Delapan

724 Words
Anne merasa kini hidupnya benar-benar berubah. Bagai seorang putri disebuah kerajaan. Dikekang dan banyak aturan. Kebebasan yang dulu dirasa tidak ada lagi. "Masuk." Suara berat akan perintah masuk ke gendang telinga Anne. Membuatnya sedikit bergidik. Takut. Anne menurut tanpa membantah. Ia masuk ke dalam mobil Darrel dan duduk di kursi penumpang depan. Jangan harap ada cuti setelah menikah. Darrel seorang pemimpin perusahaan. Ia bisa melakukan apapun. Lagipula buat apa, ada cuti menikah jika pernikahannya bagi Darrel hanyalah sebuah status untuk melengkapi kesempurnaannya dimata masyarakat. Sebagai seorang istri, Lucy merasa disakiti, terlalu disakiti. Tingkah Darrel melukai hatinya. Seperti kebanyakan pasangan usai menikah, pergi honeymoon. Berdua disebuah pulau, melakukan hal romantis bersama. Sayangnya, sang suami lebih memilih menghabiskan waktu bersama tumpukan dokumen daripada dirinya. Mobil melaju dengan kecepatan normal. Anne menikmati pemandangan luar dari jendela sampingnya sementara Darrel menyetir, sesekali melirik kearah Anne. Mereka dalam perjalanan menuju kampus Anne. Bisa saja Anne pergi ke kampus sendiri. Tapi Darrel tidak mengijinkannya. Darrel dengan perintah mutlaknya memberi dua pilihan untuk Anne, yang jelas keduanya sama sekali tidak menguntungkan. Pulang pergi kuliah bersamanya atau tidak kuliah sama sekali. Dan hal itu sempat membuat Lucy protes, namun mulut licik Darrel beralasan. "Dia seperti adikku juga. Aku tunggal. Biarkan aku merasakan peran seorang kakak." Lucy pun mengalah. Mengiyakan keinginan Darrel dengan syarat Darrel tidak boleh terlalu memanjakan adiknya itu. Darrel menepikan mobilnya di depan gerbang universitas. Selama perjalanan, keduanya saling diam. Hati Anne teramat kesal. Namun, rasa senang melingkupi hati Darrel karena berhasil mengerjai Anne walau harus merelakan miliknya tersiksa juga. Ya, di perjalanan tadi ia sempat berhenti untuk mencoba sesuatu yang baru. Bukan untuk dirinya, tapi untuk wanita di sebelahnya ini. Dirinya tidak ingin merasa candu sendirian. Itu tidak adil namanya, apalagi kepasrahan yang selalu Anne berikan saat waktu-waktu itu. Belum saatnya terpuaskan, pikirnya. Ia akan menunggu, Anne memohon padanya minta dipuaskan. Dan itu tidak akan lama lagi. "Kenapa?" tanya Darrel, dari ujung matanya ia melihat Anne duduk dengan gelisah, "Pintu," singkat Anne. "Hn." Anne menatap dalam diam Darrel. Enteng sekali pria itu menjawab dirinya, seolah tidak bersalah atas kelakuan brengseknya dan sekarang mengunci pintu mobil secara otomatis tanpa berniat membukanya. "Buka, aku mau masuk." "Ti--dak," jawab Darrel dengan penekanan di setiap kata, ia menyeringai melihat bertambahnya kekesalan dalam diam Anne padanya. "Kecuali jika kau mau mengakui, betapa nikmatnya sentuhan ku." "Tidur dan bermimpi lah!" Kekesalan Anne meluap. Darrel mengangkat bahunya. "Terserah, aku tidak rugi. Bahkan beruntung." Dahi Anne mengernyit. "Kau menyuruhku tidur bukan? Bagaimana jika aku tidur setelah meniduri mu saat ini juga disini, ide yang bagus bukan?" Mata Anne membola, ia terkejut sekaligus berdesir. "Kau...bercanda." "Tidak." Bercinta dalam mobil di depan kampus, besar kemungkinan mobil bergoyang dan menarik perhatian seluruh penghuni kampus termasuk para dosen. Tidak. Anne tidak menginginkannya. Anne mengigit bibirnya, bimbang. "Baiklah," putusnya. "Baiklah? Kau setuju bercinta denganku di sini." "Tentu saja tidak!" jawab Anne cepat. "Lalu?" Anne menarik nafas kemudian menghembuskannya. "A-aku..emm--" "Apa?" "A-aku .." Wajah Anne memerah, semerah kepiting rebus. Malu. "Minum?" tawar Darrel, ia tahu kegugupan Anne dan ia menyukainya. Kata benci kemarin seolah angin lalu. Ia menyukai kondisi seperti ini. Tanpa pikir panjang, Anne meminum botol air pemberian Darrel hingga mencapai setengah botol untuk menghilangkan kegugupan yang dialaminya. "Aku menikmati sentuhan mu," jawab Anne cepat, meletakkan botol minum itu sembarangan kemudian secepat kilat keluar dari mobil. Tentu, setelah Darrel membukanya. Anne berjalan lurus ke kampusnya. Tidak sekalipun menoleh atau menatap Darrel. Takut untuk sekedar melihat wajah mencemooh pria itu padanya. Sebelum telinganya menangkap teriakan Darrel. "Jika kau membutuhkanku, Datanglah ke kantorku!" Anne sejenak menoleh dan terpaku melihat pria itu tersenyum padanya untuk pertama kalinya dibalik jendela pintu mobil yang terbuka setengah. Ditengah keterpakuannya, Anne merasa seseorang menepuk bahunya. Menyadarkan dirinya atas keterpakuan sesaatnya. Melihat sosok yang menyadarkannya, Anne terkejut kemudian tersenyum manis. Tampak binar kebahagian diwajahnya lalu keduanya berpelukan erat. Seakan saling melepas rindu. Dan semua itu tak luput dari penglihatan Darrel. Rahang Darrel mengeras serta buku-bukunya memutih karena terlalu erat mencengkram setir mobil. "Sialan!" *** Salah fantasinya atau ada sesuatu dalam diri yang perlu disembuhkan? Patut di contoh? Tidak. Patut di hakimi? Tidak. Cari tahu dulu, sebelum memutuskan. *** Jangan menerima ruang dan memberi ruang untuk orang lain masuk ke dalam rumah tanggamu. Jika tidak mampu membahagiakan satu wanita, jangan berpikir menambah satu wanita lagi. Sikapmu hanya menyengsarakan. Bukan tentang menjaga dan dijaga, tapi bagaimana caranya kamu mempertahankan janjimu pada Tuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD