Bab 6

951 Words
aku terluka dan sakit, dari sebuah cinta tapi tidak nyata.  -Rara, 2020- --- Pagi ini langit menampakkan warna yang sangat cantik, ketika Rara pergi ke sekolah. Burung-burung di langit pun turut terbang kesana-kemari, seolah menemani Rara berjalan sendirian. Ya, hari ini Rara berangkat sangat pagi, bahkan disaat semua teman-temannya masih mengantri untuk mandi, Rara sudah siap berangkat. Sebab itulah, gadis itu sendirian. Tapi memang itulah tujuannya, berangkat pagi sendiri agar misinya hari ini tidak diketahui siapapun. Misi rahasia yang nekat ia lakukan setelah beberapa hari ini terkungkung oleh perasaan sadar diri. Sesuatu hal yang membuatnya melangkah maju, setelah diluputi perasaan ragu. Ia yakin, pantas atau tidaknya dirinya, ia harus tetap memperjuangkan perasaannya agar bisa bahagia. Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya Rara tiba di sekolah. Ia datang sangat pagi, bahkan gerbang sekolah masih belum terbuka sempurna. Halaman sekolah pun masih banyak daun berserakan, tanda jika belum dijamah oleh petugas kebersihan sekolah. Rara segera menuju ke kelasnya, ia sempat khawatir jangan-jangan saking terlalu paginya ia datang, kelasnya belum dibuka. Dan benar saja, kelasnya masih tertutup, begitupun kelas-kelas di samping kelasnya. Sepertinya Pak Nur, belum membuka pintu semua kelas. Rara pun memutuskan menunggu Pak Nur dengan duduk di kursi panjang yang ada di depan kelas. Gadis itu pun mengeuluarkan sesuatu dari dalam tas. Sembari menunggu Pak Nur, ia akan kembali membaca surat yang sudah ia tulis semalaman. Surat yang hari ini akan diam-diam ia letakkan di loker Baihaqi.  Ya, ia akan memberikan Baihaqi surat. Sebuah surat yang menyatakan rasa sukanya. Untuk informasi, di pondok pesantren memang masih jaman memakai surat sebagai alat komunikasi. Secara, disini tidak boleh memakai ponsel atau leptop jika tidak untuk urusan penting.  Surat itu Rara tulis dalam kertas binder bewarna pink, semalam ia minta kertas itu pada Ani. Dulu katanya  Ani pernah menulis surat untuk kakak kelas yang ia sukai dengan kertas bewarna pink itu, dan beruntungnya, surat Ani berbalas. Hanya saja, belum juga mereka sempat menyatakan cinta, Kaka kelas itu sudah harus boyong karena sudah lulus. Entah bagaimana sekarang kisah mereka berdua, yang jelas Ani sering menginggat sosok Mas itu dan tidak bisa melupakannya. Lupakan cerita Ani, kita bahas saja tentang Rara yang kini membaca ulang surat yang ditulisnya.  hai bai,  surat ini kutulis ketika aku tengah bingung dan gelisah, bingung, karena tidak tau bagaimana aku bisa berada dititik sekarang, menyukaimu dan bahkan berani menuliskan ini untukmu. aku tau, harusnya aku sadar diri. tapi rasa ini tidak tau, apa itu sadar diri. yang ia tau, hanya terus mengingatmu. mengingat senyum dan kebaikanmu.  gelisah, karena memikirkan kau akan membaca surat ini saja sudah membuat jantungku berdebar. akhirnya, apa yang aku pendam selama ini akan kau ketahui. kira-kira tanggapanmu bagaimana ya setelah membaca surat ini? akankah kau bahagia? atau malah, sebaliknya? tapi terlepas dari itu semua, aku hanya ingin kau tau bahwa disini ada gadis yang diam-diam mendoakan kebahagianmu. karena baginya, melihat orang yang dicintai bahagia sudah membuatnya bahagia.  dari aku, gadis yang waktu itu memberimu segelas es dan kau gantikan s**u kotak..  Seusai membaca surat yang ia tulis, Rara melipat surat itu lagi dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya. Sekalipun ia sadar, tulisannya itu sangat alay dan cringe tapi itu semua tulus. ketulusanlah yang membuat Rara berani memberikan surat itu pada Baiahaqi. Dan semoga, Baihaqi bisa merasakan ketulusan perasaan Rara melalui surat itu.  Ketika Rara sibuk menatap ke atas langit, Pak Nur datang membawa segerombol konci untuk membuka semua pintu kelas. Kedatangan Pak Nur itu cukup mengagetkan Rara, apalagi suara sepatu Pak Nur yang berhasil menjadi pusat keributan di lorong kelas yang sepi itu. "Tumben jam segini sudah ada yang datang," ucap Pak nur ketika mendapati Rara yang kini tengah tersenyum kepadanya.  "Iya Pak, ada urusan." Ucap Rara menyauti ucapan Pak Nur.  "Oh, piket ta nduk?"  "Ya Pak," rara mengiyakan ucapan Pak Nur, Gadis itu tidak ingin ribet dengan ditanya-tanyai Pak Nur yang macam-macam. Seusai Pak Nur membuka kelasnya, Rara pun segera melucur ke dalam kelas. Gadis itu meletakkan terlebih dahulu tas yang ia kenakan. Kemudian berjalan menuju bangku Baihaqi. Surat bewarna pink itu, Rara letakkan di kolom meja Baihaqi.Ia beri perekat, agar surat itu tidak kemana-mana.  Semoga, surat itu bisa sampai ke tempat tujuannya. Hanya itu, doa yang sekarang Rara panjatkan; Ia lupa, bisa saja perasannya itu tak terbalaskan. -0- "Sudah?" Viana bertanya padaku dengan wajah penasaran ketika gadis itu baru saja tiba di kelas.  Suasana kelas memang sudah ramai, wajar, sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi. Namun sampai saat ini, aku masih belum melihat batang hidung Baihaqi. Mungkin sekarang ia masih ada di lapangan belakang? Ah, entahlah. Yang jelas, jika ia sudah datang, aku harus siap-siap karena artinya ia akan membaca suratku. "Iya, sudah." jawabku pada Viana.  sahabatku yang satu itu sontak tersenyum senang, "Akhirnya..." ia memelukku. "Harus ada yang maju emang, kalau gini-gini terus mau cerita mu kayak ceritanya si Ani? yang ditinggal boyong sebelum cinta terucap?" "Ya nggak lah," jawabku. "Yauda, berarti nggak usah resah. karena tindakanmu ini sudah tepat. Kadang cewek emang harus bertindak lebih dulu." Aku mengangguk mendengar ucapan Viana. Aku setuju dengan apa yang ia katakan. Toh, Baihaqi juga menyukaikukan? Jadi, kemungkinan ditolak akan tipis sekali.  "Oh ya, entar sore kita ke bazar yuk? cari makan buat buka puasa. Mumpung boleh keluar." Ajak Viana. Aku mengangguk mengiyakan.  Kami pun sibuk berbicara, tentang rencana nanti sore. Hingga bel masuk sudah berbunyi dan aku tidak sadar, jika kini Baihaqi sudah duduk di tempatnya. Ia memegang kertas pink yang ia ambil dari loker mejanya. Kemudian kertas itu ia masukkan ke dalam tas.  Mungkin ia akan baca surat itu nanti. Aku masih menatap Baihaqi, menatap sosoknya yang terlihat sangat tampan sekalipun keringat dalam tubuhnya terlihat jelas di baju putih yang ia kenakan. Tuhkan dia tadi dari lapangan. aneh, puasa-puasa kok masih suka olahraga pagi.  tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD