Ziel dan Agus

1123 Words
Mobil lawas milik Agus berhenti di depan warung milik Cinta. Mobil tua peninggalan mendiang sang ayah. Ia yang mengantarkan Ziel pulang meski tadi Rei memintanya untuk tak perlu melakukan itu karena itu akan merepotkan Agus. Hanya saja Agus tak merasa direpotkan dan ia juga merasa iba jika Rei yang sedang bersama Uca yang tengah sakit harus menjemput Ziel. Ague menatap Ziel, "ini rumah Ziel?" "Bukan Pak, ini warung punya Tante Cinta temen mami. Biasanya kalau parkir di sini. Rumah Ziel yang itu." Ziel menunjuk sebuah banguanan bertingkat dua dnegan banyak kamar. Agus memerhatikan arah tunjuk Ziel dan mengangguk. Keduanya kemudian ke luar dari dalam mobil. Ziel berlari ke arah warung, lalu memanggil Cinta. "Assalamualaikum Tante?" Cinta berjalan ke luar, menata Ziel yang baru pulang ia menatap jam di tangannya. "Waalaikumsalam. Loh Tante Arin enggak jemput Ziel?" tanya Cinta terkejut karena Ziel saat ini sendirian. Ziel gelengkan kepalanya. "Ziel nunggu, mungkin Tante Arin sibuk. Mami ke mana Tante?" "Mami bawa Uca ke puskesmas, Uca diare. Ziel sama siapa?" Ziel menengok ke arah Agus yang tengah berjalan menghampirinya. "Sama Pak Agus wali kelas Ziel.' "Permisi," ucap Agus. "Owalah, maaf Pak jadi ngerepotin. Tadi Maminya Ziel udah minta tolong sama Arin untuk jemput cuma kayanya Arin masuk lebih cepat." 'Iya enggak apa-apa. Maminya Ziel belum pulang?" tanya Agus. Cinta gelengkan kepala. "Uca tadi mendadak diare habis Ziel berangkat sekolah Pak. Udah usaha diobati di rumah, tapi belum berhenti jadi buru-buru dibawa ke puskesmas." Agus mengangguk, lalu mengacak kepala Ziel. "Yaudah, hmm, Pak Agus boleh mampir ke rumah Ziel?" tanya Agus yang dijawab anggukan oleh Ziel. "Tunggu ya Ziel, tante ambilin kunci."Cinta kemudian berjalan ke dalam mengambil kunci rumah yang dititipkan oleh Rei. Ziel dan Agus menunggu dalam diam. Sampai tak lama Cinta kembali membawakan kunci, kotak makan dan sebotol air mineral dingin yang dimasukan ke dalam kantong plastik. "Ini ada makan siang Ziel, tadi mami buat untuk Ziel. Ini air untuk pak guru." Cinta menjelaskan. "Makasih tante. Cia?" "Cia tidur di dalem, habis makan tadi." Cinta mengatakan itu lalu menatap Agus. "Maaf ya Pak, nggak bisa nemenin. Ini karyawan warung pada lagi keluar untuk belanja." "Iya, enggak apa-apa. Permisi," pamit Agus lalu mengikuti langkah Ziel yang melangkah mendahuluinya. Ziel berjalan menuju gang sempit, menuju kost tempat ia dan sang mami juga adik-adiknya tinggal. Tak perlu waktu lama untuk keduanya sampai di kost madame rose. Langkah keduanya lalu memasuki pagar tua yang berdecit saat Ziel membukanya dengan sepenuh tenaga karena roda yang berkarat, lalu keduanya melangkah menaiki tangga sempit menuju lantai dua, kamar Ziel berada tepat di samping tangga, anak itu dengan segera membuka pintu. Saat pintu terbuka ruangan sudah lebih rapi hanya saja sampah pampers yang masih berada di sudut kamar mandi terikat di dalam plastik berukuran sedang, lalu ember penuh dengan pakaian kotor milik Uca yang sudah dicuci oleh Rei. Sungguh melihat kehidupan Rei saat ini buat Agus merasa miris sendiri. Dulu bisa dikatakan kalau gadis itu cukup berada terlihat dari apa yang Rei miliki dan pergaulannya dulu. Rei juga begitu cantik dengan tubuh jenjang, rambut panjang, yang paling berkesan adalah pipi merah di kulit putihnya buat ia dipanggil si tomat. Agus ingat, dulu ia sering memanggil Rei dengan sebutan 'My Tomato' atau 'Tomat sayang' ya dulu. Sebelum akhirnya ia dikhianati dan diputuskan sepihak karena Rei menjalin hubungan dengan Deff yang jelas lebih segala-galanya darinya. "Duduk dulu Pak, maaf di lantai." Ziel mempersilahkan lalu mengeluarkan sebotol air mineral untuk wali kelasnya itu. "Ziel cuci kaki dan muka dulu ya Pak." "Silahkan Ziel." Agus mempersilahkan. Ziel segera berjalan mengambil pakaian di lemari plastik gantung di samping tempat tidur, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama anak itu telah selesai dan berjalan kembali ke luar dan duduk di samping sang guru. Ziel terlihat senang, Agus mengacak rambut anak itu. Jujur Agus akui Ziel benar-benar mirip Deff bahkan ketika ia tersenyum. Tak ada dendam atau perasaan apapun dalam hati Agus. Ia hanya mengakui kesamaan di antara keduanya. "Makan dulu Ziel. Tadi mami 'kan udah buat makan siang." "Pak Agus udah makan?" Agus tersenyum, jujur ia salut dengan sopan-santun yang diajarkan oleh Rei. "Sudah." Agus menjawab. Ziel membuka kotak makan miliknya, berisi mie goreng instan dengan telur mata sapi setengah matang kesukaan Ziel. Ziel tersenyum, lalu segera berdoa sebelum menyantap makan siangnya. Agus membayangkan bagaimana kesulitan yang dialami Rei untuk mempersiapkan makan siang untuk buah hatinya sementara ia juga harus menjaga Uca yang tengah sakit. "Hmm Ziel udah di sini berapa lama?" tanya Agus. "Udah beberapa bulan sejak mami dan Om Danish pisah Pak." "Om Danish?" "Iya. suami mami setelah pisah sama papi. Om Danish awalnya perhatian sama Ziel. Lama-lama Om bertingkah kaya Ziel enggak ada. Bahkan ke Uca dan Cia juga mami. Mami sering capek karena ngurus adik dan rumah, Om enggak mau tau, enggak pernah di rumah. Om juga pecat mbok sampai semua di rumah mami kerjain sendiri. Kadang Ziel bantu cuci piring atau buang sampah, Mami selalu says sorry karena udah buat Ziel harus bantuin mami. Om Danish juga enggak pernah care sama Uca yang sakit. He's dad but ..." Ziel hela napas kesal tak tau apa yang harus ia katakan. Lalu menyantap kembali makan siangnya. "Papi Ziel? Enggak pernah jenguk?" Ziel mengangguk. "Mami selalu sedih setiap kali Ziel tanya papi. Jadi, Ziel stop tanya lagi. Ziel enggak mau lihat mami sedih.' Saat itu Rei datang bersama Uca yang tertidur, ia sedikit terkejut karena melihat agus yang berada di rumahnya. Agus refleks berdiri, segera mengambil alih Uca dari gendongan Rei yang tengah melepas sepatu usang yang ia kenakan. Agus kemudian merebahkan Uca ke tempat tidur sementra Rei berjalan masuk, dan duduk di samping si sulung. "Lama di sini Kak?" tanya Rei terdengar terengah-engah. Ia cukup kelelahan karena menggendong Uca naik ke atas kamar. Agus kembali duduk, kini berhadapan dengan Rei. "Baru aja kok, aku anter Ziel agak lama di jalan karena macet tadi." "Makasih banyak ya Kak udah mau anter Ziel ke sini. Maaf rumah aku berantakan." Ziel kemudian berdiri mengambilkan segelas air putih untuk sang mami. "Miinum dulu mi." Rei menerima air minum pemberian si sulung lalu meneguknya sampai habis. "Alhamdulilah, makasih ya Kak Ziel." "Aku kira tadi Ziel buat ulah lagi." Rei lalu menatap pada Ziel yang sibuk mengunyah makan siangnya. "Enggak, Ziel baik kok hari ini," jawab Agus. "Oiya kak, aku mau tanya tentang kartu bantuan pelajar itu gimana ya caranya?" "Kalau kamu udah ada syaratnya sini kasih aku. Biar aku yang bantu untuk pengajuan, kebetulan baru akan buka lagi bulan depan." Rei mengangguk bersemangat, raut wajahnya menunjukkan kalau ia begitu senang dengan pipi kemerahan yang masih sama. "Ada Kak." Rei segera berdiri membuka lemari plastik mengeluarkan map berisi keperluan yang sudah disiapkan. Setelahnya kembali menghampiri Agus dan memberikan map itu pada Agus. "ini kak, Makasih banyak ya Kak." "Sama-sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD