Agus telah tiba di rumah, setelah memarkirkan mobil ia segera berjalan masuk, melihat mobil sang kekasih yang ada terparkir di samping rumahnya ia tau bahwa Mira kini berada di dalam. Agus tersenyum lalu segera berjalan cepat masuk ke dalam. Saat membuka pintu aroma masakan tercium, jelas itu bukan masakan Mira. Biasanya ia akan membeli makanan yang akan dimakan bersama dengan Agus. Mira tak menyukai kegiatan dapur, Menurutnya itu melelahkan dan membuat ia berkeringat, ia tak menyukai itu. Agus tak mempermasalahkan itu yang terpenting adalah Mira bahagia dengan apa yang ia lakukan. Ia bebas tak melakukan hal yang tak ia sukai.
"Assalamualaikum," Agus ucapkan salam lalu berjalan ke ruang makan.
"Waalaikumsalam Mas," sahut Mira yang kini duduk di kursi makan sambil menatap layar ponselnya.
Mira sudah menunggu cukup lama, ia kemudian berdiri, menghampiri dan memeluk Agus saat melihat kekasihnya memasuki rumah. Gadis itu rindu sekali pada kekasihnya yang terlalu sibuk hingga seolah tak memiliki waktu untuk mereka berdua. Agus kecup pipi Mira sambil keduanya berjalan menuju ruang makan dan segera duduk di sana.
"Kok baru pulang kamu?" tanya Mira seraya mengambilkan piring untuk kekasihnya.
"Ada anak murid aku nggak dijemput sampai sore tadi. Akhirnya, aku anterin karena pas aku telepon, ibunya lagi di puskesmas. Ya, akhirnya aku anterin." jawab Agus menerima sepiring kwetiau seafood dari sang kekasih.
"Pacar aku kok baik banget?" puji mira sambil tersenyum.
Agus tertawa kecil melihat mimik wajah mira yang menurutnya menggemaskan. "Jangan manyun gitu ya, aku bisa salah makan nanti."
"Kamu mau makan aku?" tanya Mira.
"Sst, enggak, enggak belum sah sayang."
Mira duduk lemas. " ni biasanya yang ngomong jangan itu perempuan lho. Ini kok malah kamu."
"Hahahah, aku janji buat jaga kamu. Dan aku enggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan hubungan kita. Kita memang udah dewasa betul, tapi batasannya kita berdua sudah sama-sama tau dengan jelas lho Mir." Agus jelaskan lagi kata-kata yang mungkin Mira sudah bosan mendengarnya.
"Iya, iya," sahut mira malas.
Selama ini hubungan Mira dan Agus bis dikatakan berada dalam jalur yang sangat aman. Hanya sesekali melakukan ciuman bibir dan berpelukan adalah hal yang Agus sukai. Bukan Agus tak memiliki keinginan untuk melakukan hal yang lebih. Tak munafik pikiran-pikiran yang terus bersuara untuk melakukan hal lain saat keduanya bersama terus menggema di otaknya. Hanya saja Agus tau dan sadar diri, ia tak ingin hubunganya bersama Mira akn hancur dan jika terjadi sesuatu pada Mira itu akan membuat Mira menjadi buruk dimata orang lain. Faktanya selama ini setiap kehamilan diluar nikah yang terjadi adalah hujatan selalu diberikan pada pihak perempuan. Beban berat diterima para perempuan bukan hanya karena mereka harus mengandung, mereka juga harus menerima cibiran netizen. Kehamilan diluar nikah tak meninggalkan jejak di pihak laki-laki mereka bisa saja diam dan tak bertanggung jawab sementara wanitanya menanggung beban berat karena merekalah yang harus mengandung perubahan fisik yang akan menciptakan cibiran dan cemoohan dari bibir netizen yang maha benar.
"Aku cuma mau lindungin kamu Mir." Agus coba beri penjelasan,
Mira tersenyum, menatap Agus lalu mengusap tangan kekasihnya ia baik-baik saja dan coba mengerti pemikiran Agus yang memang betul menurutnya. "Aku ngerti," jawab gadis itu singkat.
"Kerjaan kamu gimana?" tanya Agus coba alihkan pembicaraan mereka.
"Biasa aja, aku lagi mau buka klinik kecantikan baru di Bali kamu mau ikut nggak sabtu besok?"
Agus menggelengkan kepalanya. "Aku mau bikin soal buat anak-anak hari senin mereka mau ada penilaian tengah semester."
Mira hela napas kesal karena terus menerus ditolak Agus ketika ia mengajak kekasihnya itu pergi menghabiskan waktu bersama. "Kemarin ultah papa aku kamu juga udah nolak lho. Papa sampai nanyain kamu kemana, terus ini kamu juga enggak mau. Kita jarang banget berdua-duaan kamu sibuk terus. Kayanya temen aku yang guru juga enggak sesibuk kamu."
"Maaf, belakangan aku memang agak sibuk. Kalau enggak ke Bali dan cuma jalan-jalan sekitar jakarta aku bakal ikut kamu Mir. Tolong ngerti," ucap Agus memohon.
"Aku kurang ngerti apa sih MAs? Aku cuma minta akita berdua aja."
"Aku minta maaf, aku janji akan cari waktu bener-bener buta kita berdua. Sebentar lagi ya" Sebentar lgi kan liburan sekolah. Kita jalan-jalan, kemana aja kamu mau. Mau nginep juga boleh, hmm?" tanya Agus yang menatap pada Mira gadis berambut pendek itu yang mulai tersenyum senang dengan janji sang kekasih.
"Oke, aku pegang janji kamu ya?"
Agus mengangguk, ia tentu akan berusaha menepati janjinya untuk meluangkan waktu untuk Mira gadis yang ia cintai agar hubungan keduanya baik-baik saja dan bisa berlanjut hingga jenjang yang lebih serius.
***
Malam ini Jimmy berada di warung Cinta bersama dengan kekasihnya tengah menikmati seblak bertiga. Mereka duduk di ruangan lain yang berada di dalam.Tadinya, ruangan ini adalah gudang yang biasa juga cinta jadikan tempat istirahat karena memang tak terlalu banyak stok barang dagangan yang berada di sana. Sebagian besar berada di ruang depan yang sekaligus toko serba ada. Cinta tak terlalu khawatir karena ada dua karyawan tokonya yang menjaga.
Jimmy tengah menikmati seblak disuapi oleh Arin buat Cinta geleng-geleng kepala. "Manja banget lo Cim," ledek Cinta.
Jimmy melirik pada cinta lalu julurkan lidahnya. "Sirik aja lho jomblo."
"Bentar lagi dia enggak jomblo sayang," sahut Arin sambil menyantap seblak miliknya.
"Sama siapa emang?" tanya Jimmy penasaran.
"Juki," jawab arin enteng tanpa ekspresi.
"Idih, najes gue sama Juki." Sinta mengelak merasa kesal karena Arin meledeknya dengan Juki yang kelas-jelas adalh musuh bebuyutannya.
"Hahahahah, lagian Juki ganteng sih. Kenapa coba lo menolak?" tanya Arin masih terkekeh menunjukkan gigi gingsulnya yang buat Jimmy jatuh cinta.
"Lo lihat aja di tuh sering cari gara-gara sama gue weh." sahut sinta.
"Iya, itu tanda cintanya dia kali, hahahaha." Melihat wajah Cinta yang kesal buat Arin semakin terkekeh.
Jimmy teringat sesuatu ia lalu meneguk teh dalam gelas miliknya. "Gue punya gosip, anjir bisa-bisanya gue lupa."
"Apa?" Cinta dan Arin menatap Jimmy bersama lalu bertanya berbarengan.
"Ini pokoknya gosip terpanas banget, banget, gila-gila." Jimmy bersemangat dan itu semakin buat kedua gadis dihadapannya penasaran.
"jangan kelamaan Bambang," kata Arin kesal lalu memukul bahu kekasihnya.
"Gue baru tau kalau Wali kelas Ziel, yang temen gue itu dia ..."
"Apa?" tanya Arin dan Cinta.
Jimmy menggerakkan kepalanya ke depan diikuti Cinta dan Arin. Jimmy lalu tersenyum iseng, menunjuk kedua gadis di depannya. "Penasaran ya? Hahahaha."
Cinta kesal ia berdecak, lalu memukul bahu Jimmy. "lama!"
Arin juga memukul bahu Jimmy beberapa kali karena merasa dipermainkan oleh kekasihnya itu. "lama ya kamu ah males aku!" kesal Arin.
"Sorry, sory serius nih sekramg. Agus itu ternyata temennya Rei jaman Sma."
"Hah!!!" Cinta dan Arin berseru kompak.
"Dan .., mereka ternyata mantan pernah pacaran." Jimmy melanjutkan.
"HAH!!!" keduanya berseru semakin keras buat Jimmy menutup telinganya.
"Kok bisa?" tanya Arin.
Jimmy menggelengkan kepalanya ia juga tak tau bagaimana bisa kebetulan yang sangat kebetulan itu terjadi. "Gue juga bingung deh. Kenapa bisa kebetulan yang kebetulan banget ini bisa terjadi."
"Tunggu, Agus itu yang kulitnya putih banget itu kan?" tanya Cinta yang dijawab anggukan oleh Jimmy.
"Tadi dia ke sini anterin Ziel pulang." lanjut Cinta lagi.
Arin menepuk kening. "Astagfirullah gue lupa lho jemput Ziel. Tadi gue kerja buru-buru."
"Ih, tega kamu Yank." Jimmy bercicit buat arin melirik kesal atas kejulitan kekasihnya.
"Jangan-jangan jodoh mereka."Arin katakan itu, tapi jimmy gelengkan kepala.
"Agus udah punya pacar soalnya. Yang aku tau pacarnya itu yang bisa obatin sakit hatinya. Namanya Mira udah gitu dia juga udah mapan banget dan mereka udah pacaran lama," jelas Jimmy kemudian menyendok sendiri seblak miliknya yang mulai dingin.
"Tuh kan namanya aja mirip-mirip sama Mak Rei, setau gue nama Mak rei kan ada Mira Mira-nya. Ya kan Cin?" tanya Arin.
Cinta mengangguk. "Clemira, kan?"
"Tuh belum move on tuh." Arin meyakinkan dirinya sendiri.
"Aish yang realistis aja lah Yank, Mira jauh segala-galanya dibanding Rei." Jimmy meragukan apa yang dikatakan kekasihnya itu.
"Ya, namanya cinta Yank. Aku aja aneh kamu mau," kata arin.
"Iya karena kamu aneh jadi unlimited." sahut Jimmy. "Aku suka barang antik soalnya. Hahahaha."
"Sialan," umpat Arin kesal saat Jimmy terkekeh setelah meledeknya barusan.
Sementara di kamar kos Rei, Ziel tengah belajar sendiri karena yang lain telah terlelap. Rei jelas lelah sekali malam ini setelah Uca diare seharian. Dan terhenti malam tadi setelah minum obat dari puskesmas. Ziel mengerjakan beberapa tugas yang bahkan belum diajarkan oleh guru di sekolah. Ziel sesekali belajar ditemani teh manis yang ia buat sendiri. Tatapan matanya beralih saat melihat Cia yang bergerak buat si sulung bergerak mendekat lalu menepuk-nepuk b****g adik bungsunya. Usaha Ziel gagal, Cia terbangun Ziel segera menggendong dan mengajak sang adik duduk di karpet agar tak mengganggu sang mami.
"Cia mau s**u?* Tanya Ziel.
"Mau Ciel." Cia menjawab lalu duduk dengan manis di pinggir tempat tidur.
"Kakak buatin Cia enggak boleh berisik oke?" Ziel memberitahu si bungsu.
Cia mengangguk, sambil duduk dan menatap sang kakak yang mulai membuat s**u untuk sang adik. Ziel membuat s**u sambil terus menatap sang adik. Ia takut kalau Cia tiba-tiba bergerak membangunkan sang mami atau mengacak acak tempat ia belajar. Setelah selesai, Ziel menghampiri Cia dan memberikan sebotol s**u buatannya pada Cia.
"Kakak Ziel belajar dulu, Cia enggak boleh ganggu okay? Be a good girl," ucap Ziel.
"Cia tulis mau?" Tanya Cia meminta agar Ziel mengijinkannya untuk menulis.
"Bukan gitu ngomongnya sayang. Cia mau nulis, Kak Ziel." Ziel membenarkan ucapan sang adik.
"Cia mau tulis Ka Ciel." Cia mengulangi apa yang dikatakan sang kakak.
Ziel mengajak Cia ke meja belajar, lalu mencari buku yang tak terpakai. Sang adik ia dudukkan di sampingnya setelah ia menemukan buku untuk Cia.
"Susunya habisin dulu ya," pinta Ziel dijawab anggukan oleh sang adik yang kemudian merebahkan tubuh ke pangkuan sang kak. "Satu, dua, tiga, empat …" Ziel berhitung seraya menunjukkan jari-jarinya pada sang adik. "Cia harus pinter ya? Hmm biar mami happy."
Cia mengangguk, "Atu, iga, Ima." Si bungsu berhitung asal buat Ziel tersenyum.
Ziel dipaksa menerima keadaan dan dewasa sebelum waktunya. Dipaksa menerima kesulitan hidup setelah bergelimang kemudahan dan kemewahan. beruntung bagi Rei karena Ziel bisa menerima itu semua dengan baik.