"Ciye, yang habis simulasi mati," ejek Bima. Menunjuk wajah Aluna sambil cekikikan.
Aluna memukul bahu Bima seraya memberenggut kesal. Bukankah hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja? Bisa-bisanya Bima mengajaknya bercanda tanpa meminta maaf terlebih dahulu?
“Jangan bahas itu!" gerutu Aluna. Merotasi kedua bola matanya dari Bima yang masih cengengesan.
"Buruan pakai dulu pampers-nya."
PAMPERS APAAN, WOY!
Aluna tergelak. Segera ia membuka kantong kresek berisi pembalut dan membukanya. Mengambil satu untuk ia pakai.
"Kamu keluar!" Aluna memandang Bima dengan ekspresi nyalang membuat si pria sedikit terjengat. Tetap saja cengiran itu tak lepas dari bibir si pemuda, seolah menertawakan Aluna sudah seperti hiburan untuknya. Ada perasaan puas tersendiri.
"Aku nggak bakal liat, kali!" Bima menutup matanya dengan kedua telapak tangan. "Tuh, ditutup."
Aluna tetap pada pendiriannya. Mendorong bahu Bima agar menjauh darinya. "Nggak, ih. Keluar!"
Bima mencebik seraya menurunkan kedua tangannya dari mata. "Si pelit!"
"Bim ...."
Mau tak mau Bima keluar dari dalam mobil. Di luar, ia kembali cekikikan. "Tutup tirainya. Entar ada jamet ngintip!" teriak Bima dari luar.
"Elo jametnya!"
Lagi-lagi Bima terkekeh. Masalah yang ia lalui bersama Aluna seminggu lalu bagai lenyap tertiup angin. Ia melupakannya begitu saja.
Seraya bersandar pada kap mobil, Bima memasukan kedua tangannya ke saku celana. Pandangannya menatap lurus-lurus jalanan yang mulai sepi, di bawah pohon mahoni yang berjejer di pinggir jalan. Bima membawa Aluna tak tentu arah. Setelah berusaha kabur dari minimarket, mereka berputar-putar mencari tempat yang aman untuk Aluna berganti pembalut. Hingga sampailah ke tempat ini. Entah di daerah mana, yang pasti masih di wilayah Bandung.
Bima celingukan ke kanan kiri. Ia bergidik ngeri, takut saja tiba-tiba segerombolan warga datang menggrebeknya saat Aluna tengah membuka celana. Mereka disangka berzinah padahal sedikitnya, iya. Lalu diarak keliling kampung dan dinikahkan paksa. Poinnya bukan tak mau dinikahkan, hanya tak mau nama baik mereka tercoreng. Ia tak bisa membayangkan reaksi keluarga dan para tetangganya saat tahu bahwa anak soleh-solehah mereka diarak keliling kampung sambil bertelanjang karena perzinahan. Gilak. Bima menggeleng, mengusir segala prasangka negatif. Toh, mereka memang mau menikah juga, 'kan?
Selang berapa lama ponselnya bergetar. Bima merogoh saku celana dan membaca sebuah nama yang terpampang di layar. Dia Kalista, gadis yang membuat mereka bertengkar hebat tempo hari. Bima menggaruk kepalanya kebingungan. Melirik ke dalam mobil, lantas mengabaikan panggilan.
Baru saja Bima akan menaruh kembali ponselnya ke dalam saku, ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk dari kontak yang sama dengan yang baru saja memanggilnya. Bima melirik ke dalam mobil sekilas. Mudah-mudahan tak ada kecurigaan lagi.
Kalista
Kak, Maaf hoodie-nya belum aku cuci, ya? Makasih sudah minjemin. Cuma mau bilang gitu, soalnya tadi sore kelupaan."
Bima menautkan alis. Buru-buru mengetikan sebuah balasan.
Bimasena
Nggak apa-apa. Sama-sama, Kal.
Kalista
Hehe. Iya, Kak☺
Bima memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Walau pun Aluna tak tahu, tapi ia membuat suatu perubahan untuk tak mengulang keributan yang pernah terjadi tempo hari.
Untuk hoodie, Kalista sudah mengembalikannya sore tadi. Ia menaruhnya di dalam kantong kresek yang ia simpan di atas dashboard. Syukur-syukur Aluna melihatnya, hingga tak perlu ada kesalahpahaman lagi.
Bima menatap kembali jalanan lurus-lurus. Ia memandang arloji di pergelangan tangannya. Sudah setengah sepuluh malam, dan anak orang belum ia pulangkan?
"Bulan?!" panggilnya. "Kamu ganti pampers atau lagi transformasi jadi tuyul, sih? Lama banget!"
***
"Pakai ini buat nutupin darah di p****t kamu." Bima mengambil kantong kresek dari dashboard mobil dan mengeluarkan hoodie dari dalamnya. "Ini ... hoodie yang dipinjam Kalista. Udah dikembalikan. Jangan ngambek-ngambek lagi, ya."
Aluna membatu saat Bima mengulurkan sebuah hoodie dari tangannya. Wangi parfum perempuan menyeruak dari dalamnya. Aluna sedikit menahan kesal kendati tak memperpanjangnya. Segera ia mengambil hoodie tersebut dan mengalungkannya di pinggang hingga menutupi b****g. Setelahnya ia mengambil minyak angin dari dalam tas dan mengoleskannya ke seluruh bagian hoodie hingga parfum Kalista tak lagi tercium, tertutup sempurna oleh bau minyak angin. "Enakan wangi minyak angin. Gak bikin mual."
Bima melirik kilas Aluna. Menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Aku minta maaf." Bima menoleh seraya tersenyum tipis.
"Untuk?"
"Semuanya."
Aluna balas menoleh, lantas mengangguk pelan di tempatnya. "Aku juga minta maaf, ya."
Bima tersenyum. Mengusap pelan rambut sang kekasih. "Udah, lupain aja."
Aluna mengacungkan jari kelingkingnya. "Sekarang baikan?"
"Gimana, ya? Aku masih pengen ribut, lagi."
Mendadak Aluna bertolak pinggang. Sekadar memberi ancaman peringatan. "Oke, ayo!"
Bima nyengir polos di tempatnya. "Ribut yang lain, lah."
"Apaan?"
"Masa nggak ngerti," jawabnya seraya cengengesan.
Aluna mencebik kesal. Dasar Bimasena otak udang. m***m. "Pernah makan roti isi mens, nggak?"
***
Keadaan membaik. Hari-hari Aluna kembali normal. Bima menunggu Aluna seraya bersandar pada kap mobil. Di detik sebelumnya, Aluna mengiriminya pesan dan mengatakan bahwa dirinya akan selesai dalam lima menit. Sayangnya, limabelas menit berselang gadis itu tak kunjung memberikan tanda-tanda kemunculan.
Bima membalik badan, merapikan gaya rambutnya seraya bercermin di kaca mobil. "Perfect!" pujinya dalam hati. Lantas kembali ke posisi semula.
"Lama banget. Astaga!" gerutunya kesal. Diliriknya arloji di tangan kanan beberapa kali.
Bima melangkahkan kaki menuju pintu gerbang. Celingukan menatap jendela kamar Aluna. Bayang-bayang si gadis kentara dari luar. Aluna masih sibuk dengan maskaranya.
Seraya mencebik kesal, segera Bima mengeluarkan ponsel. Mencari kontak Aluna dan menekan tombol panggil.
"Ini udah selesai, kok, Bim," sahut Aluna di seberang sana, seolah mengerti maksud sang kekasih.
Bima melirik jendela kamar Aluna. Si gadis masih sibuk dengan lipstiknya. Lantas Bima menghela napas panjang. Merotasi kedua bola mata. "Cepetan. Siang. Kok lama banget? Kamu tuh cuma ke kantor bukan mau jadi pemandu karaoke, kan?"
"Enak aja kamu!"
Bima terkekeh. Mematikan sambungan telpon setelah mengatakan pada Aluna untuk bergerak cepat. Tak berselang lama Aluna keluar seraya menyisir rambutnya menggunakan jemari. Menepuk permukaan wajahnya untuk merapikan tatanan make up.
Aluna nyengir setelah berhadapan langsung dengan Bima. Ia menengadah menatap Bima yang memasang ekspresi datar. Menggenggam tali tas dan membetulkannya, Aluna mencubit pelan perut Bima. Lantas ia bergerak cepat membuka pintu mobil lalu duduk santai di samping kemudi.
Bima mengusap permukaan kulit perutnya seraya mengulum senyum. Dasar cewek nakal. Berjalan menuju pintu mobil, lantas Bima membukanya dan duduk di bangku kemudi. Ia melirik sang kekasih sekilas. Tersenyum padanya yang kembali sibuk mengurus tatanan make up. "Jangan menor-menor. Muka kamu udah boros. Kayak tante-tante."
Aluna tergelak. Ia membatu sejenak dengan lensa kontak di jari telunjuknya. "Tante-tante? Gak usah pacaran sama tante-tante kalau gitu!" protesnya. Kembali melebarkan mata dan memasang lensa kontaknya.
Bima terkekeh pelan di tempatnya. Melajukan mobilnya dengan pembicaraan ringan dan perdebatan kecil seperti biasanya.
Laju mobil terhenti tepat di depan gedung perkantoran. Aluna menyampirkan tali tas di bahu, membuka pintu mobil dan bergerak turun. Sebelum benar-benar melangkah, Bima menahan tangannya dan tatapan mereka beradu. Aluna menaikan kedua alisnya skeptis.
"Hati-hati," ucap Bima. Aluna menatapnya dan mengerjapkan mata beberapa kali.
Aluna kira ... ada hal penting yang ingin ia bicarakan?
"Oke." Aluna kembali melangkahkan kaki seraya mengendikan bahu tak peduli. Ia berjalan santai memasuki lobi sesaat setelah melambai tangan pada Bima.
Mengibaskan rambut ke belakang, Aluna melangkah percaya diri menuju pintu lift. Tatapannya terpaku pada seseorang yang kini berjalan berlawanan arah dengannya. Dia Kalista-yang tengah sibuk berbincang dengan seseorang lewat telpon.
Berani-beraninya berpapasan tanpa menyapa. Dewi batin Aluna menggerutu. Memutar badan mengikuti arah gerak Kalista dan menatapnya datar.
"Pacar Kakak udah pergi, 'kan? Ya udah tunggu dulu. Aku ke sana sekarang," ucap Kalista keras-keras. Aluna mengendikan bahu tak peduli. Ia yakin bukan Bima orangnya.
***
Bima menyangga kepala menggunakan tangan kanan, menyandarkannya pada pintu mobil. Seseorang yang ia tunggu belum menunjukan tanda kemunculan. Ia memejamkan mata sejenak. Mulutnya bersenandung kecil.
"Udah siang. Kalista mau ngapain, sih?" Bima bermonolog. Kali ini ia menghentakan kaki hingga berirama. Mengusir kejenuhan.
Bima masih di sini. Masih di depan gedung perkantoran tempat Aluna bekerja, saat tiba-tiba Kalista menghubunginya dan meminta untuk bertemu sekarang. Sebenarnya, tadi Bima ingin memberitahukan hal ini pada Aluna agar tak terjadi kesalahpahaman lagi. Namun, seperti ada sesuatu yang menahannya. Bima mendadak bungkam dan tak berani bicara. Lidahnya mendadak kelu.
Selang berapa lama seseorang lain mengetuk kaca mobilnya. Ia mendongak. Senyum Kalista nampak di luar sana. Bima balas tersenyum seraya menurunkan kaca mobil.
"Hai,” sapa Bima.
"Nunggu lama, ya?"
Bima menggeleng seraya mengibas tangan. "Enggak, Kok. Masuk."
Kalista mengangguk dan berjalan menuju pintu samping, lantas membukanya. Ia duduk di samping kemudi. "Selamat pagi, Kak."
Bima tersenyum tipis seraya mengangguk tipis. "Pagi."
Kalista menyibakan rambutnya ke belakang. Memperlihatkan leher jenjangnya. Bima menamparkan pandangan ke sembarang arah. Pemandangan itu sedikit mengganggunya.
"Ganggu waktunya, ya?" tanya Kalista.
"Iya ganggu."
"Hm?"
Bima merutuk kebodohannya. Latahnya mulai kumat. Bukan ganggu itu. "Nggak. Nggak. Maksudnya enggak mengganggu," ralatnya seraya tersenyum tipis. Kalista mangut-mangut di tempatnya.
"Kalau kak Aluna tahu pasti salah paham, Kak."
"Dia nggak tahu, kok."
Kalista mangut-mangut. “Insulin Mamaku udah habis, Kak. Makanya aku meminta untuk bertemu sekarang.”
“Gak apa-apa. Aku santai Kok.” Bima tersenyum.
“Aku takut banget Kak Aluna marah.” Kalista menghela napas panjang. "Kak Aluna nggak suka kalau Kak Bima dekat-dekat sama aku."
"Masa, sih?"
"Iya. Sebenarnya aku nggak enak bilang kayak gini ke Kakak. Tapi ... aku mendengarnya dari orang lain bahwa Kak Aluna suka gosipin aku di belakang." Kalista menggigit bibir bawahnya. Matanya menunduk seolah menyesali apa yang baru saja ia katakan. "Bahkan... tadi pagi Kak Aluna membuang muka dariku."
Terjadi keheningan sesaat. Bima menghela napas panjang. Tersenyum tipis seraya menepuk bahu Kalista beberapa kali. "Sekali lagi maafin Aluna, ya."
"Iya Kak. Maaf banget, ya, aku malah ngomong gini."
"It's ok." Bima tersenyum kilas. Ia merogoh tas kerjanya. Memberikan sebuah benda berbentuk layaknya pena. "Ini insulin merk ryzodeg yang direkomendasikan sama dr. Sully. Dipakai sehari sekali sebanyak sepuluh unit, ya."
Kalista mengangguk. Mengambil benda tersebut. Membolak-balikannya untuk diteliti. "Thank you, ya, Kak."
Bima mengangguk. "Okay. Insulinnya disuntikan di perut, kalau enggak di lengan atas, ya."
"Okay. Makasih."
"Kalau ada yang mau ditanyakan kamu bisa chat aku."
Kalista mengangguk seraya melirik Bima sekilas. Membuka resleting tas-nya, lantas Kalista memasukan obat-suntikan insulin- ke dalamnya. Entah bagaimana ceritanya, secara tiba-tiba kaki Kalista gatal. Ia membungkuk, hendak menggaruknya. Sialan. Tas Kalista yang belum tertutup rapat mendadak jatuh. Seluruh isinya berceceran ke mana-mana. Praktis Bima ikut membungkuk, membantu mengambil barang-barang Kalista dan memasukannya ke dalam tas.
Secara tak sengaja, Kalista menyentuh tangan Bima saat hendak mengambil barang yang sama. Mereka membatu, layaknya sinetron-sinetron di tv. Bima berdehem pelan menetralkan suasana sementara Kalista tersenyum kaku. Mereka sama-sama bangkit dan menegakan posisi duduknya.
"Maaf, Kak."
"Nggak apa-apa, Kal."
"Duh, malah jatuh gini, ya." Kalista kembali membungkuk mengambil barang terakhir dan memasukannya kembali ke dalam tas.
"Kakinya masih gatal?"
Kalista terkekeh pelan. "Udah enggak, Kak. Mendadak hilang gatalnya."
Bima tersenyum kecil, lantas mengangkat tangan guna melirik arloji di pergelangan tangannya.
Haduh ... bisa-bisa kesiangan. Dewa batinnya gelisah tak karuan. Bima mengetukan sepatunya beberapa kali. Bagai pemuda kebelet boker.
"Aku ... pamit kalau gitu." Bagai cenayang yang dapat membaca isi hati Bima. Kalista menangkap pergerakan gelisah dari pemuda di hadapannya. Segera ia mengangguk sopan dan membuka pintu mobil. Bima membalas dengan senyum sopan yang sama. Menatap punggung Kalista sejauh mata memandang.
Kalista berjalan santai memasuki gedung perkantoran. Ia mengibaskan rambut ke belakang. Bersamaan dengan itu senyumnya tersungging. Gurat misterius tergambar di baliknya.