T&E~2

1733 Words
Seorang pria melihat dari atas kaca jendela yang mengarah pada gerbang kerajaan dengan kedua tangannya yang menyilang dibelakang tubuhnya, terlihat beribawah. Mata Orange itu menajam saat melihat sebuah kereta terlihat masuk melewati gerbang kerajaan di ikuti dengan 1 kereta lainnya di belakang. "Kau bilang mereka mengirim dua orang puteri bukan ? Siapa salah satu namanya ?"tanya pria berbaju emas itu dengan sebuah ukiran naga sebagai corak pakaiannya di belakang. Pria yang terus membungkuk disampinya itu, sedikit mencuri pandang ke arah luar taman kerajaan yang kini kedua kereta berisi puteri bangsawan itu telah berhenti secara berdampingan. Berisiap turun setelah di persilahkan. "Duchess Sophia dan Duchess Ellia Yang Mulia." jawabnya dengan penuh kerendahan sikap penuh kehormatannya. Tidak membalas ucapan dari pria tersebut membuat nya hanya menganggukkan kepalanya sebelum matanya semakin menajam dengan menyipit saat melihat kedua masing - masing pintu kereta telah dibuka, disusul dengan turunnya pelayan perempuan yang berpakaian sederhana tetapi cukup menunjukan bahwa dirinya mengabdi pada salah satu keluarga bangsawan. Detak jantungnya berdetak cepat, silih berganti memperhatikan pintu kereta yang kini menunghu masing - masing dari puteri bangsawan Selomitha itu keluar dari keretanya saat pelayan yang mereka bawah menjulurkan tangan kearah pintu kereta. Matanya langsung terfokus pada seorang perempuan bergaun biru laut dengan mantel senada di tubuh putih menggodanya itu. Membuatnya segera membalikan wajahnya dari arah jendela yang kini menunjukan bahwa perempuan bergaun biru laut itu terlihat memperhatikan struktur istana, sebelum kembali melempar senyum tipisnya pada seluruh pelayan kerajaan yang telah menyambjt mereka. "Kapan aku bisa bertemu dengan mereka ?" shara tegas itu kembali terdengar di aula kerajaan yang kosong, dengan terus melangkah kearah singgasana miliknya dan duduk disana. "Segera My Lord. Setelah puteri dari bangsawan Selomitha telah selesai mempersiapkan diri untuk jadwal makan malam." ucapnya membuat pria yang berkedudukan tertinghi di kerajaan itu mengangguk dengam acuh berbeda dengan detak jantungnya yang bertalu cepat di dalam, berpura - pura acuh lalu kembali membuka petisi - petisi dari perdana menteri. "Duchess Sophia ?" seorang pelayan wanita yang terlihat berumr hampir sama dengan Bibi Aria itu bertanya pada Sophia, sepupunya yang berdiri di sampingnya. Mendapat pertanyaan dari sang pelayan yang memiliki baju sedikit lebih berbeda dengan pelayan kerajaan lainnya, membuat Ellia tahu bahwa pelayan tersebut berkedudukan jauh lebih tinggi di bandingkan dengan lainnya. "Benar. Ini Duchess Sophia." pelayan yang datang bersama dengan sepupunya itu menjawab ucapan pelayan kerajaan, menggantikan Sophia yang hanya melirik pelayannya menyuruhnya berbicara. Sepupunya Sophia datang dengan persiapan yang terlihat jauh sangat matang. Gaun berwarna merah dengan mantel di tubuhnya yang juga berwarna merah senada itu, terlihat sangat cantik dan bersinar terang di antara kulit putih bak porselennya dan rambut cokelat ikalnya yang terlihat indah terurai di dalam kerudung mantelnya, terlihat bergelombang manis. Sangat cantik dan memesona. "Duchess Ellia ?" kini sang pelayan kerajaan beralih bertanya setelah telah berhasil mendapatkan konfirmasi dari pelayan Sophia. "Ya. Itu saya."jawab Ellia dengan pelan dan kembut tidak lupa disertainya sebuah senyuman pada pelayan kerajaan tersebut, membuat Duchess Sophia melirik dirinya yang langsung menjawab langsung pertanyaan sang pelayan, yang terikat kasta jauh dari mereka. Bibi Aria sedikit menatap nona mudanya itu yang menjawab langsung pertanyaan dari sang pelayan kerajaan, tepat saat dirinya baru saja akan membuka suaranya mewakili sang Duchess. Pelayan tua kerajaan tersebut sedikit terkejut saat mendengar ucapan dari sang Duchess Elia yang langsung menjawab pertanyaannya. Sebelum hanya bisa menundukan pandangannya saag mata Jayde itu bersitubruk dengan mata cokelat sipitnya. "Hamba adalah pelayan kerajaan khusus Ratu Merlina. Ibunda Raja Theo." ucapnya baru memperkenalkan diri sesaat setelah mengetahui identitas dari kedua masing - masing sang-Duchess. "Hamba akan mengantar anda untuk memberi ucapan pada Yang Mulia Ratu, pertama - tama."sambungnya lagi sebelum membelakangi kedua puteri dari keluarga bangsawan Selomitha itu, membuat seluruh pelayan perempuan yang berada di bawah kendalinya mewakili Ratu membukakan jalan, membuatnya melangkah maju di ikuti dengan kedua Duchess di belakangnya. Kedua gadis itu tidak bisa berhenti memperhatikan keseluruhan kerajaan yang terlihat megah dan mewah, bahkan terlihat jauh dari ekspetasi yang berada di kepaal mereka hal itu ditunjukan oleh kedua raut wajah tak percaya yang tercetak jelas. Kedua gadis bangsawan tersebut tidak sadar saat mereka telah sampai di depan sebuah pintu tinggi besar dengan ukiran - ukiran indah di pintunya. Sang pelayan khusus dari Ratu Merlina majuk dan mengetuk pintu didepannya dengan pelan tetapi terdengar disusul dengan sebuah laporan. "Yang Mulia Ratu, Duchess Ellia dan Duchess Sopia datang untuk memberi salam." ucapnya dari luar pintu hingga pintu besar tersebut akhirnya terdorong kedalam, dibuka. "Silahkan." kali ini sang pelayan memberi jalan kepada kedua puteri bangsawan tersebut, membuat Duchess Ellia dan Duchess Sophia mengambil langkah masuk lebih dahulu, bertukar posisi dengan sang-pelayan kerajaan Ratu yang kini berada di belakang mereka. Mengikuti dari belakang. Kediaman sang-Ratu sangat besar bahkan jauh berkali - kali lilat dari halaman belakang milik keluarga mereka. Terlebih jika hanya dibandingkan dengan sebuah kamar seorang puteri dari Duke. Tidak ada apa - apanya. Terlihat di ujung sana dekat dengan jendela yabg terbuka duduk seorang wanita bergaun indah, megah, dan elegan di saat bersamaan berwarna emas. Menunjukan kedudukannya sebagai seorang ibu dari Raja. Sebuah senyuman dari sang-Ratu terlempar ke arah mereka membuat kedua puteri dari garis bangsawan yang sama mengangkat sedikit gaunnya dan swdikit membungkuk memberi ucapan salam. "Mendekatlah." suara lembut itu mengalun masuk sesaat setelah mereka telah memberi ucapan salam membuat Ellia dan Sophia mengambil langkah mendekati sang-Ratu yang ternyata telah menyiapkan bagi mereka seat Teh. "Silahkan, ambil tempat kalian."ucapnya lagi membuat kedua gadis tersebut berterimakasih lalu kembali mengambil tempat duduk yang sama tepat di depan Ratu Merlina. "Jadi kalian yang terpilih dari keluarga garis bangsawan Selomitha. Betapa indah dan cantik." puji Ratu Merlina memandang silih berganti kedua gadis tersebut dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya yang masih cantik itu. "Itu tidak benar, Ratu. Anda bahkan terlihat jauh lebih cantik dari kami." puji Sophia berhasil menarik mata orange itu berbalik padanya dengan senyuman yang masih sama di bibir merah tersebut. "Ayolah. Kalian berdua seperti bunga yang baru mekar, sangat segar dan begitu menarik. Aku bahkan sudah harus menjaga tekanan darah." tolakan dari siratan halus tersebut yanh di ikuti dengan sedikit selipan tawa dari sang-pemilik membuat gadia tersebut hanya tersenyum. "Tetapi, itu tidak menutupi kecantikan anda, Ratu. Bahkan seluruh rakyat akan setuju jika anda adalah definisi sebuah bunga mawar yang hanya tumbuh setahun." "Benarkah ? Kau sangat pandai berpuitis. Kau Ellia, bukan ?" Ratu Merlina kembali bertanya pada Ellia yang hanya tersenyum sopan padanya penuh dengan kehormatan saat sang-Ratu kini memberinya perhatian atas ucapannya. "Benar, itu hamba." balas Ellia dengan menurunkan tatapannya saat berbicara pada Ratu Merlina, menunjukan kedudukannya. "Seperti yang kuduga. Puteri dari Bangsawan Selomitha tidak mengecewakan." pujinya lagi sebelum kembali menatap Sophia yang juga menundukan pandangannya dengan sedikit melirik sepupu dekatnya itu. "Aku tahu kalian pasti lelah karena perjalanan jauh yang kaliam tempuh, Tapi, apa kalian tidak keberatan untuk menemaniku menghabiskan teh sore ini ?" Sebenarnya tanpa sang-Ratu pertanyakan hal tersebut, mereka tidak akan bisa beranjak dari kediaman Ratu Merlina saat mereka belum di persilahkan pergi. Itu sudah menjadi protokol yang tidak akan bisa mereka lewati, kedudukan yang mereka miliki bahkan tidak bisa di bandingkan dengan kedudukan para bangsawan kerajaan, orang - orang yang lahir dari garis bangsawan sendiri. "Dengan senang hati My Queen." Raja Theo adalaj seorang Raja ke-18 sebagai garis keturunan kerajaan yang sah untuk menduduki tahta yang sekarang, putera dari Raja terdahulu yaitu Raja Dolder dan Permaisuri pertamanya, Ratu Kiara. Hanya saja Permaisuri Raja ke-17 yaitu Raja Dolder sendiri wafat pada saat masa pemerintahan mereka meninggalkan seorang pangetan bagi kerajaan yang dikenal Theo, Raja yang sekarang. Kematian Ratu Kiara diakibatkan penyakitnya yaitu sebuah serangan jantung mendadak membuat pemerintahan mengajukan Ratu Merlina yang sekarang sebagai pembantu dari kepemimpinan Raja Dolder sebelumnya. Pengajuan Ratu Merlina pada sesaat setelah kematina Ratu Kiara harus di laksanakan atas usulan dari beberapa perdana menteri dengan pertimbangan, sebuah pemerintahan uang ridak boleh dilihat miring sebelah atai kehilangan pondasinya hanya karena posisi sang Ratu yang kosong tiba - tiba. Peluang musuh untuk masuk dan menghancurkan kerajaan akan terlihat jauh lebih mudah disaat salah satu kepemimpinan dari kerajaan dibiarkan kosong dalam waktu lama. "My Lord." seluruh pelayan dan penjaga yang berada di depan pintu kediaman Ratu Merlina membungkuk hormat saat melihat pemimpin dari kerajaan muncul di hadapan mereka dengan beberapa pelayan lainnya di belakang sang-Raja. Mata orange itu melirik tajam pada segerombolan oelayan yang berada di luar pintu dengan dua orang pelayan lainnya yang berpakaian berbeda dengan pakaian pelayan kerajaan. Dirinya langsung mengetahui bahwa kedua oelayan tersebut adalah masing - masing milik dari kedua puteri bangsawan Selomitha. Mengalihkan pandangannya pada pelayan kerajaan yang masih membungkuk tidak menatapnya yang berdiri didepan, membuatnya membuka suara "Apa Ratu Merlina kedatangan tamu ?" tanyanya. "Yang Mulia Ratu sedang menikmati jamuan teh sorenya bersama Duchess Ellia dan Duchess Sophia, My Lord." jawab pelayan dengan patuh hingga jubah emas kerajaan berlalu dihadapnnya tanpa ucapan lagi. Tepat dengan bersamaannya pintu kediaman Ratu Merlina yang kini kembali terbuka, menampakan dua orang puteri bangsawan yangp kinj berjalan keluar dari pintu dengan pelayan keoercayaan sang-Ratu yang memimpin di depan mereka. Memang saat mereka masuk kedalam kediaman sang-Ratu tidak semua pelayan ikut masuk kedalam hanya Ellia dan Sophia bersama pelayan khusu Ratu Merlina, bahkan kedua pelayan dari puteri bangsawan Selomitha tidak diperbolehkan ikut masuk menginjakkan kaki di kediaman ibunda Raja. Di luar itu para pelayan hanya bisa masuk jika di butuhkan. Seperti saat mereka akan membantu Ratu berpakaian, menyiapka. Persiapan mandi, jamuan teh, dan berbagai keperluan lainnya. Hanya yabg berkedudukan tinghi dan yanh dipercayai yang memiliki akses sedikit lebih bebas. "Duchess Ellia dan Duchess Sophia. Anda akan di anatarkan oleh para pelayan kepada kediaman masing - masing yang telah di siapkan oleh pihak kerajaan." ucap pelayan khusus Ratu Merlina saat mereka telah berhasil keluar dari kediaman Ratu seelah menghabiskan 2 jam waktu, untuk menikmati jamuan teh sore yang berisi percakapan ringan. Ellia dan Sophia hanya menganggukan kepala sebelum melangkah mengikuti para pelayan yang sudah di tunjuk untuk menunjukan kediaman mereka selama di istana ini. Saat pelayan Ratu Merlina menjelaskan arahan mengenai kediaman mereka tanpa sadar Ellia menatap sesosok tubuh pria yang berpakaian mencolok di antar pelayan yang mengikuti dirinya di belakang sebelum menghilanh di pembelokan kerajaan. Ellia bahkan tidak bisa mencari pumggung kokoh berbalut pakaian emas itu saat telah menghilang. Dirinya tahu bahwa pemilik pakaian kokoh itu apdalah sang-Raja, terlihat jelas bahkan saat sirinya hanua melihat punggung kokoh tersebur. Hanya dari pakaian yanh di pakainya dan orang - orang yang berjaaln dibelakang punggung tegap itu. Kedudukannya sangat jelas. Karena tidak melihat wajah dari sang-Raja membuatnya penasaran sebelum hanya ikut melangkah mengikuti pelayan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD