Puzzles 23. Dryad dan Kata Hati

1264 Words
Arya dan Syila masih mematung berhadapan dengan makhluk misterius itu. Makhluk yang menyerupai wanita cantik dengan tubuh berbalut batang pohon beserta akar dan ranting. Dia sejenis Dryad, makhluk mitologi yang biasa dikenal dengan peri hutan. Namun, Arya dan Syila tidak mengerti makhluk apa yang ada di hadapannya. Karena makhluk itu memang bukan imajinasi mereka. Melainkan imajinasi salah satu sahabat mereka. Tersedotnya mereka ke dalam pusaran mimpi Syila, mengakibatkan dimensi mimpi Syila juga dipenuhi makhluk atau pemandangan sesuai dengan imajinasi mereka yang ada di dalamnya. Tidak semua ada di sana berasal dari imajinasi Syila. Melainkan seluruh imajinasi mereka bercampur menjadi satu dalam dimensi pusaran mimpi Syila. “Astaga, Arya! Tidak semua makhluk dan pemandangan fantasi yang ada dalam dimensi mimpi ini, berasal dari imajinasiku saja. Melainkan semua imajinasi kita bisa terwujud dalam dimensi mimpiku ini. Jadi seperti yang aku bilang tadi, kalau aku tidak bisa mengendalikan kemunculan makhluk yang menyerupai peri hutan itu. Kamu menyuruhku untuk menghilangkan makhluk itu dari hadapan kita, tapi sudah bukan ranah imajinasiku Arya! Jadi aku nggak bisa menghilangkan makhluk itu, seperti saat aku menghilangkan batu besar yang menggelinding dari atas bukit batu itu. Karena bukit batu yang menghadang kita di padang pasir sebelum kita sampai bertemu dengan Reno, itu semua adalah imajinasi khayalanku. Sehingga bisa aku kendalikan. Tetapi jika makhluk mitologi yang ada di hadapan kita, aku tidak bisa mengendalikannya.” Syila mengatakan situasi yang sebenarnya terjadi. “Ap--apa? Lalu dia muncul dari imajinasi siapa? Kira-kira apa maksud peri hutan itu menghadang kita? Benar-benar membingungkan, tapi ... petualangan ini terasa semakin seru saja! Aku harap kamu baik-baik saja Syila! Berhasil atau tidaknya kami semua bergantung padamu.” Arya terus menjaga Syila agar tetap terjaga. Mereka menatap makhluk itu dengan saksama. Begitu juga sebaliknya, makhluk itu menatap balik mereka dengan sorot mata yang kehijauan dan kulit yang cerah berbalut pelepah kayu, dan rambut yang tergerai dengan hiasan akar-akar dan terdapat seperti mahkota yang terbuat dari daun. “Permisi! Apakah kami boleh melintas?” Arya semakin erat menggenggam jemari tangan Syila. Ketika Arya menanyakan sesuatu hal kepada makhluk yang disebut dengan Dryad atau peri hutan itu. Awalnya makhluk itu hanya menatap mereka dengan tatapan yang tajam. Arya dan Syila saling menatap seakan menyiratkan bahwa mereka juga bertanya-tanya mengapa makhluk mitologi itu tiba-tiba muncul dan menghadang mereka. Namun, setelah suasana menghening beberapa saat, makhluk itu mulai menyapa mereka. “Hai ... Apa yang kalian lakukan di dalam hutan ini?” makhluk itu seakan mengintimidasi mereka. “i—itu karena kami tersesat!” Arya mengatakan hal itu kepada peri hutan. “Bukan tersesat! Tepatnya kami semua berada dalam dimensi mimpiku, lalu siapa kamu? Aku tidak pernah membayangkan peri hutan ada di dalam mimpiku.” Syila menatap dengan tajam ke arah peri hutan itu. “Aku adalah makhluk imajinasi khayalan dari seseorang yang menyebut namanya Angga.” ucapan peri hutan itu membuat Arya dan Syila terperangah. “Syila, ternyata benar! Makhluk yang ada di dalam dimensi mimpimu ini adalah campuran dari semua imajinasi kita termasuk sahabat-sahabat kita,” bisik Arya kepada Syila. Sembari mengawasi peri hutan itu. “Aku tidak bermaksud apa-apa, Aku hanya ingin memastikan kalau hutan ini aman dari tangan-tangan jahat yang biasanya merusak tatanan keindahan hutan yang sudah ada.” Dryad itu tersenyum ke arah mereka. “Astaga Arya! Aku sudah berpikir negatif tentang peri hutan itu, ternyata dia hanya ingin melindungi kelestarian hutan ini. Walau dia hanya makhluk imajinasi, tapi sangat memberi pesan kepada kita yang memimpikannya.” Syila tersenyum ke arah Arya sembari berbisik. “Syukurlah! Aku pun merasa lega, biar aku yang berbicara sama dia!” Arya kembali berbisik sembari mengulas senyum hangat kepada Syila. “Kami ini sebenarnya sedang mencari salah satu sahabat kami, tapi ... karena imajinasi mimpi yang terlalu tinggi dari Syila, maka kami tersesat di sini. Apa kamu tahu ke mana arah menuju ke pantai?” Arya berusaha menanyakan cara untuk keluar dari hutan itu. “Pantai ada di bawah sana, kalian ikuti saja jalur setapak yang berbelok ke arah kiri. Kalian akan keluar dari hutan ini tepat di lereng bukit. Dan di bawah sana kalian bisa melihat pantai yang indah.” Peri hutan itu memberi tahu arah keluar dari hutan menuju pantai. “Syukurlah! Maafkan kami kalau ternyata kehadiran kami mengganggumu di sini. Kami pamit! Makasih banyak!” mereka melambaikan tangan kepada peri hutan yang juga tersenyum kepada mereka. “Syila! Apa kamu tahu? Rasanya ada hal baru yang membuatku bahagia.” Arya menoleh ke arah Syila. “Apa itu?” Syila pun ikut penasaran. “Malam tahun baru yang seharusnya kita berada di Puncak, justru kita terlempar masuk ke dalam pusaran mimpimu. Ini adalah sebuah petualangan pertama yang aku rasakan! Aku lebih mengenal kalian terutama kamu. Mengetahui masa lalu kamu yang sempat membuat pertanyaan dalam benakku sesaat setelah aku menyelami masa lalu kamu. Sekarang aku sudah tahu, pesan dari mimpi yang aku lihat saat menyelami masa lalu kamu. Kalian benar-benar sangat membuat hidupku semakin berwarna. Maklum! Semenjak kehilangan Nikita sahabatku semasa SMP, aku menutup pertemanan dengan siapa pun. Lalu aku mencoba membuka pertemanan dengan kalian. Aku tidak menyangka kalau kalian memiliki latar belakang dan kemampuan yang beragam.” Arya mencurahkan isi hatinya kepada Syila bahwa dia merasa sangat bahagia dan tertantang dengan petualangan malam tahun baru ini. “Aku juga minta maaf, Arya! Sungguh semua terjadi tanpa kesengajaan. Kita tetap harus fokus membawa mereka secepatnya kembali ke dunia nyata sebelum waktunya habis. Karena aku hanya manusia biasa yang bisa saja lengah karena lelah. Seperti yang tadi kita alami! Lengah sedikit saja dalam lelah, kita langsung terlempar ke sini. Mungkin saat kita mencari mereka, aku akan sering mengalami hal seperti tadi.” Syila takut kalau dia lelah dan lengah maka akan menghambat pencarian terhadap sahabat-sahabat mereka. “Aku akan menjaga kamu! Akan selalu mengingatkan kamu! Agar kamu tetap fokus dan kita berjuang bersama!” Arya kembali menggenggam tangan kanan Syila dan menatapnya penuh keyakinan. “Terima kasih, Arya!” Syila mengulas senyuman hangat dan perasaan yang timbul dalam hatinya semakin dalam untuk Arya. ‘Sejak awal aku ketemu Syila, sudah merasa bahwa dia istimewa. Sosok yang begitu ceria seperti tidak memiliki masa lalu yang menyedihkan, ternyata justru menyimpan masa lalu sangat tidak terduga. Dia sangat pandai menyimpan rahasia dan perasaannya. Kini aku berharap dia akan selalu bahagia, dengan begitu aku pun akan merasa bahagia,' batin Arya yang juga merasakan getaran spesial dalam benaknya setelah mengenal Syila lebih jauh. ‘Dialah sosok misterius dengan pembawaan tenang, sang pemilik senyuman yang memikat. Sayangnya ia terlalu serius dan menutup diri. Mungkin Jika dia lebih terbuka, kita bisa lebih dekat. Tapi aku lebih baik memendam perasaan ini dan biarlah yang mereka tahu aku sangat mengagumi Angga. Padahal seseorang yang spesial dalam hati aku adalah Arya,' batin Syila sembari menatap Arya. “Ayo, Syila kita harus segera menemukan Angga!” Arya kembali menggandeng tangan Syila dan dia mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai. *** Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak yang seakan tidak berujung. Diiringi pepohonan rindang dan semak belukar yang menyiratkan tempat itu belum pernah dijamah oleh siapa pun. Syila justru merasa takjub, imajinasinya tentang tempat itu sangat detail. Bahkan pada kenyataannya, apa yang ada dalam angan-angannya seolah terlihat sangat nyata. Setelah melintasi jalur setapak yang lumayan jauh, mereka kembali mendengar deburan ombak dan nyanyian burung yang berkicau menghiasi cakrawala. Tatapan mata Arya dan Syila saling beradu. Sorot mata mereka terlihat berbinar “Lihat!” Syila menunjukkan sesuatu yang mereka cari sedari tadi. “Pantai!” Arya terlihat sangat lega. “Tapi di mana keberadaan Angga?” *** Bersambung .... Apakah mereka akan menemukan Angga di pantai itu? Jika iya, tangan apalagi yang harus mereka hadapi bersama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD