Bab 13

1370 Words
Aku baru saja keluar dari asrama putri, tidak menyangka akan bertemu Bayhaqi di depan asrama. Cowok itu tengah sibuk berbincang dengan beberapa temannya. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Yang jelas, sesekali tawa mereka terdengar dan cukup mengusikku karena harus melewati mereka. Aku pun memutar otak, mencari jalan lain tanpa harus melewati gerombolan mereka. Namun tak ada jalan lain, satu-satunya cara aku harus tetap berjalan di jalan itu. Sekalipun harus menjadi pusat perhatian mereka dan sendirian.  Aku pun berjalan melewati mereka, kepalaku tertunduk tak berani menatap ke arah mereka, apalagi Bayhaqi. Namun telingaku mendengar mereka bicara dengan jelas.  "Eh itu bukannya yang suka sama kamu Bay?" Tanya seseorang yang aku tidak tau siapa. "Oh jadi itu? Aduh, berani-beraninya dia suka sama kamu." "Harusnya dia sama Anas aja, cocok kayaknya."  Dan masih banyak lagi. Mendengar itu ingin rasanya aku ingin menangis. Harusnya aku tadi tidak pergi sendirian dan meminta Viana menemani. Jika begini, aku hanya bisa menahan rasa sakitku sendiri. Lebih parahnya, aku tak mendengar Bayhaqi membelaku sama sekali.  Aku pun mempercepat langkah kakiku menuju koprasi sembari membawa lembaran kertas tugas yang harus difoto kopi. Lembar tugasku hilang, sebab itu aku meminjam lembaran miliki Viana untuk di fotokopi.  Sampai di koprasi, aku pun duduk di kursi panjang sembari menunggu gantian. Koprasi siang itu ramai, ada banyak santri yang membeli peralatan tulis, minum atau bahkan sama sepertiku ingin foto kopi. Aku menyibukkan diri memperhatikan setiap orang yang ada di sana. Berharap ada satu yang kukenal dan bisa kuajak bicara. Dan entah harus senang atau sedih, aku menemukan Anas diantara para santri yang tengah membeli alat tulis. Kuurungkan niatku untuk menyapanya dari pada hanya kecangungan diantara kita. Selepas kejadian itu, aku memang tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan Anas.  Namun tampaknya, Anas tidak berpikiran yang sama denganku. Cowok itu terlihat sangat senang, ketika menemukanku duduk sendirian di kursi panjang. Ia menyapaku ramah. Seola tak terjadi apa-apa diantara kami. Hei, bukannya memang tidak terjadi apa-apa? hehe. "Raaa?" Sapa Anas padaku.  "Heeei" jawabku sembari tersenyum canggung. "Ngapaiiin? sendirian aja?"  "ini fotokopi soal tugas, ya seperti yang kamu liat."  "Oh," anas mengangguk mengerti. Ia terdiam sebentar, sepertinya memikirkan sesuatu. "Mau aku temani?"  "Ha?"  "Dari pada sendiri kan?"  Aku pun mengangguk, "oke." Anas pun duduk di kursi panjang dengan tawanya yang masih terlihat lebar. Anas memang orang baik.  "Habis beli apa?" tanyaku sembari menatap kresek hitam yang ia letakkan di sampingnya.  "Aku dapet tugas buat peta, tapi ndak punya penggaris. jadi beli penggaris sama alat tulis lain." Aku pun mengangguk mengerti. Kemudian kami terdiam lagi.  "Gimana kabar kamu?"  "Hm?" Aku cukup terkejut dengan pertanyaan Anas, hai maksudnya kabar apa ini? JIka kabar tubuhku, maka bukankah dia sudah tau jawabannya jika aku baik-baik saja? Berarti dia menanyakan kabar hatiku kan? "Kabar apa dulu ni?" tanya ku dengan nada menggoda dan kusisipkan tawa agar suasana diantara kami tidak terlalu canggung.  "Kabar...." Anas pun tampaknya bingung, ia turut tertawa, "Kabar hatimu deh."  Tuhkan.  "Baik Anas, Alhamdulillah." Kataku sedikit bohong.  Sebenernya aku udah baik-baik saja gais. Sumpah! Setelah kejadian aku marah-marah ke Bayhaqi satu bulan lalu, aku pelan-pelan sudah berdamai dengan kenyataan. Aku sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi. Aku sudah jarang kepikiran tentang Bayhaqi karena aku mulai menyibukkan diri untuk belajar. Namun kejadian hari ini, entah kenapa sedikit mengusikku. Seeperti ada luka yang kembali mengangga.  "Alhamdulillah." Kata Anas sembari mengangguk-angguk. "Aku juga baik-baik saja Ra. Sudah ikhlas kalau kamu nggak suka aku,"  Sumpah. Jika tau Anas akan mengatakan hal-hal seperti ini, aku akan menolak tawaran untuk menemaniku. Lebih baik aku sendiri dari pada harus berdua dengannya dan merasakan perasaan bersalah. Dan mengindari pembicaraan tentang perasaan seperti ini. Aku tertawa, "Kamu terus terang banget ya anaknya!"  "Bagus gitu kan? dari pada harus pura-pura."  aku mengangguk setuju, "bener!" "Besok kalau ketemu aku nggak usah ngehindar lagi. Udah biasa aja, sapa kayak nyapa temen kan bisa?"  "Siaaap"  Aku dan Anas pun kembali membicarakan banyak hal. Hingga tiba waktuku untuk foto kopi. Kukira Anas akan langsung pergi, tapi dia tetap menunggu sampai aku selesai. Katanya dia mau mengantarku ke Asrama.  "Nggak usa Nas, nanti malah timbul fitnah lo"  "Yauda aku anterin kamu sampek pertigaan depan aja."  Aku pasrah, Anas tampaknya sangat bersikukuh untuk menemaniku.  Kami pun keluar dari koprasi. Ketika keluar, aku tidak menyangka mendapati Bayhaqi yang tengah berdiri sembari bersandar di dinding sebelah koprasi. Entah firasatku atau tidak, wajahnya terlihat kecewa ketika mendapatiku bersama Anas.  "Bay ngapain disini?" Sapa Anas.  Apa hubungan mereka sudah baik-baik saja? Bayhaqi tersenyum kecut, wajahnya yang tadi menatapku kini melengos begitu saja dan menatap Anas ramah.  "Mau nungguin seseorang, tapi kayaknya orangnya uda pergi sama pacarnya."  Aku tidak tau siapa yang dimaksud Bayhaqi, tapi lelaki itu seolah menyindirku. Hei apakah ia benar menungguku? Atau aku saja yang kegran?  "Wah, yauda. Aku duluan ya!" Ucap Anas yang disauti anggukan oleh Bayhaqi.  Aku dan Anas pun meninggalkan Bayhaqi sendiri.  Setelah jauh dari tempat Bayhaqi berada, aku menanyakan sesuatu yang sejak tadi menghantui pikiranku. "Kamu sama Bayhaqi suda baikkan?"  Bukannya menjawab, Anas malah tergelak. "Emang aku sama Bayhaqi kenapa?" Huft. dia pura pura lupa kah? Apa dia lupa dulu pernah menerobos ke sekolahku cuma mau mukul Bayhaqi gara-gara ngomongin aku yang nggak-nggak? Aku pun tidak bisa menjawab dan hanya bisa diam.  "Iya, aku uda baikan. Tapi kayaknya kamu sama Bayhaqi belum baikkan?"  "Uda kok." "Kalau gitu, salah nggak kalau aku mikir tadi kayaknya Bayhaqi nungguin kamu?" "Ha?" Aku rasa bukan hanya aku saja yang berpikiran begitu.  "Nggak tau si bener apa nggak," kata Anas.  "Berarti belum pastikan? Yauda si, nggak mungkin juga dia nungguin aku." Jawabku tegas. Anas pun terdiam. Dan hanya kesunyian yang tersisa diantara kami sepanjang jalan. Setelah di pertigaan, kami pun berpisah. Aku segera bergegas menuju asrama putri sebelum adzan ashar terdengar.  --- Katanya nggak pacaran.  bohong bgt Itu sms dari nomor yang tidak kukenal.  Malam ini teman-teman mengajakku ke ruangan rahasia. Aku sebenarnya malas, tapi Viana menyuruhku untuk ikut dari pada di kamar sendirian. Alhasil setelah ikut, aku pun mengambil ponselku. Tak berharap ada yang sms atau menghubungiku, karena aku sadar diri--saat ini aku tidak dekat dengan siapa-siapa. Tidak seperti keempat temanku lainnya.  Jujur saja, sekalipun di pondok pesantren kami sama seperti remaja lainnya. Suka dengan lawan jenis, dekat dengan mereka atau bahkan sampai pacaran. Yang jadi beda, mungkin kami dibatasi oleh aturan-aturan pondok yang membuat kami tak punya waktu atau tempat untuk bertemu dengan bebas. Teman-temanku, kalau mau ketemu pacarnya, harus nyusun rencana terlebih dahulu. Agar tidak sampai ketahuan Petugas ketertiban.  Oh ya, kembali ke sms dari nomor tak dikenal. Kira-kira itu dari siapa ya? entah kenapa, aku jadi mikir itu Bayhaqi.  Ini siapa?  Balasku.  Belum semenit, pesan balasan sudah kudapatkan.  Bay Jantungku berdetak sangat cepat ketika membaca balasan itu. Benar ini dari Bayhaqi? Tapi ngapain ni anak sms aku begini? Kenapa Bay? Entah kenapa aku jadi resah menunggu balasannya. Mungkin ketika aku tau, sms itu dari Bayhaqi.  Km beneran pacaran sama Anas?  Entahlah, ada apa dengan Bayhaqi ini. Suka sekali menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya dulu. Dari dulu selalu mikir aku pacaran sama Anas. padahal dia tau persis aku ini sukanya sama siapa. Masa ia dia masi nggak ngerasa kalau aku suka dia, sekalipun akhir-akhir ini aku selalu mengabaikan keberadaannya jika di kelas.  Aku tidak berniat membalas. Terlalu malas, berdepat dengan Bayhaqi masalah ini lagi. Seingatku pembicaraaan terakhir kami juga tentang ini.  Namun belum lima menit, aku sudah dapat sms baru dari Bayhaqi.  Aku mau ngomong Ngomong apa lagi si? sumpah aku masih nggak paham sama Bayhaqi. Kalau nggak suka aku, yauda jauhin bukannya mengubungi seperti ini atau bahkan mengajak ketemu. Apa dia nggak tau kalau yang kayak begini ini bikin akuu besar kepala dan menganggap dia juga menyukaiku? Ngomong disini bisa kan?  Kali ini aku tak mendapat balasan dari Bayhaqi. Aku pun berniat menggembalikan ponselku ke tempat rahasia. Namun belum sampai ku simpan di tempat rahasia, aku sudah mendapat balasan dari Bayhaqi.  Aku mau kamu jauhin Anas.  Jangan pernah ketemu sama bicara dengan dia.  Aku tau aku bukan siapa-siapa kamu, tapi aku nggak mau liat kamu sama orang lain.  Aku sangat-sangat syok. Membaca balasan Bayhaqi.  Maksudnya apa ini? Apa dia sebenernya suka sama Aku? Otakku masih tidak bisa berpikir. Belum sempat kuketikkan sms balasan, teman-teman sudah mengajakku kembali ke kamar. Membuatku tak bisa membalas sms itu.  Besok, aku ingin mendengar itu dari mulut Bayhaqi langsung.  tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD