Rei tengah memandikan Cia saat Uca memanggilnya. "Mami," panggil anak itu pada sang ibu.
"Iya sayang sebentar ya, mami mandiin adik dulu." Rei menyahut dari dalam kamar mandi.
"Mami," panggil anak itu lagi kali ini dengan sedikit lirih.
Rei dengan segera memandikan Cia, untuk segera menghampiri Uca karena khawatir. Ia menggendong si bungsu kemudian berjalan ke luar kamar mandi. Saat itu aroma menusuk indera penciumannya. Uca berjongkok di dekat pintu, menangis. Rei menghampiri Uca, ia tau jika Uca buang air besar.
"Uca pup Mi, enggak bisa ditahan. Maafin Uca Mi." Uca Kemudian menangis karena merasa telah berbuat kesalahan.
"Enggak apa-apa Nak. Nanti mami bersihin ya, tunggu." Rei memutuskan menggendong Cia yang belum berpakaian dengan gendongan. Lalu mengajak Uca ke kamar mandi untuk membersihkan sang anak yang ternyata mengalami diare.
"Maafin Uca Mi," ucap si kecil lagi.
"Ndak apa-apa sayang mami, hmm? Jangan nangis ya." Rei menenangkan seraya membersihkan Uca.
Rei kembali membawa Uca ke luar mengoleskan minyak kayu putih pada perut buah hatinya, kemudian memakaikan pampers sang adik yang ia robek salah satu sisinya agra bisa dikenakan sang kakak.Rei lalu kembali memakaikan pakaian Cia, ia membiarkan Uca rebah di samping sang adik seraya bercanda dengan si bungsu. Selesai memakaikan pakaian, Rei kembali menggendong Cia.
"Mami beli pampers buat Kak Uca sama beli teh dulu ya? Uca kalau pup, pup aja ya, 'kan pakai pampers adik."
Tapi, Uca menggeleng. "Uca 'kan udah besar kata mami harus di toilet."
"Kan Uca lagi sakit. Enggak apa-apa mami ngerti. Uca tunggu mami ya, jangan ke luar oke?"
Rei mengambil dompet miliknya. Uangnya tak lebih dari lima ribu rupiah dan beberapa recehan. Ia hela napas karena memang hari ini ia sama sekali belum menerima panggilan ojek dirinya memutuskan untuk libur dan mengurus sang buah hati. Dengan Berat hati ia mengambil uang dari dompet lain yang ia sisihkan untuk pembayaran uang pangkal Ziel. Lagi-lagi ia menggunakan uang itu yang bahkan belum terkumpul.
Rei segera berjalan ke luar menuju warung Cinta, ia melihat sahabatnya itu tengah menata aneka jajanan yang baru saja datang.
"Cin, gue mau teh bubuk yang kecil satu, gula seperempat sama pampers lima yang XXL."
"Pampers XXl buat siapa kak?" cinta bertanya kemudian meminta Tono karyawannya mengambilkan apa yang diminta Rei.
"Uca semalam sesak napas, sekarang diare." rei menjawab smenetara Cinta mengambil alih Cia dari gendongan sang mami.
"Ya Allah, bawa ke puskesmas geh kak," kata Cinta prihatin.
"Ini kak Cin." Tono kembali lalu memberikan belanjaan milik Rei dan memberikan padanya.
"Sama biskuit s**u rejal 5 deh Ton." Rei menambahkan, karena diare ia tak ingin perut Uca kosong. Jadi, ia membeli biskuit s**u rejal untuk dimakan Uca yang sejak pagi juga sulit makan.
"Kasih yang dua pack Ton!" Cinta memberi instruksi. Terdengar jawaban 'oke' dari dalam.
"Banyak banget Cin?" Rei bertanya.
"Udah buat Uca kak, kagak usah lu pikirin. Tenang sama gue lah."
"Berapa?" tanya Rei seraya mengeluarkan uangnya.
"Bawa aja dulu kak," tolak Cinta sambil memberikan biskuit s**u pada Rei.
Rei sejujurnya merasa tak enak dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu. "Jangan gitu dong gue enggak enak."
"Kalau enggak enak kasih kucing Kak. Udah sana kesian Uca nunggu. Biar Cia di sini, gue urusin kesian Uca."
"Oke, makasih ya." Ucap Rei kemudian segera kembali berjalan cepat menuju kamar kostnya.
Rei segera masuk ke kamar kost saat ia menemukan kembali Uca yang berjongkok di dekat pintu kamar mandi dan menundukkan kepalanya. Gadis kecil itu segera menoleh mendapati sang mami yang sudah kembali. Rei berjalan mendekat lalu jongkok di depan buah hatinya.
"Mami Uca pup lagi," tangis anak itu pecah lagi.
Rei memeluk Uca, air matanya menetes juga melihat tangis gadis kecilnya. "Ya Allah, enggak apa-apa nak, enggak apa-apa 'kan mami bilang, hmm? Jangan nangis dong cantiknya mami. Ayo mami cebokkin nanti mami buatin teh ya."
Uca sesenggukkan bahkan saat sang mami membersihkan dirinya lagi, lalu kembali memakaikan pakaian ganti, meminyaki tubuh Uca lalu menyelimuti buah hatinya. Rei kemudian menyeduh teh bubuk satu sendok makan teh bubuk ia beri sedikit gula, lalu dituang air panas dan gelas segera ia tutup agar uap panas tidak keluar selama penyeduhan. Cara ini cara turun temurun dari keluarganya jika ada anggota keluarga yang terkena diare. Uap teh tidak dibiarkan keluar agar tak hilang khasiatnya, dan teh yang digunakan harus teh bubuk agar lebih kental.
"Uca boboan dulu ya, mami cuci baju Uca sebentar." Rei mendekatkan air putih hangat yang ia letakkan di dalam botol lalu biskuit yang tadi diberikan cinta. "Makan ini ya, biar enggak kosong perutnya Nak."
Uca mengangguk lalu mengambil salah satu bungkus biskuit dan memakannya meski terlihat enggan. Sementara Rei telah berada di kamar mandi ia mencuci pakaian Uca menghilangkan kotoran agar tak menyebarkan aroma tak enak. setelahnya ia kembali ke luar, menyuapi uca dengan teh yang kini sudah menjadi hangat.
"Mami uca mau pup lagi."
"Pup aja sayang, sambil minum teh ya."
"Nanti bau," sahut Uca sambil kemudian menyeruput teh yang disuapi sang mami.
"Bau sedap," ledek rei sambil mencolek ketiak Uca.
Uca tertawa, meski tubuhnya terasa lemas. Ia bersandar pada sang mami sementara Rei terus menyuapi Uca dengan teh berharap diare Uca lekas membaik. "Sehat ya nak, mami sedih kalu Uca sakit."
"Sorry mami," ucap Uca.
"Sorry kenapa?"
"Mami jadi sedih," jawab Uca.
Tentu saja jawaban Uca membuat hatinya seperti terhujan sesuatu. Air mata yang ia tahan sejak tadi tumpah, Rei kecupi kening Uca. "Sayang mami, jangan says sorry. Mami yang minta maaf sayang," lirih perempuan itu merasa tak bisa memberikan yang terbaik hingga buat Uca sakit.
Uca hapus air mata sang mami,"Jangan nangis mami."
Rei mengangguk, lalu kecup tangan mungil gadis kecilnya. Sebagai seorang ibu tentu saja akan merasa sangat terluka jika buah hatinya sakit. Apalagi ketika mereka merasa jika anak sakit karena diri sendiri yang tak mampu memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.
***
Ziel duduk di depan sekolah sudah empat jam berlalu saat bel pulang sekolah berdentang. anak itu hanya duduk seraya mengerjakan tugas rumah yang tadi di berikan Agus padanya. Seperti apa yang dikatakan oleh Arin bahwa ia tak boleh pulang sendiri dan harus menunggu didinya atau sang mami yang menjemput. Ziel pun tak tau jalan pulang dengan menggunakan kendaraan umum karena sang mami yang tak mengajarkan. Ziel berpikir kalau Rei pasti masih sibuk mengurusi Uca yang sedang sakit.
dari dalam lorong Agus berjalan ke luar menuju parkiran untuk segera pulang. Saat berada di depan sekolah ia melihat Ziel yang tengah serius belajar. Agus heran mengapa Ziel belum juga pulang padahal anak kelas tiga sudah kembali sejak tadi. Pria itu kemudian berjalan mendekat lalu duduk di samping Ziel yang bahkan belum menyadari kalau ia duduk di samping anak itu.
"Ziel," Agus memanggil perlahan.
Anak itu menoleh dengan sedikit terkejut mendapati sang wali kelas yang kini duduk di sampingnya. "Pak Agus?"
"Kok kamu belum pulang?" tanya Agus.
"Iya, mami belum jemput, tante Arin juga." Ziel menjawab masih berusaha tersenyum meki jelas ia merasa kecewa dan takut.
Agus menatap dengan iba ia ingat tadi pagi anak muridnya ini mengatakan kalau sang adik sakit. Mungkin Rei saat ini tengah sibuk mengurus si kecil dan tak sempat menjemput Ziel. "Biar bapak hubungi mami kamu ya Ziel," ucap agus yang segera dijawab anggukan oleh Ziel.
Agus segera mengambil ponsel yang uia letakan di tas miliknya. Ia segera menghubungi Rei setelahnya. "Halo assalamualaikum Rei?"
"Waalaikumsalam Kak, Ziel kenapa lagi kak?"
"Ah, enggak buka karena itu. Ziel belum ada yang jemput."
"Astagfirullah aku lupa kak, aku masih di puskesmas. Suruh Ziel nunggu sebentar lagi ya kak. Kasih tau aku jemput sekalian nanti dari puskes langsung ke sana."
"Hmm, aku aja yang antar gimana?"
"Jangan ngerepotin nanti kak, enggak apa-apa kok aku suruh tunggu sebentar Ziel. Ini tinggal sebentar lagi kok kak."
"Enggak apa-apa, aku antar Ziel." Agus kemudian menatap Ziel. "Ziel tau jalan pulang kan?"
"Tau Pak," jawab anak itu.
"Kamu langsung pulang aja, aku yang antar Ziel."