Semuanya benar-benar berakhir, namun tidak dengan perasaanku padanya yang tak pernah menjumpai kata akhir.
Hari ini tepat hari kelulusan. Semua santri kelas akhir berada di aula pondok pesantren. Suasana acara berlangsung khidmat, dipimpin pengasuh pondok pesanten dan jajaran ustadz-ustadzah yang kini duduk di atas panggung. Aula itu sangat ramai tentunya, ada hampir lima ratusan orang. Karena ada orang tua santri yang turut hadir di sana.
Tidak terasa, sudah tiga tahun aku tinggal disini. Banyak sekali teman, kenangan dan ilmu yang ku dapatkan. Dan hari ini mungkin menjadi hari terakhir aku berkumpul bersama teman-teman. Karena setelah ini, kami sudah dilepas dari pondok. Beberapa temanku ada yang tetap tinggal di pondok, menikah, pulang kampung, dan ada pula yang mendaftar di perguruan tinggi negeri.
Hatiku sangat sedih, karena harus berpisah dengan kelima sahabatku. Viana, Lida, Ani dan Sofa. Mereka juga memilih jalan masing-masing. Lida ingin mendaftar ke perguruan tinggi negeri yang ada di kota Surabaya. Ani dan Sofa memutuskan untuk pulang kampung, katanya mereka sudah dijodohkan dan berencana menikah dan Viana masih bingung mau kemana. Sebab itu dia mutusin buat tetap tinggal disini. Sementara aku, berencana untuk pindah pondok. Aku tiba-tiba ingin menghafal al-quran. Dan syukurlah, mama dan Papa mengizinkannya. Ustadzah Aisyah, merekomendasikan pondok pesantren quran yang masih saudaraan dengan pengasuh pondok pesantrenku sekarang. Letaknya pun tak jauh, hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit dari sini.
Setelah ini aku akan memiliki kehidupan baru. Kehidupan yang tentu saja berbeda dengan hari ini. Meninggalkan kehidupan sekarang, dan menjadikannya sebuah kenangan indah. Ada rasa takut, takut nanti aku tidak bisa beradaptasi di kehidupan baruku. Namun aku juga merasa tak sabar, menantikan kejutan-kejutan apa lagi yang akan kutemui dalam hidup.
"Ra," Viana menyenggol bahuku.
Aku yang tadinya sibuk mendengarkan Pak Yai yang ceramah pun menatapnya, " hm?"
"Hari ini hari terakhir kita di pondok, kamu nggak mau ngomong apa-apa gitu buat Bayhaqi?"
"Ha?" Aku heran, kenapa tiba-tiba Viana bicara tentang cowok itu. Pasalnya, sudah lama sekali Bayhaqi tidak disebut-sebut lagi di antara pembicaraanku dan teman-teman.
"Aku rasa, lebih baik kamu ajak Bayhaqi bicara deh."
"Bicara apa lagi siiii Ra? kan antara aku sama dia udah berakhir lama." Kataku sembari menatap Viana tak percaya.
"Tapi aku tau, dalam hati kamu masih nyimpin perasaan kan buat dia??"
"Terus kenapa? Kalau nunggu perasaan ini berakhir, ngggak bakal ada akhirnya Vi! Aku bakal tetep suka sama Bayhaqi entah sampai kapan. Tapi aku juga nggak mau bertindak bodoh lagi"
Ya, selama satu tahun terakhir ini...aku masih diam-diam menyukai Bayhaqi. Sekalipun aku tau, Bayhaqi sudah menganggapku tak ada. Dia benar-benar mengakhiri segala drama yang ada di antara kita. Dia benar-benar mendengarkan apa yang aku katakan di gazebo pagi itu. Dia tak lagi mengurusi urusanku. Dia acuh ketika aku dekat dengan teman sekelas kami yang bernama Angga. Dia tidak lagi melarang-larangku seperti waktu itu. Aku tau, dia mungkin sudah muak padaku.
Dan hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Selepas ini, aku tidak yakin aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku tidak tau dia akan meneruskan kemana. Kata teman sekelas, dia akan masuk perguruan tinggi negeri. Tapi aku tak tau, dia masuk kampus mana.
Memang benar kata Viana, aku harus mengajaknya bicara agar selepas ini tidak ada yang terpendam dalam hati. Tapi aku tidak akan mengajaknya bicara dan mempermalukan diriku di hadapannya. Lebih baik aku tetap diam, dan membiarkan perpisahan ini menjadi kenangan indah.
Yang jelas, namanya akan selalu kuingat dalam hati.
sebagai sebuah cerita yang tak berhasil kumiliki.
---
"Ra, barang-barangnya nggak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Mama menginggatkanku untuk mengecek kembali barang-barang yang ada di bagasi mobil.
"uda Ma," kira-kira sudah lima kali mama bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama. Dan kira-kira sudah tiga kali aku mengeceknya. Jadi kujawab saja dengan jawaban yang sama. Karena aku yakin, semua barang-barangku sudah masuk ke dalam mobil.
"Papa habis ini selesai mandi, kamu cek lagi siapa tau ada yang ketinggalan!"
Aku yang tadinya asyik makan jajan sembari nonton tipi pun berjalan malas menuju garasi. Menuruti perkataan Mama dan mengecek lagi isi koper dan beberapa barang yang kumasukkan ke dalam kardus.
Setelah menghabiskan sepuluh menit untuk mengecek barang-barang, aku pun yakin tak ada yang tertinggal.
"Sudah siap semua?" Tanya Papa sembari menuruni tangga. Tampilannya yang tadi kucel karena habis kerja, kini terlihat rapi kembali. Aroma tubuhnya pun wanggi, membuat aku ingin dekat-dekat dengannya terus.
"Sudah, Pa," jawabku sembari bergelanyut manja di tangannya.
"Perlengakapan mandi, sekolah, sholat? sudah semua kan?"
"Sudaaaahhh" jawabku.
Akhirnya kami pun menuju pondok pesantrenku yang baru. Di jalan, aku sangat deg-degan. Kira-kira pondokku nanti bagaimana ya? Apakah aku akan baik-baik saja di duniaku yang baru? dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan kekawatiran yang menggelanyuti kepalaku. Namun aku mencoba tenang. Ini bukan pertama kalinya, aku mondok. Pasti semuanya akan baik-baik saja.
Sampai di pondok, kami terlebih dahulu menuju ndalem. Bertemu pengasuh untuk sowan. Selain aku, ternyata banyak juga santri baru yang datang hari ini. Alhasil, aku harus mengantri di luar. Entah kenapa, ketika asyik menunggu sembari melihat suasana sekitar aku mendapati sosok Bayhaqi. Ia tengah duduk bersama beberapa orang di samping ndalem. Heiiii aku tidak salah lihat kan? Sedang apa dia disini??
Kini waktunya aku yang harus sowan. Aku memasuki ruang tamu tentunya bersama kedua orang tuaku.
"Dulu pernah mondok dimana nduk?" tanya pengasuh yang bernama Kiyai Umar.
Aku menundukkan kepala, tanda takhdim. "Di Al-islah,"
"Oh, sekolahnya juga disana?" Kali ini Bu Nyai yang tanya.
"Injjeh, SMAnya."
"Wah, gus Al juga sekolah disana dia lulusan tahun ini. Kamu kelas apa?"
"IPA tiga, Bu Nyai."
"Panggil Umi aja nduk."
"njeh, umi." jawabku.
"Oh, kalau IPA tiga ya sekelas sama Gus Al."
Aku cukup terkejut dan binggung. Pasalnya, di kelasku tidak ada yang namanya Al.
"Hmm, nama panjangnya sinten UMi?'
"Muhammad Al-Baihaqi nduk."
Deg.
Kenapa nama Bayhaqi? Apakah Gus Al itu adalah Bayhaqi?
Berarti ini adalah pondok pesantren yang diasuh orang tua Bayhaqi?
Pantas saja aku tadi melihatnya. Jadi, dia tidak hanya sementara disini? Dan dia akan tinggal disini? Ah, apakah aku tidak ditakdirkan move on darinya? Kenapa hidupku tak pernah jauh-jauh dari Bayhaqiiii????