“APAAAAAA????” semua teman-temanku yang berada di ruang rahasia berteriak sembari menatapku terkejut.
Aku baru saja menceritakan kejadian tadi di sekolah—ketika, Bayhaqi memberiku s**u kotak dan memintaku memaafkannya.
“Kok dia b******k ya?” Ucap Viana dengan wajah menyeramkan, “Oke, dia emang uda minta maaf. Tapi dia nggak mikirin perasaan kamu Ra!! Dia Cuma mikirin gimana caranya biar kamu maafin diaa...dia nggak mikirin perasaan kamu sama sekali.”
“Iya bener itu. uda jangan diiyain. Kalau besok dia ngasih s**u jangan diterima!” Ucap Ani. Temanku yang satu itu, tumben terlihat kesal. Biasanya dia yang paling santai dan tenang.
“Aku juga setuju, jangan mau dianggap gampangan” Kata Lida yang membuat keempat temanku itu mengangguk setuju.
“Iya, bener! Dia kayak nganggep Rara bakal gampang maafin dia, karena dia tau Rara suka dia.” Kata Sofa yang membuatku berpikir.
“Kok bisa kamu suka sama cowok yang suka ngerendahin cewek! Udah habis ini jangan suka sama dia lagi!!” Ani kembali terlihat kesal. Wajahnya menampakkan raut wajah yang menyeramkan. Membuatku dan ketiga temanku yang lain menatapnya heran. Pasalnya jarang-jarang sekali Ani terlihat marah.
“Loh Ra, Ani sampai marah. Berarti Bayhaqi emang keterlaluan.”
Aku diam. Mencermati setiap perkataan teman-temanku. Jika dipikrikan lagi, Bayhaqi memang keterlaluan. Menjelek-jelekkanku di depan teman-teman cowoknya. Bilang aku cewek murahan lah...menjijikkan lah...
Tapi untuk tidak menyukainya lagi...bukankah itu akan sulit? Karena selama ini aku sudah terbias menyukainya.
Aku menatap teman-temanku dengan tatapan nanar.
“Ada apa Ra?” Tanya Sofa, seolah mengerti jika aku tengah dilanda kebimbangan.
“Aku nggak tau caranya buat berhenti suka sama bayhaqi.” Ucapku sembari menundukkan kepala.
“Nggak papa, nggak harus sekarang berhenti sukanya. Yang penting kamu jangan mudah maafin dia. Biar kamu nggak dianggap gampangan.” Lida yang ada di sampingku, mengelus punggungku—menenangkan.
“Jadi besok aku harus gimana kalau Bayhaqi ngasih aku s**u?”
“JANGAN DI TERIMAAA!!” teriak Viana.
“Terus kalau dia maksa?”
“Aslinya kamu pengen kan ra nerima?” Goda Lida padaku.
Aku menggeleng cepat, “Ya enggaklah!!!! Walaupun aku suka sama dia aku juga sakit hati dia bilang aku kayak gitu!”
“Yaudah, bagus. Berarti kamu masih waras.” Saut Viana.
“Pokoknya kalau dia tetep maksa, kamu jelasin aja ke dia. Semuanya.” Usul Ani.
“Maksudnya jelasin apa?”
“Jelasin kalau dia seharusnya nggak ngomongin kamu kayak gitu. Dia itu gus tapi kok nggak menghargai cewek sama sekali.”
“Iya, aku juga setuju usul Ani.”
Aku pun mengangguk mengerti. Baiklah, aku akan menggunakan saran Ani. Besok jika Bayhaqi masih memaksaku menerima ‘s**u sogokannya’ itu, aku akan menjelaskan padanya bertapa sakit hatinya aku sekarang. Dianggap rendahan...dan menjijikkan...ya pasti sangat sakit. Apalagi sama orang yang kita sukai.
---
Hari ini aku masuk ke dalam kelas bersama Viana. Dan susasana kelas terlihat sangat ramai. Hampir dari seluruh teman-teman sekelasku sudah datang. Termasuk Bayhaqi yang kini terlihat menatapku. Aku memalingkan wajah, terlalu malas menatapnya. Pokoknya hari ini, aku akan bertekad mengabaikannya. menolak apapun yang akan ia berikan padaku—tegasku pada diriku sendiri.
Dari jauh, terlihat Bayhaqi berdiri dari duduknya. Dengan sekotak s**u di tangan, aku berfirasat dia akan menghampiriku.
“Bayhaqi kayaknya mau kesini,” bisik Viana.
Aku tau Viana!! Makanya aku sekarang pura-pura sibuk dengan tasku. Mencari buku matematika yang jelas-jelas ada di dalam sana. Pura-pura tidak tau, jika Bayhaqi kini tengah menatapku.
Tiba-tiba saja sekotak s**u mendarat di atas mejaku.
Aku mengeluarkan buku metematika dari dalam tas, kemudian meletakkanya di atas meja. Tidak mengatakan apapun setelah menatap bayhaqi yang masih berdiri di hadapanku.
“Sesuai janji.” Ucap Bayhaqi, “minum.”
“Nggak!” Jawabku cepat.
Bayhaqi menatapku heran, kemudian beralih duduk di kursi kosong yang ada di hadapanku. “kenapa?”
“Aku nggak mau nerima itu, bawa aja. Percuma nggak bakal aku minum.” Jawab Rara dengan suara dingin.
“Ha? Kenapa? Bukannya kemarin kamu setuju?”
“Aku? kapan bilang begitu? kamu sendiri, paling.”
“Raaa”
Rara tersenyum, “aku nggak mau nerima itu Bay. Udah ya, kamu kembali ke tempat dudukmu. Aku mau belajar.”
“Ayo ikut aku!” Bayhaqi berdiri, ia tiba-tiba berteriak. Membuat aku terkaget-kaget, Viana juga dan seluruh orang yang ada di kelas.
Kini seluruh perhatian di kelas hanya tertuju padaku dan Bayhaqi.
“Ayo!!” Ucap bayhaqi ketika mendapatiku hanya diam di tempat.
“Kemana?”
“Kalau masih nggak berdiri, aku seret.” Wajah Bayhaqi tiba-tiba menjadi menyeramkan.
“Udah ra, ikut aja.” Bisik Viana padaku.
Aku pun beranjak dari dudukku dan mengikuti Bayhaqi dari belakang. Jarum jam di tanganku menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Kurang sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi. Kemana Bayhaqi akan membawaku?
Aku masih mengikutinya, hingga ia membawaku masuk ke dalam hutan pelangi. Dia berhenti di gazebo, menyuruhku duduk di sana.
“Ada apa?” Ucapku dengan menampakkan wajah kesal.
Bayhaqi menatapku sekilas, kemudian ia turut duduk di sampingku, dengan jarak yang jauh.
“Aku mau jelasin.”
“Jelasin apa??”
“Aku bukan maksud buat nyakitin kamu Ra. Aku beneran nggak ada niatan buat jelek-jelekin kamu.”
“Tapi sayangnya kamu malah ngejelekin aku di depan Anas dan temen-temenmu kan?”
“Itu ada alasannya!”
“Apa? karena kamu nggak suka sama aku? ya emang kan?” rasanya hati Rara seperti teriiris-iris. Padahal ia sendiri yang mengatakan itu.
“Aku nggak mau Anas suka sama kamu,” jawab Bayhaqi pelan. Tapi aku masih bisa mendengarkannya. Dan sedikit terkejut dengan apa yang Bayhaqi katakan.
“Kenapa emang?”
“Aku nggak mau kamu pacaran sama dia.”
“Lah emang siapa yang pacarannn???”
“Ya mungkin aja kan kamu sama Anas bakal pacaran?”
Aku tertawa, menertawakan apa yang dikatakan Bayhaqi. Sampai sekarang aku bahkan tak pernah berpikiran untuk pacaran dengan Anas. Jadi ketika ada yang berbicara seperti itu, rasanya lucu saja.
“Ya nggak lah! Kamu kan tau aku suka sama siapa.” Ucapku terlalu jujur. “lagian kenapa kalau aaku pacaran sama Anas? Kamu cemburu?” entah keberanian dari mana aku mengatakan kalimat itu. yang jelas setelah mengatakan itu, aku merutuki diriku sendiri.
Bayhaqi tidak bergeming, ia masih diam.
Membuatku juga ikut diam. Ah, sudahlah. Apa aku mimpi? Ya jelas tidak mungkin kan Bayhaqi cemburu?
“Lupain apa yang aku katakan tadi,” kataku sembari berdiri, “aku mau ngomong.”
“Apa?”
“Apapun alasanmu jelek-jelekin aku, nggak seharusnya kamu ngelakuin itu Bay. Hati aku terluka sekali saat aku dengerin kamu bilang aku Cuma cewek murahan dan menjijikkan. Ternyata begitu aku di matamu. Tapi yang paling penting...Aku manusia Bay, dan kamu juga. Kamu nggak seharusnya nilai aku, kamu nggak punya hak.” Ucapku tegas.
Bayhaqi masih diam.
“Dan, habis ini..jangan gangguin aku lagi. Aku nggak mau nerima s**u kotakmu. Tapi aku sudah maafin kamu. Aku mau kita jadi kayak dulu, yang nggak saling kenal. Dan aku harap, kamu lupain surat itu. anggap aja aku nggak pernah suka sama kamu!”
Aku meninggalkan bayhaqi sendiri setelah mengatakan itu. Dan Bayhaqi tidak mengucapkan apapun lagi. cowok itu juga tidak menahanku atau mengejarku. Sebagai tanda, jika diantara kami benar-benar selesai.
Aku melupakan ucapannya yang merendahkanku, dan dia melupakan surat cinta dariku. Impas, kami berdua akan sama-sama saling melupakan.
Sekalipun aku tau, ini akan sulit. Aku harus tetap melakukannya.
Mungkin aku akan mencintai Bayhaqi dalam diam lagi.