T&E~6

1212 Words
Elia berjalan keluar dari dalam peraduannya tepat saat pintu besar di depannya terbuka dan menampilkan keadaan depan peraduannya sendiri yang ternyata di penuhi oleh banyak perempuan. Terlihat bahwa ada Sophia, sepupunya di depan sana yang tersenyum melihat kedatangannya bersama pelayan - pelayan kerajaan yang lainnya. Dengan pelan di angkatnya gaun emas miliknya lalu berjalan santai dan kembali meneurunkan ujung gaun miliknya setibanya di depan Ellia "Sophia, ada apa ini ? Kenapa kalian sudah berkumpul pagi - pagi sekali di depan peraduanku ?" tanya Elia dengan tenang kepada sepupunya tetapi, kedua bola mata jade miliknya sibuk menatap sekeliling pada pelayan - pelayan kerajaan. "Ah begini aku sedang menuju jamuan makan pagi bersama Yang Mulia Raja."Jawab Sophia yang berhasil kembali menarik perhatian dari Elia sendiri, mereka berdua tetap saling tersenyum hingga kedua sudut mata dari mereke menyipit. Sayangnya Sophia terlihat terlalu senang untuk melanjutkan ucapannya itu "Tetapi, saat aku kembali mendapat kabar bahwa kita kembali tidak bisa melakukan jamuan bersama Raja secara bersama - sama, aku singgah untuk menanyakan keadaanmu pada Aria." sambungnya dan itu berhasil membuat senyuman anggun hanya untuk menghormati dari sepupunya Elia itu langsung saja menghilang di gantikan kerutan di dahi miliknya. Kebingungan. Elia berbalik menatap Aria yang berdiri di sampingnya dengan jarak yang sedikit kebelakang membuatnya harus sedikit memutar tubuhnya menatap pelayan pribadinya itu. Aria tidak berani mendongak menatapnya melainkan hanya menundukan kepalanya lagi. Mungkin kali ini Sophia akan berhasil menjatuhkan puteri dari majikannya tersebut. Tidak mendapat penjelasan apapun dari Aria ingin membuat Elia membuka suaranya sebelum suara dari pemilik mata biru sepupunya kembali berhasil menariknya untuk menatap Sophia yang lagi - lagi membuka suaranya. "Sepertinya kau kebingungan Elia. Kalau begitu aku akan memberitahumu karena pelayanmu itu sepertinya tidak ingin membuka mulutnya, Yang Mulia Raja Theo hanya ingin menghabiskan jamuan makan paginya bersamaku." sombong Sophia dan kali ini berhasil dicerna dengan baik oleh Elia sendiri. Mengabaikan rasa terkejut para pelayan yang mendengar ucapan Sophia secara seenaknya menyebur nama dari pemimpin kerajaan. Nama dari pemimpin kerajaan sebenarnya tidak boleh di sebut dengan sembarang terlebih, menggunakan nada yang tidak menghormati beliau sendiri. Sayangnya tidak ada yang berani menegur. Sepertinya yang datang untuk mengetuk pintu peraduan adalah pelayan kerajaan lagi yang datang untuk memberitahunya agar mau menunggu gilirannya yanga akan datang nantinya. Dan Elia mulai merasa ragu saat harus kembali menunggu gilirannya, entah benar apakah dirinya nantinya akan benar - benar mendapatkan giliran. Tidak ada yang memberinya kepastian dari pelayan kerajaan yang mengantar kabar tadi ataupun dari Raja sendiri. "Apa kau baik - baik saja, sepupuku ?" Elia hanya bisa kembali tersenyum saat mendengar pertanyaan yang sebenarnya di maksudkan oleh Sophia sebagai sebuah sindiran padanya. Entah kenapa, Sophia terlihat sangat ingin mengalahkannya, bahkan kedua bola mata biru gadis tersebut sudah terlihat bersinar terang merasa kembali menang dari Elia. Elia tidak pernah mmbenci sepupu terdektanya itu tetapi, karena rasa ingin bersaing dari Sophia sangat kentara cukup membuatnya sedikit berhati - hati kepada Sophia sendiri dan mungkin sebab itu Elia kurang bisa merasa harus lebih bersikap tulus pada sepupu perempuannya itu. Meskipun Elia tidak pernah ingin menyakitinya hanya saja cukiup memasang pembatas selama keinginan Sophia masih ada sudah dirasanya cukup, dirinya tidak terlalu menyukai menyakiti seseorang terlebih jika itu adalah keluarganya sendiri. "Sudah kubilang jangan bersedih Elia, jika nanti aku sudah menjadi ra--" "Jangan khawatir Sophia. Aku tidak merasa sedih dengan hal semacam ini, lagipula aku juga tidak datang karena benar - benar menginginkan posisi tersebut. Aku datang karena itu perintah kerajaan." sela Elia cepat membuat ucapan Sophia menggantung di udara. Perkataan yang di ucapkannya itu tidak sepenuhnya salah tetapi, tidak juga sepenuhnya benar. Pada dasarnya dirinya tidak datang ke kerajaan karena menginginkan posisi sebagai Ratu, perempuan nomor satu dalam bangsanya itu melainkan karena dirinya yang memenuhi persyaratan sebagai seorang rakyat yang patuh pada kerajaan. Lalu apakah dirinya merasa sedih karena tidak bisa kembali bertemu bersama pria nomor satu itu ? Jawaban Elia jujur bahwa dirinya tidak merasa sedih lagipula dirinya belum mengenal sosok tersebut dan berada dalam hubungan yang bisa membuatnya merasa sedih dengan tolakan yang diberikan padanya. Tapi tetap saja rasa tidak terima dari perlakuan sang pemimpin kerajaan yaitu Raja Theo membuatnya tidak nyaman sebagai seorang gadis yang dikirim karena perintah yang di keluarkannya sendiri, setidaknya pria itu harusnya masih bersikap sopan padanya bahkan jika Sophia memang yang sudah di pilih menjadi seorang Ratu untuk kerajaan bagian eropa tersebut. "Tapi kau terlihat cukup sedih Elia." ucap Sophia yang masih saja memasang senyuman lebarnya, membuat Elia yang masih berusaha untuk tersenyum anggun padanya menaikan sebelah alisnya keatas "Apa kau masih belum pergi Sophia ? Yang Mulia mungkin sudah mendahuluimu. Kau harusnya cukup bersikap sopan padanya." Dan ucapan pengusiran halus itu berhasil membuat tawa dari Sophia berhasil meledak dengan keras bahkan gadis tersebut kini melupakan tata khramanya karena tahu bahwa dirinya telah berhasil membuat gundah perasaan dari sepupunya yang selalu terlihat kalem itu. Mirna sebagai pelayan pribadi dari Sophia sedikit memanggil kecil sang majikan untuk memperingatkan majikannya tersebut yang tertawa dengan mulut tidak di tutup seperti yang di ajarkan oleh guru tata khramanya, bahkan Sophia memegangi perutnya itu dengan kedua tangannya. Terlihat sangat bahagia. "Duchess.." "Baiklah -baiklah, kalau begitu aku pergi dulu Elia." pamitnya dengan sesekali masih tertawa dan membuatnya harus menahan dirinya agar bisa segera menghentikan tawanya. Saat Sophia mengambil langkah untuk berjalan pergi dari sana dirinya kembali berhenti dan sedikit berbalik menatap Elia yang masih berdiam pada posisinya. "Ah, kau mungkin sudah mulai bisa mengemasi barang - barangmu untuk bersiap pulang ke kota, Duke Aldo dan Duchess Roseline mungkin akan senang dengan kepulangan puteri mereka yang begitu cepat." lanjutnya lalu kembali melanjutkan jalannya dengan senyuman di kedua bibir merona miliknya yang masih saja menguar. *** Theo berjalan keluar dari aula kerajaan yang biasanya di gunakan untuknya saat melakukan pertemuan dengan para menterinya atau mengurusi segala bentuk persoalan mengenai kerajaan sendiri, biasanya disebut dengan sebuah peradilan untuk kerajaan. Dari pertemuannya dengan Perdana Menterinya yaitu Wuliox bisa di simpulkan oleh Theo bahwa kerajaan Utara sedang mengalami penurunan hasil kerja dari para petani dikarenakan melonjak naiknya hama yang mengganggu panen milik rakyat tersebut sehingga tidak ada pertukaran investasi apapun yang di terima dari luar untuk tahun ini oleh kerajaan Utara. Membuat Theo yang sekarang juga memimpin kerajaan tersebut pada akhirnya memberikan perintah untuk mengeluarkan bantuan pada kerajaan Utara seperti mengirim para prajurit yang akan membantu menghanguskan para hama pengganggu dan juga beberapa bantuan makanan. Dirinya berpikir untuk membuat keadaan rakyat dari kerajaan Utara agar lebih baik dulu dan tidak kelaparan lalu saat para hama telah di singkirkan maka kerajaan Utara akan membaik dan kembali melakukan pembayaran pajak kembali padanya. Untuk sekarang mereka semua harus hidup dulu. "Yang Muilia, saya sendiri yang nantinya akan mengurus untuk segala perintah yang anda berikan mengenai bantuan pada kerajaan Utara." Ucap Zack saat melihat bahwa Theo sudah akan berbelok kiri dan menuju pada ruangan ketahanan untuk berbicara langsung mengenai strategi bantuan kepada Menteri pengolahan distribusi hasil pertanian. Zack bukannya ingin bermaksud kasar pada Rajanya tersebut dengan memberi perintah tetapi, saat melihat seorang wanita yang dikenali memiliki kekuasaan kedua dalam kerajaan sedang berjalan ke arah mereka yaitu, Ratu Merlina ibunda dari Raja Theo sendiri langsung saja Zack mengambil inisiatif agar nantinya junjungannya tersebut tidak terhambat dengan pekerjaanya. Dikarenakan setiap Ratu Merlina datang ke aula kerajaan untuk mencari Raja Theo pastinya dirinya mempunyai keinginan yang ingin di katakannya dan pastinya akan mengambil waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD