T&E~8

2119 Words
Sophia mulai kehabisan kesabarannya saat sudah setengah jam terus menunggu kedatangan Raja Theo, membuatnya dengan jengkel berdiri dari kursi yang di dudukinya sedari tadi dengan kasar membuat kursi emas tersebut terjatuh kebelakang dengan keras. "Dimana Raja ?! Aku sudah sangat lama menunggu !" pekiknya kesal membuat para pelayan - pelayan kerajaan bersama pelayan pribadinya yang berdiri tidak jauh menemaninya di dalam ruang makan kerajaan tersebut mengerut ketakutan. "Duchess." cicit Mirna, pelayannya yang terlihat takut dengan kelakuan majikannya tersebut. Disaat Sophia masih saja berkoar - koar dengan marah suara pintu besar yang terbuka bersama dengan terdengarnya langkah masuk, segera membuat seluruh perempuan - perempuan dalam ruangan langsung terkesiap kaget tak terkecuali dengan Sophia yang melihat Theo berada di ujung pintu menghentikan langkah ketiganya dan menatapnya dengan kening berkerut. Spontan saja Sophia langsung menundukan kepalanya dan memberikan hormat "Anda sudah datang Yang Mulia ?" salam Sophia dengan suaranya yang kembali menghalus berbeda dengan beberapa detik lalu baru saja menaikan nada suaranya untuk melampiaskan kekesalannya pada para pelayan. Theo hanya diam dan kembali mengambil langkah masuk, mengabaikan Sophia dan berlalu saja melewati gadis bangsawan tersebut kearah kursinya sendiri. "Sepertinya aku cukup membuatmu kesal Duchess, karena membuatmu menunggu lama." Ucapan Theo yang telah duduk di kursinya tersebut berhasil menghentikan langkah Sophia yang ingin kembali juga duduk pada posisinya sesaat pelayan kembali mengangkat kursi yang di jatuhkannya tadi. Theo memang sempat mendengar suara penuh kekesalan dari gadis tersebut terlebih kedua mata orange miliknya yang menangkap kursi telah tersungkur jatuh kebelakang, tidak pada posisinya yang tepat. Membuat Theo tahu bahwa dirinya baru saja membuat salah satu puteri dari bangsawan Selomitha itu kesal dengan dirinya. Sementara Zack mulai memberi perintah kepada para pelayan untuk mulai menyajikan makanan yang langsung saja di turuti oleh pelayan kerajaan. Dengan sedikit senyum dingin yang tersampir di ujung bibirnya Theo berucap "Rupanya kau orang yang sedikit sulit untuk bersabar ya." membuat kesan dan aura yang ada pada Theo menajam, Sohia dapat merasakan hal tersebut Theo memang tidak bersikap lembut padanya atau terkesan sangat baik dalam menyambutnya saat pertemuan pertama mereka dalam jamuan makan malam itu dan hanya mengeluarkan auranya sebagai seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan tetapi, tidak dengan pagi ini pria di depannya tersebut terlihat tidak bersahabat dengannya membuat Sophia mulai was - was. Meskipun dirinya adalah seorang puteri bangsawan tetap saja murka dari pria nomor satu tersebut tetatp tidak akan bisa terhindarkan olehnya dan keluarganya tidak akan bisa banyak memebantu jika Sophia benar - benar akan sial. Keputusan Raja adalah hal mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Rasa kekhawatiran mulai memenuhinya, memikirkan kemarahan sementaranya yang tadi lepas kendali dan meledak begitu saja "Maafkan hamba Yang Mulia." tunduk Sophia. Para pelayan dengan cepat menyelesaikan tugas mereka untuk menata makanan di atas meja sebelum segera pergi dari ruang makan kerajaan, meninggalkan kedua bangsawan berbeda derajat atau posisi itu berdua saja. Theo hanya mengabaikan ucapan permintaan maaf dari gadis di ujung sana, tatapannya terlihat malas dan tidak berselera untuk sekedar mengangkat peralatan makannya lalu menyendok masuk jamuan makan pagi tersebut kedalam piringnya sebelum dimasukannya kedalam tubuhnya. "Tidak apa. Aku tidak terlalu terkejut." jawab Theo yang berhasil membuat Sophia mendongak menatapnya dengan senang. Berpikir bahwa pria tersebut memakluminya. Lihat saja etika dan sopan santun dari perempuan tersebut, sangat berkedok. Disaat gadis tersebut melupakan siapa yang sedang di tatapnya dengan lancang langsung saja Theo menghela nafas. Sophia hanya menjadikan statusnya sebagai seorang puteri bangsawan yang terlihat terpelajar dan berkelas untuk menutupi segala tingkah laku buruknya. Tidak ada seorangpun yang berani menatapnya dengan begitu lama di pertemuan kedua mereka, bahkan para menteri - menterinya saja yang sudah bekerja selama bertahun - tahun padanya masih menundukan kepalanya saat mata orange miliknya tidak sengaja bersitubruk dengan manik mata mereka, karena begitu sistem mereka bekerja. Posisinya sebagai seorang raja di monarki tertinggi tidak bisa membuat sembarang orang untuk mendongak naik menatapnya. Dan Sophia selalu saja melewati aturan tersebut, sebenarnya Theo sendiri tidak masalah dengan tatapan itu hanya saja dirinya merasa terganggu dngan tatapan yang di lontakran oleh Sophia terlihat bertingkah sok polos dan seolah ingin menunjukan bahwa dirinya adalah sesuatu yang suci. Dengan ekspresi yang di buat - buat sedih oleh Sophia meskipun Theo sendiri tidak menatapnya kembali membuka suara "Saya hanya merasa sedikit sedih saat anda tidak datang juga, padahal saya sudah menunggu anda Yang Mulia. Hati saya terasa tidak tenang dengan ketidak hadiran anda." terang Sophia sembari memegang d**a kirinya seolah menjelaskan maksud ucapannya. "Kau hanya tidak ingin bersabar. Kupikir seluruh puteri bangsawan Selomitha bisa berperilaku dengan baik." Theo mulai mengangkat garpunya dan menusuk daging di depannya itu sebelum mendekatkan kemulutnya. "Ternyata hanya kau saja yang begitu." sambungnya sinis lalu memasukan daging yang di panggang itu kedalam mulutnya. Sophia terdiam sedikit terkejut dengan reaksi Raja yang mengabaikannya dengan terdengar frontal pada dirinya, membuatnya tanpa sadar menggigit bagian pipi dalamnya, menahan kekesalan. Pria di depannya ini tidak boleh memandangnya dengan buruk karena dirinya membutuhkannya. Kembali tersenyum membuat Sophia tidak melepaskan kedua manik mata birunya dari sang Raja yang mulai menyantap jamuan paginya tanpa mempersilahkan Sophia sebagai salah satu tamunya. "Yang Mulia bukankah anda baru bertemu dengan saya. Bagaimana bisa anda menilai hamba berbeda dengan puteri Selomitha lainnya ?" ucap Sophia lembut, menghentikan pergerakan kedua tangan Theo di atas piringnya lalu mendongak membalas manik mata biru di depannya dengan pandangan misterius. "Kau salah. Bukan pertama kalinya aku bertemu dengan puteri bangsawan Selomitha." balasnya membuat kerutan Sophia muncul, bertanya - tanya. "Sophia, jangan membuat dirimu semakin sulit nantinya karena ambisimu itu. Saat sudah saatnya kau pergi kau harus pergi dari sini." sambung Theo membuat Sophia terdiam tidak bisa berkata - kata saat mendengar ucapan pria tersebut padanya. *** Elia berjalan keluar dari kediaman Ratu Merlina yang sudah menghabiskan waktu selama berjam - jam untuk bercakap - cakap kecil dan menikmati manisan pagi hari sembari di temani berbagai cerita - cerita kecil sampai menjelang siang hari barulah Elia keluar dari kediaman sang Ratu. Elia merasa senang saat Ratu Merlina memperlakukannya dengan baik di istana ini terlebih wanita tersebut terlihat menaruh banyak perhatian padanya, membuat Elia seperti bertemu dengan sosok ibunya. Mungkin gaun yang di pakainya ini dengan segala kesiapannya untuk bertemu Raja menjadi sia - sia tetapi, setelah memikirkannya kembali Elia berpikir itu tidak terlalu buruk buktinya dirinya bisa berpenampilan dengan layak di depan ibu Raja Theo. Jadi tidak ada yang terlalu buruk terjadi. Saat Elia yang sudah berjalan jauh dari kediaman sang Ratu hingga kakinya telah membawanya di depan pintu kediamannya sendiri,ternyata dirinya sudah di tunggui oleh seorang gadis yang dikenalnya sebagai sepupu dekatnya yaitu Sophia, sepupunya itu terlihat sudah mengganti gaunnya yang di pakainya tadi pagi untuk bertemu Raja menjadi jauh lebih sedikit biasa tetapi, tetap saja memukau. Tidak ada baju dari seorang bangsawan yang tidak memukau terlebih jika itu untuk seorang yang berada di kasta terendah. "Sophia, ada apa ?" Suara panggilan dari Elia berhasil mengalihkan tatapan sepupunya itu dari para penjaga yang berjaga di depan mereka. Terlihat kedua mata biru sepupunya itu turun mengobservasi dirinya dengan kening berkerut saat melihat pakaianannya. "Darimanakah engkau sepupuku ?" pertanyaan lain yang di lontarkan Sophia pada Elia membuatnya hanya tersenyum ramah "Aku dari kediaman Rratu Merlina. Berbagi cerita - cerita kecil saja." jawab Elia sembari mengarahkan Aria untuk membuka pintu dari peraduannya itu. "Apa kau ingin masuk ?" tawar Elia pada Shopia yang tentu saja mengiyakan tawaran tersebut kepada sepupunya. Sophia mengambil posisi duduk pada Sofa yang berada di dalam ruangan besar itu berhadapan dengan ranjang yang di pakai oleh sepupunya untuk beristrahat pada saat malam hari. Kediaman yang di berikan pada Elia tidak berbeda jauh dengan yang di dapatkan olehnya baik dari segi ukuran ataupun kualitas, hanya berbeda sedikit pada bagian model interior kamar. "Duchess saya akan mengambilkan anda teh." ucap Aria yang hanya di angguki oleh Sophia saja tetapi, tidak dengan Elia yang langsung mencegat pelayan pribadinya itu. "Aku tidak ingin teh. Tolong berikan saja aku segelas air putih." Aria yang mendengar permintaan dari majikannya mengangguk mengerti lalu kembali permisi dari sana. Elia tidak mampu lagi untuk mengkonsumsi teh, dirinya sudah cukup banyak meminumnya tadi saat bersama Ratu Merlina. Kerutan di dahi Sophia muncul saat mendengar percakapan sepupunya itu dengan pelayan, terdengar aneh padanya dan hal baru yang di dengar olehnya. "Tolong ? kau sering berkata seperti itu pada pelayanmu sendiri ? Yang benar saja." tawa Sophia. mungkin jika dirinya tahu bahwa Elia bahkan memanggil pelayannya sendiri dengan sebutan Bibi di saat mereka berdua, seolah status mereka sama mungkin gadis itu akan tertawa kencang. "Tidak ada salahnya. Bagaimanapun Aria sangat sering menolongku dalam melakukan segala hal. Bukankah begitu juga dengan Mirna, Sophia ?" Elia tersenyum pada pelayan pribadi sepupunya itu, masih muda juga seperti mereka berdua. sedang berdiri di belakang Sophia yang langsung saja menunduk menghindari kontak matanya dengan Elia. Sophia hanya menghela nafas malas mendengar penuturan dari Elia yang terdengar sangat tidak masuk akal olehnya, sebelum hanya menyampirkan sebelah rambutnya ke belakang punggung. "Mereka bekerja pada kita. Memangnya mereka pikir mereka siapa sampai aku harus meminta tolong hanya untuk menyuruhnya." sebenarnya dirinya terlalu malas untuk menjelaskan pada Elia yang tentunya tidak akan pernah sejalan dengan pendapatnya itu. "Lupakan itu. Mirna berikan pada sepupuku ini dengan apa yang telah kita persiapkan untuknya." sambungnya tanpa menoleh pada pelayannya yang langsung saja bergerak maju dan memberikannya pada Elia. Sebuah kotak yang di tutupi oleh kain berwarna ungu pekat di atasnya. Dengan sedikit kebingungan di terimanya kotak tersebut dari tangan Mirna. "Apa ini ?" Polesan merah merekat pada bibir Sophia terlihat melengkung manis saat melihat Elia yang menggenggam kotak merah berukuran sedang itu, bahkan Elia sudah mengambili kain ungu yang menutupinya tetapi belum membuka kotak tersebut masih terus memperhatikan sisi dari setiap kotaknya. "Jangan di buka dahulu. Itu hanya kotak berisi hadiah kecil dariku. Kau tahu, aku merasa menyesal dengan perkataanku pagi tadi." terang Sophia menghentikan tangan Elia yang sedikit lagi akan membukanya. "Seharusnya aku tidak mengatakan itu pada sepupuku sendiri, kau bukan sainganku bukan ? Aku seharusnya tahu kalo penolakan dari Raja sudah cukup membuatmu sedih dan aku justru menyarankanmu untuk segera berkemas." Bibir Sophia sedikit mengerucut seolah kesal pada dirinya sendiri itu, mengingat tingkahnya pagi tadi. Elia hanya tertawa kecil sebelum menaruh kotak merah yang katanya disebut sebagai hadiah permintaan maaf itu ke meja sampingnya bersamaan dengan kedatangan Aria yang sudah mengantarkan minuman untuk melengkapi perbincangan santai mereka. "Jangan di pedulikan Sophia. Tadi pagi itu bukan apa - apa, tidak perlu meminta maaf sampai memberi hadiah begini." Disaat Elia akan menarik gelas berisi air putih yang sudah tersaji di depannya dengan cepat kedua tangan putih halus milik sepupu cantiknya tersebut sudah menggenggamnya kuat, bahkan tubuh Sophia sudah setengah condong ke arahnya "Karena kau tidak marah soal pagi tadi dan kita sudah berbaikan. Apa aku bisa meminta satu hal padamu ?" Elia sebenarnya kurang nyaman dengan genggaman Sophia mengingat sepupunya itu tidak dekat dengannya bahkan mereka jarang melakukan sentuhan kecil biasa layaknya keluarga, Sophia terlalu segan ingin melakukannya dan Elia merasa tidak nyaman juga dengan Sophia sebenarnya. "Apa ? Katakan saja, aku akan membantumu sebisaku." "Jika nanti dalam pemilihan Ratu kau yang terpilih, bisakah kau menolaknya dan membiarkan aku menggantikanmu ?" Suara terkesiap terdengar dari Aria dan juga Mirna begitu juga dengan Elia yang terkejut dengan permintaan sepupunya tersebut. Tidak terduga. Elia bahkan belum pernah bertemu dengan Raja lalu bagaimana bisa sepupunya meminta hal itu padanya, seolah - olah dirinya saja yang benar - benar akan menjadi Ratu. Jika dilihat dari sisi lain, justru Sophia yang terlihat jauh lebih unggul darinya mengingat gadis tersebut sudah diundang makan malam bersama sang Raja sementara Elia mengalami penolakan. Dengan pelan di singkirkannya tangan Sophia darinya. "Sophia, bagaimana bisa kau meminta itu ? Tidak mungkin aku yang terpilih, kau bahkan sudah bertemu dengan Yang Mulia Raja sementara aku mendapatkan penolakan." "Kalau kau tidak yakin akan terpilih, maka tidak ada salahnya jika kau hanya berjanji padaku !" desak Sophia yang membuat tatapan bola mata birunya mengobar penuh ambisi dalam nya. Elia bukan seseorang yang akan bermain - main dengan janji bahkan saat dirinya belum mendapatkan kepastian dan akan menjanjikan hal lebih besar untuk sepupunya, itu tidak mungkin. "Maaf. Aku tidak bisa. Itu sedikit tidak benar, kurasa." "Kau menginginkan posisi ratu." gumam Sophia pada dirinya sendiri dengan mata yang memicing tajam menatap sepupunya itu. Sophia yang telah mendapatkan jawabannyapun bangkit berdiri dari sofa yang di dudukinya lalu mulai berjalan pergi meninggalkan Elia yang merasa tidak enak hati padanya, karena telah menolak permintaan itu. Tapi, hati kecilnya berkata bahwa dia tidk bisa menjanjikan hal tersebut, meskipun Raja sudah menolak bertemu dengannya, tetap saja Elia tidak bisa. Saat Sophia berjalan di ikuti dengan Mirna di belakangnya dirinya berhenti berjalan sebentar sebelum sedikit berbalik untuk menatap kota merah yang diberikannya pada sepupunya itu. "Padahal jika kau berjanji, aku akan mengambil kota merah itu kembali." ucapnya dengan sebuah senyum sinis yang muncul di bibirnya sebelum berlalu pergi dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD