Pak Anggit nggak lugu. Serius, aku sudah meilhat dan membuktikannya sendiri. Pak Anggit tahu gimana ciuman yang baik dan memperlakukan aku sehingga aku merasa nyaman dalam buaian dia. Bahkan, aku yakin kalau saja Pak Anggit yang berhenti duluan, aku nggak akan keberatan dibawa ke ranjang. “Ini sudah jam 11 malam, kamu nggak mau pulang?” Aku mendelik lantaran sedang asyik-asyiknya nonton film, Pak Anggit—ehem, maksudku Mas Anggit, ah Anggit saja lah, menginterupsi. “Ngusir?” “Bukan,” jawab Pak Anggit memanjangkan huruf a-nya. “Aku nggak keberatan kamu mau menginap di sini sekali pun, tapi kan nggak enak sama Mama kamu, Sonya. Nanti dikiranya aku ngasih pengaruh buruk buat kamu.” Aku mendecakkan lidah remeh, Pak Anggit nggak tahu saja, sewaktu masih sama Aldo pulang jam 12 atau jam 1 mal

