Teni dan Seha menggotong koper bersama-sama saat naik tangga ini. Mereka membawa barang-barang dari mobil dan dikumpulkan di hilir tangga terlebih dulu. Koper seberat ban truk tersebut barang terakhir yang diangkut naik.
Di kamar Teni, mereka sudah duduk di karpet. Keduanya merapikan kembali bongkaran koper, pakaian Seha sambil mengobrol. Di situ baru saja Teni menyimpan gelas jangkung berisi air Jeruk dingin, lalu usai minum Teni kembali mengusap-usap kaos Seha yang selesai dilipatnya.
Keduanya mengobrol, Seha duduk bersila, Teni duduk simpuh bagai dayang keraton, feminim.
"Mama ngajak gue lagi ke belakang rumah. Di sanalah taman belakang itu," Teni bangkit dengan tangan sudah menampan setumpuk baju Seha.
"Trus kerja gue ngapain di sana?"
"Mama minta gue ngurus pot yang di situ. Nyiram, mupukin sebulan sekali. Ada juga yang harus ditabur tiap harinya dan disirami."
"Lo banyak kerjaan, bukan banyak pikiran jadi kurus kek gini."
"Gue selama mos a erte tuh masih kebawa-bawa manja manggil dia Mama. Mama jadi aneh di sini, kek bukan ke anaknya. Dia gak suka panggilan gue ke dia. Mama opo Sintia, bingungin. Kerasanya tuh gak sopan banget."
"Mos ya? Mama opo Sintia."
"Nah.. yang sering gue kerjain sih ngelap pager tangga itu Sar. Awalnya capek banget kudu ngelap semua jari-jari pager. Tapi pas beres, malah nagih nyari-nyari yang belum gue lap. Tag meja, tag kursi, semua yang di ruang Pivi udah kecontreng."
Teni masukan baju Seha ke rak lemari, tempat pakaiannya sendiri, dia simpan baju Seha di sebelah tumpukan baju miliknya.
"Tiap perabot ada tagarnya?"
"Ada. Acara mos gue, emang sumbernya di paperboard yang Mama bawa-bawa itu, Sar."
"Di mana tuh paperboard sekarang, Net?"
"Janitor. Ruang sebelum dapur. Ntar aja besok kerjanya, bareng gue Sar."
"Mos a erte. Gue baru denger. Mau banget gue dimentorin lo Net."
"Jangan salah liat kalo ntar lo ke bank di jalan Chalid itu Sar."
"Eh, iya. Itu khan bank Saras-"
Teni yang baru duduk menaruh jarinya di bibir Seha, lalu meraih bra yang bertengger di kepala Seha, simpuh kembali membantu si teman mengelompokkan bawaannya.
"Di sana juga tuh Cintya opisgul paling ditakutin. Hhh-hh! Si Mama aneh juga di situ. Ngelap meja, ngepel ruang karyawan dia. Jarang ada manejer yang betah kalo udah lewat sebulan. Mama cewek aneh. Women streng. Jarang banget ada di Mun Park."
Seha memperhatikan bibir Teni. Hanya saja Teni sudah sibuk dengan underwer yang bertebaran di karpet. Dan di tengah memungut, Teni mengantungkan warna pink itu di depan wajah. Seha merebut dan membuangnya lagi dengan sembarang.
Teni senyum tanpa berani melihat si pemilik celana. Dia memungut yang terdekat, mengumpulkannya di pangkuan. Teni biarkan celana yang berada di luar jangkauannya, mulai melipat lagi.
"Mau bobo gak? Biar gue aja, Sayang," tanya Seha yang masih menatap si pemilik kamar.
"Mauu. Besok khan tanggal pe-em es gue."
"Gue udah masuk. Makanya nyerang lo terus."
Teni menggiring rambutnya di saat wajah masih menunduk. Dia pura-pura sibuk melipat, satu warna kuku tangannya terlihat masih hitam. Teni baru tergelak ketika Seha mendorong dadanya hingga tubuhnya rebah.
"Ahahaa!"
"Bobo dulu. Gak capek nyetir ya?"
"Apa sih liat-liat? Perkosa gue Sar," pinta Teni langsung rebah menurut. "Terbangin gue ke sorga."
"Hhh-hh!" getar Seha yang berleging pendek sudah menduduki perut Teni yang bercelana jeans.
Seha menggiring rambut untuk wajah cantik yang menungguinya, turun kepala melabuhkan ciuman. Cyap-cuup..! Cyaph!
Beberapa menit kemudian kedua sahabat sudah diam saling dempet menyamping, berpelukan di ranjang, Seha berada di belakang Teni. Mereka tidur dan sudah menanggalkan kaosnya masing-masing. Di sini Seha turut tidur memeluk Teni seperti yang dia lakukan sebelumnya, menemani.
Gludugh..! Gludugh!
Tampak dua gadis beda tahun saling mendekap di bawah downpour sebuah pemakaman.
Perlahan lingkungan sekitar mereka dirambati akar cahaya dari segala arah. Cabang garis-garis yang menyala terus menjalar menuju dua gadis. Tanah dan bangunan yang telah dilalui retakan dimensi ini kering terpecah-pecah sebagaimana retaknya keramik dalam gerak lambat.
Dari balik percabangan garis acak tersebut tampak putihnya ruang besar nan luas. Namun kedua gadis yang berpelukan di situ menjadi sumber terhisapnya pecahan-pecahan citra. Saking kuatnya menarik sekitar, ruang putih nan luas di balik retakan turut mengalir dan menyusut masuk.
Zwwtt..!
Dooing!
Dekat sebuah halte yang roboh dihantam bus, Teni mundur dan jatuh terduduk, begitu juga dengan gadis sebaya di hadapannya.
"Auuw!" Teni.
"Anj*ng!" Seha.
Keduanya terdorong bergitu saja bagai dua magnet berkutub kembar.
Di sini penampilan Seha sangat lain, memakai setelan lebih modern ketimbang Teni yang casual klasik.
Seha tampak terburu bangun dari duduknya begitu mendapati Teni.
Si irongirl menghampiri Teni membantunya berdiri.
"Siapa nih cakep banget. Eh ayo cepet.. bahaya di luaran sini tau."
"Ahh..! Bahu gue.."
Teni mengerang saat ketiaknya dicekal tangan besi itu.
"Eh sori. Maaf. Aduh, gu-gue.. gak sengaja."
Dhuaar! Duar!!
Bluaar..!
Mereka mengkerut bahu mendengar ledakan jauh maupun dentum terdekat. Teni juga mendapati sekelilingnya berantakan, banyak kendaraan rusak dan rumah-rumah yang roboh.
"Hei, bo-boleh gue liat tangannya?"
Teni segera asongkan kedua tangannya pada sang robot, sementara mata masih memperhatikan sekitar.
Irongirl meraih tangan kiri Teni dan menaruhnya di telapak.
Indentifikasi, memindai (suara sebuah alat)
Teni abai saat punggung tangannya diusap-usap, ada banyak lampu-lampu yang terapung di situ, walau redup cahayanya cukup menerangi kegelapan yang ada.
"Kenapa lo suka liat tangan dulu sih?"
Teni Sarasvati, dua ribu dua puluh tiga (suara sebuah alat)
"Aauw!" Teni hendak menoleh ke lawan bicara, namun badannya langsung di-ais, diangkat Irongirl yang segera bergerak melayang.
"Hei lepasin. Huaa! Lepasin baju aja, Sayaaang!"
Sebuah roket yang kekurangan pendorong, baru padam apinya, mendarat ke halte. Wu.. iiing!
DUAARH!
Buncah api menerangi sekitarnya, menampakan kota yang telah hancur. Di TKP, malam ini memang di situ ledakan besar terjadi.
"Aa.. aaarh!" jerit Teni di udara ini, dalam pangkuan gadis yang sedang terbang mengebut.
Di kejauhan, arah depan, suatu lapisan terbuka bagai kertas bolong yang tengah dilahap api.
Kabar, ancaman mendekat (suara sebuah alat)
"Musuh sialan. Ngejar mulu. Ngiri, gue dapet hantu cakep?"
"Ha, gue hantu?"
Perhatian, ancaman mendekat (suara perempuan lagi)
"Diri lo nitip ini ke gue. Tempatin ke d**a. Amanin jantung lo. Lo harus sembunyi. Balik ke tahun lo, Net."
Lapisan berhenti melebar.
Tepat di depan lawang yang terbuka ini, kedua gadis sudah sama-sama melayang, namun hanya Teni yang dikurung gelembung transparan.
"Ta-tapi.. siapa yang narik gue inii?!"
Saat itu tangan Teni baru saja digenggam Irongirl saat ponsel diberikan, lalu tangan mereka terlepas karena gelembung terus menarik Teni ke garis waktunya.
"Berhenti! Dia harus ikuut!"
Gelembung masih melaju meninggalkan gadis kuncir bersetelan Battle Angel.
Peringatan, radius aman ditembus (suara alat)
Di perjalanannya memasuki persembunyian, Teni mendapati sesuatu di bawah si teman, kelamaan makin jelas bahwa itu adalah sejaring petir, tengah melesat ke arah tujuan dan target masih berdiam diri menatap Hantu Cakep-nya.
Objek yang terdeteksi sebagai ancaman itu ternyata tak sekecil di kejauhannya, adalah jaringan yang persis percikan listrik di ukuran seluas stadion.
"Sehaaa!"
Yang diperingatkan tak juga bergerak, lalu terbatuk-batuk. "Uhuk-uhukh!"
Kontak (suara alat)
DRRGH!
Rrrth! Lapisan dimensi langsung menutup, menghalangi riak bersumber dari tubuh yang baru meledak, seakan sengaja memperlihatkan kejadian berdarah itu pada Teni.
"Hhkk.. Sayang. Huhuu.. Hikk.. huu. Kenapa kek gini terus.. hikk.."
Teph..!
Di tengah kemegahan angkasa luar, tanpa peduli pemandangan, Teni tempelkan ponsel ke d**a agak kiri, benda yang dipegangnya merespon dan memecahkan gelembung. Plup!
"Net..?"
"Hiks. A.. pa?" pelan Teni tanpa melirik.
"Hhh," hembus Seha, lalu bergeser posisi lebih rapat, menempatkan badannya ke punggung Teni, kaki dinaikkan. "."
"Hiks.."
Teni terisak sambil memegangi pelukan Seha. Tatapan mata Teni kosong walaupun mengarah ke rak buku. Tanpa sadar tangannya mengelus-elus hasta Seha. Teni melamun tak peduli pada Seha yang membetulkan posisi sambil mengendus-endus rambutnya.
"Hsh! Hssh!!"
Teni menggeserkan pundak menempatkan dirinya lebih dekat pada Seha.
"A-aakh..! Akh..!"
Tiba-tiba Seha mengencangkan belit tangannya hingga Teni mendesah terpatah-patah.
"Hhh," hela Teni tidak protes atas perlakuan yang ada serta kaki Seha masih bertengger di lututnya.
Teni tak bisa menutup mata. Belasan menit sudah terlewat, dia masih mengingat, menghubung-hubungkan, menyelami, menelusuri mimpi-mimpinya. Di belakangnya, Seha sudah pulas sebab pelukan si pacar sudah melonggar.
Punggung kuku telunjuk Teni amati. "Gimana kalo jari gue nih ilang? Apa mimpi kita masih bisa naut Sar?"
Yang ditanya diam, d**a Seha kembang kempis teratur.
"Keknya lo udah nyaman deh di realita nih."
Teni kembali memegangi tangan Seha. Tidak ada sahutan, dan siang ini sepertinya sunyi. Teni membalikkan posisi badannya hati-hati. Setelah menghadap Seha, Teni tempatkan kaki si teman ke betis bawah lututnya. Dengan pelan, Teni juga memindahkan tangan Seha ke lekukan pinggir perut agar tidak tertindih badan. Teni taruh tangan Seha yang satunya di bawah ketiak.
Di posisi menyamping, Teni memainkan rambut Seha. Bibir di wajah segar itu masih berkilau, tidak berbeda dengan wajah orang yang ada dalam mimpinya dan gadis berbadan metal itu pun memanggil dengan sebutan khasnya pada Teni.
"Jadi kek gitu ya rasanya terbang Sar? Tapi sejahat itu sih lonya, tega banget lo buang gue kek gitu. Lo lagi perang sama siapa sih, sampe nyerah kek gitu?"
Usai merapikan rambut, Teni menyentuh dan mengusap-usap bibir Seha. Teni menceritakan, membahas, balon yang terus membawanya bergerak mengembara di ruang angkasa. Dikatakannya pengalaman tersebut tak berasa alias hambar sendirian.
". . lo mau balikin gue ke mana Sar? Ngawang gak jelas kek gitu, gak ada planet, gak ada bulan, gak ada asteroid, semua bintang masih pada ja-uuh. Sekitar gue kosong banget. Kek hati nih.. yang lo diemin."
Tak ada respon dari Seha, si teman sekaligus pacar hanya diam, kecuali versi behind to scene-nya. Hhh-hh.
Teni memajukan kepala, melabuhkan mulut ke objek yang diperhatikan, mencium bibir Seha. Si teman tetap tak bergeming.
"Gue harus nyari tau fungsi lain dari kuku Thanos nih Sayang," amat Teni. "Pasti ada emejing-emejingnya. Gue yakin banget, ada pesen lainnya yang Kerin titipin ke gue."
Teni perlahan bangun. Diambilnya selimut tebal yang masih terlipat dekat bantal. Teni buka dan menggelarkannya untuk Seha yang juga bersinglet. Selesai menyelimuti si pacar, Teni mengambil kaos Seha, baju oversize itu segera dipakainya.
Teni menaruh tangan Seha di dekat perutnya, di pangkuannya saat duduk bersila ini. Teni pun segera menarik nafas sambil menutup kedua matanya, meditasi.
Saat baru mengembangkan paru-paru, alam bawah sadar Teni langsung mengambil alih pikiran. Zzwwt! Wwz-wzzt!
Kelebatan memori berseliweran. Hal ini berlangsung saat Teni hendak mengeluarkan nafas yang dihisapnya. Dan tiba-tiba kelebatan memori berhenti pada saat Teni yoga dalam tenda. Zzwwt..!
"Hhh.."
Teni baru saja melepaskan nafasnya sambil membuka mata. Teni sudah berpindah tempat dalam satu kali hirup oksigen, ke masa beberapa hari yang lalu, di pantai Koin (karena Teni pernah lempar koin di pesisir ini).
"Khan.. gue bilang," komen Teni saat mengamati pucat di kulit telunjuk serta jempolnya, kedua ujung jari masih menempel, sementara darah sedang merayapi kuku, kembali tempat 'parkir'.
Sambil memperhatikan pias kuku, Teni membangunkan Seha. Namun selimut yang Teni raba ternyata rata alias kosong, Seha tidak di situ. Teni deg-degan.
"Hh, hh.. Sarah? Hikk.. Aduh."
Teni sedikit menunduk, condong badan sambil meraba d**a kiri. Teni mendapati lawang tenda sudah terbuka tapi saat dia hendak bangun, detak itu terjadi. Pakaian Teni tidak gombrang, mengenakan baju yang sama saat dia pergi ke sini.
"Aah.."
Teni menyeka matanya yang basah sendiri. Dia bangun dari bersilanya sambil memegangi d**a, beranjak mencari tahu keadaan di luar tenda karena siapa tahu ada sesuatu. Teni bergerak merunduk sambil berseru.
"Sayaang!"
Lesehan dan piring-piring bekas acara mereka berdua masih ada berserta pemanggang. Teni lalu melangkah ke belakang mobilnya, dia bingung tak ada jejak kaki yang baru. Dia hanya mendapati bekas kaki Seha yang terakhir datang menyeret kayu-kayu.
"Saraaah! Hiks. Plis.. Sarah. Uhuuh.."
Teni periksa sekitar kemahnya, berkeliling menyusur mobil dan dia tidak mendapati apapun yang sembunyi. Tak ada jejak kaki yang pergi meninggalkan kemah. Teni dapati juga arah laut, tak ada siapapun selain dirinya, ombak tidak berhenti mendesir.
Teni bergerak lagi ke kanan ke kemah.
"Saraaah..!"
Di arah Seha pergi mencari kayu ini, akhirnya Teni putuskan mencarinya lebih jauh. Teni tidak membawa senter sama sekali, terus berlari dengan harap-harap cemas.
"Saraaah! Hiks.. huhuu."
Jejak yang Teni ikuti berakhir setelah di berlari sekitar tiga menit. Dia sampai di bibir hutan dan mengamati sekelilingnya. Teni dapati masih tak ada gangguan mahluk halus, hanya serangga malam yang ada.
Teni berjalan menyisir tepi hutan yang mana ada jejak kaki. Seha mencari kayu di kejauhan kemah, dan Teni baru tahu lokasi ini cukup gelap.
"Saraah! Gue lupa bawa lampu. Hikks. Saraah.. lo di manaa?"
Jejak Seha masuk ke tanah kering, hutan dan Teni kebingungan di tempatnya berdiri. Area ini banyak pohon Mangrove dan Kelapa. Beberapa pohon berpisah tumbuh agak dekat di pantai. Kegelapan lokasi membuat Teni kesulitan mencari si teman.
"Hiks.."
Teni mengawasi sekitar dengan kesedihan yang sama saat dia dibully dengan body shaming. Dia yang SMA ini memang tak banyak menangis, namun kegelisahannya sama dengan rasa bingungnya saat kehilangan Seha.
"Uhuh.. huuu.."
Teni menyeka kembali ke dua matanya yang basah. Deru tangis yang tak mungkin bisa dia tahan di tengah mencari. Teni terisak-isak kemudian tanpa lengah mengawasi sekelilingnya.
Srrkhh..! Brugh-brugh..!
Ketika menghadap pantai agak jauh di kiri Teni melihat beberapa buah Kelapa jatuh. Pohon tersebut patah sesuatu menabraknya. Teni dapati seseorang terngkurap di bawah pohon yang bungkuk itu.
Kkrrrkk.. kkrtt! Brugh!
Pohon tersebut roboh. Teni yang mengamati di kejauhan ini segera bergerak cepat menuju TKP. Si gadis berlari sambil memanggil nama si teman. "Saraah!"
Seorang yang tengkurap di bawah patahan pohon ini bangkit, menyingkirkan benda yang menindihnya. Gelap di situ. Namun rambut panjang dan bagian dadanya mencirikan bahwa di perempuan. Dia memakai rok, mulai berjalan sambil memegang pinggul, terpincang menyeret kaki satunya yang hanya bisa menopang.
"Sehaa! Saraaah!" panggil Teni lagi, dia bergerak menyamping dari pohon Kelapa yang menghalang jalan.
Di perjalanan tersebut Teni langsung mengenal remaja yang terluka itu.
Teni sama sekali tak mengurangi kecepatan larinya. Pohon yang roboh itu membantu navigasi kedua kakinya, tetap berlari ke arah tujuan.
Suatu kelebat menyeruak hutan. Mahluk misterius mendapati pohon roboh kosong, tak mendapati tubuh lawannya. Dan saat memeriksa sekitar, sang lawan ternyata belum jauh.
Gadis berlumuran darah itu terus melangkah menuju orang yang memanggil-manggilnya. Dia tak menyadari ada lengan metal yang berubah runcing sedang terbidik ke arahnya di belakang, di tempat yang baru ditinggalkannya.
Sosok creature ini pun berambut panjang dan berbuah d**a. Namun wajah si jangkung ini sudah tak beraturan kulitnya sehingga sulit dikenali. Dia ternyata sedang memburu siswi yang terluka itu. Tangannya yang sudah terpasang senjata tajam, bentukan dari daging, melesat begitu saja. Swwuuth!
GUCRAKH!
Sang creature menarik kembali rantai yang ditembakkan, ujungnya yang runcing berhasil menembus tulang rusuk sasaran melalui punggung korban. Set!
Setelah mencabut senjata, si mahluk jangkung menekuk kaki dan meloncat terbang vertikal. Whhs!
"Kyaaa!" jerit Teni di tempatnya berhenti lari. "Kyaaarrh..! Huahaa.. Kyaaa!"
Teni menjerit-jerit berharap ada orang lain mendengar di kejauhan. 5 meter di depannya tampak gadis terbalut seragam sekolah sudah ambruk tersungkur.
"Kyaaarrh!" jerit Teni di desible maksimalnya, menangis-nangis.
Lokasi cukup jauh dari kemah, bahkan di tempat ini tak bisa dicapai oleh deruan ombak pantai. Sunyinya dirobek oleh jeritan si gadis, dan jenazah di depan tak juga bergerak, punggungnya sudah berlubang.
Kesunyian meliputi Teni dan sang siswi malang. Teni terduduk kelelahan sambil terus mengisak-isak dalam tangisnya. "Hikks.. Hkk..!"
Teni teringat masa SD, di mana dia terus tersenguk-senguk di bangku kelas melihat dua orang berseragam rumah sakit mengangkut Sahara.
"Hikk.. Hiks."
Dengan sisa tenaga, Teni berdiri dari duduknya. Dia kembali menggerakkan lutut yang sempat bergetar menjatuhkannya. Teni hampiri mayat naas yang masih diam tergolek sambil itu murid lain dari sekolahnya.
Bregh..! Teni jatuh lagi, pikiran dan hatinya membebani langkah. Namun Teni sudah dapat mengangkat tubuh yang dihampirinya, membalikkan.
Teni dapati wajah yang sangat dikenal, korban ternyata memang Seha dan dia telah menutup mata dengan wajah dan bibir berlumur pasir. Teni tak bersuara dalam tangisnya, di sudah tercekat saat tahu siswi tersebut Maesaroh.
Teni mengeratkan pelukannya dalam airmata yang tak bisa dibendung.
Tampak di situ tergeletak sebuah ponsel.