Bab 9

1266 Words
melihatmu sekalipun tanpa memiliki saja sudah membuatku bahagia-Rara, 2020.  . . Pondok kembali ramai ketika semua santri sudah kembali dari kampung halamannya. Jalanan pondok yang dua minggu ini sepi pun kini sudah dipenuhi para santri yang berjalan ke sana kemari. Gedung-gedung asrama pun tidak lagi diselimuti sunyi, sesekali terdengar tawa para santri yang tengah melepas rindu karena tiga minggu tidak bertemu.  Suasana pondok sore ini hangat sekali, sehangat cahaya matahari yang kini diam diam menerobos jendela kamar Rara. Menerpa wajah gadis itu ketika tengah sibuk menata barang-barangnya yang ia bawa dari rumah. Di sampingnya, ada Viana yang juga melakukan hal yang sama. Sore ini, penghuni kamar Aisyah itu tengah sibuk beres-beres. setelah sepanjang hari ini sibuk wira-wiri untuk 'tradisi maaf-maafan'.  "Viana, ini buat kamu." Rara menyodorkan sebungkus plastik berisikan kue kering kesukaan Viana. Kue yang selalu Viana pesan kalau Rara pulang ke rumah.  "Wah, makasiii. Tanpa diingatkan kamu sudah hapal ya, aku mau dibawain apa." Viana memeluk sebungkus kue kering itu.  Rara hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu, ia pun kembali meneruskan aktivitasnya.  "Dan ini buat kamuu," Viana menyodorkan sebuah kotak berisi roti khas kota asal Viana. "Kamu katanya pengen makan ini, aku bawakan sesuai pesanan. Rasa cokelat."  "Waaaa....makasih Viana." Kali ini Rara yang terharu. Ia menerima kotak kue itu dan menyimpannya bersama cadangan makannya yang ia simpan di lemari bagian atas. Cadangan makanan itu, biasanya ia makan bersama anggota kamar lainnya.  "Rek, sini!!" Teriak seoarang perempuan yang biasanya dipanggi Mba Ain itu. Ia baru saja masuk ke dalam kamar sembari membawa dua kantong plastik besar.  "Apa Mbaaa?" ucap Lida, sembari mendekat ke tempat Mba AIn. Rara dan Viana pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua turut mendekat ke tempat Mba Ain. Bersama para penghuni kamar yang lain.  "Ini dari Ibuku, buat makan malam nanti." Ucap Mba Ain dengan membagikan setiap box berisi nasi untuk setiap penghuni kamar. "Yey!!!! Makasiiih Mba Aiiin." Sorak penghuni kamar bersamaan.  "Iya sama-sama." Dan yang membuat Rara selalu kerasan tinggal di pondok sekalipun jauh dari orang tua adalah, karena ia mendapatkan keluarga baru yang selalu ada untuknya dan menyanyanginya. Selain itu, pondok mengajarkan banyak hal. Bab berbagi seperti ini misalnya, Rara selalu bersyukur bisa berada di tengah-tengah dunia yang baik. Di saat dunia diluar sana, kebanyakan orangnya sibuk mementingkan perut sendiri. -- Pengumuman di hari pertama sekolah setelah libur lama adalah perubahan jadwal pelajaran yang membuat semua siswa mengeluh berjamaah. Karena jam pulang yang diundur lebih lama dari biasanya. Padahal jam seusai sekolah biasanya para santri gunakan untuk bersenang-senang di luar pondok, seperti nongkrong di warung Mbak Ida atau main ke warnet. Sekarang, waktu bersenang-senang itu tidak bisa lebih lama seperti biasanya.  Termasuk Rara, gadis itu juga kesal dengan kebijakan baru sekolah. Sekalipun biasanya ia langsung pulang ke Asrama seusai sekolah dan tidak pernah main-main dulu di luar. Tetap saja, waktu rebahannya akan berkurang.Ia tidak akan bisa lagi, males-malesan di kamar. Tapi Rara sadar, ia tidak bisa melakukan apapun. Begitupun semua siswa yang tidak terima dengan kebijakan baru ini, mereka hanya pasrah dan menurut. Apalagi jika mengingat dawuh Pak Kepala sekolah tadi pagi, yang bilang jika penambahan jam ini digunakan untuk meminimalisir kegiatan diluar pondok. Dan Rara rasa, itu keputusan yag tepat, tapi ia juga kesal waktu rebahannya menjadi korban.  Karena masih hari pertama, kegiatan belajar mengajar di sekolah belum aktif. Banyak kelas yang tidak ada guru sejak tadi pagi. Salah satunya kelasnya Rara. Kelas yang berada di deretan pojok sendiri itu kini ramai, setiap siswanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sibuk mengobrol, main kartu, rebahan di belakang kelas, dan ada juga yang malah keluar kelas untuk nongkrong di kantin.  Sementara itu, diantara keributan dalam kelasnya, gadis bernama Rara itu malah hanya berdiam diri di bangku sembari meletakkan kepalanya di atas meja. Wajahnya ia sembunyikan dibalik kedua tangan yang berpangku membentuk lingkaran. Semenjak kejadian perasaan cintanya yang ditolak oleh Baihaqi, Rara memang menjadi lebih pendiam di kelas. Jarang ikut 'main' bersama teman sekelasnya. Beda sekali dengan Viana yang kini sudah melebur dengan teman-teman kelas, ia kini asyik bermain kartu di belakang. Pipinya dipenuhi bedak putih yang ia hasilkan karena berulang kali kalah. Dan akhir-akhir ini, Rara sering mendengar ceramah Viana yang mengatakan betapa berharganya waktu di sma. Agar Rara tidak lagi murung dan menyendiri di kelas. Sayangnya, ceramah itu tidak pernah Rara dengarkan. Ketika Rara sibuk memejamkan mata dan mencari ketenangannya sendiri, ada sebuah teriakan di depan sana yang membuat ketenangannya terusik.  "Rek, ada tawuran di lapangan tengah!" Ucap teman Rara yang bernama Ipin. Teriakan Ipin itu sukses membuat perhatian seluruh penghuni kelas itu teralih. Apalagi para cowok yang kini sudah berlarian keluar kelas untuk menuju lapangan tengah. "Siapa piiin?" Tanya salah satu anak perempuan bernama Yanik. "Baihaqiiii sama anak smk." "Ha????" semuanya terkejut. Termasuk Rara, gadis itu sontak berdiri dari duduknya. Viana menghampirinya dari belakang.  "Serius Baihaqi?" Ucap Viana pada Ipin.  "Baihaqi kelas kita?" Semuanya tidak ada yang percaya, pasalnya di kelas Baihaqi adalah cowok pendiam dan baik. Dia disukai semua orang, apalagi Baihaqi sering memberikan tugas yang ia kerjakan untuk dicontek anak-anak dengan suka rela. Dia bukan cowok bandel yang suka bolos pelajaran apalagi tawuran.  "Iya Rek, deloken dewe kalau nggak percaya." Viana menarik tangan Rara, membuat Rara terkejut dengan gerakan tiba-tiba Viana itu. Mereka pun berlari bersama anak perempuan kelas lainnya. Mereka semua ingin memastikan apa benar, Baihaqi tawuran? sungguh sesuatu yang tidak terduga bagi mereka. Lapangan yang dikelilingi sebuah pagar kawat itu ramai, di tengah-tengahnya ada dua anak manusia yang tengah beradu badan. Lebih tepatnya, salah satu dari kedua anak itu tengah mencengkram erat kera baju anak yang satunya. Dia juga mengatakan beberapa baris kata yang tidak pantas untuk di dengar. Membuat semua orang disana marah dan ingin menggeret anak itu keluar sekolah, pasalnya anak itu memang bukan anak sekolah sini. Mungkin anak itu diam-diam bisa masuk area sekolah melalui pagar belakang yang biasanya dijadikan jalan bolos anak-anak cowok. "Viana, bukannya itu Anas ya?" Ucap Rara panik ketika berulang kali memastikan bahwa anak lelaki yang tengah bertengkar dengan Baihaqi adalah Anas.  Viana pun sama terkejutnya, gadis itu sontak berlari menuju ke dalam lapangan. Di belakangnya ada Rara yang membuntutinya.  "Nass, Kamu ngapaiiin?" Ucap Viana setelah berhasil menerobos kerumunan. Ia menarik tangan anas untuk melepaskan cengkramannya, di kerah Baihaqi. "Viana..."Ucap Anas dengan suara parau. "jangan buat rusuh di sini Nas, ini bukan sekolah mu." Ucap Viana sembari menatap Anas dengan wajah memelas, berharap Anas menghentikan aksinya.  "Gabisa Na, Baihaqi wes kurang ajar." Anas kembali melayangkan satu tinju ke pipi Baihaqi. Menciptakan suara teriakan semua orang yang melihatnya.  Baihaqi hanya diam, cowok itu hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Anas. Dan itulah yang membuat anak-anak menjadi kesal. Entah apa yang ada dikepala Baihaqi sekarang, ia malah tersenyum ketika Anas seusai memberinya tinju lagi di pipi kanan.  Lebih anehnya lagi, dari sekian banyak anak yang ada di lapangan tidak ada satu pun yang ingin melerai. Mereka asyik menonton dan hanya sibuk mengumpati Anas. "Anas!!!!" dari ributnya kerumunan itu, Anas tentunya sangat mengenali suara itu. Suara Rara yang tepat di belakangnya.  "Ra," Cengkramannya di seragam Baihaqi melemah, ia menatap Rara dengan tatapan campur aduk. "Kamu ngapaiiin? Bisa berhenti? Kamu akan kena masalah nanti."  "..." Anas hanya diam, ia kini menatap Baihaqi dengan tatapan intensnya. "Nas, sudah. Cepet kembali ke sekolahmu, sebelum ada yang tau kamu disini." Akhirnya anas melepaskan cengkramannya di baju Baihaqi, sebelum ia pergi dari sana, cowok itu menatap sosok Rara lama. Membuat Rara bertanya-tanya, apa yang membuat Anas sampai terlihat menyeramkan seperti itu.  Begitupun dengan Baihaqi, setelah merapikan bajunya yang acak-acakan dan mengucapkan sepatah kata yang membuat Rara terkejut, Baihaqi meinggalkan lapangan tengah dengan wajah yang babak belur. "Kamu memang pantes banget sama dia, sama-sama bodohnya." tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD