“Ibu kamu orangnya kayak gimana?” “Menurutmu gimana?” Aku mengembuskan napas menahan jengkel. “Kalau aku tahu, aku nggak bakal tanya.” Pak Anggit terkekeh, dengan santai dia melingkarkan tangan kirinya merangkul punggungku. Kami saat ini baru turun dari pesawat, baru tiba di Malang. “Kamu, kan, sudah dua kali makan siang bareng Ibu. Pasti kamu sedikit-sedikit sudah tahu seperti apa beliau.” Aku bertanya karena aku takut penilaianku terhadap Bu Hartawan terpengaruh oleh perasangka buruk yang nggak bisa aku kendalikan sejak makan siang terakhir kami. Pak Anggit menjadi pelajaran buatku untuk tidak menilai seseorang dari luarnya saja. Di luar, Bu Hartawan mungkin tampak sederhana, tutur katanya pun manis sebab selalu dibubuhi senyum bersahaja. Namun, siapa yang bisa mengukur kedalaman hat

