"Sahaa..! Kamu di mana?"
Teni memeriksa, mendorong pintu yang tak dikunci, dia dapati toilet murid itu kosong. Teni makin sedih dan bingung karena merasa sendirian. "Geng cowok itu bilang gendut lagi ke aku. Huhuu.. hu."
Teni-kecil tiba di taman, seorang anak sudah tergolek nungkup wajah dekat kolam.
Si bocah gemuk yang mencari temannya cepat berlari gemplak-gempluk gemoy ke kolam taman. Setibanya Teni-kecil terkejut karena yang teman yang dicarinya telah pingsan muntah darah hingga terbekas di baju seragam.
Si anak sakit sudah berbaring di UKS yang kemudian ruangan di masuki pria berdasi. Wanita yang menungguinya langsung memeluk sang suami dalam tangis. Di kelas, Teni-kecil yang kontak langsung dengan TKP kini duduk sendiri di kelas tanpa peduli darah di bajunya. Dia biarkan beberapa orang sibuk membawa sahabatnya yang diangkut melewati teras kelas.
"Hikk.. Hik!"
Teman-teman sekelas dan guru melihat hingga keluar ruang, mereka dalam tegang sebab mendapati karyawan rumah sakit turun tangan. Hanya Teni yang duduk dan terus tersenguk-senguk di bangkunya.
"Hiks, huks.. Hikk.."
Beberapa hari, minggu, bulan kemudian Teni-kecil duduk bersama Cintya membaca kartu undangan ikon lilin. Entah lilin apa, keduanya tidak datang ke ruang remang untuk melihat meja baskom nenek peramal, melainkan datang ke taman berkolam renang lebar, hadir dalam pesta kecil keluarga Sahara dan si teman meniup lilin di kursi rodanya.
Di acara santai..
"Katanya kamu pernah latihan lari. Udah boleh jalan ya?"
"Aku bisa. Oh iya. Mereka masih ganggu kamu nggak?" tanya Sahara yang bangkit dari kursinya dibantu Teni, juga diawasi Cintya dan wanita yang di UKS sekolah di mana tengah sibuk mengobrol.
"Aku punya sopir sekarang," beritahu Teni, mungkin lebih tepat bodiguard.
"Aku pengen gendut seperti kamu. Tapi gak semua makanan dibolehin Mama, Ten. Aduh.. auw. Eukkh..!"
Sahara yang hendak menggunakan kruk, mendadak nyeri pernapasan, memegang dadanya. Teni-kecil panik memanggil Cintya karena Sahara yang dituntunnya tiba-tiba lemas kaki.
"Uhuk-uhukh! Fuph.. Oaargh!"
Sahara terduduk dengan bekas muntahan merahnya lagi.
Sahara sudah berada di pangkuan dan wanita itu memanggil-manggilnya namun terdengar sayup, mata Sahara kian lemah kemudian nafasnya berhenti. Sahara terkulai di pangkuan wanita yang menyayanginya.
Di lapangan dengan rumput yang hijau segar, lahan milik keluarga duka, peti kecil diturunkan. Mereka yang bersetelah hitam termasuk bocah gemuk di sebelah Cintya termenung membiarkan petugas bekerja. Upacara ini menyertakan karangan bunga dengan foto seorang anak perempuan.
Di kompleks Moon Park, beberapa bulan kemudian usai pemakaman sahabatnya, Teni merengek pada Cintya. Siang itu Cintya membawa sang anak dan menceritakan mimpi Teni pada si pembuka pintu mansion.
Siswi SD ini meniduri gundukan makam dan di kejauhan ada dua wanita yang memperhatikan kelebayan sinetron tersebut, Cintya dan teman ngobrolnya pun segera masuk rumah karena hujan sudah turun.
Gludugh..! Gludugh!
Dalam duduk tidurnya, si bocah gendut membiarkan tubuhnya tersiram. Seragam Teni-kecil telah kuyup namun sudah tak ada yang peduli dengannya.
"Hikkh, hikkh.. hiks.."
Gludugh..!
"Huhuu.. hu. Hikkh. Hikkh..!"
Bregh! Sosok yang mungkin dari langit, jongkok ketika turun mendarat. Kulit lengan kirinya tampak menyala, terpasang alat canggih. Gadis lajang ini berdiri sambil mengawas pintu rumah.
"Net, Hei. Udah sih. Ngapain?"
Teni-kecil menghentikan tangisan, seseorang menyentuh pundaknya. Dia mendapati wajah yang tak begitu asing namun sudah beda usia. Perempuan tersebut tengah menekuk lutut, tampak akrab walau dia orang asing, tanpa kata si bocah memeluknya, membuat lingkungan sekitarnya terhisap masuk ke tengah peraduan badan. Zwwtt..!
Wlugh.. Kejadian ini menyadarkan Teni saat meditasinya di dalam tenda.
Teni duduk di bangku warteg, Sepentin menyimak cerita. Lalu mereka membiarkan seorang pria berkumis turut duduk, nimbrung di meja resensi film.
"Kebangun di kamar, tapi taunya tempat lain juga bisa buat nerawang bayangan itu. Mimpi itu. Kesimpulannya, semua tempat bisa buat ritual yoga. Tapi kayaknya ada hal lain, kenapa mimpi selalu keputus di situ. Gimana buat Nyak sendiri? Udah pernah yoga belum?"
"Ya emak kayak gue paling yoga di sajadah Non."
"Oh sholat. Kalo doa, ritualnya beda, fokus ke Pencipta. Nah yoga Teni ini fokus ke ingetan atau memori. Kayak masuk ke mimpi. Terus pas meluk orang asing itu tiba-tiba kejadian lain datang. Seolah tempat itu kesedot, bikin mimpi itu keputus. Teni gak bisa nerawang, ngeliat lebih jauh. Padahal abis beres ngelayat, Teni gak dateng lagi ke kuburan Sahara. Cuma ngimpi ke sana, terus lagi, sambil ujan-ujanan."
"Tapi Seha gak mukul elu khan Non?"
"Hhh-hh! Eng.. gaaa, Nyaak."
"Lha terus nanyain Enyak pernah acara yoga, nape?"
"Ya kali aja Enyak pernah ngalemin nait mar."
"Tanya ke Sabeni aje nih soal Yona."
"Ape sih lu? Yona, Yona."
"Jadi boleh ya, Beh? Teni mau bawa Seha buat a er-te di rumah aye. Pokoknya digaji. Slow."
"Kalo emang kaga gangguin sekolah kalian nih, kaga ape. Si Seha sekolahnye ntu dibiayain ame Engkoh Kabel. Ane dari sono abis ngomongin a er-te ini. Jadi katenye kaga ape Seha ikut Enon. Kalo biaya es pepe si Seha, katenya tetep ade di akumulasi Engkoh Kabel. Nah Seha kerja itung-itung buat jajan dianye."
"Oh Teni kira tadi Babeh mau ke pak Erte dulu. Lapor penculikan. Hehe. Di toko mane sih emang Beh, si Engkoh Kabel? Yang ruko Surya Fajar itu bukan sih?"
"Nah iye. Heuh. Maennya jauh nih si Enon. Hehe. Yang ane khawatir nih umur kalean masih panjang. Pas lagi pade ngejar cita-cita, ada orang asing nyulik."
"Iya Beh. Kami akan jaga diri kok. Kami berangkat besok pagi Beh."
"Besok pagi?"
"Iye. Hehe. Plis bolehin Teni nginep dulu di sini Beh."
"Ya udeh. Di sini kaga ade ape-ape Non. Kite sama, harus pade rajin kerja. Maen aje ame Seha ye?"
"Hm. Makasih Beh."
"Ane masih ada rapat ormas. Si Seha-nya ke mane?"
"Ntu di dalem," jawab Sepentin.
Sabeni pun melangkah ke luar warteg, membetulkan jaketnya dan duduk di jok motor, tampaknya akan sibuk dan kembali ke geng bikernya. Entahlah ormas yang dimaksud nama yang mana, teks di belakang jaketnya hanya bermerk Sabeni.
Ngeoong..!
Tiga kucing keluar mengikuti Seha yang membawa piring-piring hasil cucinya. Salah seekor mengeong di dekat kaki Teni.
"Ya ampun. Udah dikasih juga. Sini lo."
Meoong..
Teni mengangkat kucing bulu oren itu dan memangkunya lalu dielus-elus. Sepentin hanya kembali sibuk dengan ponsel kesayangan.
"Lo masih laper? Gue jual lo ya kalo rakus kek gini. Jangan rewel makanya. Keong aja gak mengucing. Elo? Ayo cepetan jawab."
Teni terus mengusap-usap kepala si oren, beda dengan ucapannya yang terdengar mengancam. Sementara dekat etalase saji itu Seha masih sibuk mengelap-lap piring dan sendok.
Meong..
Satwa merebahkan dirinya di pangkuan Teni.
"Eh ape? Terong?"
Seha yang menyimak interogasi tersebut senyum. Teni tampak seperti orang biasa, tidak menonjolkan sosok tajirnya, dan Sepentin sama sekali tidak terganggu.
Malam ini di jalur angkringan, suasana mirip pasar malam. Banyak pedangan kuliner rata-ratanya. Ini pemandangan langsung bagi seorang Teni.
"Rame anjrit. Kata gue si introvert jelek. Welcome to Earth."
Seha yang berpegangan dengan Teni hanya senyum menyedot es tenteng. Mereka terus menjejaki jalanan yang lowong. Keduanya berada di tengah keramaian para pencicip makanan PKL ataupun tenda mangkal, banyak yang berkerubung di favorit food-nya masing-masing.
"Bocil, kakek-nenek, bapak, ibu-ibu, mbak-mas. Seabrek pada jalan-jalan. Kek gimana tuh planet lo, Sar?"
"Hhh-hh!"
"Pasar malemnya pasti pada perang laser ya di sono? Habis bunuh-bunuhan gitu aroma daging ngepul kecium idung. Gak taunya, tangan lo lagi dipegang mayat. Graa!"
Teni mengencangkan bibir atas, menirukan mahluk horor, kemudian menyedot isi plastik, haus.
"Aaah. Hadeuh. Enak banget. Hhh.."
Zzllrpp! Zzllrpp..! Teni menghabiskan Dancow dingin tersebut hingga berbunyi. Bertepatan dengan tong, dia selesai minum dan membuang batu es yang tersisa.
"Sini. Bagi."
Teni menggapai tangan kiri Seha yang masih menenteng milk ice. Dia pun menghisap sedotan yang ada.
Teni mendesah dengan lebih mood, lebih mendalam dari sebelumnya.
"Aaach..!"
Pundak Seha bergetaran. Seha menyembunyikan wajahnya di bahu Teni sambil menggerakkan pegangan mereka.
Salah satu stand yang dicari, akhirnya ditemukan. Teni dan Seha harus berjalan-jalan sekitar 15 menit terlebih dulu untuk sosis dan sea food bakar kesukaan. Tenda Grilled Sausage tidak terlalu ramai tempatnya, namun hingar bingar pasar kuliner seperti tak berhenti.
"Ya rasa Ayam doang? Oke deh. Empat yaa. Dikarungin aja Bang. Gue mau saus yang level
nih aja. Oke?"
"Ditungguin aja."
"Oke siap."
Setelah memesan, Teni meninggalkan tukang sosis yang sedang mengipasi arang panggangan. Teni duduk di kursi tunggal bersebelahan dengan Seha.
Seha membawa tas sekolahnya, namun hanya berisi bawaan pribadi seperti ponsel, tisu, kaca, sisir, dompet, dan lainnya yang Teni sebut roti. Teni mendapati merk itu saat meminta ponsel.
"Roti terbang. Yang satunya udah segelan."
Seha memberikan gawai Teni sambil senyum lebar. "Abisnya kece."
"Love you."
"Lop yu tu."
"Kita duduk dulu aja di sini. Capek, Rin."
Seorang gadis sudah berada di depan Seha, dan mengambil kursi. Dia duduk di sebelah kanan sambil memberikan kursi plastik yang diangkat itu ke teman yang datang bersamanya.
Gadis pendiam menerima kursi, memiliki kesamaan wajah 90 persen dengan paras Teni.
"Gak nyangka ada Onta di sini," kata si pengunjung.
"Lo ngikutin kita Kak?" tanya Seha padanya.
"Kaga. Pede lo. Bang!" panggil gadis ini beralih lawan bicara. "Bakarin yang kayak kemaren. Empat, dibungkusin. Ye?!"
Orang yang dipanggil menoleh dan mengacungkan jempol tanda konfirmasi. Dia kembali sibuk mengipas, gadis dingin membuka etalase mengambil pesanan yang disebutkan, Careen sudah di situ karena batal duduk demi perutnya.
"Net nih kak Citra. Primadona dua ef. Kelas Bahasa."
"Oh lo barengan dia?" tanya Citra. "Anjeer. Cakep banget Kerin-nya. Siapa namanya? Gue Citra ya, Kerin."
"Teni, Kak. Hehe."
Teni menyambut tangan Citra di depan Seha.
"Lo mirip banget. Hhh-hh! Swer. Sodaraan sama dia?"
Teni menggelangkan kepala, berseri-seri. Tangan mereka masih berpegangan.
"Bangunin gue deh, Sar. Aneh. Hhh-hh. Kayak ngimpi, anjeer. Halus banget tangannya."
"Ih, udah deh."
Seha langsung memisahkan tangan keduanya saat Citra hendak menyentuh pergelangan Teni.
"Dih apaan sih lo Onta? Orang lagi ngobrol. Lo dumal-dumel gak jelas."
"Gak usah megangin. Napa?" tanya Seha.
"Ceilaa. Ngambek. Ya udah kita ke Lempar Gelang. Taroan. Kerin mau ngomong sesuatu ke si Ten Ten. Ayo. Biarkan kakak-adik ini ngobrol. Lo sama gue gak berkepentingan."
"Ha, ngajak taroan? Ayo. Gue gak takut, demi Inet-ku."
"Huu. Emang dah jadian? Lawan gue dulu, Onta. Eh, Ten. Kita mau ke lapak gem dulu ya. Kami tetanggaan. Nyante aja sama Kerin di sini ye?"
"Kak Citra mau maen gem di mana emang?"
"Deket nasgor. Semenit dari sinilah tempatnya. Ya? Kerin tau kok. Susul aja kalo kami masih perang."
Seha melepaskan tas, dan memberikannya pada Teni. "Gue pergi dulu ya, Sayang. Enyak kek-nya ngasih tau ke mereka nih, sekaligus cemas sama keselamatan lo dari kesadisan gue."
"Kalian mau pada gelud?"
"Ya. Bisa dibilang gitu. Kak Cicit gak terlalu berselera ke gue. Gue harus ngehalang jalan si perebut pacarku nih."
"Hhh-hh. Oke. Ya udah mungkin Kerin tau soal supranatural. Ntar gue nyusul deh, Sayang."
Seha perlahan pergi melepaskan genggaman Teni. Di jarak agak jauh, Citra memperhatikan keduanya sambil kacak pinggang, sudah menunggu Seha di jalan.
Teni mendapati Careen melirik Seha saat si dingin masih membantu abang sosis bakar-bakaran. Gadis tanpa ekspresi tersebut cocok bersikap sebagai pengamat, dia lalu melirik ke belakang dan Teni langsung senyum melambai padanya. Careen tampak biasa saja saat ditinggalkan sendirian.
Careen jalan menuju Teni, lalu dia meraih kursi dan meletakkannya di depan orang yang terus Monalisa padanya. Dalam duduknya itu, berhadapan muka dengan Teni, Careen merogoh saku sweaternya.
"Teni, gue Kerin. Enyak Seha, Safitri, ngasih tau kalo kalian jalan-jalan ke mari. Jadi gue sama Citra ngikutin."
"Hai Kerin. Hehe."
Teni disodorkan sebuah foto, file ini tampil di layar ponsel Careen dan kini sudah berada di tangan Teni, foto seorang gadis yang umurnya sekira 24 tahun. Sosok yang Careen berikan pada Teni berambut sama panjang dengan gadis dalam mimpi Teni.
"Siapa ya? Kek kenal deh. Gue pernah liat dia Kak."
"Hobi lo suatu anugerah-Nya. Gue peyoga juga. Kata bu Safi, ape die orang lu Susan. Gue belum bisa jawab. Maka kita di sini ngobrol soal yoga."
"Trus, nih. Siapa? Mukanya persis Sarah. Apa emang dia ya Rin?"
"Ini Sarah juga. Tapi bukan pemiliknya. Komunitas nyebutnya seeder. Manusia buatan. Lo gak mimpi. Kesadaran lo emang lagi di sana."
"Jadi Sarah nih ada di mana sekarang? Dia kok, kenal sama gue ya?"
"Kenal dari siapa lagi? Sarah sibuk maen gem Free Will sekarang. Itu permainan onlen kurang lebih. Kenal dari siapa lagi?"
"Hhh. Gue bingung. Seha bilang kalo peradaban di Bumi nih gemesin. Menarik perhatian dia."
"Gue lagi kerja. Ngawasin lusid. Seha diam-diam demen ke pengawasnya. Dan itu.. nyiptain will elo di garis waktunya ini."
". . ." Teni tak berkata-kata, diam menunggu Careen bicara, tangannya sudah dipegangi Careen bersama ponsel yang ada.
"Gak heran. Kalian berdua intim. Lo pernah liat ada kilat di kamar Seha."
"I-iya."
"Mae lagi di situ, tapi harus pergi. Dia bantu-bantu bu Safi masak, nyuci, ngerjain apapun. Pas Seha gak ada di rumah, Mae yang nemenin bu Safi. Kalo pak Sabeni sibuk ngojek."
"Apa lagi yang harus gue denger Kak?"
"Paradok. Pernah dengar paradok kembar?"
Pesanan sudah selesai dibuatkan begitu juga jajanan Careen, keduanya menerima bungkusan kertas di kantong plastiknya masing-masing. Teni memberikan selembar kertas merah sekaligus membayarkan pesanan milik Careen.
"Bayarnya satuin deh sama yang punya dia, Bang."
Di perjalanan menuju lapak Gelang Lempar, Teni santai menikmati makanan sambil menyimak cerita Careen. Mereka tak peduli ada banyak mata laki-laki yang mengarah, melihat gadis kembar ini. Careen tengah bercerita bahwa umurnya jauh dari kata belia.
". . induk temlen gue di garis Farmacell. Temlen yang sekarang garis induknya dari Marcelina karena temlen Farma dah runtuh. Cuma kami bertiga yang gak kena efek malapetaka dua puluh abad lalu."
"Marcel paradok?"
"Dia astraler. Suka yoga dan proyeksi astral. Kami nyebut dia Wahid kayak ke mendiang Farma. Astraler tidak punya paradok. Golongan petapa cuma bisa jadi mutant. Evolusi tubuh."
"Tapi nih mutant masih kece kek ori-nya loh. Orang pada ngeliatin."
"Kayak gue bilang. Dulu mungkin, di temlen awal, gue sosok lo. Garis waktu gue udah kehapus. Di komunitas, apa yang disebut amnesia tuh, bukan orang terbunuh itu. Kita gak bakal ingat indentitas lama."
"Apa bahaya paradok buat lusid?"
"Mae. Paradok biasanya sering ngincer jins. Kita gak bakal tau Seha mana yang harus disadarin. Semua Seha udah gak tau-menau soal Mae."
"Jins? Maksudnya celana jins?"
"Qorin. Wallahu alam. Planet ini bisa diremotinya. Semudah kita nulis, bikin novel. Gue sama tim masih nyari badan lo di Panti, sarang kami. Kalo keduluan paradok, ruang sel milik lo bakal padam, tim gue udah gak nemu penghuninya. Telat."
"Paradok nih dewa?"
"Cuma dia yang bilang. Kalo bukan lo yang masuk Essort, mijak flat earth itu, kita gak bakal ketemu kek gini. Seha kadang ceroboh. Wajar sih pamer. Hh, itu ceroboh."
"Hhh-hh. Pantesan canggih tuh kamar. Nyalain lampu lewat kata; haha marah. Ngedadak terang lagi. Hh!"
"Ya kayak gini kerjaan gue, Ten. Banyak cemasnya. Malapetaka itu gak nimpa satu orang. Mitos, portal waktu gak bisa ancur."
"Hhh.. Paradok ya. Komunitas kalian beneran ada onlennya?"
"Bukan internet. Tapi jaringan temlen. Onlen udah kegeser maknanya di komunitas, ngedeketin arti lucid dream. Onmind."
"Ih anjrit. Penasaran gue. Pusing gini. Hhh-hh!"
Setelah beberapa menit, mereka sampai di taman alun-alun yang memang area bermain dan tempat berjudi nasib. Teni dan Caren mendapati teman mereka sibuk menimpuk-nimpuk botol yang banyak terpasang nongol di papan tebing.
Teni dan Careen duduk di bangku milik PKL bakso yang tutup. Lokasi mereka bersebelah dengan lapak Lempar Gelang. Careen ditanyai Teni lagi soal indentitasnya.
"Boleh tau nomernya gak sih? Kalo ada apa-apa sama Seha, gue harus gimana?"
"Bukan nomer. Lo lagi minta bukti."
Careen merogoh saku sweaternya. Dia kembali mengeluarkan tangannya. Careen tak mengambil apapun dari sakunya.
Wuiw! Wuu.. iw!
Gawai yang Teni pegang mendadak bunyi aneh, berdering ala sirine mobil.
"Eh? Apa ya? Alarm? Telpon? Kok gak robah layarnya?"
"Kita tim. Kalo dah ada ikon orang tapa gitu, ngomong aja."
"Ng.."
Teni terdiam saat muncul sesuatu di permukaan ponselnya, siluet meditasi tersebut statis mengapung grafiknya di atas layar. Bagian sisi logo menyala persis garis neon. Teni menyentuhnya, objek berubah transparan dan tetap di posisi.
"Kok gak ilang? Apa orang baru?"
"Dulu astraler gak bisa ngetik gaya lusid. Ini remote juga."
Careen menyentuh-nyentuh ujung jemarinya bergantian. Setelahnya, stiker apung di ponsel Teni lenyap. Aksi Careen tersebut tidak menimbulkan bunyi apapun di gawai yang ada.
"Kok? Ke mana ikonnya nih?" tanya Teni lagi. "Apa hape lainnya bisa?"
"Asalkan kontak sama kulit badan lo, ikon nih bisa fungsi juga di bawah sadar. Mimpi. Kita telponan metode natural aja. Nomer gue udah ada kok. Misscall."
Teni terburu membuka menu daftar kontaknya. Dia scroll sekali karena tidak begitu banyak menyimpan nomer orang. Teni mendapati nama Careen.
"Hah, kapan nyatetnya gue? Baru juga ngambil dari tas."
Careen diam menatap Teni gaya Suzanna. Teni akhirnya mencoba menelpon nomer hantu tersebut, menyentuh ikon horn. Dan benar saja, terdengar suara kring dalam saku sweater Careen.
Kring! Kriiing-kriing!
Careen mengambil benda berdering dalam kantong lebar itu, dan menunjukan ponselnya pada Teni. Layar polos itu tengah menampilkan teks; Teni Saravati, nama lengkap, status WA.
"Hhh-hh. Kok tau nama belakang gue sih? f**k. Tukang retas."
Kring!
Kring! Kriiing.. kriing!
"Seha dikunjungi juga. Ada Teni satunya di perpus itu. Lo denger suara mirip frekuensi telepati? Seha lagi ngomong sama Teni yang seumuran Sarah. Kami masih nyari tau maksud kedatangannya."
"..??"
Kring-kring.. Kriiing!
Kring!