Jam dinding kamar menunjuk angka 3, jarum menit 5, pukul 15:20. Teni masih duduk bersila di kasurnya dengan kaos agak menjuntai menggantung bahu, kaos Seha. Selimut yang dia gelar sebelum yoga sudah kosong, Teni masih menutup mata dalam meditasinya. Kamar pun tampak sudah rapi, karpet di situ terbebas dari 'polusi' serta tidak ada koper.
Tik..
Tak..
Tik.. tak..
Pada laptop yang ada di meja baca tergeletak kunci mobil dan hape Teni.
Gllt..! Gltt! Krrt..
Benda gepeng tampak labil keberadaannya. Dibandingkan kunci, ponsel tersebut terlihat hidup namun bukan karena getaran notifikasi, labil karena ukuran dan opasitasnya terganggu. Transparan saat kembali di skalanya, meleleh bak aspal di saat susutnya disertai tiga empat debu cahaya dan gemericik listrik di permukaan.
Tlik.. Krrytth.. tlik-tlik! Glltt-glltt..!
Bunyi-bunyi dari tersebut sayup lebih kecil dari suara detak jam.
Gllt.. Glltt..!
Objek labil dan transparan pada kap laptop ini berlangsung lebih dari satu menit. Setelah perubahan yang terakhir itu, citra hape kembali padat dan kaku, diam begitu saja.
Dada Teni menampakkan rutinitasnya, jantung dan paru-paru bekerja lagi, Teni bernafas kembali di tengah kekakuan.
Teni membuka matanya.
"Hhh.."
Gadis ini lemas, namun mulut Teni tampak sedang mengecap-ngecap.
"f**k. Sssh.. Masih aja pedes. Sssh.. saos olshop sampe kebawa sadar gini anjrit."
Di depan kulkas mini, dekat pintu kamar, Teni meneguk air Jeruk, meminumnya langsung dari botol plastik tersebut.
Gluk.. glukh.. gluk!
"Ahh," desah Teni. "Hh-hh-hh.."
Di depan meja baca, Teni sudah menaruh botol minumannya. Dia sedang sibuk menggeser-geser layar hape, membuka-buka foto di folder galeri gawainya. Di situ Teni melihat hasil jepretan, selfienya, fotbarnya bersama Careen, fotbarnya dengan Wawan dan Hadi pun ada, Teni yang sedang menggigit otak-otak, Careen yang menatap kamera ala napi, serta wajah Teni yang mengambil latar bulan Purnama melebarkan bibir seperti vampir yang tengah menengok Sumur Lubang Buaya.
Teni duduk di tepi ranjangnya sambil cengar-cengir.
"Hahaah! Hkk..!"
Teni menertawa gadis berjaket yang berhasil diabadikannya diam-diam, ekpresi wajah Careen di situ terpotret tengah mengedip hingga tampak seperti orang yang sedang mengantuk.
"Hk-hkk.. Hahaah! Hk..! Gue banget anjeer. Hahah! Jelek badaai..!"
Seha masuk kamar dengan posisi mundur mendorong pintu. Dia mengais seabrek jemuran, pakaian Teni. Sesampainya di karpet, Seha taruh bawaannya sambil duduk. Seha tak mempedulikan majikannya yang keasyikan dengan ponsel.
"Jahat gak sih gue jadi paparasi kek gini, Sar? Hhh-hh. Ya ampun. Hkk-hkk..! Bisa kena karma gue anjeer, ngejailin senior. Hhh-hh..! Hk."
Seha hanya senyum menoleh, tak menanggapi gelak tawa yang berlangsung. Tangan Seha mengambil celana piyama dan langsung merapikannya, digelar lalu dilipat.
Teni beranjak dari duduk. Di menaruh kembali gawai yang menggelitik ke atas laptop. Pundak Teni tampak masih bergetar-getar, tangannya membekap mulut. Teni meraih wadah jusnya yang masih berisi.
Seha mengambil baju piyama. Dia gelar, kemudian dilipat. Rambut sudah diikat, namun riasan di wajah belum Seha bersihkan. Seha sudah mengenakan kaos lengan panjang, celana hitam longgar, bukan setelan maid.
Selesai melipat, Seha mengambil piyama lagi, motif bunga, sedangkan yang sebelumnya polos warna biru pucat. Seha menghirup udara lagi di situ, halu sambil bekerja, sementara tangan sudah sibuk sendiri, mengelar dan melipat baju tanpa pengwasan.
"Nyimeng mode.. Hss."
"Apaan?" tanya Teni yang masih berseri-seri, menarik kursi dan mendudukinya.
"Ganja. Wangi sorga. Mmhh.."
Teni mendapati mata Seha terpejam menikmati hawa detergen. Pundak Teni bergetaran kembali. "Hhh-hh! Lebay. Gue lempar nih."
Teni membuka tutup botol pop-up di tangan. Dia segera meneguk air oren tersebut.
"Kok kek lagi capek gitu sih, Beb?"
Teni abai, konsen minum air dinginnya. Usai menelan, Teni tekan penutup wadah. Klekh!
"Pedes, Sayang. Euu!"
"Abis dari kemah ya?"
"Kok tau sih? Ajarin gue dong jadi dukun."
"Kerin ngecet."
"Euu!"
"Biarin yoganya. Teni lagi bareng gue di pantai kalian."
"Oh."
"Udah dapet pesen laen dari mbak Kerin?"
"Hhh.. Kurang lebih gini buat gue. Eksistensi sama ketiadaan, persimpangan lebih nyata ketimbang keduanya, trus kadang seseorang gak mampu nyegah kejahatan dia sendiri. Hhh. Gue malah kepikiran pedes ini. Belum foto. Belum si Dua Empat, versi gue di Dark Nature."
Lalu Teni diam melamun. "Persimpangan.. Eh, Ken yang Kerin maksud tuh siapa sih?"
"Ken. Kencana. Jembatan ke alam jins. Portal waktu. Lo bukan lagi denger pesen, tapi kesaksian Kerin."
"Yang paling gue inget sih itu. Persimpangan. Ril atau mimpi, Kerin bilang ada yang lebih nyata ketimbang keduanya."
"Ketemu gue gak?"
"Eh iya. Naut sih.. Tapi kita gak sempet ngobrol, Sar. Udah deh."
Mendadak mata Teni berair. Teni juga mendelik. Seha masih sibuk dengan kegiatannya merapikan jemuran, diam menuruti.
Teni melirik ponselnya dan bangkit dari duduk sambil menaruh botol. Teni lalu meraih hape dan membawanya sambil dinyalakan kembali.
Teni duduk di samping Seha, menyandarkan kepala ke bahu si teman.
"Kerin ngebahas si Dua Empat. Trus juga ngasih tau kalo gue bisa ngebekalin diri. Yang bingungin, ntar kalo gue salah baca kuku gimana?"
"Yang gawat tuh nyuekin protokol, Net. Gue lebih percaya Kerin sama lo. Taat tiap disuruh."
"Jadi gak kenapa-napa kalo misalnya tangan gue ngedadak encer, jadi besi tajem kek gitu?"
"Gak juga."
"Hhh.." hembus Teni, membetulkan sandarannya dan langsung nyaman. "Lo kek udah pasrah gitu deh."
"Abis Old Sarah ada benernya. Gue ngebudakin dia. Maka giliran gue, jadi b***k yang kesiksa."
"Lo masih nangisin nasip? Emang kek gimana sih ceritanya?"
"Gue anak lab. Kepo banget pokoknya sama Fanaverse. Bayangin aja, boneka favorit lo idup. Seremnya pas egois gitu. Old Sarah Bunuh diri."
"Jelangkung maksud lo? Hhh-hh. Idup kek gimana sih? Serem juga ada horornya. Hhh-hh."
"Gue jadi ibu-ibu. Tempat dia nanya, tempat dia belajar, tempat dia minta, sosok kepercayaannya, Sayang."
"Hum."
"Gue gak nginjeksi dia pake algorit yang nyangkut Kerin. Tuh rasa tumbuh sendiri, dia suka tipe fisik kek lo. Gue emang lagi kesengsem sama Kerin. Old Sarah gitu juga ke lo yang Kerin abis. Hal itu akhirnya diwajarin temen lab. Guelah biang kerok perasaannya."
"Hhh-hh. Reaksi Kerin gimana?"
"Kami nyatain hati bersama, langsung ngomong ke orangnya. Tapi Kerin bukan cuek sih. Gue sama Old Sarah dipeluk bareng, Kerin minta kami damai. Dia juga ngomong kalo kami berdua besti kesayangan dia."
"Gue juga bakal kek gitu deh dapet dua Seha beda usia."
"Gue nyetel Old Sarah dengan tujuh puluh persen algorit prediktor. Tapi bukan buat ngeramal, biar peka aja sama hal yang nyangkut warning-warning gitu. Masa-masa puber gue nih katanya ngaruh, persen algorit dia naik sebesar dua puluh. Old juga udah bisa ngimbangin keroyokan aktor lain di gem kami ini. Gak disangka, dia juga bisa liat nih temlen. Fungsi algoritnya aktif di luar gem Priwil. Udah kek orang asli aja, ngedadak dia down. Ngasih wasiat ke gue jangan pernah lagi nge-respawn dia. Itu kedenger kek gak minta dilahirin. Kerin minta pertanggungan gue atas keputus-asaan Old Sarah. Gue bingung banget. Old gak banyak ngasih tau. Bungkam. Dia cuma bilang jangan idupin gue lagi. Plis."
"Apa Sarah yang sekarang tau dirinya yang dulu, Sar?"
"Gak tuh. Soalnya Sarah bukan bangun dari koma. Dia kek orok baru gitu. Trus guenya masih sedih. Jadi, temen lab yang ngelatih Sarah sekarang. Gue serahin ke Ribbon. Kalo Sarah emang punya ingetan lama, gue minta Ribbon ngehapusnya."
"Seru banget keknya bisa bikin manusia jadi-jadian. Jadi lo pernah ngerasain itu semua Sar, sebagai emak muda?"
"Iya. Emak tunggal benernya."
"Hhh-hh! Eh, kita adopsi anak cewek aja yuk? Siapa tau kalo punya dua emak, anaknya jadi kuat."
"Kek Trio Macan? Satunya lagi apa tuh?"
"Hhh-hh. Monolog. Anak manalagi?"
"Emang kedampar ya? Dikabul dan kita jadi dua emak buangan di pulau Manalagi."
"Hhh-hh!"
Layar disentuh, Teni membuka galeri di ponselnya. "Lo kenal sama dia?"
Teni mengasongkan gawainya pada Seha. Di situ tampak gadis Tionghoa, layar menampilkan seseorang yang dilingkari gelang pada atas kepalanya. Teni memberitahu Seha, bahwa orang tersebut paradok.
"Kata Kerin dia contoh penampakan paradok. Ada donat di atas kepalanya ini. Ntar hari, kalo ada lusid ngabein protokol, parodoknya bakal kontra sama driver, ngebunuh jin punya lusid itu. Mae golongan jins khan ya? Kenapa ada huruf es-nya sih?"
Seha mengamati foto perempuan berambut pendek. Dia mendengarkan Teni dan bereaksi saat nama Mae disebutkan. Seha menghelas nafas.
"Hhh. Huruf es di situ tadinya sintetis. Ngegambarin jin jadi-jadian. Mae ada ratunya, tiap jins punya kerajaannya sendiri. Wajah mereka serupa dengan inang. Huruf es nih inisial dari istilah subkonsius (subconscious). Mahluk halus penghuni alam bawah sadar kita."
"Trus, siapa dia?"
"Ini Nia. Dia paradok kak Jihan. Wajah laennya yang persis kak Jihan tuh Giziania. Kek Gizi kek Mae, dari kerajaan bawah sadar. Negeri jins. Alam bawah sadar lo bisa dimasuki orang laennya karena jiwa lo dapet nginderai radiasi Ken. Kata laennya dapet lihat video efek karya seniman digital. Lo bisa manipulasi objek pake portal geblek, si Dark Nature tuh. Yaa. Gak masuk akal emang isi dunia jadi-jadian. Tapi Fanaverse nih ngepoin gue juga."