Arya masih mematung di depan pintu yang menghubungkan antara ruang makan dengan taman samping Villa itu. Seketika Arya teringat pada mimpinya yang belakangan ini selalu muncul di setiap tidurnya. Arya berusaha menghirup napas panjang dan mengolahnya. Ia berusaha tenang untuk terus berpikir positif kalau mereka hanya mengerjai Arya.
Sekali lagi, pandangan mata Arya mengedar melihat sekelilingnya. Semua tampak sepi. Mereka seperti bersembunyi atau bagai hilang ditelan bumi. Arya melihat di sana masih ada peralatan barbeque yang masih mengepulkan asap. Ada juga ponsel mereka yang tergeletak di atas rumput. Arya tidak melihat siapa pun ada di sana, bahkan Raina sang pemilik Villa juga tidak ada di sana. Arya semakin merasa takut. Dadanya berdebar karena teringat lagi pada kilasan mimpi yang menghantuinya belakangan ini.
Arya semakin panik. Ia berjalan dengan gontai ke arah sebelah kanan taman, tidak terasa mangkuk berisi bumbu barbeque itu masih Arya bawa di tangannya. Mangkok itu bergetar karena tangan Arya pun ikut gemetar. Pikirannya tidak tenang mengingat keenam sahabatnya tidak ada di sana.
Setelah Arya berjalan menyusuri halaman taman Villa di sebelah kanan, dia semakin merasa pesimis. Tidak ada tanda-tanda mereka bersembunyi di sana. Lantas Arya berlari sembari membawa mangkok itu. Berlari ke arah depan taman menuju halaman depan Villa itu. Semua nihil, tanpa jejak, dan tanpa tanda kehidupan. Arya ingin berteriak tapi tidak bisa, mulutnya seakan terbungkam tenggorokannya seakan tercekat melihat apa yang terjadi di sana.
“Astaga! Kemana perginya mereka? Aku nggak mau kalau mereka benar-benar menghilang bersama pusaran gelap bagai tornado itu!” Arya semakin takut mengingat mimpi yang selalu muncul begitu mengerikan dalam tidurnya.
Tidak hanya mencari di halaman samping Villa itu. Arya juga berlari kembali ke dalam Villa dan melihat semua ruangan yang ada di sana. Arya menyimpan mangkuk yang berisi bumbu barbeque itu di atas meja di ruang televisi. Arya bergegas mencari mereka di lantai satu. Mulai dari kamar depan, kamar belakang, kamar tamu, lalu pergi ke ruang belakang. Herannya lagi, Ceu Euis tidak ada di sana. Arya semakin panik, dia berlari ke lantai dua. Semua ruangan terlihat gelap tidak ada satu pun lampu yang menyala. Arya mencari Sakelar lampu di lantai dua, saking paniknya dia tidak bisa menemukannya. Hingga akhirnya Arya mengambil ponsel miliknya yang ada di kantong celananya, untuk menerangi lantai dua. Namun belum sempat Arya menyalakan lampu senter pada ponselnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara dan seberkas cahaya yang membuatnya benar-benar kaget.
“Hap.”
“Surprise ....”
Suara itu terdengar sangat menyebalkan ditelinga Arya. Beberapa lilin yang dinyalakan di atas sebuah kue tart, menjadi pertanda tentang hari spesial ulang tahun salah satu dari mereka. Keenam sahabat Arya dan asisten rumah tangganya juga ternyata ada di lantai dua itu. Mereka sengaja memberikan kejutan kepada Arya karena hari ini Angga yang berulang tahun.
Arya terlihat sangat marah karena menurutnya itu bukan sesuatu yang lucu, bukan pula saatnya untuk bercanda. Terlebih karena Arya melihat kilasan mimpi tentang peristiwa yang akan terjadi begitu jelas kalau kelima sahabatnya masuk ke dalam pusaran mimpi. Namun, Arya menyadari kalau semua sahabatnya tidak mengetahui perihal puzzle mimpi yang belakangan ini muncul dalam tidurnya. Sehingga keenam sahabatnya sengaja memberikan kejutan kepada Arya yang belakangan ini terlihat murung. Menurut mereka, dengan membuat surprise yang seharusnya bukan untuk Arya, menjadi sesuatu surprise untuk Arya, bisa menghibur dirinya. Namun apa yang mereka lakukan justru membuat Arya marah. Marah karena Arya terlalu takut kalau mimpinya benar-benar menjadi kenyataan.
“Surprise ....”
Suara itu terdengar lagi di telinga Arya yang masih kesal dan mematung di depan mereka. Terlihat rona muka mereka tersenyum bahagia, mereka cekikikan di depan Arya yang mulai menggertakkan giginya untuk menahan emosinya. Raina mulai menyadari kalau Arya benar-benar marah.
“Tiup lilinnya, Angga!” pinta Syila kepada Angga yang tengah berulang tahun, dengan penuh bahagia Angga meniup lilin yang ditancapkan di atas kue tart sederhana itu.
“Selamat ulang tahun!” ucapan itu bersamaan dengan suara kembang api dari luar sana yang menunjukkan bahwa waktu dini hari sudah pergantian tahun baru.
Arya yang kesal sama sekali tidak menggubris mereka. Justru Arya pergi begitu saja karena kesal dengan semua sahabatnya.
“Arya! Arya! Hei! mau ke mana?” ucap Raina yang menyadari bahwa Arya Tengah kesal.
Arya berjalan menuruni tangga dengan cepat. Raina berusaha mengejar Arya. Sedangkan kelima sahabatnya dan seorang asisten rumah tangga masih terpaku melihat pemandangan itu. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Arya justru marah dengan apa yang sudah mereka usahakan untuk menghibur Arya.
“Kok sensi banget sih, Arya? Kayak cewek lagi PMS aja?” ujar Reno kesal sembari mencolek krim kue tart itu.
“Reno kuenya kan belum dipotong kenapa kamu colek?” Syila kesal karena Remo mencolek kue yang belum dipotong oleh Angga.
“Eh, iya maaf! Enggak sengaja bener!” Reno menatap Syila yang tengah sinis menatapnya.
“Aku bilang juga apa? kita nggak usah deh ngerjain si Arya. Bukannya ikut seneng malah jadi bete kan?” Angga sudah memperingatkan Raina, Syila, dan juga Reno untuk tidak mengerjai Arya malam itu.
“Ya ... Awalnya sih si Raina kan niatnya baik, mau menghibur si Arya ala komedi gitu. Yang ulang tahun Angga yang dikerjain si Arya. Tapi emang sih Arya belakangan ini agak sensitif. Kira-kira kenapa ya? Dikerjai begini saja bisa langsung marah seperti itu? Aneh kan?” Aji merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arya belakangan ini.
“Aku juga merasa begitu, awal kenal Arya dia ramah banget! Tapi belakangan ini dia kok pendiam dan aku merasa dia menghindar dari kita ya?” Mikha si gadis yang tidak banyak bicara, akhirnya pun ikut bicara melihat sikap Arya yang tiba-tiba berubah tanpa sebab.
‘Kira-kira Arya kenapa ya? Kok aku jadi merasa bersalah gini?’ batin Syila yang menyesal setelah mengerjai Arya habis-habisan.
“Terus gimana dong? kita kejar Arya?” Syila merasa sangat bersalah.
“Lebih baik kita lanjutkan saja acara barbeque kita! Biar Raina yang ngejar Arya! Karena kita nggak tahu, gimana perasaan Arya sekarang. Iya sih ... yang aku kenal Arya itu bukan tipe cowok yang sensitif kayak gini, semoga aja Raina bisa bujukin Arya! Yuk kita balik lagi ke taman!” Angga melarang mereka untuk ikut mengejar Arya. Mereka membiarkan Raina untuk berbicara empat Mata dengan Arya. Kemudian mereka kembali ke taman untuk melanjutkan acara barbeque yang belum selesai walau malam ini pergantian tahun sudah terjadi.
***
Raina mengejar Arya yang berjalan menuju halaman depan Villa. Arya berjalan dengan cepat dan ingin segera pergi meninggalkan Villa untuk sejenak.
“Arya! Arya! Arya! Tunggu Aku!” Raina berusaha mengejar Arya yang berjalan begitu cepat.
“Arya! Please! Tunggu Aku! Biarkan aku bicara!” Raina terus mengejar Arya yang kesal dengan mereka.
“Arya aku mohon!” Raina berhasil meraih lengan Arya.
Arya menghentikan langkahnya, setelah Raina berhasil meraih lengannya. Ia tidak mungkin melepas genggaman jemari Raina di lengannya, Arya takut akan menyakiti perasaan Raina. Sehingga Arya memilih untuk menghentikan langkahnya walau dirinya belum menoleh ke arah Raina. Ia masih kesal mengingat apa yang sudah dilakukan oleh keenam sahabatnya.
“Arya aku mohon sama kamu, jangan pergi! Lihat aku Arya!” Raina masih menggenggam lengan Arya yang masih mematung di posisinya.
Arya menghirup nafas panjang dan menghelanya perlahan. Ia berusaha untuk menanggapi pembicaraan empat mata dengan Raina di depan Villa milik Raina. Arya membalikkan badannya untuk menatap Raina yang ada di hadapannya.
Tatapan keduanya beradu, walau masih menyiratkan kemarahan yang terlihat dari sorot mata Arya. Tidak bisa dipungkiri lagi Arya pun melihat penyesalan yang tersirat dari tatapan Raina.
“Arya aku mohon! Jangan marah! Tadi niat kita cuma mau menghibur kamu! Kita merasa kalau belakangan ini kamu sering murung, menyendiri, dan sedikit bicara. Kebetulan malam tahun baru ini bertepatan sama ulang tahun Angga. Kita semua berencana untuk memberikan kamu kejutan dengan mengerjai kamu seolah-olah kita itu nggak ada di taman, memang Mikha sengaja meminta tolong kamu untuk mengambilkan bumbu barbeque di dapur. Saat itu kami lari ke lantai 2, setelah kamu kembali ke taman dan mencari kami, Ceu Euis masuk ke lantai 2 dengan membawa kue. Kami menunggu kamu di sana, Kami pikir dengan memberikan surprise yang bukan hari ulang tahun kamu ala ala komedi gitu, kamu bakal terhibur. Tapi ternyata kamu malah marah, maafin kita ya! Kamu mau kan maafin kita?” Raina Berusaha menjelaskan semuanya kepada Arya.
Arya masih menatap Raina. Sedangkan Raina sudah melepas genggamannya dengan Arya. Melihat Arya sedikit menghela nafas sembari memejamkan mata.
“Maaf kalau belakangan ini aku terlihat menghindari kalian. Akar permasalahannya bukan dari kalian kok! Karena memang aku sedang menghadapi sebuah masalah untuk diri aku sendiri. Tapi kalau kalian mengerjai aku dengan cara yang seperti tadi, mungkin waktunya enggak tepat. Tapi nggak apa-apa, aku ngerti kok! Sekarang aku mau mampir ke warung kopi yang Nggak jauh dari Villa kamu! Sampaikan permintaan maaf aku sama sahabat yang lain! Kalau mood aku udah baik. Aku kembali ke Villa.” Arya tetap melanjutkan niatnya untuk menenangkan hati dan pikiran nya di warung kopi yang tidak jauh dari villa Raina.
“Maafin kita ya, Arya! Ya sudah kalau kamu emang mau menenangkan diri ke warung kopi, kita lanjut barbecue an dulu ya! Nanti aku sampaikan sama teman-teman kalau kamu udah maafin kita, tapi mau ke warung kopi dulu.” Raina tersenyum dan sangat mengerti bagaimana rasa kesalnya Arya saat itu.
“Makasih ya, Rai! Aku jalan dulu!” Arya berpamitan dan terus melangkah menuju warung kopi yang tidak jauh dari Villa milik Raina.
“Iya, hati-hati ya!” Raina melambaikan tangan dan dia mulai kembali ke taman tempat barbeque-an mereka.
***
Raina yang kembali dengan wajah yang sedikit lesu memicu tanda tanya? Dari semua sahabatnya yang sedang menunggu di sana.
“Gimana, Rai? Arya masih marah?” tanya Reno kepada Raina.
“Ya ... dia sempat marah sih tadi. Tapi setelah aku jelasin sama dia, Arya mau ngerti kok! Aku juga udah menyampaikan permohonan maaf kita, Arya udah maafin kita kok! Cuma dia butuh menenangkan diri di warung kopi. Nggak tau deh Sebenarnya dia kenapa? Katanya sih memang lagi punya masalah sama diri dia sendiri.” Raina kembali duduk bersama sahabat-sahabatnya.
“Ya sudah biarkan saja! Nanti juga baik lagi kok! Lebih baik sekarang kita mulai makan aja! Gimana?” nggak ngajak mereka untuk melanjutkan makan.
“Nah ini momen paling di tunggu-tunggu!” ujar Reno dengan penuh semangat untuk menikmati menu yang sudah mereka siapkan sedari tadi.
“Kamu kenapa, Syila?” tanya Aji yang melihat sila sedikit loyo.
“Enggak apa-apa sih, cuma aku sedikit ngantuk!” Syila tersenyum ke arah Aji.
“Ya kalau ngantuk kamu tidur aja Syila!” perintah Raina kepada Syila sembari tersenyum.
“Nggak papa kok biar aku ikut makan aja sama kalian!” Syila tersenyum sembari mengicip satu sosis bakar.
***
Arya yang tengah merasa sedikit kesal duduk di warung kopi yang masih ramai pengunjung. Dia memesan satu cangkir kopi dan beberapa camilan.
‘Ya aku tahu sih mereka nggak mengerti apa yang sedang aku rasain. Bukan salah mereka juga kalau memang niat mereka hanya menghibur dan bercanda. Tapi semua memang tidak tepat waktunya. Tidak mungkin aku menceritakan kepada mereka, apa yang sebenarnya aku rasakan. Hidup dalam ketakutan setiap kali mimpi itu mulai muncul dalam tidurku. Sudahlah! Setelah aku selesai meminum kopi, Aku akan kembali ke Villa itu. Semoga mimpiku kali ini meleset. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda buruk, kan cuaca juga terang. Nggak mungkin juga kalau tiba-tiba datang badai dan tornado. Baiklah akan aku nikmati secangkir kopi ini sebelum aku kembali ke Villa,' ujarnya jalan hati sembari menikmati secangkir kopi hangat malam itu.
***
Bersambung ....
Apakah setelah Arya kembali ke Villa, semua masih baik-baik saja?