Arya dan Syila terus berjalan melewati lorong yang terbentuk dari retakkan bukit batu itu. Kupu-kupu yang beterbangan berwarna biru dan bercahaya, menyinari perjalanan mereka hingga berjalan hampir di ujung lorong. Mereka mulai berjalan menembus kabut tipis. Semilir angin yang begitu dingin mulai terasa saat mereka hampir sampai di ujung lorong retakan bukit batu itu.
“Arya, aku merasa kita memasuki sebuah tempat yang lain. Ketika kita hampir sampai di ujung lorong bukit ini, sepertinya suasana jadi terasa lebih dingin dan angin yang berembus lebih kencang.” Syila mengatakan hal itu kepada Arya karena dirinya merasa ada sesuatu yang berbeda di sana.
“Kamu benar! sepertinya kabut tipis di ujung lorong ini menunjukkan suatu perpindahan tempat yang baru, atau mungkin sirkuit yang kamu maksud itu, ada di balik kabut tipis ini?” Arya merasakan hal yang sama seperti yang Syila rasakan.
Mereka terus berjalan menyusuri lorong gelap dengan cahaya biru dari kupu-kupu imajinasi Syila. Mereka menembus kabut tipis yang membuat pandangan mereka sedikit kabur. Hingga akhirnya mereka mendengar suara deburan ombak yang tidak jauh dari sana.
“Syila, apa kamu mendengar suara itu?” Arya merasa optimis, kalau sebentar lagi mereka akan keluar dari lorong gelap itu.
“Aku mendengarnya Arya! seperti suara deburan ombak dan burung-burung yang beterbangan menghiasi cakrawala. Mungkin sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan kita.” Syila merasa begitu bersemangat untuk segera keluar dari lorong gelap itu. Karena sila trauma dengan kegelapan.
“Syila, lihat itu di sana!” sedikit samar tapi sudah terlihat di depan sana. Mereka melihat sebuah cahaya yang lebih terang ketimbang suasana gelap di dalam lorong itu. Arya juga melihat sebuah tanah lapang yang luas yang tidak jauh dari bibir pantai.
“Ya! aku ingat bahwa sirkuit yang ada dalam imajinasiku itu berada di pinggir pantai, kalau memang benar Reno ada di sana, itu berarti kita akan segera menemuinya!” Syila mengajak Arya untuk berjalan lebih cepat.
“Syila! tunggu sebentar! Lalu bagaimana kita akan mengembalikan Reno ke dunia nyata? Bukan hanya Reno tapi semua sahabat kita dan Ceu Euis?” Arya masih bingung dengan hal itu. Bingung mengenai cara Syila mengembalikan mereka ke dalam dunia nyata.
Syila menghentikan langkahnya bersamaan dengan berhentinya langkah Arya. Ia menatap Arya di antara remang-remang cahaya biru yang menyinari jalan mereka sebelum mereka benar-benar keluar dari lorong retakkan bukit batu itu.
“Ketika Reno sudah menyadari dan ingat dengan situasi sebelum dia berada di dalam dimensi mimpi ini, maka tidak jauh dari sana akan ada sebuah cahaya putih yang muncul begitu saja. Itulah yang disebut jalan pulang menuju dunia nyata. Kalau dari dalam diri kita tidak ada keinginan untuk kembali ke kehidupan nyata, maka jalan pulang itu akan sangat sulit sekali ditemukan, bahkan bisa saja tidak muncul. Berbeda lagi dengan apa yang pernah kamu rasakan Arya. Saat sebuah mimpi ingin memberitahu kamu, menuntunmu untuk mengetahui tentang sebuah rahasia atau teka-teki dan pesan-pesan lainnya, tetapi kamu menolak untuk tidak melihat alur di dalam alam mimpimu, maka kamu akan tersesat di sana dan kamu harus mencari keberadaan cahaya itu agar kamu bisa kembali kepada ragamu. Terkadang aku pun sering menyasar entah berada di dalam dimensi mimpi seseorang. Kebetulan saat itu aku pernah nyasar masuk ke dalam dimensi mimpi kamu, di mana pada waktu itu kamu sedang kesulitan mencari jalan pulang, setelah aku melihat di mana letak cahaya yang menjadi jalan pulang kamu, aku tarik saja dirimu dan langsung mendorong kamu ke arah cahaya itu. Kira-kira seperti itu Arya. Kemampuan seperti ini tidak sengaja aku miliki karena keinginanku yang sangat kuat untuk bisa melihat boneka beruang pemberian seseorang yang aku panggil Tante dan aku ingin bertemu dengan Tante. Walau sampai saat ini aku tidak pernah melihatnya.” Syila tertunduk dan mengingat kembali kebaikan dari sosok yang ia sebut sebagai Tante.
“Syila, yakinlah Tuhan pasti mengetahui kebaikan sosok yang kamu sebut sebagai Tante, di mana pun dia berada, Tuhan akan selalu melindunginya karena doa-doa kamu salah satunya. Yakinlah! Kalau memang Tuhan menggariskan kamu untuk kembali bertemu dengan Tante, maka suatu hari nanti kamu pasti akan bertemu dengannya. Tapi kalau tidak, pertemuan kalian yang sangat manis akan selalu menjadi ladang pahala untuk Tante. Ayo semangat! kita berpacu dengan waktu untuk menemukan semua sahabat kita dan mengembalikan ke tempatnya seperti yang seharusnya! Please! jangan tidur! Jika kamu menutup mata, maka ... aku dan yang lainnya tidak akan pernah bisa kembali. Syila ... aku mohon tetap terjaga!” Arya kembali memberikan dukungan kepada Syila yang semakin melemah dan mood-nya naik turun.
“Ayo, Arya! jangan buang-buang waktu! Kita harus menemukan Reno!” mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya melihat cahaya yang begitu terang setelah perjalanan panjang dalam kegelapan.
Mereka menyipitkan matanya bahkan Syila sedikit menutup wajahnya dengan boneka beruang yang ia pegang. Mereka sudah keluar dari lorong gelap yang terbentuk dari retakan bukit batu itu.
“Arya, lihat! Kita sudah sampai di tempat yang aku sebut sebagai sirkuit.” Syila yakin kalau tempat itu sebagai lintasan balap motor yang berada di tepi pantai.
“Tapi di jalanan ini lengang, apa mungkin para pembalapnya ada di lokasi yang lain? Ayo kita susuri saja tempat ini! Ada apa saja di tempat ini? Karena terkadang imajinasi kita dalam alam bawah sadar, tidak semuanya bisa kita ingat. Begitu juga dengan imajinasi mimpi kamu. Walau semua adalah hasil pemikiran dan sugesti kamu, berarti kamu bisa mengingat semuanya. Terkadang kamu harus berusaha untuk mengingat apa saja yang ada dalam alam mimpi kamu.” Arya tersenyum kepada Syila.
“Kamu benar, Arya! Apa yang pernah aku pikirkan di dalam mimpi, tidak selamanya Aku mengingat apa saja yang ada di sana. terkadang aku sering lupa.” Syila melontarkan senyum karena merasa apa yang Arya katakan semuanya benar.
“Tapi jangan berjalan di lintasan itu! Kita berjalan agak ke tepi saja!” Arya mengajak Syila untuk terus menyusuri jalanan itu melalui jalur yang ada di sebelahnya yang terbuat dari kerikil.
Langit di sana berwarna biru dengan sedikit awan putih yang menghiasi. Burung camar beterbangan ke sana kemari menghiasi cakrawala. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat siapa pun yang berada di sana seakan terhanyut dalam keindahan panorama alam. Arya dan Syila tetap fokus mencari keberadaan Reno yang diduga berada di sana.
Setelah melewati berbagai rintangan dan juga terjalnya batu kerikil yang berada di tepi lintasan sirkuit, membuat Arya dan Syila merasakan kelelahan. Syila dan Arya kembali duduk untuk beristirahat sejenak. Namun belum sampai 5 menit mereka duduk di bawah sebuah pohon, tiba-tiba terdengar suara motor yang di gas dengan sangat kencang.
“Arya! apa kamu mendengar itu?” Syila merasa terkejut dengan adanya suara mesin motor yang berbunyi keras.
“Nggak salah lagi itu pasti Reno!” Arya menatap ke arah Syila.
“Kalau gitu ayo kita sambangi sumber suara!” Syila kembali mengajak Arya untuk terus berjalan menuju sumber suara.
“Tapi kamu baik-baik saja kan? Aku Cuma khawatir kalau kamu kelelahan. Terus kamu menutup mata, itu berarti harapan kami lenyap seketika.” Arya kembali mengingatkan Syila betapa pentingnya dia dalam petualangan mencari kelima sahabat mereka dalam dimensi pusaran mimpi Syila.
“Aku baik-baik saja, walau rasanya tubuhku mulai terhuyung karena lelah. Tapi akan aku usahakan untuk terus berjuang mencari sahabat kita.” semangat Syila berkobar. Dirinya langsung mengajak Arya untuk mencari sumber suara dari motor yang sedang di gas stasioner oleh pemiliknya.
Mereka terus berjalan menyusuri tepian sirkuit itu. Hingga akhirnya mereka melihat seseorang yang sedang berada di atas motor seperti sedang memanaskan mesin motor itu. Setelah Arya dan Syila berjalan lebih dekat lagi, benar saja mereka akhirnya menemukan Reno yang hendak memakai helm.
“Reno!”
“Reno, Jangan pergi dulu!” teriak Arya untuk menghentikan Reno.
Tatapan mata Reno seakan tidak percaya melihat Arya dan Syila yang tiba-tiba berada di sana. Helm yang hendak ia pakai, seketika langsung disimpan kembali.
“Hei! kok kalian ada di sini?” Reno sangat terkejut dengan kehadiran mereka. Dia merasa tidak menyangka bahwa kedua sahabatnya itu menemuinya untuk berlatih balap motor.
“Ren, kamu lagi ngapain di situ?” Arya sengaja menanyakan hal itu, dengan pura-pura tidak tahu.
“Kayak nggak tahu aku aja? Aku kan monster rider. Lagi latihan lah! Terharu banget deh aku kalau kalian mau lihat bagaimana latihanku.” Reno tersenyum dan merasa sangat bahagia.
“Ren, kamu itu jadi mahasiswa satu kampus sama aku!” Arya mencoba mengembalikan ingatan Reno yang terbuai dalam dimensi pusaran mimpi Shila.
“Ya memang kita satu kampus kan?” Reno mengingat kalau mereka satu kampus, tetapi dia tidak ingat kalau apa yang sedang dia lakukan di sana hanyalah mimpi.
“Tadi kamu lagi ngapain, Ren? sebelum ke sini?” Arya mencoba mengembalikan ingatan Reno agar dia berpikir sejenak.
“Ngapain? Perasaan dari tadi aku latihan di sini.” Reno mulai merasa bingung.
“Enggak, Ren! kamu itu dari tadi nggak latihan! Kamu juga bukan pembalap! Kamu mahasiswa sama kayak kita!” Arya mulai menegaskan agar ingatan Reno kembali.
“Bukan pembalap gimana? Kalian kok datang-datang jadi aneh? Kalian yang satu kampus sama aku, sahabat aku! Kalian juga tahu kok! Kalau aku ini memang pembalap!” Reno masih dengan pendiriannya kalau dirinya seorang pembalap juga mahasiswa.
“Ren, sebelum ini kamu itu lagi malam tahun baruan! Ingat enggak?” Syila ikut mengingatkan Reno tentang memorinya di alam nyata.
“Malam tahun baruan?” Reno mulai berpikir keras.
“Coba lihat! kamu di sini latihan sendirian? kalau pembalap itu biasanya punya tim. Latihan juga sama timnya! Ingat-ingat deh!” Arya kembali ikut membantu mengingatkan Reno.
“Sebentar deh! Iya juga ... ya ... dari tadi aku latihan tapi sendirian. Bukannya pembalap itu kalau latihan bareng sama timnya di sirkuit? Terus aku lagi ngapain di sini? Tapi aku ngerasa aku memang lagi latihan sama tim kok!” Reno kembali berangan-angan yang membuat semua memorinya seolah nyata, semua yang dilakukan oleh Reno adalah sesuatu hal yang tidak nyata.
“Mana Tim kamu? enggak lihat?” Arya menantang Reno untuk menunjukkan keberadaan timnya.
Reno terdiam, dia menoleh ke sekelilingnya. Sedari tadi dia hanya sendiri di sana. Namun dia membayangkan seolah dia sedang berlatih bersama timnya. Reno terlihat lesu. Ia mulai menyadari bahwa apa yang dia rasakan saat itu seperti mimpi yang ada di dalam angan-angan saja.
“Ren, kamu udah ingat? Di mana kamu terakhir berada?” Arya menatap Reno dengan penuh harap, bahwa Reno mengingat semuanya.
Reno terdiam, dia menunduk mengingat semua peristiwa sebelum ini, “Rasanya baru sebentar aku bahagia, bisa merasakan naik motor gede, sport, latihan di atas lintasan balap, tapi ternyata ini hanya mimpi? Sebenarnya aku kenapa sih? Arya? Sila? Sebenarnya aku ada di mana? Ya aku mulai ingat bukannya terakhir kali kita sedang berada di Puncak? malam tahun baru? Baru saja aku mau makan daging barbeque itu, tiba-tiba aku tersedot masuk ke dalam sebuah pusaran berwarna gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku pikir apa yang sedang aku lakukan sekarang adalah kenyataan. Nyatanya ini hanya angan-anganku saja, benar?” Reno lesu dan dia turun dari motor itu.
“Reno, terkadang dunia mimpi memang membuai kita untuk melampaui batas dan angan-angan Kita. Karena biasanya kita begitu menginginkan apa yang ada dalam pikiran kita secara terus-menerus, menimbulkan sugesti di dalam pikiran kita, Ren! Kamu juga nggak salah punya mimpi menjadi seorang pembalap. Tapi yang jelas, saat ini kamu harus kembali pada tempat yang seharusnya.” Jelas Syila kepada Reno.
“Ada yang bisa jelaskan? Sebenarnya apa yang terjadi sama aku. Rasanya semua ini seperti diberi harapan palsu.” Reno masih kesal karena semua yang dirasakan ternyata hanya mimpi yang ada dalam angan-angannya selama ini.
“Ceritanya panjang, Ren! Intinya Syila memiliki kekuatan yang tidak pernah diceritakan kepada kita. Kalau dia sudah Sayang yang sama sesuatu, dia susah untuk berpisah. Sampai akhirnya kekuatan yang dimiliki Syila dapat membuat apa saja yang Syila inginkan masuk ke dalam pusaran mimpinya. Seperti saat malam tahun baru ini. Kita adalah teman dekat Syila. Karena kalian membuat Syila merasa nyaman. Bahkan sampai menahan rasa kantuknya, tapi manusia tetaplah manusia, tidak bisa melawan rasa kantuk yang begitu berat. Syila tertidur sembari membayangkan kalian. Akhirnya pusaran mimpi Syila muncul dan kalian tersedot masuk ke dalamnya. Siapa saja yang sudah masuk ke dalamnya, berimajinasi seperti apa yang selama ini ada dalam angan-angannya. Sepertu kamu, Ren! Ingin menjadi seorang pembalap, kamu merasa sedang latihan bersama tim di atas lintasan sirkuit, tetapi semua itu hanya khayalan, Ren.” Arya membantu menjelaskan kepada Reno.
“Astaga! Kamu memiliki kekuatan seperti itu Syila? Lalu bagaimana aku bisa kembali ke dunia nyata?” tampaknya Reno sudah ingin kembali ke dunia nyata di mana dia berada di Villa milik kedua orang tua Raina.“
“Kamu sudah ingat apa yang terjadi sebelumnya, kalau kamu ingin kembali ke dunia nyata, ikutlah bersamaku! Akan aku tunjukkan di mana jalan pulang yang harus kamu lalui.” Syila tersenyum lega mendengar keputusan Reno.
“Kita akan kembali bersama kan?” Reno mengernyitkan dahi karena dia merasa kalau Arya dan Syila tidak akan kembali bersamanya ke dunia nyata.
“Kami pasti akan kembali, Ren! Tapi setelah kami menemukan kalian semua. Karena semua sahabat kita dan asisten rumah tangga Raina ikut masuk ke dalam dimensi ini, Ren. Setelah kami mengantar kamu kembali menuju jalan pulang, kami akan melanjutkan perjalanan untuk mencari mereka yang masih terjebak di dalam dunia semu ini.” Arya kembali menjelaskan hal itu kepada Reno.
“Baiklah, Syila, Arya, tunjukkan aku jalan pulang!” Reno ingin segera kembali dari pada dia harus di beri harapan palsu oleh sebuah mimpi yang seakan nyata.
Syila mengangguk dan dia mulai mencari di mana titik cahaya yang merupakan jalan pulang Reno menuju dunia nyata. Syila melihat ada kilauan cahaya putih di dekat bibir pantai.
“Itu dia! jalan pulang untuk Reno.” Syila mengajak Arya dan Reno untuk bergegas berlari menuju cahaya putih di sana. Hingga akhirnya mereka sampai di bibir pantai, tempat cahaya putih sebagai jalan pulang Reno berada.
“Ren! Berjalanlah ke sana! Yakinlah kalau kamu akan sampai di tempat yang sebelumnya. Di Villa milik orang tua Raina.” Syila menatap Reno untuk meyakinkannya.
“Baiklah! Semoga kalian menemukan semua sahabat kita! Aku tunggu kalian di dunia nyata!” Reno berjalan menuju jalan pulang sembari melambaikan tangan. Cahaya yang menjadi jalan pulang Reno sudah menghilang setelah Reno masuk ke dalamnya.
“Huft!”
“Huft!”
“Syukurlah!”
Arya dan Syila saling tos. Lantaran misi pertama mereka berhasil.
***
Bersambung ....
Bagaimana petualangan kedua mereka? Giliran siapa yang akan mereka cari?