Puzzles 19. Bagai Dunia Fantasi

1545 Words
Mereka memulai petualangan di dalam suatu dimensi yang merupakan pusaran mimpi Syila. Perjalanan panjang mereka ditemani oleh pemandangan bagai Dunia Fantasi yang sangat menakjubkan. Sesekali Arya melihat ke arah langit yang berwarna agak gelap kebiru-biruan dengan bintang yang bertaburan bersama dengan planet yang terlihat menggantung begitu dekat dengan bumi. Ada rasa ngeri tetapi juga takjub karena terlihat sangat indah. Mereka berjalan menyusuri padang pasir yang tidak bertepi. Jejak mereka seketika terhapus saat angin berdesir menyapu butiran pasir yang ada di sana. Gundukan gunung pasir pun seketika berubah saat badai datang menghantam gurun pasir itu. Benar-benar sangat membingungkan berjalan di padang pasir. Mereka tidak bisa membedakan arah mata angin. Tapi satu hal yang menjadi patokan Arya ketika mereka berjalan melintasi padang pasir itu. Satu bintang yang sangat terang yang biasanya Arya lihat di ufuk timur. Mereka terus berjalan menyusuri padang pasir itu dengan penuh keyakinan dan berpatokan kepada satu bintang yang paling terang di sebelah sana. Karena mereka berdua tidak tahu arah mata angin di sana, sehingga mereka harus yakin kalau arah itu menuju keberadaan sirkuit di dalam dimensi pusaran mimpi sila. Arya menghentikan langkahnya setelah ia mendengar suara gemuruh dan terlihat seperti awan yang menggumpal di langit yang berada di sebelah kiri mereka. Dari sana terlihat awan gelap terus berjalan mendekat ke arah mereka. “Syila, lihat!” Arya menunjukkan sesuatu kepada Syila dengan mengarahkan jari telunjuk kanannya ke arah langit di sebelah kiri mereka. “Iya, Arya? Apa itu?” Syila merasa takut melihat awan gelap yang semakin mendekat dan terus berjalan menuju arah mereka. “Kalau yang pasti aku nggak tahu Syila, tapi kalau melihat tanda seperti itu dan aku pernah membaca artikel, sepertinya itu akan datang badai pasir. Aku juga pernah melihat di beberapa film, tanda-tanda sebelum badai pasir datang. Salah satunya seperti itu terlihat gumpalan gelap di salah satu arah mata angin. Dan dengan cepat badai itu akan menghempas kita. Kita nggak bisa menghindar dari badai itu. Apa kamu tahu? Saat badai itu datang, kekuatannya akan menyapu seluruh pasir yang ada di Gurun ini. Hingga membuat semua gundukan bukit pasir itu berubah bentuk seketika,' ucap Arya sembari menatap Syila yang terlihat khawatir dan ketakutan. “Lalu apa yang harus kita lakukan Arya?” Syila tampak bingung dan ketakutan di antara tubuhnya yang lelah. “Kita harus berpacu dengan waktu, kita harus terus berlari! Kalau badai itu benar-benar menerpa kita, yang harus kita lakukan adalah bertiarap dan berlindung. Kita harus menggali pasir itu untuk melindungi tubuh kita! Satu hal lagi yang mengerikan di padang pasir adalah pasir hidup. Kinerjanya tidak jauh beda dari lumpur hidup, jika kita jatuh ke sana, kita akan terus tersedot masuk ke dalam tumpukan pasir itu.” Arya kembali mengingatkan sila untuk berhati-hati. “Astaga! Ternyata semengerikan itu Arya? Gurun pasir ini pernah aku mimpikan karena aku memang penasaran, bagaimana rasanya berada di gurun pasir. Lalu dimensi mimpiku menghadirkan gurun pasir ini dan aku tambah dengan imajinasiku tentang luar angkasa. Tapi ternyata selain indah gurun pasir suka menyimpan sesuatu yang begitu berbahaya. Arya terima kasih sudah mau menemaniku bertualang untuk mencari sahabat kita.” Syila tersenyum kepada Arya yang juga sedang menatapnya. “Ayo, kita lari!” Arya kembali meraih tangan Syila untuk mengajaknya berlari menjauh dari badai pasir yang akan segera datang. Mereka terus berlari sekencang mungkin. Namun mereka tidak akan bisa menghindar dari amukan badai pasir yang segera menggulung mereka. Sehingga Arya mengajak Syila untuk berhenti berlari dan menggali pasir untuk bersembunyi ketika badai itu melintas. “Syila ayo bantu aku menggali pasir ini!” Arya segera menggali pasir menggunakan tangannya. Syila pun mengangguk dan ikut mengganti agar mereka bisa bersembunyi menghindari amukan badai pasir yang segera melintas. “Arya, kelihatannya tadi pasir itu akan segera menghantam kita?” Syila mulai ketakutan melihat begitu dahsyatnya angin yang berembus membawa butiran pasir. “Syila! badai itu akan segera melintas, ayo kita segera berhenti menggali! Ingat, tiarap, dan masuk ke dalam lubang yang baru saja Kita gali! Tutup mata dan wajah kamu ketika badai itu melintas! Tidak akan lama Syila, hanya beberapa menit setelah itu kita akan aman lagi! semoga upaya ini berhasil!” Arya dan Syila segera tiarap memasuki lubang pasir yang mereka gali. Mereka segera menutup Mata serta wajah mereka ketika badai mulai melintas. “Syila sekarang tutup mata dan wajahmu! Tahan napasmu sampai badai itu pergi! Tidak akan lama!” Arya kembali mengingatkan Syila untuk melindungi diri. “iya, Arya!” Syila sudah bersiap dan badai itu terdengar mendekat dan semakin mendekat ke arah. mereka. Wuuuzzzzz!!! Badai pasir di gurun itu melintas dengan cepat. Mereka menahan napas hingga badai itu berlalu. ‘Astaga! Ternyata badai pasir di gurun sangat mengerikan! Dadaku mulai terasa sesak dan rasanya ingin meledak karena menahan napas cukup lama. Ayo badai segeralah berlalu!’ batin Arya sembari menahan napas yang kian menyesak di dalam dadanya. ‘Ya Tuhan. Rasanya d**a aku ingin meledak menahan napas ini! Telinga dan kepala aku juga seakan mau pecah. Semoga badai itu cepat berlalu! Aku ingin bernafas!’ patung sila sembari menahan nafas yang sudah membuatnya merasa seperti akan meledak. Wuuuzzzzz!!! Badai itu cepat berlalu melintasi mereka. Kalau saat ini gunung-gunung pasir yang terbentuk di sana sudah berubah semua dengan 1 kali terjangan badai pasir itu. Arya dan Syila segera keluar dari lubang pasir tempat persembunyian mereka. “Hah!” “Hah!” “Huft!” “Huft!” Arya dan Syila saat ini tengah duduk sembari menghirup napas panjang dan mengatur napasnya hingga normal, setelah keduanya membersihkan debu dan butir pasir yang ada di sekitar hidung dan wajah mereka. “Bila kita masih hidup kan? Dadaku dan kepalaku rasanya ingin meledak! Kalau saja badai itu melintas beberapa detik lebih lama, mungkin jantung dan paru-paru ku juga kepalaku sudah benar-benar meledak.” Arya merasa sangat lemas dan dirinya nya merentangkan tubuh di atas pasir sembari menytabilkan pernapasannya. “Apalagi aku, Arya! Jangankan menahan napas saat menyelam, akan berenang saja aku kesulitan! Benarkah katamu kalau badai itu melintas lebih lama beberapa detik, mungkin semuanya akan tamat! Jika aku tidak sadarkan diri maka mereka semua akan tercetak dan selamanya berada di dalam dimensi pusaran mimpiku ini.” Sila terlihat sangat ketakutan dan dia berharap untuk segera menemukan kelima sahabatnya dan 1 asisten rumah tangga Raina. “Syukurlah kita baik-baik saja Syila. Berada dalam mimpi di dalam pusaran mimpi ini benar-benar suatu petualangan yang luar biasa buatku. Semua imajinasimu menjadi suatu petualangan seru untuk kami. Namun satu yang pasti, kita berpacu dengan waktu! Kita harus menyelamatkan mereka dan mengembalikan mereka ke tempat yang semestinya!” Arya menatap dengan yakin kalau mereka bisa mengembalikan semuanya tepat waktu. Syila mengangguk menyambut dukungan Arya. “Ayo, Syila kita lanjutkan perjalanan!” hari ini yang mengajak Syila untuk kembali berjalan sesuai dengan keyakinan Arya, yang berpatokan pada bintang yang bersinar di langit itu. Mereka terus berjalan menyusuri gurun pasir itu. Sesekali Arya melirik ke arah yang terlihat berbeda dari hari-hari biasanya. ‘Syila yang aku kenal dalam kehidupan nyata adalah seseorang yang ceria, hidupnya penuh warna, dan gelak tawa, tetapi Syila yang aku kenal dalam dimensi mimpi sungguh sangat berbeda, Dia terlihat lebih kalem, lebih alami, dan lebih manis,' batin Arya tidak bisa berbohong kalau Syila terlihat berbeda. Arya merasa lebih mengenal Syila di dalam dimensi mimpi ketimbang dalam kehidupan nyata. Tidak jauh berbeda dengan Arya, sesekali Syila melirik ke arah Arya. Dia begitu kagum dengan sikap dan keberanian Arya. Sikap Arya yang begitu perhatian peduli dan memiliki sikap melindungi kepada Syila, hal itu yang membuat Syila semakin berharap kalau suatu hari karya juga akan memiliki perasaan yang sama dengan yang Syila rasakan. *** Perjalanan panjang mereka mengarungi suatu gurun pasir dengan pemandangan langit yang begitu menakjubkan dan luar biasa bagai berada dunia fantasi yang menyimpan banyak misteri. Perjalanan mereka berakhir di depan suatu bukit batu yang cukup terjal. Langkah Arya dan Syila terhenti di sana. Dengan menahan lelah mereka menatap bukit batu itu sembari menghela napas. Lantaran tenaga mereka yang sudah berkurang cukup banyak harus kembali menanjak menaiki bukit batu itu. “Syila? Apakah ini imajinasimu? Ayolah Syila! Pikirkan kalau sirkuit itu berada di depan kita tanpa ada bukit batu itu!” Arya meminta sila untuk mengendalikan situasi di dalam alam mimpi sila. “Apa itu akan berhasil Arya?” Syila menoleh ke arah Arya. “Kita nggak akan pernah tahu kalau belum dicoba, ya kan?” Arya meminta Syila untuk mencoba mengendalikan apa yang ada di dalam alam mimpinya itu. “Baik Arya! aku akan membayangkan kalau bukit batu ini tiba-tiba membelah dan membuka seperti sebuah gerbang. Lalu sirkuit itu berada di depan sana.” Syila mengatakan hal itu sembari memikirkan apa yang ingin dia temukan. “ Bagus, Syila! Pikirkan terus dan tetaplah fokus! Kita harus yakin kalau ini akan berhasil!” Arya terus memberikan dukungan kepada Syila yang terlihat masih syok karena kalimat sahabatnya dan satu asisten rumah tangga Raina terjebak masuk ke dalam pusaran mimpinya. “Baiklah Arya aku akan memejamkan mata sembari memeluk boneka beruangku yang aku beri nama Mumu. Semoga aku bisa fokus dan apa yang kita usahakan untuk melewati bukit batu ini bisa berhasil.” memejamkan mata sembari tersenyum dan mendekap erat boneka beruang berwarna coklat itu. *** Bersambung .... Apakah mereka akan berhasil? Jika iya, Apakah sirkuit khayalan dalam mimpi sila benar-benar berada di balik bukit itu? Atau justru mereka kembali tersesat di dalam dimensi mimpi sila?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD