Mendengar apa yang Angga katakan, Aji dan Reno merenung sembari menatap raga Syila yang tengah tertidur bak Putri tidur. Mereka mengingat kembali kebersamaan mereka sebelum tersedot masuk dalam pusaran mimpi Syila. Reno mulai mengingat kembali apa yang terjadi saat dirinya berada di dalam pusaran mimpi Syila.
“Awalnya aku merasa kalau impianku tercapai. Kalian bayangkan! betapa aku berhasrat untuk menjadi seorang pembalap motor. Saat itu yang aku rasakan dunia sudah berbalik sejalan dengan keinginanku. Aku menjadi seorang pembalap yang sedang berlatih di atas lintasan sirkuit. Aku enggak merasa aneh, hanya merasa semuanya seolah memang seperti kehidupanku sehari-hari. Aku beranggapan bahwa semua yang aku impikan bisa kuraih seperti kenyataan. Sampai akhirnya Syila dan Arya datang menghampiriku. Aku pikir mereka mau nonton dan mendukung aku saat pertandingan. Ternyata kedatangan mereka justru menyadarkanku dari semua harapan palsu. Baru saja merasakan betapa nikmatnya menjadi seorang pembalap, dengan semangat yang begitu menggelora bahkan berapi-api di atas deru aspal sirkuit. Semua impianku patah begitu saja! Bayangkan!” Reno menatap kedua sahabatnya yang tengah duduk bersama.
“Iya sih ngerti banget! Ibaratnya baru juga merasakan harapan tapi ternyata harapan itu belum tercapai alias mimpi! Karena yang kita jalani ada di dalam dunia mimpi. Bagai meraih harapan palsu, iya kan?” Angga menanggapi apa yang diceritakan Reno kepada mereka.
“Ya ... kalian bayangin aja deh! baru memulai dan harus tumbang karena ... ya ... semua yang kita lakukan di sana itu bukan sesuatu yang nyata. Tapi aku bener-bener berterima kasih sama Arya juga Syila. Mungkin kalau aku terbuai dalam pusaran mimpi Syila itu, nggak akan pernah balik lagi ke dunia ini. Bayangin aja! gimana paniknya orang tua aku, apa mereka tahu aku tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Maka dari itu aku bersyukur banget disamperin sama Arya dan Syila, terus aku kembali diingatkan sama memoriku yang seakan-akan itu benar-benar terlupa. Sampai akhirnya Syila membantu aku menuntun ke portal jalan pulang. Pas aku sampai di sini, posisiku berada di teras Villa ini. Aku ingat pesan Syila dan Arya untuk menjaga raga Syila karena dia sedang tertidur di lantai dua. Jadi aku langsung pergi ke sini. Sesampainya di sini aku bener-bener ngerasa Syila itu selama ini menutupi, menyembunyikan apa yang dia rasakan melalui sikap cerianya. Kalian lihat sendiri kan bagaimana Syila yang sebenarnya?” Reno kembali menegaskan apa yang ia rasakan setelah mengalami kejadian itu.
“Sama, Ren! Awalnya aku nggak nyangka waktu aku berselancar tiba-tiba aku melihat dua orang yang datang ke pantai itu. Aku pikir dua turis yang membutuhkan tour guide. Akhirnya aku samperin dan ternyata itu mereka. Aku sampai heran Arya datang sama siapa, ternyata itu Syila. Terlihat berbeda lebih misterius dan pendiam. Sangat berbeda dari kehidupan nyata yang cerewet, centil, dan ceria. Di sana aku benar-benar terkejut sama kayak kamu, Ren! Pas Mereka bilang kalau pantai itu bukan pantai di tempat tinggalku. Aku berusaha melihat sekitar. Lama-lama Aku perhatikan memang itu bukan pantai tempat aku dibesarkan. Hanya saja aku terlena karena ombaknya begitu luar biasa menurutku. Mereka datang yang untuk menyadarkanku dan Syila menunjukkan arah jalan pulang ke dunia nyata. Akhirnya aku ada di lantai dua langsung ditolong sama Reno, kita sering ceritakan bagaimana kejadiannya. Sampai aku sempat berpikir berapa lama Syila bisa bertahan? Sedangkan yang harus mereka kembalikan ke dunia nyata masih banyak. Pusaran mimpi Syila itu benar-benar Dunia Fantasi yang imajinasinya tidak terbatas. Aku sampai bingung bagaimana mereka bisa menemukan kita dan masih berjuang untuk menemukan yang lainnya.” Angga ikut bingung memikirkan semuanya karena dia merasa apa yang Arya dan Syila kerjakan saat ini adalah hal yang berat.
“Nah! Justru aku yang ngerasa bersalah banget sama mereka!” keluh Ajj kepada kedua sahabatnya.
“Bersalah kenapa, Ji?” Angga merasa sangat penasaran.
“Ya ... Gimana ya? Mungkin awalnya samalah seperti kalian, aku terkejut karena tiba-tiba ada sosok yang menyerupai Arya dan Syila yang datang menghampiriku. Jadi, kan! danau yang aku pikir saat itu adalah danau Ranu Kumbolo seperti impianku untuk bisa Camping di sana saat tahun baru. Mereka datang dengan pakaian seadanya tanpa perlengkapan apa pun, aku pikir mereka adalah dua sosok makhluk jadi-jadian yang mau mengelabui aku. Apa yang mereka ceritakan sama sekali aku nggak percaya. Kami berdebat dan akhirnya aku lari setelah mereka memaksaku. Aku lari menjauh dari mereka, Arya dan Syila terus mengejar. Tiba-tiba air danau itu meluap dan seakan-akan mengejar balik aku untuk kembali berbalik arah.” Terlihat penyesalan di raut wajah Aji.
“Ya, lagian kamu mikir yang aneh-aneh! Kayak acara makhluk jadi-jadian segala! Terus kelanjutannya gimana sampai kamu bisa sampai di sini?” Reno penasaran dengan pengalaman Aji saat berada di dalam pusaran mimpi Syila.
“Iya saat air danau itu meluap, aku larilah berbalik arah! Mau nggak mau pasti Arya Cegat aku di sana. Ya bener aja si Arya menerjang aku. Melompat ke arah aku dari balik pohon udah kayak spider-man. Saat itu kita terjatuh ya ... pegal-pegal sih lumayan tapi aku berusaha untuk lari lagi karena aku pikir mereka memang dua makhluk jadi-jadian yang mau menangkapku. Terus Arya berhasil menjegal kakiku, aku kembali terjatuh dan akhirnya aku menyerah. Setelah itu, Arya dan Syila berusaha untuk menjelaskan seperti yang kalian rasakan tadi. Aku menyesal setelah mendengar penjelasan mereka, kenapa aku begitu konyol sampai berpikir kalau mereka dua makhluk jadi-jadian yang ingin menangkapku. Lalu Syila berusaha untuk mencarikan aku jalan pulang ya ... semacam portal itulah yang kalian juga pasti paham, ternyata Syila sulit untuk menemukan itu. Mungkin awalnya karena aku nggak percaya sama mereka sama apa yang mereka katakan dan akhirnya menimbulkan portal itu sulit untuk ditemukan. Ada rasa penyesalan saat Arya begitu memperhatikan Syila karena Arya merasa kalau Syila adalah kunci dari semua yang terjadi. Arya begitu menjaga Syila. Sampai aku melihat kayaknya mereka cinta lokasi.” Aji berusaha untuk kembali menjelaskan apa yang dia lihat dan rasakan.
“Ya ampun sampai kamu kepikiran mereka cinta lokasi?” Angga merasa kalau apa yang diceritakan Aji begitu dalam, sampai membuatnya sedikit gemetar. karena Angga tidak menyadari kalau dalam lubuk hatinya yang terdalam, Angga menyimpan perasaan spesial kepada Syila.
“Kalian nggak lihat sih gimana Arya benar-benar memperlakukan Syila itu seperti seorang kekasih. Bener-bener ngejagain banget dan saat itu Arya juga ngebantu aku untuk menemukan portal jalan pulang.” Aji kembali menceritakan kepada kedua sahabatnya.
“Terus akhirnya kamu menemukan portal itu?” Reno penasaran bagaimana kronologisnya nggak Aji sampai ke dunia nyata.
“Ya, itu tadi, aku merasa kalau Arya dan Syila memiliki ikatan batin yang kuat. Entahlah hanya mereka yang tahu. Setelah mereka saling menatap, terus Arya minta kalau Syila kembali fokus untuk menemukan portal buat aku. Kalian tahu nggak? portalnya ada di mana?” Aji sengaja ingin kedua sahabatnya itu menebak di mana letak portal jalan pulang ke dunia nyata untuk Aji.
“Mau tebak-tebakan?” Angga mengernyitkan dahinya.
“Iyalah, tebak aja! Coba kalian bayangin di mana kira-kira portal jalan pulang untuk aku?” Aji kembali memberikan pertanyaan yang sama kepada kedua sahabatnya.
“Di pohon?” jawab Reno ngasal.
“Salah.” Aji mencebikkan bibirnya seakan mereka tidak akan mengira di mana letak portal untuk Aji.
“Di tanah? Di tenda?” Angga ikut menebak keberadaan portal jalan pulang untuk Aji.
“Ckckckck ... salah!” Aji sembari menggoyangkan jari telunjuk untuk kedua sahabatnya.
Angga dan Reno saling menatap. Mereka berusaha untuk menebak keberadaan portal untuk Aji saat itu. Namun semua dirasa rumit hingga akhirnya mereka berdua menyerah.
“Coba apa, Ji? nggak usah main tebak-tebakan deh! Kita kan penasaran karena semua jawaban kita salah!” beberapa kali Angga dan Reno mencoba untuk menebaknya, tapi tetap salah.
“Ya udah! aku jawab ya! Portalnya ada di dasar danau! Kalian bayangkan aja! Apa yang harus aku lakukan untuk menyambangi portal itu? Padahal itu satu-satunya jalan kembali ke alam nyata. Tapi pintunya ada di dasar danau itu.” Jawaban Aji membuat mereka terkejut.
“Akhirnya kamu nyelem?” Angga merasa terpukau kalau memang Aji benar-benar menyelam.
“Ya ... mau enggak mau lah dan saat itu gaya batu memang sangat membantu aku langsung nyemplung aja udah tenggelam ke dalam! tapi kan aku pikir dengan kita berenang ke dalam dasar danau akan lebih cepat sampai jadi di aku bener-bener berenang di sana. Gaya bebas sebebas kita memilih calon pendamping hidup. Eh ...” Aji menutup mulutnya.
“Seriusan, Ji! Bener! Hahaha ....” Angga kembali terbahak.
“Saat itu, aku tahan napas sampai aku bisa menembus portal di dasar danau itu.” jelas Aji kepada mereka dengan nada yang menggebu-gebu.
“Hahaha ... Ada-ada saja! Di saat seperti itu gaya batu yang paling ampuh ya?” Angga terus tertawa mendengar cerita Aji saat dirinya mencari portal jalan pulang ke dunia nyata. Reno pun tidak kalah nyaring dalam menertawakan Aji. Melihat kedua sahabatnya tertawa terbahak-bahak, Aji kembali teringat kepada Arya dan Syila.
“Hei! Kenapa apa kok ngelamun?” Reno menyadari raut wajah Aji yang berubah sendu.
“Lihat! Syila terbaring di sana. Padahal di dalam pusaran mimpinya, Dia sedang berjuang bersama Arya untuk menemukan semua sahabat kita dan juga Ceu Euis. Kita hanya bisa mendoakan dan juga menjaga raga sila agar dirinya mampu bertahan di sana sampai semuanya kembali seperti sedia kala.” Aji masih menatap Syila yang terbaring di sofa lantai dua.
“Bener juga tapi ada sesuatu yang aku takutkan!” Angga menatap kedua sahabatnya yang juga sedang serius mendengarkan perbincangan mereka.
“Apa, Ngga?” Aji dan Reno kompak menanyakan hal itu kepada Angga.
“Aku takut kalau orang tua Syila meneleponnya. Kita harus menjawab apa? Juga takut kalau orang tua Raina menelpon rumah ini. Kita harus jawab apa? Lebih lagi kalau sampai suami dari Ceu Euis datang ke sini nyariin istrinya. Kita harus jawab apa? Apalagi kalau ada yang lihat Syila terbaring di situ! Bisa jadi dikira kita ngapa-ngapain lagi!” Angga begitu takut kalau ada orang lain yang mengetahui peristiwa itu. Orang lain tidak akan mungkin percaya begitu saja apa yang diceritakan oleh mereka. Bisa saja mereka justru dituduh melenyapkan sahabat-sahabat mereka. Padahal kenyataannya mereka benar-benar bingung harus bersikap seperti apa dan menjawab setiap pertanyaan orang lain yang tidak mengetahui peristiwa itu.
“Kamu bener juga! Lalu sebaiknya kita harus bagaimana?” Aji melihat kedua sahabatnya yang terlihat berpikir keras.
“Kita tutup semua akses yang akan masuk ke Villa ini. Kalau suami dari Ceu Euis kembali, kita bilang saja kalau Ceu Euis sedang mengantar Raina ke suatu tempat,” cetus Angga kepada 2 sahabatnya.
“Ya, sudah! Kita menutup semua akses ke Villa ini! kita bereskan semua peralatan barbeque, kita juga tutup gerbang belakang dan rumah ini. Kita jaga sila sama-sama!” Reno menatap kedua sahabatnya dengan penuh keyakinan.
***
Mereka bertiga akhirnya membagi tugas. Angga tetap di lantai dua untuk menjaga Syila dan juga ponsel milik Syila, karena Angga takut kalau keluarga Syila menghubungi ponselnya. Sedangkan Aji dan Reno membagi tugas untuk membereskan semuanya dan villa itu terlihat seperti tidak berpenghuni.
Bersambung ....
Bagaimana jadinya ketika salah satu orang tua dari mereka yang belum kembali menghubungi ponsel anaknya? Apa yang akan kan mereka lakukan? Lalu bagaimana jadinya jika dalam perjalanan mencari sahabat Arya dan Syila yang belum kembali, Syila bangun dari tidurnya? Apakah misi mereka akan berhasil? Sesuatu yang pasti Arya akan menemukan sebuah rahasia besar di balik peristiwa yang sedang terjadi.