Kening Aisha berkerut. Menatap keanehan di mejanya pagi ini. Gadis itu mengambil sebuket bunga yang entah kapan sudah ada di ruangannya. Bunga. Aisha ingin tertawa. Seumur hidup, ia baru pertama kali mendapatkan bunga. Namun siapa yang memberi? Jantungnya berdebar tiba-tiba. Karena satu nama terlintas dibenaknya. Wira kah? Harapnya. Namun ia tak menemukan satu petunjuk pun. Hingga ia duduk dan menatap lamat-lamat bunga mawar itu. Tersenyum lembut penuh bahagia. Wajahnya bersinar ditimpa teriknya matahari dari sang jendela. Menambah pancaran emas yang berkilau diwajahnya. Cantik sekali. Tapi bagi Wira, itu lebih dari cantik. Aisha lebih dari cantik. Aisha sangatlah indah. Begitu indah. Ah....andai Wira bisa melihat wajahnya kini. Bersemu merah merona. Padahal kan belum tentu Wira yang mem

