Puzzles 22. Dihadang Makhluk Aneh

1876 Words
Arya dan Syila mulai bernapas lega karena satu sahabat mereka yang bernama Reno sudah berhasil mereka antarkan menuju jalan pulang ke dunia nyata. Saat ini mereka masih duduk beriringan di tepi pantai sembari menikmati panorama indahnya dimensi mimpi Syila. Deburan ombak di lautan biru itu membuat mereka merasa nyaman untuk sejenak. Arya menghirup napas panjang dan menghelanya perlahan untuk menenangkan hati dan pikiran yang sempat cemas berpacu dengan waktu. Begitu juga dengan Syila yang merasa bahwa tubuhnya semakin melemah. Syila mencoba untuk menahan rasa kantuknya sampai semua sahabat mereka dapat ditemukan. Pandangan mereka mengedar ke seluruh penjuru panorama di sana. Arya kembali berpikir untuk memulai kembali pencarian terhadap keempat sahabat mereka itu yang masih di cari keberadaannya. “Syila! setelah ini, giliran siapa yang akan kita cari selanjutnya?” Arya menoleh ke arah Syila yang terlihat sedikit pucat. “Menurut kamu siapa?” Syila justru meminta pendapat Arya untuk mencari siapa yang akan mereka cari selanjutnya. “Bagaimana kalau kita mencari Angga?” Arya mengusulkan untuk mencari Angga. “Alasannya apa?” Syila menginginkan sebuah alasan. “Alasannya mudah, Syila! Lihat! kita ada di mana?” Arya kembali melontarkan pertanyaan kepada Syila. “Kita ada di tepi pantai. ya ... Pantai imajinasiku, tapi aku tidak menyangka pernah memikirkan hal seindah ini.” Syila tersenyum hangat sembari mengumpulkan kembali tenaganya setelah perjalanan panjang menemui Reno. “Seperti yang kamu tahu kan, Syila! Angga berasal dari daerah yang tidak jauh dari tepi pantai. Hobinya surfing! Dan aku pernah menyelami masa lalu Angga, dia itu berasal dari sebuah daerah yang memiliki dua sisi pantai, yang satu menghadap ke timur dan yang satu lagi menghadap ke barat. Salah satunya memiliki ombak pecah dan yang satunya lagi ombaknya tidak terlalu tinggi dan dijadikan sebagai lokasi pencarian ikan bagi nelayan yang ada di sana. Sedangkan Angga begitu bersemangat menjadi seorang tour guide bagi turis yang ingin menjajal sensasi berselancar di pantai tempatnya berada. Nah, karena kita berada di tepi pantai, maka target kita selanjutnya adalah mencari Angga! coba sekarang kamu ingat-ingat! Saat mereka masuk ke dalam dimensi mimpimu ini, kamu melihat pantai ada di mana?” Arya kembali meminta Syila untuk mengingat. “Aku kurang begitu yakin sih! tapi yang jelas mereka semua masuk di dalam dimensi ini. Sedangkan aku sendiri lupa di dalam dimensi ini ada beberapa wilayah yang pernah aku bayangkan, tapi alasanmu masuk akal Arya! Lebih baik kita coba dulu mencari Angga dengan menyusuri tapi pantai ini. Bagaimana? Apa kamu sudah siap untuk kembali bertualang?” Syila yang merasa sudah lebih baik dari sebelumnya, kembali mengajak Arya untuk melanjutkan perjalanan mereka mencari keempat sahabatnya dan satu asisten rumah tangga Raina. “Ok! i am ready!” jawab Arya meyakinkan. “Bagus kalau gitu ayo, kita segera berjalan menyusuri bibir pantai ini!” Syila dan Arya mulai beranjak dari tempatnya saat ini. *** Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri bibir pantai itu. Di antara pasir putih, mereka terus berjalan beriringan. Suara deburan ombak mendamaikan hati siapa saja yang mendengarnya. Namun, gawatnya hal itu membuat Syila mengantuk. Arya yang sedang berjalan bersama Syila mendapati sebuah pemandangan yang tiba-tiba bisa berubah bersamaan dengan langkah kaki mereka. “Syila! bukankah kita tadi sedang berada di tepi pantai? Kenapa kita jadi berada di sini?” Arya merasa sangat senang dengan apa yang sedang dia lewati. Sudah pasti siapa pun orangnya yang mengalami hal seperti yang Arya dan Syila rasakan, mereka akan terkejut. Bagaimana tidak? Mereka yang sedang berada di tepi pantai berjalan dengan begitu bersemangat, tiba-tiba langkah kaki mereka justru mengantarkan mereka menyasar ke sebuah hutan belantara. “Arya maaf! Aku mengantuk jadi beberapa detik yang lalu aku hampir tertidur. Setelah mendengar suara kamu, aku kembali terbangun, tapi pemandangannya sudah berubah.” Syila merasa sangat bersalah. Juga belum bisa memastikan, Apakah hutan itu masih berada dalam dimensi yang sama dengan keberadaan sahabat mereka atau bukan? “Celaka, Syila! Padahal aku yakin kalau kita bisa menyusuri pantai itu, kita akan menemukan Angga di sana. Tapi kalau seperti ini jadinya, entahlah! Siapa yang akan kita temui di sini? Aku sama sekali tidak ada bayangan harus seperti apa, ya? Cara paling cepat untuk menemukan mereka? Apa kamu tidak bisa membayangkan tempat yang tadi Syila? Karena kita harus sampai ke tempat yang tadi untuk mencari Angga.” Arya merasa sangat bingung karena ketika sila mengantuk dan sedikit kehilangan kesadaran, maka tempat mereka berpijak bisa jadi berubah seketika seperti apa yang ada dalam imajinasi Syila. “Baik, Arya! kita berhenti sejenak! Pegang tanganku dan akan aku ingat kembali tepi Pantai itu. Semoga kita masih berada di tempat yang sama dalam dimensi yang sama. Kalau tidak akan sangat sulit untuk menemukan mereka.” Syila mencoba kembali memejamkan matanya untuk mengingat dimensi mimpi tempat keberadaan sahabat mereka. Arya menunggu beberapa waktu ketika Syila sedang memfokuskan pikirannya ke tempat yang sebelumnya. “Arya, maaf aku tidak bisa kembali ke tempat yang semula. Tapi dimensi mimpiku masih sama, kita berada di tempat yang sama. Walau lokasinya berbeda. Kamu ngerti kan maksud aku? Maaf ya aku bener-bener lelah dan rasanya ingin tertidur.” Syila mengatakan apa adanya dengan jujur. “Baiklah, Syila! Mungkin ini yang harus menjadi tantangan kita. Mencari lokasi mereka di tempat yang tidak pernah kita kenal dan kamu yang mengenal tempat ini pun sepertinya agak lupa. Aku mengerti karena apa yang kita bayangkan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang selalu ada di dalam angan pasti sangatlah kompleks. Tidak semuanya bisa kita ingat. Sudahlah daripada kita membuang waktu, lebih baik kita melanjutkan perjalanan ini!” Arya mengerti dan sangat memahami apa yang dirasakan oleh Syila saat ini. Arya juga sudah berjanji untuk melindungi Syila dan mengembalikan semua sahabatnya ke tempat yang seharusnya. Mereka memutuskan untuk terus menyusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan. Hingga akhirnya Arya mendengar sesuatu yang seakan bergema dari luar hutan. Arya meraih tangan Syila dan menghentikan langkahnya. “Syila dengar!” Arya meminta sila untuk mendengarkan sesuatu. “Apa kamu mendengarnya?” tanya Arya sekali lagi. “Maksud kamu suara burung camar?” mata Syila terbelalak menatap Arya yang ada di hadapannya dengan ekspresi wajah penuh harap. “Iya! itu artinya hutan ini tidak jauh dari pantai.” Arya menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang ia dengar saat ini. “Kamu benar juga dan aku pun mendengar deburan ombak! Kamu mendengarnya, kan?” Syila berbalik bertanya kepada Arya mengenai apa yang baru saja ia dengar. “Tepat sekali! tidak jauh dari sini pasti ada pantai! Ayo kita jalan! kita ikuti arah dari suara itu berasal!” Arya sangat antusias akan menemukan pantai yang tidak jauh dari sana. “Ayo kita lanjutkan perjalanan!” di antara lelah dan rasa khawatir berpacu dengan waktu, mereka tetap bersemangat untuk segera menemukan Angga. *** Mereka berjalan dengan cepat menyusuri hutan belantara itu. Ada satu jalan setapak yang terlihat biasa dilalui oleh manusia. Namun, hutan itu pun berasal dari imajinasi Syila yang sebelumnya. Setelah mereka agak jauh berjalan, suara deburan ombak itu menghilang. Lantaran angin tidak berembus ke arah mereka. Di sana mereka mulai bingung bagaimana mencari jalan keluar dari hutan itu. Hingga akhirnya mereka merasa diawasi oleh sepasang mata yang sedari tadi menelisik perjalanan mereka. Arya merasa sangat asing dengan hutan itu. Bagaimana tidak? Hitan itu bukanlah hutan nyata, melainkan hutan khayalan yang timbul dari imajinasi Syila yang akhirnya muncul dalam dimensi mimpinya, karena mereka sekarang masuk ke dalam pusaran mimpi Syila, itulah mengapa segala sesuatu yang dirasakan oleh Arya adalah sesuatu yang asing baginya. Arya berjalan dengan perasaan yang tidak enak. Sesekali dia menoleh ke belakang. Melihat keadaan di sekitarnya. Hutan yang begitu lebat mereka tempuh demi mencari sahabat mereka yang tersesat di sana. Tidak sengaja Arya yang melihat sekelebat bayangan yang berbentuk seperti seorang wanita yang sedang berlari di antara pepohonan itu. “Syila! Kamu merasa ada yang aneh nggak? Soalnya aku merasa ada yang sedang mengawasi kita!” Arya berbisik kepada Syila sembari menggandeng tangan kanannya. “Apanya yang aneh?” Syila mengernyitkan dahinya. Menatap tajam ke arah Arya, karena Syila merasa sedikit takut. “Aku melihat ada sosok wanita yang mengawasi kita. Tapi aku nggak yakin, kalau dia manusia. Kita kan sedang berada dalam dunia mimpi, penuh dengan imajinasi. Jadi apa yang aku lihat baru saja adalah sesuatu yang sepertinya sulit ditemukan di dunia nyata. Wanita itu muncul dari dalam pohon. Dia berlari dari pohon yang satu ke pohon yang lain.” mereka terus berjalan sembari berbisik. “Apa dia juga makhluk yang ada dalam imajinasi kamu Syila?” Arya merasa penasaran karena yang dia tahu dalam dimensi itu semua makhluk adalah hasil imajinasi sila. “Masa sih? Tapi aku nggak pernah ngebayangin makhluk kayak gitu.” Netra lembut sila berubah sedikit menyimpan tanda tanya besar. “Masa sih? Aku serius Syila! Coba kamu ingat-ingat lagi!” Arya meminta sila untuk mengingat imajinasi yang pernah dibayangkan dalam pikirannya. “Arya, Aku serius! Aku nggak pernah ngebayangin makhluk seperti itu.” Syila tetap menyangka kalau dirinya tidak pernah membayangkan makhluk aneh seperti yang Arya menceritakan barusan. “Aduh masa sih?” mereka mulai cemas. Mereka mempercepat langkah mereka. Sesuatu yang tidak diduga sebelumnya muncul di hadapan mereka. Langkah mereka terhenti. Mereka mematung. Ketika melihat sosok wanita berbalut pelepah kayu dan tubuhnya seakan terbentuk dari akar-akar pepohonan itu. Parasnya cantik rambutnya panjang. Namun seluruh tubuhnya dibalut oleh batang pohon ranting dan akar. Matanya menyala walau terlihat sendu. Bibirnya merona dan kulitnya mulus bagai putri raja. “Syila makhluk apa itu?” Arya masih menggenggam tangan Syila untuk mewaspadai segala sesuatu yang bisa saja terjadi dan membahayakan mereka. “Aku pun baru melihat makhluk seperti itu Arya!” bisik Syila kepada Arya. “Ah? Yang bener aja, Syila? kamu jangan main-main! Ini kan ada di dalam pusaran mimpi kamu! Masa iya kamu nggak pernah membayangkan makhluk seperti itu?” Arya semakin cemas. “Aku serius, Arya! Aku tidak pernah melihat makhluk seperti itu,” bisik Syila kepada Arya, sembari menatap makhluk yang masih ada di depan mereka. “Astaga makhluk-makhluk itu muncul dari mana? Apa mungkin siapa pun yang masuk ke dalam pusaran mimpimu, imajinasi mereka dapat terwujud di dalam dimensi ini?” Arya kembali mengajukan pertanyaan kepada Syila. “Aku juga nggak paham Arya! Soalnya baru kali ini besaran mimpiku membawa masuk manusia ke dalam dimensi mimpiku ini. Sebelumnya ya benda mati saja. Aku juga nggak paham.” Syila justru merasa ketakutan melihat makhluk mitologi yang ada di hadapannya saat ini. “Lalu apa yang makhluk itu inginkan dari kita? Sedangkan kita harus berpacu dengan waktu untuk menemukan keempat sahabat kita! Bagaimana caranya, Syila? Makhluk itu berdiri tepat di depan kita menghalangi jalan kita! Coba Syila hilangkan makhluk itu dari hadapan kita!” pinta Arya kepada Syila. Karena sebelumnya sila bisa mengendalikan atau benda yang ada di dalam alam mimpinya. “Arya! Sudah aku katakan! Mahluk yang sekarang ada di depan kita bukanlah hasil dari imajinasiku! Jadi aku tidak bisa mengendalikannya untuk pergi dari hadapan kita! Justru aku bingung, bagaimana cara untuk menjinakkan mereka” Syila mengatakan jujur apa adanya. “Apa? Berarti benar makhluk hidup bukan hasil imajinasi kamu? Astaga ... Lalu bagaimana kita menghadapinya? Sedangkan waktu kita tidak banyak untuk melanjutkan petualangan kita!” Arya pun merasa bingung dan menyimpan sedikit perasaan takut melihat makhluk yang ada di hadapan mereka. *** Bersambung .... Makhluk apa yang sebenarnya ada di hadapan mereka? Lalu memiliki tujuan apa makhluk itu menghadang mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD