Bab 5

2988 Words
Tengah malam ini aktivitas di jalan Batavia sedikit, ada satu-dua orang saja, yaitu pemulung bergerobak, kendaraan pun lewat sesekali, sangat sepi. Warteg seha pun sudah tutup seperti toko-toko yang ada di sepanjang jalan ini. Mobil Teni terparkir di halaman bengkel tetangga Sabeni bersama tiga kendaraan lainnya di area yang dipagari rantai. Di kamar Seha, dua matras dari ranjang laci itu kini tergelar sama rata, sudah terpisah dari risbang kayunya yang disandarkan ke dinding, di dekat pintu. Teni mengenakan piyama panjang, Seha memakai piyama pendek. Mereka tengkurap bersebelahan memanteng ponsel, tampak pada layar seraut wajah Teni usia 24 tahun, penampakannya di perpustakaan sekolah dan mengenakan sorban. Seha tengah menceritakan kejadian di perpus itu pada Teni. "Mae jawab kalo lo di sini. Masih gabut-gabut ditinggal pergi Old Sarah." "Hiks.. Napa lo ke sini? Ketauan orang ntar. Mampus gue. Hiks, hiks.." "Gue sekalian nengokin dia nih. Beneran, lo gak napa-napa?" "Gue bilang gak papa. Hiks." "Ah tai." "Iya, ih.. Lagi pengen sendiri aja. Hiks." "Fake!" "Lha, nyambung." Gadis bersetelan ala rebels Point Blank ini panik, kemudian mengedip-ngedip matanya 10 kali per detik, tubuhnya perlahan tembus pandang, menghilang. Tampak di belakangnya Teni sedang mengintip, mengamati Seha di balik sela-sela buku. Teni dan Seha sudah meniduri satu bantal bersama. "Gue gak tau dia pergi ke mana. Masih orang asing di Komunitaz. Mbak Kerin sendiri masih nyari tau tujuan dia nengok lo." "Kali aja itu gue dari masa depan Sar." "Keselamatan lo lebih penting. Ada banyak versi gue. Rawan buat lo kalo salah ngenal mahluk di Fanaverse." "Fanaverse? Alam kegelapan? Dark Nature?" "Iya. Kurang lebih. Fokus ke realita sekarang aja dulu, Sayang. Kestabilan mental, bikin tim Careen gampang nemu ruangan lo, bodi astral lo. Ntar kalo udah jadi astraler kek dia tuh, lo bakal mudah paham masalah gue, Net. Masalah yang juga suka dialemin lusid laennya." "Gue juga lagi banyak delusi deh keknya. Gak bisa bedain mimpi sama kenyataan." "Hhh-hh! Lo lucu banget sih ngomongnya. Aku pa-" Teni menempatkan mulutnya ke bibir yang diperhatikan, melabuhkan ciuman. Seha memejamkan mata menyambut Teni, menikmati bibir lembut itu, balas mengecupinya. Cyapph..! Cyuup-caap! "Nhh..!" Teni memegang tangan Seha, merapatkan kedua kaki atas kenakalan yang ada. Teni biarkan, tidak menariknya. Teni hanya menggeser lebih dekat sambil menaikkan kaki. Usai melampiasi Seha, Teni berhenti mengulum, menempatkan belaian ke balik kain. Lalu Teni menatap dan membiarkan kegiatan Seha sambil menggiring-giring rambut sahabatnya itu. Teni bereskan hingga helai-helai tipis, dan Seha mendapati rona pipi Teni sedikit merah tersipu. "Sumpah Yang, delusi tau.. Bawaan kek baru liat lo, Sar." "Tuh kata gue, Ineet. Love you." "Lop yutu. Sakau pengen terus sama lo." Namun bola mata itu terangkat, Teni menahan usapan Seha sedari tadi, namun tak bisa lebih lama, Seha yang gerak bahunya berirama, tak berhenti memberi elusan. "Mhh. Lupa.." Setelah bagian tersentuh, Teni kembali menatap Seha dan sudah merapatkan kedua bibir, tak bisa fokus untuk mengobrol lagi. Teni hanya diam menyentuh wajah Seha, mengamatinya. "Samaan," ucap Seha fokusnya mengarah pada bibir Teni. "Gue juga.." Dagu Teni pelan bergerak, membiarkan dirinya dalam kendali si pemilik kamar. Teni terbawa belaian yang berlangsung, sedikit memajukan badannya. Teni yang abai pada warna pipinya kian mengatup bibir, lagi-lagi terdongak lemah mengantuk. "Mh." Tak ada gerakan terburu selain yang Seha langsungkan, irama itu. Seha mengulang acara mereka saat tempo hari di dalam tenda. "Mau minta, udah keduluan," reaksi Teni, seolah Seha tahu perlakuan seperti apa yang Teni senangi, selain dihalusi, Teni meninggikan rasanya sendiri. Reaksinya sekarang tak jauh beda dengan ekpresi Teni di pantai waktu itu. Dalam pejam mata Teni mendesah, tubuh mengikuti setelahnya, sedikit bergetar. Seha mengambil kesempatan yang ada saat bibir yang ditunggui terbuka, melumatnya. Cyapph! Cupp-chaap! Selesai melepas Teni, Seha biarkan sahabatnya tergolek lemas badan di situ. Lebih gilanya, Seha membersihkan telapak tangan, menjilati basah yang didapatnya. Seha mengemuti jarinya sendiri. Sllrpp-sllpp! Kemudian mencium pipi Teni. Cup..! "Hh, hh, hhh. Gue bobo.. dulu ya, Sayang?" "Ya udah, Net. Sini gue temenin," pelan Seha. Saat Seha melingkarkan tangan, Teni mengikut arahnya, bergerak membelakangi Seha yang memeluknya, memberikan tubuhnya. "Met bobo, Sayang." Teni sudah sangat berat mata, hanya memegang pelukan Seha. Gadis ini sukses dininabobokan Seha. Seha turut menutup mata untuk mulai tidur, tanpa lama keduanya sudah di frekuensi REM. Terlihat di ruangan temaram ini sekoper barang siap angkut. Seha juga mengosongkan rak dandan, tidak ada lagi peralatan make up dan botol, wadah, kemasan, perawatan wajah di tempat tersebut. Ruang hanya diterangi cahaya lantai, kemudian sedikit meredup, pelan hingga gelapnya, seperti tertidur. Beberapa jam beranjak, jalan aspal di depan warteg dan sekitarnya sepi dingin. Pertokoan milik kota kecil ini sunyi, pagi buta yang mengembun. Tidak ada aktivitas selain hama selokan, satu ekor Tikus lainnya menyeberang menuju tumpukan sampah yang menimbun tong-nya. Kembali ke warteg, di mana Teni menginap. Entah sejak menit ke berapa, Teni sudah duduk bersila dalam pejam matanya, sedangkan si pemilik kamar masih tidur merangkul perut Teni. Gadis ini meditasi seperti yang pernah dilakukannya saat kemah, ritual bangun tidur. Teni sudah tak mempedulikan cahaya lantai yang menyala otomatis sebangun dari lelapnya, tetap yoga dalam jadwalnya tersebut. Selain wajah, kulit tubuh, Teni melakukan perawatan juga untuk paru-parunya. "Seha pamit Beh." "Iye. Jangan kasar-kasar lu." "Hehe. Duit Beh. Bawel pade sih, ihh." "Kaga ade pesiunnye." Sehabis menyalami Sabeni, juga Safitri yang sibuk kembali menurunkan belanjaan di kantong motor, Seha ngacir memutari mobil. Teni sudah duduk di kursi sopir, memijat klakson untuk Safitri. Tin! "Nyak! Teni berangkat..!" "Eh iye." "Beh, Teni pergi ya?" "Iye. Ati-ati pade, umur gak ade yang tau." "Oke. Jagain Enyak juga ya, Beh. Hehe." Whhss! Half-truck sudah meluncur di jalanan pagi, sama cepatnya dengan mobil lain yang searah karena arus masih lapang, langit sedikit benderang. Teni mengangkut koper dan tas gendongnya, mereka menaruhnya di kursi belakang karena bak truk sedang ditutupi parasut anti debu jalanan. Teni sudah meninggalkan jalan Batavia, mobil yang dikemudikan pun kini berhenti lagi di perempatan kedua, lampu merah Hassanudin. Jumlah kendaraan di situ tujuh unit. "Minggu malah kosong kita. Mau ke si Mama dulu gak Sar?" tanya Teni. Seha masih menyambungkan kabel ponsel ke Player dashboard. "Rumah aja." "Idham Chalid nih arah ke Mun Park," beritahu Teni mengamati simpang kiri arah Seha berada, matanya lalu mengarah pada leging pendek Seha, si kaos gombrang. "Dua jam. Kalo lewat depan, yang masuk ke Djuanda, kita harus muter dulu balik ke sini lagi." Karena Seha masih cuek, Teni menyentuh pemandangannya. "Hei. Lo dandan dulu ya, abis kita nyabu tadi?" "Hm?" Seha membiarkan Teni memijat-mijat pahanya. "Ketemu belum? Kalo gak ada lagu itu, lo tengadah aja Sar. Aah.. Gitu loh." "Hhh-hh! Apa siiih.." kata gadis berlipstik shine ini, warna kilau itu yang terus Teni perhatikan hingga berisyarat dengan pijatan dekat lutut pemiliknya. Keduanya lalu saling memajukan kepala, kiss morning. Cyapph-cuup..! Pengatur arus berubah hijau, Teni melirik spion sambil melajukan Navara dengan mulut sedang mengecap-ngecap. Mereka meluncur lagi menembus persimpangan diikuti kendaraan lain. Seha menaruh ponsel ke dashboard, benda mungil yang selesai diuliknya tersebut memutarkan lagu, folder musik di kartu memori. Cin.. ta-aa.. Apakah itu cinta, aa-aa.. aaa "Euu!" sendawa Teni. "Lo suka lagu gue? Ngenyangin juga tuh bubur. Masa sih namanya bubur goip? Pantesan lo jarang ngantin. Gak pernah keliatan di sana. Euu!" "Hhh-hh! Lagu elo pada sedih gini, Net. Ampun dah. Lagu budir apa ya?" "Temen tau. Ngejogrok di kamar, kebayang dong? Betapa sepinya jones lo nih." "Hhh-hh. Sayang, aku padamu ih." "Kamu aku?" "Love you." Bertanya aa-aa.. aaa tanpa sengaja Cinta.. berkorban jiwa.. Indah.. ha-haa harum bermakna Hee.. he he-eee Haa.. ha ha-aaa Mmm.. hm-mm.. mmm Ouu.. oh, itukah cinta? Cinta, oh cinta suci.. i-ii Jangan.. laah Engkau nodai Merintih.. i-ii diri sendiri Menangis.. i-iis di ruang sunyi Perasaan yang tanpa kabaar.. aar Takkan tahu kapan dia dataang.. aang Mulianya hati jernihkan pikiraan.. aan Siapkan iman kepada Tuhaan.. haan Bila kau rindu pikiranmu terganggu Bila kau dapat siaplah 'tuk berkorban Cinta yang suci dunia 'kan abadi Bila terkhiii.. anat ingatlah diri.. i-ii Cinta yang suci dunia 'kan abadi Bila terkhia.. naat.. ingatlah diri.. i-ii.. Cinta, oh cinta suci Janganlah engkau nodai.. Kedua gadis menikmati lagu yang mengalun, dalam perjalanannya menuju Rolland Citra di jalan Hasanudin II ini. Masing-masing duduk dan sesekali saling melirik. Seha dan Teni berseri-seri. Tidak di trotoar jalan sekolah, di mobil pun mereka berpegangan tangan. Perjalanan memakan waktu 45 menit. Lagu-lagu yang ada masih berputar di Player dashboard. Seha menikmatinya seperti tengah menyimak curhat Teni karena koleksi lagu seseorang kadang mewakili mood bersangkutan. Satu dari beberapa musik, terdengar sama di telinga Seha, yaitu satu nyanyian hati yang tengah mengalun langsung Seha sebutkan judulnya. "Eh nih Bet Layer?" "Yep," jawab Teni sambil mengikuti lirik yang ada. So look me in the eyes Tell me what you see Perfect paradise Tearing at the seams I wish I could escape I don't wanna fake it Wish I could erase it Make your heart believe But I'm a bad liar, bad liar Now you know Now you know That I'm a bad liar, bad liar Now you know, you're free to go Drrd! Drr.. rrrd! Ponsel terseret-seret, mendadak berdering menutupi suara musik dan berganti nada Class Dismissed, bel stasiun. Ting tang ting tlung..! "Angkat Sayang. Speakernya aktifin aja," pinta Teni. "F*ck. Ganggu aja." Seha menurut dan mengambil gawai yang masih bergetar-getar. Nama penelpon tampak di layar. Ting tang ting tlung..! "Bang Ucup Net," kata Seha membaca nama. "Iya Bang?" "Bos? Hei, Sarah. Kalian masih di jalan?" "Yep. Nitip? Ada apa Bang?" "Iya nitip. Kalian udah lewat Gedemart belum? Kalo belum tolong kopi biasa. Si bos tau kok merknya. Sama rokok sekalian dah. Biar gue melek." "Alternatif, Cup? Apaan?" tanya Teni. "Kopi Ganteng aja, kalo gak ada itu. Sajen gue udah abis Bos, lembur seharian. Lo khan di luar." "Iya, iya. Elonya males banget masak, salah sendiri." Tu-uuut! Sambungan langsung diputus. Yusuf juga males didebat Teni, majikan yang hobi memojokkan. "Hhh-hh! Ditutup anjir. Teraniaya. Lo galak abis kalo disuruh balik nurutin kebutuhan orang." "Udah gue bilang. Dia tuh cemen kalo kena musibah." "Hhh-hh! Cewek-cewek suka benar ye." "Setuju Beb," tanggap Teni, santai dan tenang menyetir. Lagu kembali terdengar saat telepon dimatikan, Seha menggeletakkannya lagi di tempat semula. Wajah Seha tersisa riang atas topik sajen dan masak-memasak barusan. Dia mendapati Teni sibuk menyetir, fokus ke jalanan. "Emang ada ya merk Ganteng, Net?" "Bukan merk sih. Kalo gak ada yang sasetan, kopi kaleng alternatifnya. Ganteng di sini maksudnya gantinya rentengan. Kopi dingin itu." "Oh. Hhh-hh! Planet Bumi gini amat. Gak di kelas lo, orang rumah juga radius freak Inet. Seru banget anjir." "Nah mau nyampe nih kita Say. Namanya Gedemart, tapi apa coba?" "Hhh-hh! Apa tuh..? Taunya tambal ban?" "Iya. Jual karet gelang. Napa gak Tugumart, Toserba Panjang, apa ke." "Hhh-hh! Eh udah anjir. Hhh-hh! Hk, Hhk.." Teni menyalakan sen mobil, matanya pun segera mengawas jalan. Seha sendiri sudah mendapati plang minimarket itu. Spion kanan yang diaktifkan Teni membuat mobil di belakang mereka mengantri karena lawan arus masih sibuk. Teni dapati lewat spion ada tiga kendaraan turut berhenti dan menunggunya menyeberang. Whhss! Bunyi mobil lewat di kanan jalur, mobil terakhir yang dinantikan, maka Teni pun melajukan roda lewat pedal gas mesin Navara, menyeberang masuk ke halaman parkir. Di depan Gedemart, Seha yang ternyata turun dari duduknya. Mereka sempat mengobrol sebentar tentang belanjaan. Blugh! Bunyi pintu, dan Seha segera pergi meninggalkan Teni. Teni memasukkan kembali dompetnya ke tas sekolah, duduk menyamping badan. "Ya nitip, ya protes tiap gajian. Ucup kampret." Kwwett! Suara resleting tas, Teni kembali duduk menghadap ke depan mendapati Seha baru membuka pintu toko. "Hhh.. Cantik banget sih lo. Sekali ngeliat dah bisa niru riasan gue. Sllrrp..!" Teni menyandarkan tubuhnya. "Hhh. Andai gak lagi nyetir.." Teni mengangkat sedikit dadanya dengan mata mengatup. Dia tampak mendehem. Teni seperti sedang lemas kelelahan. Namun dari monolognya, Teni terdengar menyesal, galau buta memikirkan Seha. Teni berubah mood, dari lemas mendadak berkerut kening, teringat obrolannya dengan Careen. Teni lebih fokus pada jemari Careen, lalu tangan Seha, para ajaib itu menggelitik pikirannya lagi. "Remot? Fuck.. Gimana kalo bekas gali upil coba?" Teni mengamati jari-jari kedua tangannya bergantian, bukan sedang memperhatikan garis telapak. Teni memejamkan matanya, mengingat gerak, arah, dan ibu jari Careen, aksi menghitung-hitung jari pun terbayang. Teni mengeja apa yang diingatnya, sekaligus meniru dan mempraktekkan aksi Careen. Jempol dan telunjuk kiri Teni disatukan ujungnya, isyarat oke, lalu jempol kanan menyentuh-nyentuh ujung jari lain. "Kelingking, telunjuk, telunjuk, tengah.. manis.. manis.. teng-" Taks! "A.. akh! Aah!" Dua jari kiri Teni bergerak sendiri, jempol dan telunjuk kiri tampak sisa gerak menjentik bersamaan bunyi patah. Teni cepat mengibas-ngibaskan tangannya yang langsung bunyi itu, seperti orang yang terjepit jarinya. "Anyink..! Ssssh." Teni meniup-meniup dan sibuk mengepal-ngepalkan tangan kirinya tersebut. Teni berhenti mendapati kulit telunjuknya, urat-urat jari tampak hitam seperti sedang mengeluarkan tintanya ke permukaan kulit. ". . ??!" Teni membalikkan tangan, lalu tangan satunya. Dia tidak mengerang-erang lagi, namun masih dag-dig-dug kembang kempis d**a. Kuku telunjuk hitam, yang kanan normal, dan Teni masih membalik-balik kedua tangan, mengamati bergantian mengawasi perubahan lanjutan. Teni amati tak ada aktivitas asing lagi pada tubuh, khususnya tangan. Warna hitam hasil 'undangan' itu hanya ada pada kuku telunjuk, warna urat sudah normal kehijauan. "Hh, hh, hh.. Fuck." Teni mengatur nafas, menenangkan jantungnya. Tak lama kepanikan pun memudar sirna, Teni amati kukunya sekaligus diusap-usap dengan jempol kiri, jaringan tanduk tersebut tetap hitam bawaan, bukan cat karena saat dikerok kuku lain tak ada lapis kering yang terkelupas. Di kursinya Teni duduk lebih lemas, sudah abai dengan vantablack dalam kukunya. . . Kesadaran lo emang lagi di sana.. na naa naa Teni terngiang-ngiang kalimat Careen. Bukan nomer. Lo minta bukti.. ti tii tiii . . Semudah kita nulis, bikin novel.. vel veel veeel Gue sama tim masih nyari badan lo di Panti ti tii tiii, sarang kami.. mi mii miii Walau tidak ada yang dirasa, Teni melihat jarinya lagi. Teni mendapati kondisi yang sama, lalu mengikuti bawah sadar, menjentikkan jari. Clekh.. Teni mengulang aksi dengan apa adanya, lemas dan tidak terjadi hujan duit. Clekh..! Jentikan kemudian Teni perkuat. Clekh..!! "Heu.. udah Ten. Udah, udah. Kedampar beneran ntar minta pulang. Hhh-hh! Fuck.." Teni bicara sendiri, menertawakan pikirannya sendiri. Mata Teni menangkap Seha, segera dia bereskan rambutnya yang masih rapi, mengaca sambil membiarkan Seha mendorong pintu market di luar sana. Teni juga menggigit bibir atas bawah bergantian. "Jelek banget sih gue.." ucap Teni mengamati spion tengah. Seha menenteng sekantong belanjaan dan sesampainya di samping mobil langsung membuka pintu. "Ada semua? Aer kumuran gue mau abis." "Komplit Net. Lo yakin gak jajan camilan?" tanya Seha sambil naik untuk duduk. "Biasanya sih, tapi emang lagi emoh deh, Say. Liatnya ke sini Sayang," tatap Teni tak berpaling sejak Seha masuk. Blugh! Seha senyum sambil menarik pintu mobil, kemudian mencondongkan badannya pada Teni dalam merah rona pipi. Cyapph..! Cuup-cyyaap! Teni memutar anak kunci sambil mengenyam dan menjilati bibirnya. Seha tersenyum tampak seperti jahil melihat sahabatnya. Teni abai dan menarik tuas mundur, menoleh ke belakang lalu fokus ke spion tengah. Navara mundur diteriaki pluit tukang parkir penjajah, ke mana tadi waktu mobil datang? Akhirnya walaupun jalanan sedang kosong arus, Teni membayar pajak selesai memposisikan mobil ke arah tujuan. "Terimakasih. Hati-hati yaa." Teni hanya senyum mengacungkan jempol ke si pemuda wasit, lalu menyeberangkan mobil ke tempat arusnya, membiarkan kaca jendela naik sendiri. Dalam duduknya, Seha memisahkan barang belanjaan, yakni plastik yang lebih kecil berisi botol air mint. Obat mint tersebut Seha masukkan ke dalam tas sekolah, duduk menyamping. Kweet! Bunyi tarikan. Seha lalu menaruh kantong cap Gedemart di jok belakang dekat koper bawaannya. "Sar." "Ya?" Seha beranjak duduk karena memang sudah selesai. Dia merapikan rambutnya yang tergerai sewaktu sibuk. Teni mengasongkan tangannya sambil memperhatikan jalanan. "Ada yang aneh gak sih?" Seha menggiring rambut, tangan satunya sudah memegang jemari Teni, mengamati kuku sang pacar. "Hei kapan dia ngasihnya?" "Dia?" "Kerin. Vampir kita itu, Beb." "Gak. Gue niru-niru Kerin ngitung jarinya itu Sar. Trus tiba-tiba, tangan sebelah nih pegel, kesemutan, kejepret, kram, panas juga, urat mampat, kebas.." Seha antusias menatap Teni. Yang dipegangi diam tak meneruskan cerita. Seha mengemut ibu jari. Teni membiarkan tingkah pasien rehabilitas menikmati tangannya. Teni juga sesekali mengawas arah belakang lewat spion memastikan tak ada tsunami. Sedikitpun Teni tak berani mengganggu acara Seha si halu yang mungkin sengaja menunggu topik transgender. "Humh.." halu Seha. "Apa Sayang? Tanda apa nih, lo liat khan kuku gue item?" "Emhh!" gemas Seha pada jari tangan Teni, mengecupnya. "Si mbak gak ngasih tau?" "Nggak. Dia pengawas lo katanya." "Valid, Sayang. Ini tuh tanda buat bantu lo. Buat patokan aja sih maksudnya. Gghh!" Seha si pasien-rehab kembali gemas menggigit jempol Teni, korban melenguh dan mengabaikan sakitnya. "Nhh. Gak ngeganggu sama kesehatan gue khan? Ato patokan kek gimana sih?" "Kalo lo ngerasa lingkungan ngedadak aneh, liat kuku lo nih Net, lagi item ato putih. Kalo putih, Ghh! Berarti bener lo lagi gentayangan, Sayang. Tapi pas gue gigit kek gini sampe putus? Gue masuk penjara, Say." "Oh." "Ada lagi gak? Tunjukin pintu hatimu dong Net. Aku pengen masuk." "Apa siih..? Hhh-hh! Lo bukan produk di peti kemas, Sayang." Seha membersihkan jari Teni dengan kaosnya, lalu menggiring rambut. Seha kini benar-benar memperhatikan warna di telunjuk Teni, memicingkan mata. "Ce, a, er, en," eja Seha, sok khusyuk melihat kuku Teni. Teni tetap menunggu sambil terus menyetir dan mengawas jalanan. Seha tampaknya serius mengeja sesuatu yang didapatinya. Teni merasa lebih tenang. Rolland Citra. Begitulah yang terbaca di landmark kompleks. Gerbang utama kawasan memiliki jalan aspal dua arus yang masing-masing cukup lega. Tidak ada pos penjagaan, Teni memutar steer mobil untuk menikung masuk kawasan. Dia tak mempedulikan suasana pagi di area entrance ini yang menampakkan orang-orang sedang rehat dari joging. "Rame juga nih hari minggu." "Orang bukan blok gue, Sar. Emang di sini sih pujasera Lencit. Open seharian." "Oh." Sepuluh menit kemudian, dari portal depan keduanya sampai ke pos blok yang sedang dijaga. Teni menekan klakson pada satpam yang tengah menunggui palang, setelah Navara masuk palang pun ditekan turun. Dua menit dari pos blok, barulah mereka sampai. Yusuf sibuk mendorong pagar gerbang. Dia berpakaian dinas seperti seragam biru yang dikenakan satpam pos blok. Teni melajukan half-trucknya lagi untuk masuk halaman rumah, Seha memberikan sekantong belanjaan pada Yusuf. "Keren bajunya, Bang." "Apa nih? Pantesan berat, ada sarapan," amat Yusuf ke bungkusan yang baru diterimanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD