Bab 5

1388 Words
Aku masih berkutat dengan soal-soal kimia ketika bel istirahat berbunyi. Hari ini Bu Nanik memberikan tugas mengerjakan dua puluh ujian soal Matematika yang harus dikumpulkan besok pagi. Nanti malam ada acara nuzulul qur'an di pondok. Dan bisa kupastikan aku tidak memiliki waktu mengerjakan soal-soal itu selain saat ini. alhasil, aku harus merelakan waktu makanku untuk mengerjakan tugas ini. ya, itu lebih baik dari pada harus dimarahi bu nanik karena tidak mengerjakan tugas. Sama denganku, Viana juga tidak istirahat. Bedanya ia hanya tinggal menyalin jawabanku, karena katanya matematika selalu membuat kepalanya pusing.  "Ra, kayaknya Baihaqi sudah selesai ngerjain matematika." Viana menyenggol bahuku pelan.  sejak kejadian Baihaqi memberiku s**u,  Viana gemar sekali melaporkan kegiatan Baihaqi padaku. "Ra, Baihaqi liatin kamu.", "Ra, Baihaqi tidur lucu banget,". "Ra, Baihaqi senyum ke kita." --dan masih banyak lagi. Sialnya itu membuat ekspektasiku lebih besar.  "terus kenapa?" Tanyaku tanpa melirik ke Baihaqi dan tetap fokus pada soal dihadapanku. "Minta contekan gih,"  "Kamu sendiri sana." ucapku asal. Namun tampaknya bagi Viana itu seirus. Karena gadis itu kini tengah berjalan menuju meja Baihaqi. Haduh, entah apalagi yang akan terjadi kali ini. Aku tidak berani menatap ke arah mereka. Fokus pada buku yang ada di hadapanku.  "Ada apa Ra?" tiba-tiba terdengar suara Baihaqi.  Aku mendongak, dan menemukan lelaki itu berdiri di samping mejaku. Mataku sontak membulat. s**l, sepertinya Viana tengah mengerjaiku.  "Katanya Viana kamu mau bicara sama aku, ada apa?" tanya Baihaqi.  wajahnya jika diliat dengan dekat, terlihat sangat tampan. hidung mancungnya, alis tebalnya, kulit bersihnya, Benar-benar sempurna. astaghfirullah.. "Eh, em..nggak bai. Nggak jadi."  "Beneran?" Aku mengangguk, sembari menampakkan senyum segaris.  Baihaqi pun mengangguk mengerti, "Yauda. aku ke kantin ya." "Ya."  "Mau titip nggak?" "Nggak usah." "Aku beliin s**u lagi ya?" "Eh--nggak usah Baii." "yauda, aku beliin. Viana juga mau?" Tanya Baihaqi pada viana yang ada di sampingku. "MAUUUU!"  Baihaqi pun meninggalkan mejaku, ia berjalan menuju keluar kelas. Aku terdiam, dan Viana sudah heboh sendiri.  "Tuhkan, tuhkan! Fix Baihaqi suka kamuuuu Ra." Ucap Viana dengan riang.  Aku menatap punggungnya, apa iya? Memikirkan ucapan Viana dan fakta yang selama ini ada membuatku senyum-senyum sendiri. s**l, aku sudah membangun harapan itu besar sekali. -0-   Malam ini suasana pondok sangat ramai,  bahkan di kamarku sudah dipenuhi beberapa alumni yang menginap malam ini. Aku harus rela tidur di aula putri sebagai gantinya. Untung saja tadi tugasku sudah selesai. sehingga aku tidak ribet mengerjakan tugas malam ini. Bersama Viana, Lida, Safa, Ani dan anggota kamar kami lainnya, aku menuju lapangan dimana disanalah acara malam ini akan berlangsung. Akan ada pembacaan kitab dan pengajian, yang bisa kupastikan akan berakhir sampai larut malam. Sebelum menuju lapangan, Lida mengajakku untuk menemaninya ke ndalem. Katanya, Mba Fat menyuruhnya untuk mengambil beberapa piring dan perkakas lainnya untuk dibawa ke dapur pondok. Aku pun berpisah dengan teman-teman lainnya dan menemani Lida menuju ndalem. Suasana ndalem sepi, jelas saja. sekarang keluarga yai mungkin tengah berada di acara yang ada di lapangan semua. Kami masuk kesana pun lewat pintu belakang, disana sudah ada Mbak-mbak ndalem yang memang ditugaskan untuk menjaga rumah. Nama Mbak-mbak itu, mbak Baha dan Mbak Alvi. “ada apa nduk?” tanya Mbak Baha ketika mendapati kami berdua memasuki ndalem melalui pintu belakang. “disuruh mbak Fat ambil piring-piring Mbak.” Ucap Lida. Aku hanya diam dan melirik kedalam ndalem yang memang sepi. “Oh, buat suguhan tamu kah?” Mbak alvi yang ada di dapur menyaut. “Nggeh, mbak.” “Yauda sini, bantuin ambil.” Aku dan Lida pun menurut, kami berdua membantu Mba Alvi mengambil piring-piring itu yang ada di dalam lemari. “Kalian kuat bawanya ta? Atau butuh bantuan?” Tanya Mbak Baha ketika melihat kami kesusahan membawa piring-piring itu. aku juga tidak menyangka harus membawa piring sebanyak itu. mungkin sudah hampir dua lusin yang kini aku bawa. “Kuat mungkin, mbak.” Ucapku ragu. Tiba-tiba dari dalam ndalem, ada dua cowok keluar dan hendak menuju pintu belakang. aku tidak melihat siapa mereka, yang jelas bayang-bayang mereka terlihat jelas dari posisiku berdiri yang membelakangi pintu. “wonten nopo Mbak?” ucap salah satu cowok itu. aku tidak tau jelas siapa, yang jelas suaranya terdengar sangat asing. Mungkin dia salah satu santri yang dipercaya Yai sampai-sampai masuk ke dalam ndalem. “Oh—Gus, niki mereka mau bawa piring ke dapur buat suguhan tamu.” “Oh, perlu dibantu kah?” “mboten gus.” Jawab Lida. “ah, sini saya bawakan saja. kalian pasti ndak kuat kalau bawa itu. Bai, sini Bai bawa yang piring di Mbak satunya.” Orang yang dipanggil Gus itu pun mengambil tumpukan piring-piring yang dibawa Lida. Dan orang yang bernama Bai itu menggambil piring yang ada di tanganku. Eh sebentar, bukankah dia Baihaqi? “Gapapa Ra, biar aku saja.” bisik Baihaqi ketika berada dihadapanku, aku pun menyerahkan piring-piring itu. Aku hanya bengong, terlalu tidak menyangka bisa menemukan sosok Baihaqi di sini. Baihaqi dan orang yang dipanggil Gus itu pun meninggalkan dapur ndalem, membawa tumpukan piring yang seharusnya kubawa dengan Lida. Sepeninggal mereka, Lida mencengkram bahuku. “Ya Allah, ganteng bangetttt.” Ucap Lida. “Siapa?” tanyaku heran. Apa Lida mau bilang Baihaqi ganteng? “Tadi anaknya Yai yang terakhir Mbak Baha?” bukannya menjawab pertanyaanku, Lida malah meninggalkanku dan menghampiri Mbak Baha yang ada di dekat pintu. “Iya, Nduk. Baik ya?” “Iya Mbak, wes baik, ganteng lagi.” ucap Lida dengan wajah yang tak henti-hentinya takjub. “Jangan mimpi buat jadi istrinya ya.” saut Mbak Alvi dari belakang. Aku masih ndak paham, siapa yang mereka bicarakan. Apa mereka membicarakan baihaqi? Tapi..kenapa Lida bilang Baihaqi itu anak Yai yang terakhir? Apa memang iya? Tapi...kata Mbak Zaid waktu itu, Baihaqi bukan anak yai? Tapi kenapa dia ada di ndalem tadi? Bahkan keluar dari dalam ndalem? “Ini masih ada sisa mangkok sama gelas, kalian kan yang bawa kesana?” ucap Mbak Alvi membuyarkan segala pertanyaan yang bergelanyut di kepalaku. “Iya Mbak.” Saut lida. Ia pun memberiku satu box yang berisi gelas. Dan ia membawa satu box berisi mangkuk. Kami berdua meninggalkan dapur ndalem dengan segala pertanyaan yang kembali menghantuiku. Aku menatap Lida yang masih tersenyum, entah setan apa yang merasuki temanku itu. kenapa ia sejak tadi senyum-senyum nggak jelas. “da,” ucapku ketika kami menapaki setapak menuju dapur pondok. Melewati tempat dimana aku dan Baihaqi pernah bertemu kala itu. “Apa?” “yang kamu maksud ganteng tadi siapa? Baihaqi ta?” ucapku ragu. “Loh, Baihaqi siapa?” Bukannya Lida memberi penjelasan pada pertanyaanku, ia malah kembali bertanya padaku. “Baihaqi, ya Baihaqiku.” Jawabku sedikit ragu. Menambahkan kata imbuan kepemilikian-ku dibelakang nama Baihaqi membuatku sedikit malu. Lida tertawa, “eciyee Baihaqikuuu!” Tuhkan. Aku merutuki diriku sendiri kenapa pakai menambahkan imbuan itu pada nama Baihaqi. “Eh tapi emang tadi ada Baihaqi?” tanya Lida. “Loh, iya. Yang tadi bawa piringpiring punyaku ya Baihaqi.” Jelasku. “Oalah, aku sampek nggak liat Baihaqi gara-gara ngeliat ketampanan Gus.” “Gus siapa?” kali ini aku yang bingung. “Loh, kamu ndak liat tadi kalau ada Gus Rifat, anaknya Yai yang terakhir?” “Ha?” “Yang tadi minta bantuin kita ya Gus Rifat.” “Oh yang dipanggil Mbak Baha Gus?” “Iyaa, dodol. Terlalu fokus sama Baihaqi sii sampai ndak liat Gus Rifat.” “Halah, Paling gantengan Baihaqiku.” “Beda jauhlah.” “Gapercaya.” “Yauda entar liat sendiri, eh tapi Gus Rifat jarang banget si di pondok.” “Yauda sih,” “Seharusnya tadi itu, kesempatan emas buat kamu bisa liat gus Rifat.” “Halah, palingan ya gitu gitu aja. Ingat kata Mbak Alvi tadi, nggak usa mimpi jadi istrinya. Kita harus tau diri.” “Ya, kamu juga harus tau diri juga lah.” Ucap Lida padaku. “kenapa aku juga? Kan aku ndak suka Gus Rifat?” Jawabku bingung. “Iya, tapi Baihaqi kan saudaranya Gus Rifaat. Dia juga anaknya, yai.” Aku hanya diam. Jadi benar kabar burung itu? Baihaqi masi keluarga ndalem? Pantas saja aku sering melihatnya di ndalem jika piket mingguan. Kemarin juga kami bertemu di jalan setapak yang menghubungkan ndalem dan dapur pondok. Ah, jika begini haruskah aku mundur saja? Karena seorang santri biasa sepertiku, hanya mimpi jika menyukai seorang anak pemilik pesantren seperti Baihaqi. Lagian kebanyakan anak Yai pasti akan dinikahkan dengan anak yai pula. Bukan gadis sepertiku, yang tidak cantik dan pintar. Tbc.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD