Bab 14

818 Words
“Aku mau ngomong,” kataku ketika melihat Bayhaqi memasuki kelas. Aku menghampirinya, dan membuatnya menghentikan langkah. Di depan kelas, kini kami berhadap-hadapan. Untungnya, suasana kelas pagi itu masih sepi, hanya sebagian anak yang sudah datang. Termasuk Viana, gadis itu pasti kini tengah menatapku dengan tatapan khawatir. Semalam aku menceritakan semuanya pada sahabatku itu. Tentang Bayhaqi yang tiba-tiba tau nomorku dan pembicaraan kami di kolom pesan. Reaksi Viana tidak seperti yang kukira. Aku kira, Viana akan bilang: “wah kayaknya Bayhaqi suka beneran sama lo de.” Tapi ternyata, Viana malah menyuruhku untuk mengabaikan Bayhaqi. Sahabatku itu tampaknya sudah sakit hati, mengingat kemarin Bayhaqi menyebarkan gosip yang tak benar di santri putra tentang aku. Awalnya aku kira, lebih baik menuruti saran Viana, tapi setelah aku pikir lagi...jika begini terus, Bayhaqi akan mengangguku. Dia akan melarang-larangku dekat dengan siapapun. Yang tentunya akan membuatku semakin gagal move on. Padahal mudah saja kan baginya? Jika tidak menyukaiku seharusnya tak perlu ikut campur tentang hubunganku.  Bayhaqi tidak bergeming. Dia diam dan hanya menatapku tajam. Entah apa yang terlintas di pikirannya. Aku pun tak bisa membaca raut wajahnya yang sulit ditebak. Yang jelas, pagi ini dia terlihat tampan. “BAYYY!” teriakku, yang kini pasti membuat semua orang di kelas menatap kami. Amarahku sudah membuncah, tak kuat lagi menghadapi Bayhaqi yang sedari tadi hanya menatapku dan tidak bicara. “Aku naruh tas dulu.” Ia pun berjalan meninggalkanku. Aku menghembuskan nafas panjang dan menunggunya di depan kelas. Semakin hari, sikap Bayhaqi semakin aneh. Itu sebuah fakta yang baru aku sadari. Semenjak kejadian di taman pelangi, Bayhaqi memang tidak pernah mengajakku bicara. Semesta kami pun seolah mengerti, dan enggan memepertemukan kami di satu kondisi yang mengharuskan kami berinteraksi. Namun kata Viana Bayhaqi jadi gemar memperhatikanku diam-diam. Aku dan dia pun jadi sering tak sengaja saling tukar pandang. Dan diantara kami, tak ada kata yang terucap aatau senyum yang tercipta. Sehingga kukira semunya terjadi biasa saja, tanpa ada firasat aneh-aneh atau hayalan yang membawaku melambung tinggi. Kami berjalan menuju taman pelangi. Disana memang satu-satunya tempat yang enak untuk bicara. Duduk di gazebonya yang pagi ini sedikit basah sisa air hujan semalam. sebelum aku duduk, Bayhaqi mengelap bagian yang basah itu dengan tangannya kemudian menyuruhku duduk di bagian yang kering. Aku menurut saja. Tanpa bertanya. “Apa?” akhirnya satu kata keluar dari mulut Bayhaqi yang sedari tadi diam. Sembari merasakan hembusan angin di hutan pelangi, aku menghembuskan nafas panjang. “Maksudnya apa sms kamu kemarin?” tanyaku to the point. “Nggak ada maksud apa-apa.” jawab Bayhaqi santai tapi semakin membuat amarahku ingin membuncah. Bayhaqi kenapa juga berubah semakin nyebelin sih. “Kapan si kamu berhenti ngurusin hidup aku?” tanyaku sedikit berapi-api. Bayhaqi melirikku sebentar kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan. “emang kapan aku ngurusin hidup kamu?” Aku berdecak, “pura-pura lupa?” menatapnya tak percaya. Bayhaqi tak bereaksi apapun, air mukanya masih terlihat tenang. Itu yang membuatku kesal sejak tadi. ITU! “Dulu kamu nyuruh aku jauh-jauh dari Anas, sekarang juga. Maksudnya apa si?” Kali ini Bayhaqi tidak melirikku, kedua bola matanya menatap mataku. “Masak nggak tau?” sembari menyinggungkan senyum di akhir kalimatnya. Aku semakin ingin marah. “Kan suda aku jelasin kemarin. Aku-nggak-suka-kamu-deket-cowok-lain!” jelas Bayhaqi dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya. Bulu kudukku merinding, jantungku berdetak sangat cepat. Apakah ini pernyataan cinta secara implisit? AH tidak Rara!! Tidak! Ayo sadar, dia tak mungkin menyukaimu! Ingat dia dulu pernah menolakmu! Dan ingat dia dulu pernah bilang kamu perempuan nggak punya harga diri karena uda suka sama dia! Sadar Ra! Sadar!! “Plis, bay aku mohon. Nggak usa sms sms lagi, atau gangguin hidupku lagi. Nggak usah rempong ngurusi aku deket dengan siapa! Karena ini kehidupan aku! kamu bilang kamu nggak suka sama aku kan? yauda, berarti kamu harusnya anggep aku nggak ada dong! Kenapa kamu malah selalu sibuk mikirin aku deket sama siapa dan pacaran sama siapa???” Kali ini kulihat Bayhaqi tak setenang tadi, wajahnya sedikit mengeras. Mungkin aku sudah membuatnya marah. Tapi masa bodoh, aku sudah jengah dengan tekateki sifatnya yang misterius. “Yauda, terserah. Maaf kalau aku ganggu hidup kamu.” Sebaris kata itu mengakhiri pembicaraan kami. Bayhaqi terlihat sangat sedih ketika meninggalkanku sendiri di hutan pelangi. Membuatku menerka-nerka kenapa ia bisa sesedih itu. padahal harusnya aku dong yang sedih? Atau kata-kataku yang terlalu tajam dan melukai hatinya? tapi apa yang kukatakan adalah sebuah kejujuran, jadi aku nggak salah kan? Dan setelah kejadian itu, Bayhaqi benar-benar menganggapku tak ada. Viana tidak lagi melaporkan padaku jika Bayhaqi memperhatikanku diam-diam. Aku pun tidak pernah bertukar pandang dengan cowok misterius bin menyebalkan itu. Pernah sesekali dia memergokiku dengan Anas yang sedang asyik ngobrol di Bu Sri, tapi dia seolah tak menganggapku ada. Pun tak kudapati lagi sms darinya seperti dulu.  Aku tidak kecewa, aku tidak menunggu. Aku bernafas lega, sekalipun ada rasa sedihnya. Apakah kali ini aku benar-benar kehilangan dia? tapi sejak kapan aku merasa memilikinya?  tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD