Puzzles 7. Firasat Mimpi

1299 Words
Sejak Arya kembali membuka diri untuk memulai pertemanan dengan banyak orang, mimpi yang sering mengusiknya mulai menghilang. Sikap tertutup yang selama ini bersemayam di dalam diri Arya mulai terkikis oleh kesibukan dan suasana baru yang menyenangkan. Arya bersama keenam teman dekatnya mulai mengikrarkan diri menjadi sahabat. Bagi mereka perbedaan bukan penyebab perpecahan, melainkan tali persaudaraan yang mengikat erat dalam perbedaan. Perbedaan membuat mereka semakin kaya dan memahami orang lain. Hari-hari Arya terasa sangat berenergi. Hingga dirinya terkadang tidak sabar menunggu hari esok dan berkumpul bersama keenam sahabatnya. Seperti malam minggu ini. Baru saja Arya pulang dari Basecamp di rumah Raina. Rasanya ingin segera bertemu mereka kembali esok hari. Mereka berenam memiliki ciri khas masing-masing. Ada rasa penasaran yang menyelusup dalam benak Arya. Ia ingin menelusuri masa lalu mereka. Namun, Arya mengurungkan niatnya. Ia kembali pada niatnya, ingin mengenal seseorang secara natural seperti kebanyakan orang pada umumnya. Walau ada rasa penasaran bagaimana masa lalu keenam sahabatnya. *** Banyak orang bilang, malam minggu adalah malam yang panjang. Ya, benar! Bahkan Arya mengakui hal itu. Ia merasa waktu melambat, ketika ia menantikan siang di hari esok. Kegiatan pagi di hari minggu Arya adalah waktunya berolahraga juga mencuci motornya hingga mengkilap. Sedangkan Ayah dan Ibunya tengah bersantai sembari meminum teh juga kudapan buatan Sasmitha. Arya mengenakan celana boxer, juga kaos tanpa lengan yang menampakkan otot lengan atletis dan menawan. Tubuhnya berkeringat karena berjemur di bawah sinar matahari pagi sembari memulai aktivitas kegemarannya membuat motor kesayangan menjadi kinclong dan sedap dipandang. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Arya yang sudah selesai mencuci motornya, segera duduk di depan teras sembari menatap motor ninja dua tak miliknya. Rasa dahaga yang melanda, membuat Arya menyambar botol air mineral di sebelahnya. Drrrrttt .... Drrrrttt .... Ponsel Arya bergetar beberapa kali. Ia mengambil ponsel hitam itu dan segera memeriksanya. Ternyata, chat grup w******p dari Sahabat Kepompong mulai ramai. Ya! Arya dan keenam sahabatnya menamakan tim persahabatan mereka sebagai Sahabat Kepompong. Tak lama kemudian mereka kembali membuat janji untuk pergi bersama ke puncak. Tepatnya mereka akan mengunjungi Vila milik orang tua Raina. Siapa yang tidak senang, jiwa muda mereka merasa tertantang untuk bertualang. Rencananya Angga dan Aji berboncengan, Reno dengan Syila, Arya dengan Raina, sedangkan Mikha menunggangi motor matic-nya sendirian. Lantaran Mikha senang bertualang dengan berkendara. Tak lama berselang, saat Arya sedang asyik membalas chat grup dengan sahabat-sahabatnya. Suara Bu Sasmitha terdengar jelas memanggil Arya. “Arya ....” “Arya ....” “Iya, Bu.” Arya bergegas masuk ke dalam rumah, setelah membalas chat grup. *** Bu Sasmitha memanggil Arya karena sudah waktunya Arya sarapan. Lantaran sejak tadi pagi perut Arya belum terisi. “Sarapan dulu, Nak! Bersihkan badanmu!” perintah Ibunya dengan nada bijak. “Siap, Bu! Tapi ... Arya mau mandi dulu.” Arya tersenyum kepada kedua orang tuanya. “Siang ini ada acara lagi, Nak?” Bu Sasmitha rencananya akan pergi ke rumah sahabatnya, lantaran anak sahabatnya itu akan melangsungkan pernikahan siang ini. “Arya mau ke Puncak, Bu. Paling nanti malam sudah sampai rumah lagi.” Arya sekalian meminta izin. “Siang ini juga Ibu sama Ayah mau ke rumah salah satu sahabat Ayah, kalau nanti Ayah sama Ibu sudah berangkat, jangan lupa kunci pintu kalau kamu mau berangkat!” Bu Sasmitha mengingatkan Arya. “Siap, Bu! Pokoknya beres serahkan sama Arya. Ayah sama Ibu hati-hati, ya!” Arya tersenyum manis kepada Ibunya. “Oke, Nak!” sahut Pak Bisma. Arya membalas senyuman hangat kepada kedua orang tuanya. *** Arya tengah bersiap memanaskan motornya sebelum berangkat ke rumah Raina. Siang itu Arya mengenakan kaos berwarna merah, celana jeans warna hitam, jaket Boomber hitam, dan sepatu sneakers warna putih. Tak lama berselang, Arya melajukan motornya membelah jalanan Ibu Kota. Hiruk pikuk kota sangat melelahkan. Kemacetan membuat Arya kesal dan lelah. Bunyi klakson dan mesin menderu bersama asap kendaraan. Menghempas deru aspal jalanan. Arya merasa lampu merah kali ini benar-benar sangat lama. Hingga ia merasa sangat dahaga menunggu lampu hijau menyala. Di bawah sinar matahari, Arya mencoba untuk berkonsentrasi, walau dia merasa perjalanan yang baru seujung Kuku itu, sangat melelahkan tidak seperti biasanya. ‘Rasanya siang ini benar-benar melelahkan. Semoga saja lampu merah ini cepat berganti menjadi hijau,' gumamnya dalam hati. Tak lama berselang, lampu merah berubah menjadi hijau. Dengan cepat, Arya menarik tuas gas dan melajukan motornya dengan hati-hati di antara hiruk-pikuk kendaraan. Awan menggelap tepat setelah Arya melewati lampu hijau yang baru saja menyala. Gumpalan awan gelap itu dengan cepat menyelimuti langit Ibu Kota. ‘Tadi cerah bahkan terik, dengan cepat, awan gelap menggulung Ibu Kota. Pertanda apa ini? Ckck ... Astaga, Arya! Ya jelas pertanda hujanlah! Apa lagi?’ bisiknya dalam hati sembari melajukan motornya dengan cepat. Arya kembali fokus berkendara. Awan yang semakin gelap terlihat semakin turun ke Bumi. Seakan-akan semakin ke bawah dan sangat dekat bagai ingin melumat habis semua yang dilewatinya. Suara gemuruh mulai terdengar. Kilat yang menyambar bagai cambuk yang berakar. Arya masih bisa menyikapi semua cuaca ekstrem itu dengan tenang. Hingga dirinya berada di jalur sepi menuju perumahan tempat tinggal Raina. Waktu yang terus berjalan seakan melambat seiring dengan gumpalan awan hitam yang semakin bergerak rendah. Tiba-tiba angin mulai bertiup kencang. Arya merasa ada yang aneh dengan cuaca hari itu. ‘Ada apa ini? Pertanda apa? Aku merasa sulit melajukan motorku jika anginnya kencang seperti ini!’ Arya berbicara dalam hatinya yang mulai risau. Arya terus melajukan motornya membelah jalanan sepi itu. Walau agak kagok karena angin seolah menyeretnya ke samping. Hal itu membuat keseimbangan Arya sedikit terganggu. Tak lama berselang, kabut hitam mulai menyembul ke Bumi. Kabut itu berasal dari gumpalan awan hitam yang semakin dekat dengan daratan. Arya semakin merasakan aura negatif dalam perjalanan itu. Tidak ada kecurigaan apa pun dalam benak Arya, karena menganggap itu adalah sebuah fenomena alam yang mungkin pernah terjadi sebelumnya. Sesekali, Arya melihat situasi di sekitarnya. Tidak ada kendaraan lain yang berlalu-lalang di sekitarnya. ‘Aneh ... sepertinya aku hanya sendirian? Tapi ... jalan menuju rumah Raina memang biasanya sepi, walau ... tidak sesepi ini.’ Arya mulai resah karena waktu tempuh menuju rumah Raina tidak seperti biasanya. Arya terus melajukan kuda besi miliknya. Hingga ia dikejutkan oleh sesuatu di hadapannya. Gumpalan awan hitam itu turun ke hadapan Arya, bagai sebuah kabut hitam dengan kecepatan angin yang cukup kencang. Arya terhempas ketika akan melewatinya. “Aaarrrggghhh!” Tubuhnya terhempas dan berputar-putar di dalam sebuah pusaran. Seketika ia menyadari bahwa dirinya ada di dalam mimpi. Arya memiliki firasat bahwa apa yang ia mimpikan sekarang adalah bagian dari puzzles mimpi seperti dahulu yang sering menghantuinya. Sehingga Arya berusaha menolak untuk melihat peristiwa yang ada di dalam puzzles mimpi itu. ‘Aku tidak akan mengikuti alur dari puzzles mimpi yang akan menghantuiku.' Arya mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Semua terasa sangat sulit. Arya berusaha mengingat hal lain, tapi tetap tidak bisa pergi dari pusaran mimpi itu. Hingga datang seorang gadis yang selama ini menolongnya jika Arya tersesat dalam mimpinya. Gadis itu datang secara tiba-tiba dan masih menampakkan aura misterius. Wajahnya tidak terlihat jelas. Hanya boneka beruang berwarna cokelat lah yang menjadi identitas si gadis baik itu. Ia menarik Arya dari dalam pusaran gumpalan awan hitam itu menuju sebuah cahaya yang awalnya terlihat kecil seperti kilauan permata. Namun semakin didekati semakin besar dan gadis itu mendorong Arya terjun ke dalam cahaya itu. “Aaarrrggghhh!!!” Kedebug! Lagi-lagi Arya terjatuh dari atas tempat tidurnya. Napasnya menderu, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Lantaran potongan mimpi itu mulai datang menghampiri. “Kenapa Puzzles mimpi itu datang lagi? Aku melihat ada gumpalan awan hitam yang turun ke Bumi dan membentuk seperti pusaran tornado. Apa lagi ini? Aku berharap Puzzles mimpi itu tidak lagi datang dalam mimpiku!” Arya sangat pucat. Ia takut kalau pusaran dalam mimpinya menjadi kenyataan. *** Bersambung ... Apa sebenarnya pesan yang tersirat dalam puzzles mimpi Arya kali ini? Misteri apa lagi yang akan terungkap?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD