Arya menoleh ke arah Syila yang tengah fokus dengan pikirannya pun berdoa agar Syila berhasil untuk mengendalikan imajinasinya. Arya kembali menatap bukit batu itu. Tak lama berselang suara gemuruh datang dari dalam bukit batu itu. Arya sedikit panik melihat sesuatu yang dirasa luar biasa. Terlihat retakan dari bawah bukit batu itu yang terus menjalar ke puncak bukit batu.
Arya terperangah melihat semua itu. Ternyata apa yang ada dalam dunia mimpi Syila, bisa dikendalikan oleh imajinasi Syila sendiri. Terkadang ketakutan dan kesepian memicu timbulnya imajinasi mengerikan dalam mimpinya, hal itulah yang membuat Syila memikirkan imajinasi tanpa batas. Seperti apa yang terlihat di hadapan mereka sekarang, bukit batu besar yang tiba-tiba hadir di tengah gurun pasir, dengan kondisi yang semakin melemah, mereka terus berjuang untuk mencari keberadaan kelima sahabat mereka.
Retakan yang menjalar di bukit batu itu semakin lebar dan menembus ke dalam hingga akhirnya bukit batu itu terbelah. Terdengar gemuruh yang sangat besar disertai embusan angin dan reruntuhan potongan berbatuan yang berada di bukit batu itu.
“Syila, lari!” Arya langsung menarik lengan sila yang masih fokus pada pikirannya, lantaran Arya melihat bongkahan batu yang cukup besar meluncur dari atas ke arah mereka.
“Ap—apa?” Syila terpaku melihat batu besar itu meluncur cepat ke arah mereka. Arya berusaha mengajak Syila berlari menghindari terjangan bongkahan batu itu.
“Aaarrrggghhh!” mereka berteriak kencang sembari berlari terus menghindari ke mana batu itu meluncur.
“Syila! pikirkan sesuatu! kamu jangan memikirkan kalau batu itu terus mengejar kita, tapi pikirkanlah batu itu terbang dan meledak di atas langit atau batu itu masuk ke dalam pusaran pasir hidup di gurun ini!” Arya kembali mengingatkan Syila untuk mengendalikan imajinasinya.
“Oke! Oke! aku akan berusaha!” sembari berlari Syila berusaha mengendalikan fokusnya untuk menghentikan batu besar itu dan menenggelamkan batu itu ke dalam pasir hidup di sana. Seketika batu yang sedang menggelinding itu terjerumus masuk ke dalam pusaran pasir hidup. Hingga akhirnya Arya dan sila dapat bernapas dengan lega.
Mereka terhuyung lelah hingga duduk bersimpuh di atas gurun pasir. Napas mereka yang memburu berusaha mereka stabilkan. Arya menghapus keringat yang mulai bercucuran di atas dahi. Sedangkan Syila berusaha terus mendekap boneka Mumu demi mendamaikan hatinya dan berusaha untuk terus bisa mengendalikan imajinasi mimpinya. Wajah Syila terlihat pucat dan sangat lelah. Arya menyadari bahwa Syila sebentar lagi akan menutup mata, ia melihat seakan Syila benar-benar sepat dan sulit menahan rasa kantuk.
“Syila!” Arya menepuk bahu Syila yang terlihat akan tertidur.
“Eh, Arya?” Syila benar-benar terkejut.
“Kamu ngantuk atau lelah?” Arya menyadari ada sesuatu yang tidak beres yang sedang dirasakan oleh Syila.
“Astaga, Arya! Untung kamu membangunkanku! Kalau aku sampai tertidur itu berarti aku membuka mata di dunia nyata. Jika hal itu terjadi, maka kalian akan terjebak selamanya di sini. Karena ketika aku ingin memasuki dimensi mimpiku yang sama dengan keberadaan kalian, maka imajinasiku akan sedikit berbeda, sehingga kita tidak bisa bertemu. Kemungkinannya sangat kecil aku bisa kembali lagi ke dimensi ini. Aku mohon Arya! Teruslah mengingatkan aku untuk selalu membuka mata dalam dimensi mimpi ini. Dengan begitu aku bisa menyelamatkan kalian dan membawa kalian kembali ke tempat yang semestinya.” Syila sedikit panik ketika dia menyadari di dalam dimensi mimpinya itu dia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Padahal salah satu dari kelima sahabatnya itu sama sekali belum ada yang ditemukan. Berarti perjalanan mereka masih sangat panjang.
‘Celaka! Aku melihat Syila yang sudah sangat kelelahan, dia sudah mengantuk. Satu detik saja Syila tertidur, maka semuanya akan lenyap, aku tidak bisa mengantarkan mereka menemukan jalan pulang, dan imajinasi Syila tentang dimensi mimpi yang ini akan menjadi sebuah memori yang mungkin akan sulit untuk Syila gapai agar kembali lagi ke dalam dimensi ini. Gila sih beneran! Bahkan aku sendiri tidak bisa membantu banyak. Semoga Syila bisa bertahan dan terus berjuang untuk menyelamatkan kami dan mengeluarkan kami dari dimensi mimpinya itu,' gumam Arya dalam hatinya sembari menatap Syila dengan sorot mata yang sendu.
“Kamu bisa Syila! Aku yakin kamu bisa! Dibalik sikap ceriamu, Sebenarnya kamu menyembunyikan sesuatu yang rapuh, yang ada dalam hati kamu, tapi aku yakin di balik rapuhnya hati kamu, tersimpan kekuatan yang luar biasa yang tidak kamu sadari yang akan menjadi pelindung bagi orang-orang terdekat kamu. Karena kamu memiliki ketulusan hati. Yakinlah, Syila! Kamu bisa mengembalikan semua ini seperti yang seharusnya.” Arya menatap Syila sembari menggenggam kedua tangannya. Hal itu adalah pertama kalinya tangan Syila melepas genggamannya kepada boneka beruang yang selalu dia bawa dalam dimensi mimpinya.
“Terima kasih, Arya!” Syila tersenyum dan dia merasa semangatnya bangkit untuk terus melanjutkan petualangan mereka. Hanya satu tujuan mereka, menemukan semua orang yang tersesat ke dalam dimensi mimpi Syila dan mengembalikan mereka seperti yang seharusnya dan tepat waktu.
“Ayo, Syila! kita periksa retakkan bukit batu itu!” setelah napas mereka stabil, Arya memberikan dukungan kepada Syila, kini mereka kembali beranjak untuk memeriksa keretakan bukit batu itu.
Langkah mereka terhenti tepat di tengah bukit batu itu. Retakan yang terbentuk lumayan lebar dan terdapat celah bagaikan lorong panjang sampai di ujung sana. Mereka tidak bisa melihat apa yang ada di balik bukit itu. Karena mereka melihat seperti ada kabut yang lumayan tebal di ujung celah retakkan bukit batu itu.
Mereka saling menatap dan mengangguk, menyiratkan bahwa mereka siap untuk terus melangkah hingga di ujung celah retakan bukit batu itu. Lorong yang terbentuk dari retakkan bukit batu itu terlihat lumayan gelap. Mereka berdua berjalan beriringan. Seperti biasa Arya kembali menggenggam tangan Syila. Arya merasa bertanggung jawab atas keselamatan Syila. Karena dia adalah kunci dari keberhasilan atau kegagalan dalam petualangan mengarungi dimensi pusaran mimpi yang menjadi keberadaan kelima sahabat mereka.
Tidak ada yang misterius yang mereka rasakan ketika berjalan di dalam lorong itu. Namun Syila justru menggenggam tangan Arya begitu erat. Hingga menimbulkan suatu pertanyaan dalam benak Arya kepada Syila.
“Hei, Syila ... kamu kenapa?” Arya menghentikan langkahnya dan menanyakan hal itu kepada Syila.
“Arya, apa kamu tahu? Sebenarnya aku takut dalam gelap. Karena dulu saat aku kehilangan penglihatan, aku merasa sendirian. Rasanya hal itu membuatku trauma. jadi aku takut melintasi tempat yang gelap.” Syila mengatakan yang sejujurnya.
“Syila, semua yang ada di dalam dimensi mimpi ini adalah imajinasi kamu. Coba kamu bayangkan banyak cahaya yang menerangi sepanjang perjalanan kita menuju ujung sana. Kamu fokuskan pikiran kamu, bayangkan cahaya seperti apa yang kamu inginkan untuk menerangi perjalananmu. Yakinlah kamu bisa!” Arya kembali menguatkan dan meyakinkan Syila untuk mengubah Mindset imajinasinya dari ketakutan terhadap gelap. Arya mencoba memberi sugesti kepada Syila agar pikirannya membayangkan cahaya yang akan menerangi perjalanan mereka hingga di ujung itu.
“Kamu benar! Baiklah aku akan berusaha fokus untuk menghadirkan banyak kupu-kupu yang bercahaya yang akan mengantarkan kita sampai di ujung lorong ini.” Syila kembali menutup matanya untuk fokus dengan apa yang ada dalam imajinasinya.
Setelah Syila memejamkan mata beberapa saat, sembari mendekap erat boneka beruang miliknya itu, muncullah sesuatu yang membuat Arya merasa takjub. Kupu-kupu yang ukurannya lumayan besar, berwarna biru bercahaya yang tiba-tiba keluar dari bukit batu itu dan beterbangan menerangi perjalanan mereka. Ketika Syila membuka mata, dia merasa sangat nyaman dengan keadaan itu. Arya kembali menggandeng tangan Syila untuk segera berjalan menerjang lorong itu.
“Syila, apa kamu tahu ini sungguh luar biasa! Baru kali ini aku berjalan menyelami dimensi mimpi orang lain dan aku merasa imajinasimu sangat luar biasa.” Arya merasa takjub juga terhibur.
“Terima kasih, Arya! Ayo kita lanjutkan perjalanan kita! Jangan buang waktu dan lihatlah kupu-kupu itu akan membawa kita sampai ke ujung sebelah sana. Dari sini terlihat kabut sangat tebal mungkin dengan adanya cahaya yang mengikuti kita, bisa kita manfaatkan hingga kita sampai di ujung sana.” kali ini Syila merasa semakin semangat dan mengulas senyum kepada Arya.
***
Bersambung ....
Kira-kira ada rintangan apalagi yang ada di ujung lorong bukit batu itu?