Teni tersenguk memeluk siswi rok putih yang terkulai bisu tak bernyawa lagi. Di bawah remang cahaya Purnama kini tinggal Teni sendiri. Teriakan yang Teni kerahkan tidak terdengar oleh siapa pun karena di situ masih sunyi tak ada orang lainnya yang datang memeriksa sumber.
"Hkk.. Eheuu.. heu-heu.. Huu.. Hkk. Hu-huu.."
Teni menangisi keterlambatannya.
"Kenapa.. hkk kek gini terus.. Uhu-huu.."
Sekitar cukup dingin, hawa pilu menyelimuti lokasi seiring tangisan yang berlangsung. Teni melepas pelukannya, serta tidak berhenti dari duka lara suara pedihnya.
"Hu-huu.."
Teni sapu sekitar, tempat keberadaan, di situ Teni hanya mendapati kebisuan, hanya dirinya di antara pohon-pohon Kelapa yang menonton.
"Hik, hikk.."
Saat kebingungan, melihat-lihat tempat, juga kondisi korban, mata Teni menangkap benda gepeng tergeletak. Teni segera merebahkan siswi yang dipangku demi hape yang dia temukan.
Teni memungut ponsel yang ada. Dia menyalakan benda gepeng tersebut lewat tombol pinggir. Wajah Teni dicahayai layar, ternyata hape temuannya masih on, masih aktif tidak rusak sama sekali. Barang tersebut milik Teni sendiri.
Teni mendapati lapisan hitam agak mengambang di permukaan layar. Dia mengenal logo yang ada, stiker itu bertepi sinar neon alias ikon orang bertapa di mana pernah Teni dapati saat mengobrol dengan Careen.
Teni menempatkan ponsel ke telinganya. "Halo? Hik, hiks.."
Ya Ten? Ada apa..?
"Kak.. Hikk. Uhuuh.. huu.."
Teni menagis kembali. Lalu nada cemas Careen terdengar, menanyakan lokasi Teni.
Kenapa? Lo di mana?
"Huhuu.. hu. Hikk. Huu.."
Teni ada apa hei? Lo di mana sekarang?
"Di.. pantai, Kak. Hikk."
Bukan. Yoga di mana?
Teni membersihkan airmata di sebelah wajahnya dengan tangan. "Ka-kamar.. Di rumah Kak."
Beberapa detik hening tak ada suara di seberang sana. Namun Teni diam menunggu tanpa rasa panik. Teni memindahkan ponsel ke telinga kiri, lalu membersihkan pipi lagi sambil terus terisak.
Oke. Valid. Ada protokol keputus, gak apa-apa. Tunggu kami di situ.
"Iya. Hikk.." jawab Teni dengan suara terdengar berat.
Teni menaruh gawainya di samping posisi duduk. Dia sudah selesai dengan alat ajaibnya. Teni mengangkat tubuh si protokoler, kemudian memangkunya lagi. Teni membersirkan pasir yang menempel di wajah korban.
Teni menyeka kening siswi naas, menyingkirkan serbuk pasir. Kegiatan tersebut Teni lakukan dengan hati-hati seolah gadis yang dipangku pingsan, berkulit mudah iritasi. Sambil menunggu bantuan datang, Teni juga membersihkan ujung hidung, kemudian beralih ke bibir sang mayit, tampak bekas liurnya yang merah mengalir di sudut bibir.
Setelah terbebas dari pasir, wajah pucat di situ Teni pijat dengan jempol, menyingkirkan noda darah dari dagu korban. Teni menyusut lumuran itu dengan telapak tangan usai memijat-mijat kulit dagu.
Serusuk garis kotak melebar di dekat Teni, warna garis tampak menyala merah, lawang pintu jadi-jadian.
Rrtthkk..! Bunyi pintu melebar persis suara laser api.
Teni mendapati tiga orang keluar dari dalam sana, salah seorang dari mereka dikenalinya dan perempuan berjaket itu Careen.
"Ten, ini Wawan sama Hadi. Biarin mereka kerja."
"Sini. Biar kami yang ngurus," pinta pemuda berkemeja kotak ini mengangkat jenazah dari pangkuan Teni.
Teni dapati yang orang satunya menurunkan kotak peralatan yang di bawa, laki-laki tersebut sama bajunya kemeja kotak yang tidak dikancingkan. Tas kain yang dia buka berisi alat-alat tak asing, si pemuda mengambil benda mirip senter dan diberikan pada temannya.
"Skener buat ka-tepe dan te-kape."
"..??"
Tubuh jenazah dicahayai senter Hansip itu. Teni melihat kejanggalan karena sinar yang disorotkan petugas ke badan mayat sama sekali tidak mendeteksi keberadaan KTP, sinar tersebut merapikan kain baju korban pembunuhan, dan seharusnya ada suara yang memberitahu tentang penganiayaan mahluk. Senter yang gunakan hanya menghapus noda darah dan kotor pakaian alias pencucian instan.
"Oke. Catatan selesai, pemeta keturunan beres, umm.."
Si pembawa tas menggantungkan kalimat, tampak kebingungan saat memeriksa sekelilingnya.
"Di sana saja," ucap Careen. "Bagian barat daya dari posisi protokol."
"Oh iya. Oke. Standar operasional," kata pemuda ini berdiri dan langsung pergi.
Swrrtth!
Tangan si petugas tiba-tiba memegang sekop, Teni lagi-lagi takjub melihat pemandangan hasil edit seniman digital itu, video efek.
"Gue mending kerja juga."
Careen melangkah meninggalkan Teni dan jenazah. Dia tidak membawa peralatan dan entah tugasnya seperti apa di layanan telpon pelanggan ini, Teni hanya memperhatikan arahnya. Careen mendadak berlari ke pohon yang telah tumbang, tampaknya ada sesuatu.
"Oke. Pemindaian selesai. Tinggal penggalian. Hadi. Kamu boleh liat ini, ato masuk ke pintu."
Teni meraih barang yang di sodorkan. Dia lalu menoleh ke arah yang ditunjuk si pemuda, arah lawang dimensi.
"Pintu? Pohon yang mana?" tanya Teni bingung dipinta melihat pohon Kelapa, menanyakannya.
Selesai menyinari mayat, pemuda ini berdiri dan pergi membiarkan Teni mengamat bingung pada senter panjang yang diterimanya. Dia kembali menoleh ke arah pohon di mana objek bernama pintu ditunjukkan.
"..??"
Teni tambah bingung ketika mendapati mayat di depannya sudah bersih tak ternoda tanah lumpur maupun darah, di situ Seha terbaring menutup mata dan tubuhnya bebas dari luka, dadanya yang bolong berantakan sudah dikembalikan keadaannya menjadi utuh dan seperti tengah tidur.
"Sar?"
Yang ditanya diam saja dalam pucatnya.
Teni kembali melirik pohon Kelapa, tertarik mendengar kata pintu. Namun objek di alamat tersebut hanyalah pohon. Seharusnya bukan pintu, kata tepatnya mungkin Pohon 3/4 ala stasiun film Harry Potter.
Teni menaruh senter panjang ke tempat, dia masukkan ke tas kain kotak. Ada alat lainnya di situ seperti sendok, asbak, sarung tangan, dan satu-satunya barang elektronik di situ berupa casan, namun ada dua lidi besinya bersepatu kecil.
"Gue bagian dari tim yupo taunya," komen Teni atas alat yang diambil, yang disangkanya sebagai charger hape tersebut.
Teni melihat dua petugas itu sedang menggali. Satunya menggali dangan pacul, satunya lagi memakai sekop, acara yang Teni kenal sebagai penggalian kubur.
Teni menaruh kembali casan bersepatu mini itu. Jangankan paham, pohon Kelapa saja Teni tak mengerti maknanya, sudah dianggap pintu oleh mereka.
"Bangun dong Sar, gue orang paling nyasar di planet ini Sayang. Pintunya di mana sih?"
Teni perhatikan, siswi kelas satu SMA itu diam sebagaimana syuting meminta. Mungkin versi behind the scene-nya Seha sedang tertawa. Hhh-hh.
Teni perhatikan tak ada reaksi dari jenazah yang pias memucat itu. Teni menghela nafas, mengikhlaskan si teman bisu permanen di situ.
"Hhh," hembus Teni sambil bangkit berdiri. "Gue jadi pengen gabung sama kalian nih, Sar. Keknya rame komunitas lo di luar sana."
Selesai bicara, Teni bergerak pergi sambil berharap ada dengus tawa terdengar. Tapi di jarak satu meter, dua meter, Teni tak mendengar tawa seram Seha.
Teni menuju Careen saat berjalan melewati dua penggali kubur, dia perhatikan kedalaman lahat tersebut sudah sedalam lutut. Dan deru-deru Jangrik sayup terdengar di kejauhan, mengiringi acara yang berlangsung.
Teni mendekap badannya sambil terus melangkah. Di depan sana Careen tampak sibuk menelaah TKP, sedang jongkok meraba tanah di bawah batang Kelapa yang patah. Teni melihat perkerjaan seorang detektif dari aksi Careen itu, dan mungkin dia petugas forensik.
Teni mengawasi sekitarnya sambil mengkerut bahu, angin yang menerpa seperti hawa dini hari, jam pengembunan udara, cukup dingin tidak seperti suhu sebelumnya.
Teni sampai di lokasi tumbang, di mengangkangi pohon tersebut karena menghalang jalan. Saat berhenti di belakang Careen, Teni mendapati pasir yang dipijaknya polos bebas jejak, tak ada bau tercium selain udara dingin sekitar.
Careen yang sedang berdiri mengutak-atik ponselnya, minta Teni datang, rupanya tahu dirinya tidak sedang sendirian lagi di sini. "Sini Ten. Liat ini. Frekuensi samaan dengan hes yang gue sken di perpus sekolah. Nol koma tiga lima."
Saat sudah di sebelah Careen, Teni hanya mendapati gambar perempuan bersorban. Lalu saat Careen menggeser layar, ada gambar lainnya.
"Ini?" tanya Careen, menunjukkan gadis bersayap.
Ditanya demikian, Teni hanya menatap Careen. Di situ pun Careen balas memandang saksi, orang yang ditanyai. Teni menggeleng pelan dan datar mengikuti ekpresi dingin wajah yang ditatapnya.
Careen menggerakkan ponsel yang dipegangnya tersebut. Set..!
Gwwitt!
Muncul rangka grafik sosok perempuan bertameng kepala Macan, visual sedang berputar pelan di depan mereka setinggi bus.
Teni menoleh pada Careen yang tengah bersilang tangan memperhatikan grafik. Teni mengikuti arah mata Careen yang terus ke depan. Teni turut diam menunggui.
"Ini?"
Teni menggelangkan kepalanya lagi.
Gwwitt! Bayangan grafik berganti jadi gadis kepala Badak, hidung si mahluk runcing, dahi sang mutan bermata mirip dajjal.
Teni langsung tahu maksud Careen memperlihatkan para monster, dan cepat menggeleng.
Gerak kepala Teni membuat grafik langsung menyusut. Kemudian karakter baru mencuat dan mengembang sendiri dari susutnya itu, butir proyektor tersebut kini menampakkan sosok mutan jangkung.
Teni melepas dekap tangannya, bereaksi lebih atas grafik yang ada. "Iya. Dia horornya Kak."
Gwwitt..! Grafik menyusut dan butir cahaya hilang.
Careen diam masih menatap, membiarkan Teni menunggui lirikannya.
"Dia pelakunya. Ng.. tangannya panjang kek uler matok gitu. Yaa kek tadi itu sih penampakannya Kak."
"Hhh," hela Careen melepas nafas. "Kita masih gak tau, kenapa pelaku sering ngebatalin protokolnya. Nyegat kurir di tengah jalan, atau bisa jadi ada pesan lain dari tuh siswi."
"Nape kurirnya si Sarah mulu sih?"
Careen diam tak menjawab.
"Kali aja pelakunya emang gue yang dari masa depan Kak. Si Dua Puluh Empat taon."
"Kita emang lagi ada tamu. Baik atau gak, kita liat-liat dulu aja. Kayak dia nonton kita."
"Ng. Gue udah jadi bagian tim khan Kak?"
"Ya."
"Kenapa gak dibekalin aja sih?"
"Hhh.. Lo udah ngebekalin diri. Itu ada di jari lo."
Careen mendapati lawan bicaranya masih menatap. Teni kemudian senyum diseriusi Careen.
Careen beralih ke dua temannya yang sedang bekerja menggali lahat, tampak dari sini kedalaman sudah mencapai pinggang si petugas.
"Kita tunggu mereka di kemah lo."
Careen memegang pergelangan tangan Teni.
Swwuuth! Kedua gadis kembar-sedikit itu tiba-tiba melesat meninggalkan KTP, eh TKP (tempat kejadian perkara).
Beberapa menit kemudian di kemah terlihat Teni dan Careen sudah sibuk memanggang makanan bakar, dari sosis sampai otak-otak disate-kan.
Keduanya duduk mengobrol, Careen bicara dan Teni sibuk menyimak sambil membalik-balikkan panggangan, dan sudah mengenakan sweater.
Careen masih membicarakan orang yang mereka sebut tamu.
". . ril atau mimpi, gue pikir persimpangan lebih nyata dari keduanya. Ada atau gak, yang nyata bukan dua sisi eksis tapi padu keduanya. Gue pikir di mata tamu kita ini pun objek dia hanya bayangan. Kadang gue juga gak mampu nyegah kejahatannya sendiri. Gue gak tau lo bakal niru gue nge-remote temlen."
"Hehe. Kakak keliat pengalaman. Udah pro."
"Kami gak tau hari esok. Kita juga lagi ngupayain buatnya. Misalnya yaa.. dengan hati atau doa. Dengan lisan, dengan tangan."
"Jadi Teni Dua Puluh Empat ini masih asing gara-gara tau keberadaan kalian?"
"Kita tidak tertutup sebenarnya. Punya golongan yang dinamain tras. Mereka ini ortu, saudara, atau istri, suami, maupun anak. Di luar tras disebut natural. Lo dulu natural sebelum kematian Sahara. Will elo kedeteksi di temlen Seha, mimpi lo itu. Kami tau lewat Whois Seha. Whois kayak medsos. Tapi kemudian, Seha liat Teni yang lainnya juga. Tamu kita nih kayak gak diundang penampakannya di temlen Seha. Dari mana dia tahu Komunitaz. Indentitas kami."
"Sosok dia nih banyak atau gimana?"
"Kemungkinan masih stealth. Kita harus liat-liat dulu juga. Lewat diri lo kayak gini."
"Jangan-jangan emang gue."
"Sembilan puluh persen frekuensi lo deket sama getaran will gue. Lo gak sendirian."
"Iya juga."
Teni sudah mengamati tangan kirinya, melihat warna kukunya yang masih putih.
"Lo fokus dulu di temlen kuku."
"Kiraen cuma gue yang liat Kak. Seha bilang ini patokan biar gue gak nyasar. Takut gue takut kuku gue jadi pro sama jentikan Thanos."
Careen menaruh sosis yang sudah matang ke piring berisi sosis yang sama.
"Seha bisa nempatin lo di posisi itu, ngegantiin posisi Mae. Tapi bakal ada protokol buat inisiatif Seha. Bakal diantisipasi sama Komunitaz. Kecuali kalo Seha emang pengen lepas diri, kita hanya bisa ngiklasin kematian Mae."
"Apa ada prediksi alternya dari ke-Thanos-an gue Kak?"
"Gue pikir, mungkin tamu kita turun negasin pilihannya, bisa ngebantu bisa juga musuh. Mungkin tamu kita bakal ikut lo ngebubarin Komunitaz."
Swatchh! Swatchh!
Rambut Teni dan Careen tergerai diterpa angin yang datang. Di tengah mereka hadir Wawan dan Hadi, keduanya selesai berkerja.
"Gue rasa ini punya lo, Ten."
Teni diasongkan sebuah ponsel, barangnya yang tertinggal.
"Bau makanan bikin kerjaan gak beres kalo diulang."
"Udah beres. Ngapain?"
"Boong Rin. Belum beres."
Careen menatap lawan bicara dengan ekpresi menunggu, tidak senyum atau pun menanggap.
"Dah makan dulu aja. Gue harusnya sama mendiang di sini," kata Teni memberikan sosis-sosis matang itu pada Wawan dan Hadi yang baru duduk nimbrung.
"Eh bener lo. Hantu laen juga lagi di sini, Ten."
"Hahaa!" gelak Teni sambil mendorong lutut Careen.
Yang disadarkan menatap Teni dengan penuh tanya. Careen segera mengabaikan tawa teman-temannya, menaruh sosis-sosis tersisa yang belum dipanggang.
"Thanks ya Ten. Udah dimasakin. Kita sering banget dikasih ini sama Kerin."
"Ya. Gue juga khan Kerin."
Ketiganya lanjut mengobrol sambil menikmati makanan. Keempatnya mengerubungi panggangan kemah.
"Ini Kak."
Teni memberikan setusuk baso dan Suzanna mengambilnya. Careen kembali merapikan barisan sosis dan baso bakar, tangan satunya sudah memegang sate matang.