"Kamu memang pantes banget sama dia, sama-sama bodohnya."
Rara tertenduk lesu sembari berjalan menuju kelasnya. Ucapan Bayhaqi itu, benar-benar membuat kepalanya dipenuhi kalimat tanya. apa maksud Bayhaqi bicara seperti itu? Kenapa Bayhaqi bilang seperti itu? Sebenarnya ada masalah apa Bayhaqi dengan Anas? -dan masih banyak lagi pertanyaan yang memenuhi otak Rara. Sehingga kini ketika ada seseorang yang tengah menyapanya di koridor sekolah, Rara tidak menyaut. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan terus berjalan.
"Ra," seseorang itu tidak patah semangat, ia membuntuti Rara dan masih memanggil namanya. Sekalipun ini sudah panggilan kepuluhan kali yang Rara abaikan. Hingga ia memutuskan untuk menyentuh bahu Rara, dan berhasil membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Eeeeeh," Rara menghentikan langkahnya dan menatap terkejut seseorang yang kini ada di sampingnya. "Mas Aul? Ada apa??"
"Ra, bisa bicara sebentar?" ucap Mas Aul.
"emm," Rara melihat jam di tangannya, kemudian mengangguk. "Sebentar aja ya Mas."
Mas Aul pun mengajak Rara duduk di kursi panjang yang ada di koridor deretan kelas sepuluh. Suasana koridor sepi, karena ini memang masih jam pelajaran.
"Kamu nggak ada gurunya kan?"
"Ya, di jam 5-6 nggak ada gurunya. tapi habis ini kayaknya ada. Ada apa Mas?" Rara penasaran kenapa Mas Aul sampai mengajaknya bicara empat mata seperti ini, pasti sesuatu yang penting. "Viana ya?"
"Bukan, ini tentang tadi.." Mas Aul masih menggantungkan ucapannya, namun Rara sudah tau kemana arah bicaranya.
"Oh, yang di lapangan tadi?"
Mas Aul mengangguk, wajahnya terlihat lebih muram tak seperti biasanya.
"Ada apa Mas?"
"Kira-kira Anas bakal dapet hukuman nggak ya? sumpah tuh anak emang bandel banget."
"Kalau nggak ada yang ember di sekolah si kayaknya aman Mas. Tapi kalau di pondok aku nggak tau." Jawab Rara.
"Kamu tau nggak kenapa Anas sama Bayhaqi barantem?"
"Nggak, kenapa Mas?" Rara sontak menatap Mas Aul penasaran. Sebab pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikirannya akan segera terjawab.
"Gara-gara kamu Ra."
".."
suasana diantara keduanya senyap, Rara mendadak jadi diam dan Mas Aul masih menunggu lawan bicaranya itu membuka suara. Rara tertegun, untuk apa mereka berdua berantem gara-gara dirinya?
"kaget kan kamu." terlalu lama menunggu rara bicara, mas Aul pun memulai pembicaraan lagi.
Rara mengangguk, "aku masih nggak percaya Mas."
"Kamu juga bingung kan?"
"Ya."
Mas Aul tersenyum penuh arti, Rara tidak tau apa maksud senyum itu. Yang jelas, itu semakin membuatnya penasaran.
"Sejak ketemu sama kamu di warung Bu Sri, Anas selalu bicarain kamu di kamar. Dia bilang kamu cantik, baik, enak diajak ngomong dan masih banyak lagi. Dia juga rajin tanya ke Bayhaqi karena dia tau kamu sama Bayhaqi sekelas."
"..."
"Dan mungkin Bayhaqi risih ditanyain Anas terus, hingga suatu ketika ketika Anas mau tanya tentang kamu ke Bayhaqi dijawab Bayhaqi dengan nada yang nggak enak. Bayhaqi juga bilang seuatu yang bikin Anas marah."
"bilang apa?"
"Kayaknya si bilang sesuatu tentang kamu, tapi Anas nggak ngasih tau aku apa. Yang jelas, Anas marah besar sejak itu. Puncaknya hari ini, dia datang ke sekolah dan bikin keributan di lapangan. Mungkin kalau dia berantem di pondok dia takut kena takzir dan di keluarkan. Secara kita tau, Bayhaqi masih keluarga ndalem."
Rara diam saja, tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Mas boleh minta tolong?"
Rara menatap Mas Aul, "apa mas?"
"Aku ndak tau apa yang bikin Anas marah sampai segitunya, Anas juga nggak bakal ngasih tau ke Mas.. Mas takut masalah ini sampai ke pondok dan Anas dikeluarkan. Aku minta Rara tanya Anas sendiri ya, nanti Rara bilang ke Mas sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua. Biar Mas bisa bela Anas di dewan pondok."
Rara mengangguk, "tapi rara nggak pernah ketemu Anas Mas."
"Gampang itu, nanti malam ya. habis makan malam, sebelum ngaji malem kita ketemu. Nanti biar aku sama Viana yang atur, pokoknya kamu mau kan?"
Rara kembali mengangguk, "apa aku juga sebaiknya tanya ke Bayhaqi juga mas?"
"Eh, kamu berani? Kalau kamu berani ya gpp, coba bicara ke dia. Mas nggak berani tanya-tanya soalnya."
"Oke." jawab Rara tegas.
Setelah itu mereka pun berpisah, Rara melanjutkan jalannya menuju kelas dan Mas Aul pergi ke kantin. Sepanjang jalan menuju kelas, pikiran Rara dipenuhi oleh perkataan Mas Aul, Gadis itu tidak menyangka kedua lelaki itu bertengkar hanya gara-gara dirinya.
---
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring ketika Bu Am selesai menuliskan tugas untuk besok. Semua siswa di dalam kelas pun bersorak bergembira. Mereka membereskan peralatannya dan memasukkannya ke dalam tas. Satu menit kemudian, doa bersama yang dibacakan dari kantor terdengar keras. Semua siswa pun menyimak dengan baik sembari menengadahkan tangan.
Sebagai tanda kelas usai, Bu Am mengucapkan salam yang dijawab semua siswa di kelas itu dengan kompak. Satu persatu dari mereka pun meninggalkan kelas, namun bukannya pulang, Rara menuju bangku Bayhaqi. Gadis itu hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"bisa bicara sebentar?" ucap Rara, ketika Bayhaqi henda beranjak dari bangkunya.
Bayhaqi menatap Rara sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya. Wajahnya terlihat lelah, ia seperti tengah menahan amarah.
"Lima menit."
"Apa?" Tanya Bayhaqi dengan nada yang kesal.
Rara tidak menyangka dalam diri Bayhaqi ada sosok yang seperti ini, menyebalkan dan ingin Rara pukul saja kepalanya.
"Katanya mau bicara? Apaaaa? 4 menit lagi." ucap Bayhaqi.
Rara mendelik, "ehhh bentarr janngan diitung dulu."
"tiga menit."
"Ok, ok, aku mau tanya."
"Apa?"
"Ehm...."
"dua menit."
sial, sumpah Rara ingin sekali menjambak rambut Bayhaqi agar laki-laki itu diam dan mendengarkannya dengan tenang. tapi tentu saja Rara tidak berani.
"satu menit."
"Kamu bilang apa ke Anas sampai dia marah begitu?" akhirnya Rara mengatakannya.
Bayhaqi diam, dan menatap Rara dengan tatapan yang sulit Rara artikan, Entah itu tatapan muak, kesal atau apalah. Yang jelas itu bukan tatapan kasih sayang. Karena jika ditatap Bayhaqi seperti sekarang, membuat Rara takut.
"Aku bilang kamu suka aku dan harus selalu begitu." Ucap Bayhaqi dengan penuh penekanan.
Rara hanya bengong mendengarnya, gadis itu kini terkena serangan jantung mendadak. Tiba-tiba saja orang tubuhnya tidak ada yang bisa bekerja dengan baik. Matanya membulat, mulutnya membeku tak bisa mengatakan apapaun.
"Kalau suka sama aku, harusnya nggak usa deket sama cowok lain." Bayhaqi meninggalkan Rara dalam kebingungan.
tujuannya bicara dengan Bayhaqi adalah agar ia bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. tapi kenapa ia malah semakin bingung. gadis itu pun menyusul Bayhaqi berjalan.
"Maksudmu apa?" tanya Rara.
"Lima menit uda selesaiii." jawab Bayhaqi sembari menampakkan senyum kemenangan. "nggak ada pertanyaan lain."
"Bayyyy, aku nggak ngerti." Rara memblokir jalan Bayhaqi dengan berdiri di hadapan cowok itu.
"Bagian mana yang nggak ngerti?"
"Semuanya! Maksudmu apa bilang kayak tadi? Aku nggak boleh suka sama orang lain?"
"Oh aku tadi bilang gitu ya?"
"Aku seriusss."
"Ra, udahlah. Nggak lelah apa begini terus?"
"Ha?"
"Nggak kasian orang tua kamu di rumah kerja biar bisa mondokin kamu disini, tapi kamu malah sibuk miikiri cinta? Udah, belajar yang rajin. Sekarang cuma itu tugas kita."
"Tentu dan aku nggak butuh nasehat kamu. Apalagi larangan kamu buat suka sama cowok lain!!"
"Ra,"
"APAA? Kamu nggak suka aku kan? Yauda, nggak usa ikut campur!!"
Bayhaqi terlihat kecewa, cowok itu berbalik mengambil jalan lain dan meninggalkan Rara sendiri. Air mata rara akan jatuh, gadis itu terlalu tidak mengerti dengan segala sikap Bayhaqi selama ini.
tbc