Bab 11

2174 Words
“Rara, kata mas Aul kamu bisa ketemu Anas sekarang.” Bisik Viana pada Rara yang tengah sibuk dengan tugas bahasa indonesianya. Semua orang ada di dalam kamar tengah sibuk dengan tugas sekolahnya masing-masing. sebab itulah Viana mengatakan itu dengan berbisik. Sekalipun ia yakin tidak akan ada yang combe atau mulut besar dan ngaduin ke pengawas tapi Viana tetap harus berhati-hati. Dari pada kena ta’zir harus bersih-bersih kantin selama seminggu.         Rara mengangguk, ia pun membereskan bukunya dan memasukkan ke dalam lemari. Gadis itu menghampiri Mbak Ain sebagai ketua kamar untuk izin keluar. Setelah alasan nya keluar untuk membeli obat sakit kepala yang kebetulan memang habis di kotak p3k kamar diterima, Rara pun menghampiri Viana untuk menemaninya. Untungnya ketiga teman dekat mereka tidak curiga, malah beberapa dari mereka ada yang menitip untuk dibelikan jajan di warung. Setelah ini, Rara akan berhadapan dengan Mbak-mbak ketertiban yang biasanya wira wiri. Semoga saja hari ini, mbak-mbak itu tidak muncul. Karena Rara tidak tau harus alasan apa lagi.                 Mulut Rara sejak tadi mengucapkan shalwat berulang kali, dalam hati ia berdoa semoga tidak ada mbak-mbak ketertiban yang memergokinya keluar. Jika hari aktif begini, izin keluar pondok memang ketat sekali. Harus melewati beberapa rintangan dulu, baru bisa menghirup udara di luar pondok. Dan rintangan yang paling berat adalah menghadapi mbak-mbak ketertiban yang biasanya seliweran di koridor asrama. Namun tampaknya, malam ini mbak-mbak masih belum beroprasi. Karena koridor asrama atau jalan-jalan di pondok putri masih sepi dari Mbak-mbak ketertiban yang biasanya menggunakan kerudung warna merah.                 Rara dan Viana bernafas lega ketika berhasil keluar dari pondok putri. Mereka berdua pun menuju gerbang pondok, yang merupakan rintangan terakhir. Tapi biasanya, tidak seberapa ketat. Karena penjaga gerbang pondok yang sering disapa Pak Amin itu palingan hanya menanyakan kemana dan sudah dapat ijin atau belum. Tanpa melakukan pemeriksaan lanjutan.                  “Kayaknya hari ini kita beruntung deh,” ucap Viana setelah mereka berhasil keluar pondok.                 “heem.” Saut Rara sembari mengangguk.                 Jalanan g**g menuju warung Bu Sri ramai, ternyata tidak hanya mereka berdua yang keluar pondok. Ada beberapa santri yang terlihat memenuhi toko bintang—toko penyedia barang-barang perempuan. Ada pula yang sibuk haha hihi di tepian jalan. Rara bernafas lega, setidaknya jika di hukum, tidak hanya dirinya dan viana.                 “Itu Mas Aul. Ayok!” Viana menarik tangan Rara untuk segera menuju warung Bu Sri.                 Setelah sampai, di depan warung itu sudah ada Mas aul dan Anas yang sudah menunggu.                 “Ra,” Ucap Anas ketika mata mereka bertemu. Anas pun tersenyum manis, begitupun dengan Rara.                 “Yauda, kalian bicara disini. Aku sama Mas Aul mau beli titipan anak-anak.” Ucap Viana.                 “Iya,” jawab Rara.                 Viana dan Mas Aul pun meninggalkan Rara dan Anas berdua. Menyisahkan suasana sepi diantara mereka. Hingga salah satu dari mereka ada yang berani memecahkan keheningan itu.                 “Ra,” Anas kembali mengucapkan nama Rara.                 Rara tidak menoleh, gadis itu tetap menatap ke bawah tanah. “Ya?” namun mulutnya menjawab ucapan Anas.                 “Maaf ya.”                  Rara tidak tau, apa maksud Anas mengucapkan kata maaf. Rara pun tidak bertanya, yang jelas sekarang Rara akan menanyakan hal itu. Hal yang membuat Anas marah besar pada Bayhaqi.                 “Lupain masalah tadi, Nas. Tapi aku mau tanya sesuatu sama kamu.”                 “Apa?”                 Kali ini Rara menatap wajah Anas, gadis itu mendongak karena tubuh Anas yang lebih tinggi darinya. Menatap lekat-lekat wajah itu. “Kenapa kamu sama Bayhaqi berantem?”                 Jika ditatap seperti itu, membuat Anas tidak bisa mengarang cerita baru. Otaknya mendadak tidak berfungsi untuk mengarang cerita baru dan membuatnya harus jujur.                 “Ada apa sebenarnya?” tanya Rara lagi. Gadis itu masih menatap Anas lekat.                 “Bayhaqi ngejelekin kamu Ra.”                  Rara diam, masih setia menunggu penjelasan lanjutan Anas.                  “Dia bilang kamu cewek murahan dan menjijikan. Aku tau, kamu menyatakan perasaannya padanya kan? tapi bukan berarti dia bisa bilang kamu cewek murahan. Kalau masalah dia nggak suka dikejar-kejar cewek yauda bilang, kok malah ngejelekin kamu di belakang.”                    Hati Rara hancur sehancur hancurnya mendengar apa yang baru saja Bayhaqi katakan. Gadis itu sangat terkejut. Ternyata seperti itu sosoknya di mata Bayhaqi.                   “b******k banget kan dia? Anak yai tapi kelakuannya gitu.” Anas terlihat emosi kembali.                     Rara menundukkan pandangannya, gadis itu menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis itu dari Anas.                     “Mungkin dia bener nas.” Ucap Rara dengan suara parau.                     “Seburuk-buruknya orang, kita nggak berhak menjustuifikasi atau melebeli orang tersebut Ra.”                     Anas baik, dan Rara kini tau apa yang Anas lakukan adalah untuk melindungi harga dirinya. Tapi kebaikan Anas tidak bisa membuat rara sakit rara mereda. Gadis itu kini menangis dalam diamnya. Ada yang terluka dalam dirinya selain hati, yakni harga diri.                     “Ra, udah. Bayhaqi nggak pantes bikin kamu nangis.” Andai Anas berani, lelaki itu pasti akan mengelus punggung Rara agar gadis itu tak menangis lagi. sayangnya, ia tau dimana sekarang dan ingat ucapan ustadznya untuk tidak sembarangan memegang tubuh lawan jenis.                     Mendengar ucapan menenangkan Anas tidak membuat Rara berhenti menangis. Gadis itu malah sesenggukkan. Membuat anas bingung sendiri sekarang. Tapi cowok itu tau, jika Rara butuh ari mata itu untuk merasa baikkan. Sehingga sekencang Rara menangis, Anas akan membiarkan. Dan tetap menemani Rara disini. Sekalipun kini orang-orang yang lewat menatap mereka dengan tatapan penasaran. Mungkin orang-orang itu berpikir, Anas menyakiti Rara, atau Rara menangis karena diputuskan Anas. Mereka tidak tau saja, jika keduanya sama-sama terluka. Dan yang melukai disini adalah Rara. Karena tangis gadis itu, membuat Anas sadar jika perasaan Rara pada bayhaqi sampai kapan pun akan sulit hilang sekalipun Anas berusaha menghilangkannya.   ---               “Hari ini Ibu akan membagi kalian menjadi enam kelompok,” seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri di depan kelas itu bernama Bu Paula. Guru Tata Boga yang terkenal sangat disiplin dan paling benci siswa pembangkang yang suka rame. Sebab itu kelas sebelas IPA 3 yang para muridnya biasanya sulit untuk diam, kini terlihat sangat anteng.  Sekalipun sebagian dari mereka ada yang sibuk melamun dan menahan kantuk.             “Tugas setiap kelompok, harus pergi ke kantin atau koprasi dan mencari makanan sebanyak-banyaknya. Tapi dengan syarat, setiap makanan yang kalian tulis harus beserta bahan-bahan dan cara buatnya. Akan lebih baik jika disertakan kandungan dari makanan itu, disebutkan baik atau buruk bagi tubuh jika di makan. mengerti?”             “Mengertiii buuu!”             “Selepas bu Paula bagi kelompok, kalian boleh mengajukkan pertanyaan.”             “Baik bu!” jawab murid sebelas ipa 3 dengan kompak.             Bu Paula pun menyebutkan nama-nama anggota kelompok satu sampai kelompok 6. Beliau juga menyuruh untuk segera berkumpul dengan kelompoknya. Para murid pun menurut, mereka beranjak dari duduknya dan menemui kelompok masing-masing. Hanya gadis bernama Rara yang kini malah bengong di tempat duduknya. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang, yang jelas keadaannya itu membuat teman-teman terdekatnya khawatir.             “Ra, kamu kelompok berapa?” tanya Bintang, sembari memegang bahu Rara.             “Eh,” Rara yang tadinya sibuk dengan pikirannya sendiri pun kembali ke dunia nyata. Gadis itu menatap Bintang dengan tatapan bingung. “Apa bin?”              “Kamu loh kelompok berapa?” Bintang mengulang pertanyaannya.             “Kelompok? dibagi kelompokkah?”             Bintang menatap Rara khawatir, gadis itu kemudian merutuki sosok Viana yang membiarkan teman sebangkunya bengong dan nggak tau apa-apa seperti ini.             “Iya Ra, Bu Paula ngasih tugas kelompok.”             “Oh, aku kelompok berapa?”             “Nggak tau, aku tadi nggak merhatiin lagi pas namaku udah disebut.”             “Yah, apa aku tanya ke Bu Paula ya?”              “Jangan, nanti beliau malah marahin kamu loh. Beliau kan paling nggak suka sama siswa yang nggak merhatiin pelajarannya.”             “Terus gimanaaa??”             Bintang mengedarkan matanya, mulutnya menghitung satu persatu anggota dalam setiap kelmpok. Jika ada yang kurang dari lima, maka itulah kelompok Rara. Karena tadi Bu Paula bilang akan membagi menjadi enam kelompok, berarti jika jumlah seluruh siswa 30, setiap kelompok akan berisi lima orang.             “oh, itu.” Ucap Bintang menunjuk ke bangku paling pojok. “Itu Ra, kayaknya kelompokmu.” Karena kini, hanya kelompok itu yang berjumlah empat orang.             Rara tersenyum dan mengangguk, “Makasih lo bin sudah dibantu.”             “Iya, lain kali jangan ngelamun di kelas ya.”             Rara mengangguk dan menuju kelompok yang dimaksud Bintang. Ia masih belum sadar, jika kelompok itu duduk di bangku deretan tempat duduk Bayhaqi.             “Halo, maaf baru gabung.” Ucap Rara yang membuat keempat orang yang tadinya sibuk berdiskusi itu menatap Rara. Saat itulah Rara sadar, jika ia dan Bayhaqi satu kelompok yang sama. cowok itu kini menatapnya dengan tatapan datarnya.             “Oh ya Ra, duduk sini!”             Sekalipun Rara merasa tidak dekat dengan temannya di kelas, tapi Rara masih merasa teman-teman sekelasnya itu masih baik. Rara pun duduk di samping anak perempuan, yang Rara ingat namanya Niswah.             “Aku tadi nggak tau aku kelompok mana, tapi bener kan aku kelompok sini? Soalnya kelompok kalian aja yang jumlahnya masih empat.” Rara sebenarnya merasa nggak enak kalau menanyakan hal itu pada teman-temannya. Tapi ia harus memastikan dari pada ia salah masuk kelompok.             “Iya Ra. Tadi aku denger nama kamu disebut di kelompok ini kok.” Jawab Richa yang membuat Rara tersenyum lega.             “bodoh,” desis Bayhaqi pelan. Dan Rara yang duduk tak jauh dari tempat bayhaqi berada itu pun mendengarnya dengan jelas.             Gadis itu melayangkan tatapan kesal yang diabaikan begitu saja oleh bayhaqi. Sejak pagi tadi, Rara sudah menahan perasaan emosinya. Tapi jika dipancing seperti ini, rasanya Rara ingin menjambak rambut Bayhaqi saja.             “udah yuk kita ke kantin,” ajak Alvin, cowok yang kini duduk di samping Bayhaqi.             “Jangan dulu, kita bikin strategi.” Ucap Bayhaqi yang membuat keempat anggota kelompoknya heran. Strategi apaan?             “Kita harus bagi kelompok kita jadi dua. Biar kerjanya cepat dan maksimal. Nanti ada kelompok yang neliti makanan di kantin, dan ada juga di koprasi sekolah.”             “Oh iya, ide bagus itu!” saut Niswah.             “Iya, aku juga setuju!” jawab Alvin sembari mengangguk-anggukan kepalanya.             “yaudah, berarti gini aja..yang cewek ke kantin dan yang cowok ke kopsis.” Usul Richa.             “Ide baguss!! Udah yuk!!” Rara sangat setuju dengan saran Richa, karena artinya ia bisa jauh-jauh dari Bayhaqi. Gadis itu pun sudah berdiri untuk beranjak dari tempatnya.             “Nggak, aku nggak setuju. kita laki-laki nggak tau bahan-bahan masakan.”             “Iya bener kata Bayhaqi.” Ucap Alvin.             “Udah, kalian berdua sama Alvin ke kantin. Aku sama rara ke koprasi.”             “Ha?” Rara menatap Bayhaqi curiga. Ada apa ini? kenapa Bayhaqi tiba-tiba ingin bersamanya? Bukannya lelaki itu JIJIK PADANYA?             “Yaudah, ayok Cha, Nis kita ke kantin.” Sepertinya Alvin adalah satu dari sekian teman kelas Rara yang tidak berani membantah ucapan Bayhaqi. Karena sejak tadi, cowok itu setuju saja dengan apa yang dikatakan Bayhaqi.             “Kenapa si?” Ucap Rara ketika hanya tersisa dirinya dan Bayhaqi.             “Apanya?”             “Katanya JIJIK SAMA AKU kenapa malah minta sama akuuu?” Rara mengucapkan setiap katanya dengan penekanan, menjadi bentuk nyata betapa kesalnya gadis itu sekarang.             “Ngomong apa si, nggak kedengeran.”             “Tak doain beneran b***k baru tau rasa!”             “doamu nggak manjur.”             “IYAAA soalnya aku hanya perempuan HINA yang nggak PUNYA HARGA DIRIIII!!!” emosi rara sudah berada di ujung. Dan semakin kesal ketika menyadari lawan bicaranya hanya menatapnya datar.             “Udah?” tanya Bayhaqi ketika Rara terdiam. “Kalau uda ayo kita ke koprasi,” Bayhaqi beranjak dari duduknya dan keluar kelas.             Di belakang, Rara membututinya sembari mengucapakan sumpah serapah dalam hati. Sebenanrya hari ini ia bertekad untuk menganggap Bayhaqi tidak ada, sebagai perwujudan rasa sakitnya karena Bayhaqi menjelek-jelekannya di hadapan Anas. Tapi Rara tidak bisa melakukan itu, jika sikap Bayhaqi semakin hari semakin membuatnya kesal seperti ini.             Sesampaiya di koprsi, rara duduk di kursi panjangnya sementara Bayhaqi masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, Bayhaqi keluar sembari membawa sekotak s**u coklat.             “minum,” dan memberiikan s**u itu pada Rara.             Rara yang sejak tadi hanya menikmati angin yang berhempus itu pun terkejut ketika tiba-tiba ada s**u kotak di hadapannya. Lebih terkejut lagi ketika tau jika s**u itu dipegang oleh cowok yang membuatnya kesal.             “apa?” ucap Rara dengan nada kesal.             “Minum ini.”             “Nggak makasi.” Jawab rara ketus.             “bodoh, minum cepet.”             “Nggak Bay.”             “Yauda kalau lo nggak mau minum itu, aku bakal bilang ke Pak marto kalau kemarin ada yang nonjok aku di sekolah.”             Rara menatap Bayhaqi tak percaya, gadis itu kenapa baru tau sifat picik Bayhaqi seperti ini sekarang? Jika tau sudah lama, pasti rara tidak bisa terlalu menyukai cowok itu.             “Aku minum.” Rara mengambil susuk kotak itu cepat.             “Setiap hari aku akan ngasih kamu s**u coklat, sebagai wujud permintaan maafku.”             “Ha?”             “Maaf udah ngejelekin kamu ke Anas.”             “ha?”             “kalau masih ha, ha. Aku anggap kamu nerima permintaan maafku.”             “Ha?”             “Oke, makasi udah maafin aku.”             Bayhaqi beranjak dari sana, ia kembali ke dalam koprasi. Meninggalkan Rara yang masih termenung sendiri. menerima permintaan maaf dari Bayhaqi, mengapa membuatnya selemah ini? bahkan rasa kesal yang sejak kamarin membayanginya menghilang begitu saja. Ah, serendah ini kah harga diri rara?     tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD