Setelah Arya selesai menikmati secangkir kopi hangat di warung kopi itu, ia kembali berjalan menuju Villa milik Raina. Di antara gemerlap bintang dan kabut tipis yang mengepul, udara yang berembus semakin terasa dingin menusuk tulang, Arya merapatkan jaketnya sembari berjalan ke arah Villa milik Raina. Arya merasa lega kalau di dalam sana, tepatnya di taman samping Villa itu, masih terdengar suara senda gurau keenam sahabatnya.
“Syukurlah mereka masih ada di sana. Semoga mimpiku tidak menjadi kenyataan. Lebih baik aku minta maaf kepada mereka karena sikapku yang baru saja merusak suasana.” Arya kembali berjalan menuju Villa itu melalui pintu depan ruang tamu. Ia terus berjalan menuju arah belakang rumah. Tepatnya di taman samping dekat ruang makan yang menjadi tempat acara Barbeque oleh mereka.
Arya merasa curiga karena dia mendapati semua temannya tidak ada di sana. Ia merasa seperti orang yang linglung, karena beberapa menit yang lalu ketika Arya berada di depan teras Villa itu, masih bisa mendengar suara senda gurau mereka. Anehnya, setelah Arya menyambangi taman yang menjadi tempat acara Barbeque, nyatanya mereka tidak ada di sana.
Pandangan Arya mengedarkan ke sekelilingnya. Suasananya sama seperti tadi sebelum mereka mengerjai Arya. Alat pemanggang Barbecue itu masih mengepulkan asap, karena masih ada beberapa sosis dan daging yang dipanggang di atasnya. Ada beberapa ponsel yang tergeletak di kursi taman. Kemudian Arya juga melihat beberapa pasang sandal, di antaranya sandal milik Angga dan Aji tergeletak di rerumputan.
Arya kehabisan kata-kata, hatinya berdebar, tubuhnya gemetar melihat keadaan tanpa siapa pun di sana. Arya berlari ke arah belakang Villa, suasana tampak sunyi, tidak ada seorang pun di sana. Arya kembali berlari ke arah depan Villa, di sana pun tidak ada siapa-siapa.
Napas Atya kian memburu, dia segera berlari ke seluruh ruangan di lantai satu. Hasilnya nihil tidak ada seorang pun di sana, bahkan asisten rumah tangga Raina juga tidak ada di sana.
“Tidak mungkin kalau mereka mengerjai aku dua kali? Kalau memang mereka mengerjai aku dua kali, ini sungguh terlalu dan aku tidak bisa memaafkan begitu saja! Tapi perasaanku berkata lain, aku merasa sama sekali tidak nyaman!” Tubuh Arya pucat, keringat dingin mulai bercucuran. Ia kembali berlari menuju lantai dua. Arya berharap kalau mereka ada di sana, walau mereka mengerjai Arya dua kali, daripada mereka menghilang bagai ditelan Bumi.
Satu persatu anak tangga itu Arya lewati jangan cepat. Dia berlari ke lantai dua. Namun, pemandangan saat itu, berbeda dari pemandangan ketika mereka mengerjai Arya. Lampu di sana menyala semua, tidak ada tanda-tanda orang yang bersembunyi di sana.
“Hei! Kalian nggak lucu! Enggak usahlah mengerjai aku lagi! Aku benar-benar marah nih! Hei! Di mana kalian?” Arya mulai berteriak karena mendapati semua temannya tidak ada di sana. Padahal beberapa menit sebelumnya Arya mendengar senda gurau mereka di sana.
“Reno! Aji! Angga! Hai! kalian di mana?” Arya berlari ke sana-kemari membuka satu per satu kamar yang ada di Villa itu.
“Rei! Mikha! Syila! Enggak lucu ya! kalau kalian mengerjai aku dua kali!” Arya semakin tidak waras dan berlari ke sana kemari untuk mencari semua teman-temannya.
‘Nggak mungkin secepat itu mereka bersembunyi dan pergi dari tempat ini? Apa aku yang bermimpi?’ Arya menampar pipinya sendiri, mencubit lengannya, bahkan dia menginjak kakinya sendiri.
“Aw!!!” Arya merasa kesakitan. Hal itu berarti dirinya sama sekali tidak bermimpi.
Arya tidak mau berspekulasi negatif. Arya kembali berlari mencari mereka di sekitar Villa. Tubuh yang semakin gemetar dan keringat dingin yang terus bercucuran, membuat Arya merasa kehilangan sebagian tenaganya. Semua sahabatnya juga asisten rumah tangga Raina menghilang bagai ditelan bumi.
“Celaka! mereka benar-benar menghilang? Lalu bagaimana aku menemukan mereka?” Arya kembali berlari ke dalam Villa itu dan melihat sekelilingnya.
Tanpa Arya sadari, mata batinnya menuntun Arya menuju lantai dua Villa milik Raina. Dengan sisa tenaga Arya terus berusaha mencari mereka di sekitar Villa. Arya bingung telah kehilangan semua sahabatnya dengan sekejap mata bagai hilang ditelan bumi. Arya melangkah menuju lantai dua untuk ketiga kalinya. Ia melihat korden yang mengarah ke balkon Villa itu terbang tertiup angin. Itu berarti pintu menuju balkon sudah terbuka. Padahal sebelumnya pintu itu tertutup rapat. Arya bergegas melihat apa yang terjadi di sana. Langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu hal yang begitu menakutkan.
“Astaga! Syila? Apa yang dilakukan Syila di atas balkon itu?” Arya berusaha melangkahkan kaki lebih lebar agar cepat sampai ke ujung balkon lantai dua Villa milik Raina, karena Arya melihat Syila sudah berdiri di tepi balkon lantai dua itu. Kalau Arya tidak segera menolongnya, Syila akan dalam bahaya.
“Syila! Apa yang kamu lakukan di sana?” dengan cepat Arya meraih lengan Syila dan berusaha menariknya agar menjauh dari tepian balkon.
Arya merasa angin yang berembus di lantai dua itu begitu kencang. Sehingga membuat dirinya harus menyempitkan mata agar tidak terkena debu.
Hal yang lebih mengejutkan lagi ketika Arya menyadari bahwa Syila memejamkan mata. Dia terlihat berjalan saat tertidur. Saat Arya berusaha membangunkan Syila, Gadis itu tidak merespons. Dia seperti boneka yang tidak memiliki jiwa. Matanya terpejam dan terus berjalan hingga akhirnya dia berdiri di balkon lantai dua itu. Beruntungnya mata batin Arya mengantarkan Arya menemukan sila yang sedang dalam bahaya.
“Syila, apa kamu baik-baik saja?” Arya masih memegangi lengan sila dan berusaha untuk menariknya.
“Syila bangun! Bangun sila!” Arya berusaha untuk membangunkan sila yang masih memejamkan mata. Sungguh Arya sangat terkejut dengan kejadian itu. Terlebih ketika Syila merespons panggilan Arya.
“Arya aku tidak bisa membiarkan aku membuka mata ini! Aku tidak bisa membiarkan mereka hilang dari pandanganku!” suara sila seakan tercekat keringat dingin mulai bercucuran dan tubuhnya menegang.
“Syila kamu mendengarku? Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kamu ada di tepi balkon! Kalau saja beberapa detik aku terlambat, mungkin semua akan menjadi liburan yang sangat mengerikan! Lalu di mana teman-teman kita?” Arya merasa sangat ketakutan dan bingung melihat peristiwa yang baru saja ada di hadapannya.
“Justru itu Arya aku tidak bisa membuka mata ini! Maafkan aku tidak mau kehilangan jejak mereka! Tapi aku bingung harus berbuat apa!” ucap Syila membuat Arya semakin bingung.
“Apa maksud kamu tidak mau membuka mata kamu? Lalu apa maksud kamu mereka hilang dari pandanganmu? Kamu tahu semua teman-teman pergi ke mana?” Arya benar-benar sangat bingung dan banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.
“Lebih baik aku angkat saja dulu kamu agar menjauh dari tepi balkon itu!” Arya mengatakan hal itu kepada Syila agar dirinya tidak tersentak kaget ketika Arya membopongnya menjauh dari tepian balkon itu.
“Memangnya aku ada di mana Arya?” Syila yang memejamkan mata tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di tepi balkon lantai dua Villa milik Raina.
“Kamu berjalan sembari tertidur dan memejamkan mata! Lalu sekarang kamu berada di tepi balkon lantai dua Villa milik Raina. Jika aku terlambat sedetik saja, mungkin kamu akan melangkah satu kali dan semua akan terlambat,” tegas Arya kepada Syila.
“Astaga ini benar-benar di ujung balkon?” Syila tersentak kaget mengetahui dirinya berada di tepi balkon lantai dua Villa itu.
“Iya Syila! Lebih baik kamu diam dan percaya saja sama aku!” dengan sigap, Arya mendekap Syila dan berusaha membopongnya melompati pagar pembatas balkon. Karena Syila berada di luar pagar pembatas balkon, tepat pada ujung tepi balkon itu.
Syila merasa ada sesuatu getaran dal dadanya, ketika Arya mendekapnya. Sejak awal mereka kenal Syila memang memiliki perasaan spesial kepada Arya. Namun dia memilih untuk memendam perasaan itu. Sebagai kamuflase, Syila terlihat mengidolakan Angga. Tujuannya agar Arya tidak mengetahui bagaimana perasaan sila yang sebenarnya.
‘Maafkan aku Arya, aku pun tidak sengaja melakukan semua ini kepada mereka. Bahkan aku sendiri tidak tahu posisiku berada di mana saat ini. Aku benar-benar tidak bisa untuk membuka mata ini, karena aku tidak mau kehilangan jejak mereka yang aku lihat di dalam mimpiku,' batin Syila merasa sangat terpukul dengan kejadian yang baru saja menimpa mereka, tepat ketika Arya tidak ada di sana.
“Hap!”
Brukk!
Mereka terjatuh ke belakang saat Arya berusaha untuk menaikkan Syila melewati pagar pembatas yang tingginya sekitar delapan puluh sentimeter di balkon itu.
“Aw!!!” pekik Arya karena punggungnya membentur lantai di balkon itu.
“Arya bagaimana keadaanmu? Maaf! aku benar-benar sudah menyusahkan semuanya!” ucap Syila ketika dirinya menindih tubuh Arya. Dengan sigap, Arya berusaha untuk bangun dan membantu Syila dalam posisi duduk.
“Aku baik-baik saja Syila! Hanya punggungku saja yang terbentur sedikit.” Arya berusaha menyembunyikan rasa sakit yang diderita di punggungnya, akibat terbentur lantai di balkon itu. Dia tidak mau kalau Syila merasa khawatir dan akhirnya membuka matanya. Iya takut kalau Syila kehilangan jejak teman-teman mereka. Arya juga masih bingung dengan apa yang dimaksud Syila untuk tidak mau membuka mata dan takut kehilangan jejak teman-teman mereka.
“Duduklah Syila! jika kamu ingin tetap memejamkan mata silakan! Hanya saja aku tidak mengetahui apa yang dimaksud sama kamu? Bagaimana semua itu terjadi dan ke mana perginya teman-teman kita?” banyak sekali pertanyaan di dalam benak dan pikiran Arya.
Mereka berdua berada dalam posisi duduk saling berhadapan. Syila masih menutup matanya. Ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi melalui cerita Syila
“Syila, Sebenarnya apa yang jadi selama aku pergi? Kamu tahu enggak? Setelah aku pulang dari warung kopi dan berjalan di teras depan Villa, aku masih mendengar suara gelak tawa kalian di taman, dan setelah aku masuk ke dalam ... ternyata kalian sudah tidak ada, aku tidak menemukan siapa pun! bahkan Ceu Euis juga tidak ada di belakang. Semua lenyap bagai ditelan Bumi. Hal itu sangat membuatku ketakutan. Lalu tiba-tiba aku menemukan kamu berada di tepi balkon itu. Rasanya aku berdiri bagai tidak bertulang! semuanya lemas! jika aku terlambat satu detik saja mungkin liburan ini akan menjadi liburan yang mengerikan. Syila katakan apa yang terjadi? aku harap kamu jujur sama aku!” Arya terus berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka.
***
Bersambung ....
Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka? Ke mana semua orang pergi? Lalu mengapa hanya Syila yang masih ada di sana dengan sikap yang aneh?