"Yang Mulia Raja." sapa ratu Merlina setibanya di depan puteranya tersebut membuat Theo menyambut kedatangan ibunya itu dengan langsung saja mencium sebelah tangan Ratu Merlina lalu berucap "Ibunda."
Meskipun Ratu Merlina adalah ibu dari Theo, dirinya tidak bisa dengan seenaknya memanggil puteranya yang seorang pemimpin kerajaan itu sebagai anak di depan umum, hanya jika mereka berdua. Bagaimanapun puteranya itu adalah orang nomor satu sehingga mau tak mau peraturan kerajaan tetap di jalankan. Tetapi, untuk memberi hormat, Ratu Merlina tidak perlu menundukan tubuhnya seperti para perempuan lainnya begitu juga dengan Raja Theo yang tidak akan pernah membungkuk dan menaruh sebelah tangannya di d**a kirinya hanya untuk memberi salam hormat kepada para kaum perempuan.
Segala pergerakannya dan apapun yang di lakukannya akan selalu terikat oleh berbagai peraturan kerajaan yang sudah ada sejak dahulu dan telah turun temurun.
"Yang Mulia, kemanakah anda akan pergi ?" tanya Ratu Merlina sembari menyentuh punggung belakang puteranya yang tertutupi oleh pakaian kerajaan dan mengarahkan sang putera untuk berjalan pergi dari sana, meninggalkan para pelayan mereka di belakang yang menunggu dengan patuh.
"Saya baru ingin pergi ke perjamuan makan pagi, ibunda. Apakah anda sudah menyantap jamuan pagi anda ? Kalau belum, ibunda mungkin bisa bergabung bersama saya." Ratu Merlina tersenyum mendengar jawaban puteranya tersebut terlebih saat kedua bola mata miliknya menatap manik mata orange dari sang putera, sama seperti dirinya.
"Terimakasih Yang Mulia atas perhatian anda. Saya tersanjung dan saya merasa senang dengan perhatian yang anda berikan sayangnya, saya sudah menyantap jamuan makan pagi." jawab Ratu Merlina sebelum membuang pandangannya ke arah taman dan mendapati seorang gadis yang dikenalnyaDuchess yang mencalon sebagai salah satu pendamping dari puteranya tengah berdiri di tengah himpunan taman bunga.
Melihat Ratu Merlina yang tersenyum dengan melihat ke arah taman membuatnya mengkerutkan keningnya sebelum mengikuti arah pandang dari ibunya, hingga mata orange miliknya mendapati seorang gadis bergaun emas tengah berdiri disana menikmati himpunan berbagai bunga - bunga cantik yang menghias taman istana. Theo bisa menebak dari matanya yang menyipit itu bahwa gadis yang berdiri disana adalah perempuan yang di hindarinya, terlihat sangat senang dengan rangkaian bunga bahkan, mungkin setelah dirinya kembali membuatnya menunggu pagi ini.
"Yang Mulia, apakah anda sebenernya sudah memilih salah satu di antara gadis itu ? Anda terlihat hanya ingin menemui satu orang saja." sambung Ratu Merlina mengalihkan fokus sang putera kembali kepadanya, dengan tenang di pasangnya sebuah senyum tipis pada sang ibu. "Belum. Saya hanya sedang mempelajari karakter mereka." elak Theo.
"Dengan hanya bertemu satu orang saja ? Yang Mulia, berita ini tidak akan enak di dengar oleh bangsawan Selomitha, jika ternyata kedua gadis yang mereka kirim dan anda hanya ingin bertemu dengan salah satunya." Ratu Merlina hanya mengingatkan puteranya itu bahwa setiap dinding - dinding kerajaan yang berlapis emas ini akan selalu mempunyai mata dan telinga, jadi mereka harus berhati - hati dengan segala tingkah laku yang mereka lakukan, baik terhadap itu juga pada seorang bangsawan meskipun bangsawan itu sendiri tidak berbeda jauh dengan mereka.
Hanya saja opini dan cara pandang rakyat pada pihak kerajaan harus tetap terjaga citranya atau rakyat yang mereka pimpin akan kehilangan kepercayaannya. Theo sendiri dikenal bukanlah seorang pemimpin yang lembek dan berhati lembut dalam mengambil setiap keputusan bagi banyak orang, dirinya tegas dan menakutkan disaat yang bersamaan. Tetapi, di balik semua itu para rakyat menyukainya karena sifatnya yang adil terlebih dirinya yang dikenal sebagai satu - satunya penerus yang murni, membuat kepercayaan rakyat padanya meningkat.
"Lalu bagaimana mau Ibunda ?" Theo mengalah dan mencoba mengikut perkataan ibunya itu yang tersenyum lembut ke arahnya dan mulai mengelus lengannya. "Ibunda menyukai Duchess Elia tetapi, bukan berarti ibunda memaksamu untuk memilihnya. Hanya saja temui dia meskipun sekali saja." sambung Ratu Merlina berhenti berbicara formal pada puteranya dengan suara yang kecil agar tidak di dengar oleh para pelayan.
"Baiklah. Karena saya sudah menyuruhnya untuk menunggu tadi pagi, maka jamuan makan malam saya akan mengundang dirinya. Begitu bukan ?"
Saat mendengar keputusan yang di ambil oleh Theo, Ratu Merlina tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Terlihat bahwa ibunya itu menyukai salah satu Duchess dari bangsawan Selomitha. Saat Theo mencoba menanyakan hal itu pada ibunya, dengan cepat Ratu Merlina kembali menyela bahkan sebelum sepatah kata terlontar darinya.
"Terimakasih untuk pengertian anda Yang Mulia, kalau begitu saya akan permisi dahulu." pamit Ratu Merlina yang di anggukan oleh Theo sendiri.
Theo melihat kepergian ibunya itu dengan raut tak terbaca dan berbagai banyak pertanyaan di kepalanya. Apakah nantinya jika ibunya tahu semuanya, wanita itu masih akan menyukai sosok Elia ?
Mungkin tidak. Tidak akan ada jawaban 'mungkin ya' untuk ibunya itu. Melihat hal yang begitu besar telah di korbankan Ratu Merlina untuknya. Perempuan itu tidak akan mau membiarkan segala usahanya hancur begitu saja.
Theo berbalik menatap Elia yang masih saja terlihat kegirangan di antara kumparan bunga hingga tidak sadar tengah di tatap oleh seseorang, sampai terlihat Ratu Merlina yang mendekati gadis tersebut lalu menyentuh punggung tangan Elia dan menggenggamnya lembut kemudian berjalan pergi dari taman dengan terus menggandeng Elia.
Dan suatu saat jika dirinya gagal mendapatkan tikus - tikus kecil yang telah menghilang dan bersembunyi, maka pastinya tikus itu akan merusak hubungan kedua sosok perempuan disana yang terlihat akrab, dan saat itu dirinya harus bersiap untuk menjauhkan Elia dari sosok ibunya sendiri yang pastinya akan mencoba melenyapkannya.
***
Elia tersenyum senang saat dirinya di bawa berjalan - jalan oleh Ratu Merlina melihat setiap sisi kerajaan. Sebenarnya tidak ada larangan bagi mereka untuk berkeliling dan menjelajahi istana selama tidak melakukan hal lancang, hanya saja Elia sendiri merasa sedikit sungkan jika harus melakukannya, seolah - olah dirinya pemilik dari istana itu sendiri dan dengan seenaknya berkeliaran.
Mendengar kabar bahwa Elia kembali di suruh menunggu membuat Ratu Merlina mendatangi gadis tersebut tepat setelah kepergian Sophia. Rasa tidak enak hati pada gadis tersebut yang ternyata telah bersiap - siap untuk pertemuannya bersama Raja Theo, membuatnya mengambil inisiatif untu bertemu langsung pada Raja dan mempertanyakannya.
Ratu Merlina bukannya lebih menyukai Elia di banding Sophia, hanya saja setelah jamuan makan malam kemarin Ratu Merlina melihat banyak hal padanya dan berpikir akan sangat rugi bagi puteranya jika dirinya melewatkan kesempatan untuk mengenal sosok gadis cerdas, anggun, dan bertaktha ramah dengan baik itu sebagai seorang puteri bangsawan. Membuatnya berpikir bahwa Elia bisa mengimbangi puteranya, pemimpin kerajaan eropa.
"Duchess Elia." panggilan Ratu Merlina membuat Elia melepaskan kelopak bunga tulip yang berada di tangannya dengan lembut, lalu menunduk memberi salam pada sang ratu.
Ratu Merlina memang sempat meninggalkannya tadi, entah untuk apa yang kurang jelas bagi Elia sendiri. "Anda sudah kembali Yang Mulia Ratu ?"
Ratu Merlina berjalan mendekat ke arah gadis tersebut lalu berbalik menatap hamparan bunga yang sempat memukau puteri bangsawan di sampingnya. "Bagaimana dengan taman ini ? Indah bukan ?" tanya Ratu Merlina.
"Ya, taman ini begitu indah. Membuat saya sangat terpukau karena belum pernah melihat hal seindah ini sebelumnya." Jawabnya jujur yang menyambut tawa kecil dari Ratu Merlina kembali mengalun keluar, kemudian kembali berbalik menatapnya di ikuti oleh Elia dan mulai menarik tangan putih halus gadis di depannya, menggenggamnya lembut. "Jangan begitu terluka terlebih memebencinya mengenai penolakan Raja pagi ini. Kau akan segera mendapatkan kabar baik."
Elia sedikit bingung dengan maksud ucapan dari Ratu Merlina sendiri tetapi, tak kunjung juga mempertanyakannya "Tentu saja Yang Mulia, saya tidak mempunyai hak sejauh itu, terlebih untuk membenci Yang Mulia Raja."
Mendengar jawaban Elia hanya membuat Ratu Merlina tertawa manis kembali "Aku juga dulu sangat polos sepertimu, Duchess Elia." lalu kembali melanjutkan perjalanannya dengan terus menggenggam kedua tangan putih mungil milik salah satu puteri bangsawan eropa tersebut.