Aluna membenturkan kepalanya ke pagar besi. Masalah demi masalah mengerubunginya, seakan ia merupakan objek pusat yang dikelilingi berbagai satelit. Iya. Satelit Bima, satelit Yudistira, mega satelit Kalista, dan satelit-satelit lainnya yang mungkin bermunculan dalam beberapa waktu ke depan. Sialan. Sialan. Sialan. Aluna memalingkan muka saat Yudistira menghampirinya dengan wajah tanpa dosa. Pria itu membetulkan jam tangannya, menekan alarm mobil, masuk dan duduk di bangku kemudi dengan gaya santai. Aluna mematung di tempatnya saat Yudistira meliriknya, mengendikan kepala, memberi isyarat untuk cepat masuk. Masih tak ada pergerakan, lantas Yudistira menekan klakson mobil sampai Aluna terperanjat. "Masuk. Kamu nunggu apa, sih?" Nungguin penjelasan lo. Ah elah, peka, kek. "Masuk. Kamu ma

