“Kenapa kau terus bergerak gelisah, CutiePiee?” tanya seseorang yang duduk di belakang Anne.
Bulu kudu Anne meremang, nafas hangat pria dibelakangnya semakin membuatnya tidak nyaman.
“Tidak apa-apa, Al."
Memang sedari tadi, Anne merasa tidak nyaman. Bukan karena saat ini ia berada dimata kuliah yang tidak ia suka. Melainkan hawa panas yang keluar dari tubuhnya. Ia merasa berbeda dengan tubuh yang mendadak sensitif.
“Aku tidak yakin.”
Anne menegakkan tubuhnya, saat dirasa pria dibelakangnya mencondongkan tubuh berbisik padanya hingga tanpa sengaja nafas hangat pria itu menerpa belakang telinganya lagi.
Sedikit menoleh kebelakang, Anne berbisik lirih agar tak ketahuan dosen yang sedang menulis dipapan tulis dan agar tidak ada yang tahu kondisinya saat ini. "Percayalah, aku baik-baik saja."
Melihat tatapan meyakinkan dari Anne, mau tidak mau pria yang dipanggil Anne Al itu mengangguk, mengiyakan. Padahal dalam hati ia merasa ragu.
Kenapa? Anne membatin. Ia merasa sangat tidak nyaman. Saat tangannya menyentuh pena, getaran dalam diri ia rasakan hingga sampai ke inti. Rasanya basah dan sesuatu seperti keluar dari intinya yang berkedut. Ia pun memutuskan untuk tidak menyentuh apapun. Sampai kapan ia bisa bertahan di kondisi seperti ini? Serasa ingin menangis. Anne menutup kedua matanya,mencoba menguatkan diri.
Bayangan erotis kakak iparnya tiba-tiba hinggap dibenak Anne. Tangan berotot yang memeluk pinggangnya, meremas dadanya. Bibir tipis merah alami yang mengeksploitasi bibirnya liar dan benda panjang berotot juga besar. Tidak.
Anne menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran kotor dalam otaknya. Tapi sayangnya tidak mudah, semua ini begitu menyiksanya.
Drrtt ... drrrtt ... drrtt...
“Shhh.” Anne mendesis, getaran ponselnya berhasil membakar dirinya, ia menutup mulut cepat sebelum mengambil benda persegi di kantong celananya. Keadaan yang semakin menyiksanya.
Datanglah ke kantorku, jika kau membutuhkanku.
Mata Anne membulat, sekarang ia ingat. Pesan ini sama dengan apa yang diucapkan kakak iparnya tadi pagi sesaat setelah ia keluar dari mobil. Sepertinya ia dijebak.
Drrtt ... drrtt ...
“Akhhh!”
“Kau kenapa nona Rosanne Callia.” Wajah Anne memerah, ia kelepasan. Kini seluruh mata dalam kelas tertuju pasang mata menatap kearahnya.
“Sa-saya ti-dak apa-apa, Pak,” jawab Anne terbata. Ia terus saja menunduk malu seraya menahan gejolak dalam dirinya yang terus membuncah.
Sang dosen menatap Anne curiga. “Sungguh,? Kau tampak pucat?” Dosen laki-laki itu menghampiri Anne, Anne menegang ketika pundaknya ditepuk. Secepat kilat ia beranjak dan menepis tangan dosennya dari bahunya.
“Bo-boleh saya izin hari ini, Pak?” tanya Anne dengan bibir bergetar.
Kedua alis dosen yang sekiranya masih berusia tiga puluhan itu menyatu. “Baiklah, kau di izinkan.”
Anne mengangguk. " Terima kasih, permisi.” Anne melangkah lebar, menghindari tatapan penuh tanya dari teman-temannya. Termasuk dari seorang pria di belakangnya.
Alfa Narendra. Satu-satunya teman Anne dari semasa SMA. Bukan berarti Anne tak memiliki teman perempuan lainnya. Hanya saja Al, sahabat, teman, sekaligus saudara yang kena di hati Anne. Yang Anne sayangi layaknya keluarga dan paling penting Anne percayai.
Memiliki sahabat perempuan membuat trauma sendiri dalam diri Anne. Tidak bisa tutup mulut, rahasia terbongkar, ditusuk dari belakang. Cukup bagi Anne untuk tak mempercayai orang lain. Ia tidak lagi ingin punya sahabat perempuan kembali.
Keluar dari gerbang kampus , Anne langsung dihadang sebuah mobil hitam. Seseorang berjas hitam dan berkemeja putih keluar dari kendaraan tersebut.
“Nona silahkan masuk."
Merasa bingung, Anne bertanya, “Kalian siapa?”
“Orang suruhan tuan Darrel untuk menjaga anda selama 24 jam.”
Anne menggeleng tak percaya, Darrel benar-benar membuat hidupnya serasa tahanan. Jika begini bagaimana bisa ia kabur.
“Berapa banyak orang seperti kalian?”
“Cukup untuk menjaga anda tidak kabur," singkat pria itu seraya menatap berbagai arah, anne pun mengikuti tatapan pria itu.
Rasanya Anne benar-benar ingin mati sekarang. Bagaimana bisa, di area kampusnya banyak penjaga yang Darrel perintahkan untuk menjaganya. Terlebih para penjaga-penjaga itu berbaur dengan mahasiswa. God!
“Anda harus segera masuk,Nona.”
Terlalu lama meratapi nasibnya, Anne tidak mendengar apa yang di ucapkan pria suruhan Darrel itu.
“Nona."
“Jangan menyentuhku!” seru Anne sedikit bergetar, begitu merasakan sentuhan ditangannya. Ia cukup tersentak tadi, mengingat kondisi tubuhnya begitu sensitif untuk merasakan sentuhan.
“Kalau begitu, anda harus segera masuk atau kami yang memaksa anda masuk kedalam mobil."
“Aku bisa sendiri,” lirih Anne, syarat akan keputusasaan. Tidak ada pilihan lain bagi Anne untuk tidak mengikuti mereka. Darrel tentu tidak akan membiarkannya kabur begitu saja. Pria itu pasti memikirkan cara dari hal terkecil rencananya untuk kabur agar dirinya tidak bisa kabur dari pria itu.
***
Anne memandang gedung tinggi dihadapannya. Corner Company. Pemiliknya? Jangan ditanya. Tentu saja milik Darrel Calderon. Kakak iparnya.
Tidak ada pilihan bagi Anne untuk mendatangi Darrel selain rasa yang membelenggu dirinya cepat hilang. Anne tahu, ketidak beresan ditubuhnya ini karena Darrel. Akibat obat yang kemungkinan besar dari minuman yang ditawarkan Darrel saat mengantarnya tadi. Ingatkan ia untuk tidak lagi menerima pemberian pria itu lagi.
“Aku ingin bertemu, Darrel Calderon,” ucap Anne pada resepsionis.
“Atas nama siapa? Sudah buat janji?”
“Rosanne Callia." Mata resepsionis itu membulat, Anne tak begitu memperdulikannya. Yang pasti tujuannya sekarang, ialah ruangan Darrel.
“Anda sudah ditunggu, Nona. Silahkan masuk kedalam lift sebelah kanan." Anne memandang lift yang ditunjuk si resepsionis, ada dua lift warna gold dan perak. “Lantai tiga puluh. Ruangan Direktur Utama."
Anne meninggalkan resepsionis, masuk ke dalam lift berwarna gold dan menghilang dari sana. Selama perjalanan menuju kantor Darrel sampai sekarang, Anne selalu merapalkan maaf untuk sang kakak yang telah dikhianatinya. Sungguh, rasa bersalah itu ada, dan akan selalu ada sebelum ia lepas dari jerat Darrel walau rasa bersalah itu akan terus terbayang tapi bisa lepas dari Darrel membawa kelegaan sendiri. Namun, hanya jika itu terjadi.
Tidak ada meja sekretaris kosong atau apapun di depan ruangan Darrel. Semakin membuat Anne dilanda rasa cemas. Bukan karena apa? Tapi Anne sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini. Kedua kakinya bergetar.
Brakk...
Tergesa Anne membuka pintu ruangan Darrel kasar.
Darrel yang sibuk dengan dokumennya mendongak, menatap seseorang yang seenaknya masuk ruangannya.
Melirik sebentar, Darrel kembali larut dalam dokumennya lagi. Sampai ia merasakan tarikan pada kursinya dan beban berat terasa di atas kedua pahanya.
“A-aku me-nginginkancmu," ujar Anne disertai desahan saat dirasa intinya mendarat tepat di atas milik Darrel. Kali ini saja, biarkan ia berperan layaknya wanita binal yang haus akan sentuhan. Jika bukan karena obat itu, Anne tak akan pernah sudi melakukan ini.
“Aku sibuk.”
Tamparan keras untuk Anne. Darrel menolaknya.
“Kau yang membuatku seperti ini! Kau juga yang menyuruhku ke sini dengan segala macam ancaman mu itu, tuan Darrel yang terhormat,” ucap Anne penuh tekanan.
“Hn."
Jengah, Anne tidak habis akal, ia menarik dasi Darrel, melonggarkan nya untuk di lepas. Ia berniat menarik gairah pria yang sudah gairah tinggi. Buktinya, gundukan besar yang tengah didudukinya sekarang ini. Namun, sebelum dasi itu lepas, tangan Anne lebih dulu digenggam erat.
Darrel menatap Anne intens. Sebelah tangannya melilit di pinggang Anne. Kemudian menggerakkan tubuhnya maju mundur. Dapat Darrel rasakan, bagaimana basahnya inti Anne yang masih berbalut celana dalam menembus sampai di celana kain abu-abu yang ia gunakan. Obat itu berhasil.
Anne mendesah, ia meremas pundak Darrel yang mulai memaju mundurkan tubuhnya dengan irama cepat.
“le-bih cepat.” Anne sudah dekat,
Namun Darrel menghentikan gerakannya. Pinggang juga tangan Anne malah di cengkram kuat oleh Darrel, Anne yang tadinya ingin protes atas tindakan Darrel yang menggagalkan klimaksnya datang, urung ia lakukan.
Melihat rahang Darrel mengeras, membuat tubuh Anne bergetar. Darrel sepertinya sedang dalam mood buruk, menatap dirinya bagai target buruan. Anne tahu, Darrel marah dan bisa meledak kapan saja.
“Siapa pria itu?”
Anne mengerutkan dahinya. “Siapa?” ia bingung.
Darrel lalu menghempaskan tangan Anne kemudian sekali gerakan tangan, Darrel menjatuhkan berbagai macam benda di atas mejanya dan dengan kasar menghempaskan tubuh Anne di atas sana.
Ia marah, pertanyaan yang dijawab pertanyaan dan juga rasa penasaran terhadap pria yang memeluk Anne nya tadi pagi tak mendapat jawaban pasti sesuai keinginannya.
Darrel mencium bibir Anne kasar, melampiaskan semua amarahnya di sana.
Anne dalam pengaruh obat, membalas ciuman Darrel sama kasarnya. Ia bahkan tak segan melepas kancing kemeja Darrel yang jarang dilakukannya.
“Ngghh.” Anne mengerang, Darrel melepaskan ciumannya.
Anne menatap nanar, matanya telah berkabut.
“Kau harus dihukum.”
***
Semakin terjerumus yang tak seharusnya.
***
Jangan menerima ruang dan memberi ruang untuk orang lain masuk ke dalam rumah tanggamu.
Jika tidak mampu membahagiakan satu wanita, jangan berpikir menambah satu wanita lagi. Sikapmu hanya menyengsarakan.
Bukan tentang menjaga dan dijaga, tapi bagaimana caranya kamu mempertahankan janjimu pada Tuhan.