. "Rei kalau pulang ayam goreng yan di kulkas lu bawa pulang dah, masih ada tiga potong kemarin bapaknya manda bawa pulang sekeranjang itu yang makan Manda doang sama Mona. Itu ada di kulkas sayang nggak bakal dimakan lagi. Sama ada s**u kemarin kan gue beberes posyandu masih ada sisa s**u yang buat dibagiin. Lumayan buat Cia sama Uca. Udah yak, gue mau belanja dulu. Lo bawa nasi juga onoh masih banyak banget pagi tadi gua masak segabrukan kagak bakal abis." "Makasih banyak ya Mpok." ucap Rei benar-benar berterima kasih pada Mpok Ri karena banyak membantunya selama ini. "Iyak, iyak gampang dah. Yaudah, duit lu nanti dulu ini gue sekalian ambil Atm yak. Jangan balik rumah dulu." "Iya Mpok." Setelah merapikan rumah dan selesai dengan pekerjaannya. Rei pulang membawakan ayam goreng yang pasti akan disukai oleh Ziel. Uca berjalan pulang dengan bersemangat. Karena hari ini ia akan makan ayam goreng tepung kesukaannya. Dulu hal ini terasa biasa saja untuk Rei. Sepotong ayam yang bisa ia beli dan nikmati kapan saja. Kini rasanya kini menjadi hal yang begitu mahal dan mewah. "Kita makan ayam FKC ya Mi?* Tanya Uca. "Iya, Uca seneng?" Uca mengangguk. "Seneng sekali.* Saat sampai di depan warung cinta terdengar keributan. Rei melangkahkan kakinya mendekati melihat Cinta Yang tengah bertengkar dengan Juki. "Kenapa Cin?" Tanya Rei. "Ini sih Juki kebiasaan kak kalau bawa pesanan minuman enggak pernah bener. Gue minta air mineral 10 dus malah dia bawain 12, sama kopi gelas gua minta 8 dia bawain cuman 6," Protes cinta. "Ya kan gue bisa bawain lagi nanti Cinta." Juki menyahut. "Bukan masalah lu bisa balik lagi Juki, tapi lu kagak profesional. Gue kan udah beli berkali-kali masih bisa salah terus." Rei melirik Cinta dan Juki, juga Uca yang malah tersenyum melihat keduanya bertengkar. "udah buruan bawa lagi Juk." Juki berjalan meninggalkan warung, naik motornya, kemudian melajukan motornya untuk segera mengambil kekurangan barang yang dipesan Cinta tadi. Sementara kini cinta berita kesal seraya meminta karyawan tokonya untuk memasukkan kardus kardus berisi pesanan yang sudah dibawa Juki. "Jangan marah terus nanti jodoh lho." Rei katakan itu. "Dih, males kak. Lo mau kemana?" "Habis cuci gosok di tempat Mpok Ria. Mau pulang, Ziel udah pulang soalnya." Rei menjawab. "gue balik ya?* "Oke Kak," sahut cinta sambil mencium pipi Cia dan Uca bergantian. Rei kemudian melangkah kembali menuju rumahnya. Segera berjalan cepat untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Sesampainya disana ia melihat si sulung yang sudah rapi, berganti pakaian dan kini duduk di tempat tidur. Uca kemudian berlari menghampiri sang kakak dan memeluknya. "Kita makan ayam goreng kak!" Seru Uca. Keduanya kemudian saling ber-tos ria karena begitu senang. Rei senang melihat kedua anaknya yang terlihat begitu bahagia. Padahal ini hanya untuk hal yang mungkin sepele bagi orang lain. Hal mungkin dulu tak pernah ia syukuri. "Ayo makan, Uca cuci tangan sama kaki dulu ya Nak." "Oke mami," Uca segera berjalan ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD