dari sekian banyak cinta yang jatuh, kenapa jatuh cintaku yang sendirian? sementara yang lain, bisa berbalas dan berbahagia.
.
.
"Nanti malam temenin aku ketemu Mas Aul ya." Ucap Viana ketika kami tengah duduk santai di tempat rahasia.
Aku yang tengah sibuk menatap layar ponselku pun hanya mengangguk, sembari masih sibuk menscroll beranda i********: yang sebenarnya sangat membosankan.
"Tapi jangan bilang anak-anak," Viana kembali berucap. Aku hanya mengangguk lagi menanggapi ucapannya. Dan masih fokus dengan layar ponselku yang kini menampakkan apalikasi w******p. Sama saja, whatsappku pun juga membosankan. Sepi, tak ada chat dari siapapun. Kalau begini, aku sedikit menyesal membawa ponsel ke pondok.
"Nggak tanya kenapa?"
"Ha?" Jujur saja, sejak tadi aku tidak mendengarkan apa yang Viana katakan. Aku dengarkan, tapi aku tidak mengerti apa yang ia katakan.
"Nggak tanya kenapa?"
Aku masih tidak mengerti, dan menatap Viana heran. "Tanya apa?"
"Jadi dari tadi kamu nggak dengerin aku ngomong?" Viana menatapku kesal.
"Dengerin Viana, tapi nggak tau kamu ngomong apa." Aku tersenyum tak merasa bersalah. Viana menghembuskan nafas panjang, mungkin ia mencoba bersabar.
"Udah satu minggu loh Ra, kamu belum sembuh juga?"
'sembuh'? memangnya aku sakit apa? Aku hanya diam, dan tidak mengatakan apapun. Viana menatapku dengan tatapan marah, membuatku malas untuk menanggapinya. Pasti ujungnya kami akan bertengkar. Aku pun beranjak dari dudukku, dan menuju lemari yang ada disana. Mengambil sebuah kardus mi instan dan menyimpan ponselku di dalam kardus.
"Sampai kapan kamu nggak nyambung kalau diajak bicara? dan kayak mayat hidup seperti sekarang? Aku nggak mau ya, kamu gini terus! Oke, aku tau kamu memang sedih. Gpp ra, sedih sepuasmu. Tapi kamu nggak boleh kayak gini terus!"
Aku kembali duduk di samping Viana, dan menatapnya lekat. "Jadi, aku selama ini kayak mayat hidup?" dan tertawa terbahak.
"Nggak lucu, Ra!" Viana membentakku.
Aku masih tertawa, menertawakan lucunya Viana menyebutku mayat hidup.
"Ya kan kamu emang kayak mayat hidup, coba ingat kapan terakhir kamu ngobrol kayak gini sama aku? coba ingat kapan kamu ketawa sekencang tadi? kapan kamu senyum? kapan kamu bersemangat? Akhir-akhir ini aku hanya liat kamu murung, diem, dan nggak seperti biasanya."
Ah, benar.
memang akhir-akhir ini aku malas bicara. Dan senyum? kayaknya aku sudah lupa caranya. semenjak baihaqi bilang maaf karena tidak bisa membalas perasaanku, aku menjadi tidak punya alasan untuk tersenyum.
"Tuhkan, bengong lagi. Raaaaa!!!" Viana berteriak dan membuayarkan lamunanku.
"eh...maaf. Iya..iya, aku ga bengong lagi sekarang." Aku mengacungkan tangan membentuk huruf 'v' yang berarti vromise atau janji.
Viana yang tadinya cemberutpun tersenyum, "Oke. Kita nggak usah mikirin yang udah-udah. mending nanti kamu temenin aku ketemu Mas Aul. Siapa tau nanti Mas Aul ajak temennya yang ganteng."
"Nggak yakin aku Mas Aul punya temen ganteng," jawabku dengan wajah tak antusias sama sekali.
"Ngawooor, anak banjari banyak yang ganteng ya. Apalagi yang vokalis kayak mas Aul, behhh ganteng banget. Udah nganteng, suaranya bagus lagi."
aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Viana, karena jika aku protes pasti masalahnya tidak akan cepat selesai. Viana memang tengah tergila-gila dengan Mas Aul. Kalian tentunya masih ingatkan dengan crush Viana yang tidak ia ketahui namanya? Ajaibnya, sekarang Viana tau bahkan dekat dengan Mas-mas Aul itu.
"Oke, jam berapa kalian mau ketemu? dimana?"
"Nanti habis tadarus aja,"
"Malem-malem?"
"Iya,"
"Dimana?"
"Di warung Bu Sri. Nanti kita alasan beli martabak manis atau cemilan."
Aku mengangguk, resiko pacaran di pondok pesantren..Mau ketemu saja, harus diam-diam dan penuh taktik. "Oke."
"Tapi jangan bilang temen-temen..."
"Kenapa?"
"Nggak enak aja, kan aku sama Mas Aul belum resmi pacaran.
"Oh jadi belum resmi?"
"Iya, doakan nanti malem diresmikan."
"Kayak gedung aja."
"Raraaa!!!"
Aku pun tertawa, dan meninggalkan Viana di dalam ruangan rahasia sendirian.
Ruangan rahasia adalah bangunan tua yang berada di asrama perempuan. Bangunan itu, berada di paling ujung pondok, Kabar yang beredar, di bangunan itu ada banyak hantu. Sebab itulah tempat itu tak terjamah. Hanya beberapa santri wati saja yang nekat dan menjadikan bangunan itu sebagai ruangan rahasia. Termasuk aku dan teman-teman.
--
Rara mau bilang jika Tuhan tidak adil, tapi ia ingat keadilan Tuhan tidak terletak pada apa yang terima, melainkan pada besar rasa syukurnya. Jadi Rara tau, ia hanya kurang syukur ketika ia iri melihat cinta Viana berbalas sementara cintanya tidak. Padahal Viana juga makan nasi sepeti dia, padahal Viana juga suka sesekali bolos jamaah atau ngaji seperti dia, tapi kenapa cinta Viana terbalas dan ia tidak? pikirinya.
Rara berdiri sembari mengamati jalanan di sekitar warung Bu Sri yang sepi. Langit malam ini seperti hatinya, yang gelap dan muram. Sementara bulan di atas sana tersenyum seperti Viana, yang bahagia di dalam sana karena tengah bertemu pujaan hatinya. Tumben sekali, malam ini warung Bu Sri sepi. Di dalam hanya ada lima orang yang makan di meja makannya. Padahal biasanya, meja makan Bu Sri ramai dipenuhi santri yang kelaparan. Mungkin karena sekolah sudah libur dan Pondok sudah memperbolehkan untuk pulang, makanya suasana pondok lebih sepi dari biasanya.
"Rara ya?" seseorang dari dalam warung Bu Sri menghampirinya, seraya tersenyum dan menggaruk tengkuknya.
Rara mengangguk dan menatap cowok dengan sarung hitam dan kemeja kotak-kotak itu heran. "Si-apa ya?"
"Anas, temennya Mas Aul."
"Oh," Rara mengangguk, ia pun bergeser seolah memberi ruang agar cowok bernama Anas itu turut berdiri di sampingnya. Mungkin pikir Rara, daripada Anas berdiri di depan pintu.
"Rara kelas sebelas kan?"
"Iya, Anas juga?"
"Iya."
"Kok aku nggak pernah liat?"
"Aku sekolah di smk."
"Oh, anak smk. pantes aja nggak pernah liat."
"Tapi aku sering liat kamu."
"Ha?" Rara menatap Anas curiga.
"Serius."
"Kok nyeremin, liat dimana?"
"Di mimpi."
Rara hampir saja ingin menimpuk Anas dengan sandal yang ia kenakan, namun ia tahan. karena ia tidak mau dapat masalah dengan santri putra.
"Pliss deh Nas."
Beda dengan Rara yang menahan amarahnya, Anas malah tertawa ngakak. Membuat Rara semakin sebal.
"Oh ya, kamu jurusan apa?" rara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jurusan hatimu."
"Tsk." Dan Rara hanya berdecak, tak mampu lagi berkata apa-apa.
"Gimana rasanya? Udah mau marah dan maki-maki aku?"
"Iyaa!!! Coba kalau membunuh orang itu halal, pasti aku udah habisin kamu dari tadi."
"Uuh, nyeremin. Gpp kamu kesel, dari pada sedih." Ucap Anas yang membuat Rara terkejut.
Ia menatap Anas penuh selidik, "Viana bilang apa ke kamu?"
"Katanya kamu lagi sedih,"
"Ember banget emang tuh anak."
"Tapi sekarang sedihnya ganti sama rasa marah kan?"
"Haha, makasih Nas. sekalipun cara menghiburmu itu nggak banget." Ucap rara sembari tersenyum.
Anas pun mengangguk, dan mereka pun terdiam lama. rara sibuk menunduk dan Anas sibuk menatap jalanan di sekitar warung Bu Sri. Hingga ia menemukan seseorang yang ia kenal dan menganganggkat keuda tangannya,
"Mau kemana Gus!" Ucap Anas.
Rara yang sedari tadi menunduk pun menganggkat kepalanya, menatap seseorang yang disapa Anas. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati orang itu adalah Baihaqi.
"Makan," Ucap Baihaqi sembari melirik sebentar ke arah rara. Tatapan mereka sempat bertemu, sebentar. "Pacar?" Tanya Baihaqi pada Anas.
Yang sontak membuat Anas menggeleng kepala cepat, "Bukaan!! Tapi doakan ya Gus!" Anas nyengir lebar.
"Pasti. Aku makan dulu ya," dan sosok Baihaqi menghilang memasuki warung Bu Sri.
Rara hanya diam. Tapi dalam diamnya, ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Rasanya sakit, ketika orang yang kau sukai mendokan kebahagiaanmu dengan orang lain. Dan itu yang Rara rasakan sekarang.
jika tidak mencintaiku, bisakah kau hanya diam saja dan tidak ikut campur urusan hatiku?
tbc