“Lihat sendiri, kan, Ibu saya nggak seperti yang kamu takutkan.” Senyum diwajahku usai melepas kepergian mobil yang membawa Bu Hartawan seketika aku buang saat aku melirik Pak Anggit dengan malas. “Terus kalau udah tahu Ibunya Bapak baik, kenapa Bapak tadi panik nyusul kami ke sini?” Jujur, aku susah percaya ada orang kaya yang sebaik Bu Hartawan. Kami tadi mengobrol santai, Bu Hartawan banyak bertanya tentang kegiatanku sehari-hari di luar pekerjaan, barangkali karena sudah paham lingkup pekerjaanku sampai ke gaji-gajiku. Aku paparkan semua dengan jujur, kalau belakangan aku mulai biasa bangun sebelum jam 6 buat bantu-bantu Mama urus rumah. Beliau juga sedikit bertanya tentang keluarga, seperti aku anak ke berapa, apakah orangtuaku masih sehat, serta pekerjaan mereka. Di bagian ini, aku

