“Enak banget, 'kan, lagunya?” Aluna berlenggok ke kiri kanan mengikuti irama lagu. Megulum seyum tipis, Yudi melirik kilas sang gadis tanpa bersuara. "Hip-hop mah terlalu berisik menurutku," lanjutnya.
Yudi Terkekeh pelan. "Iya, lumayan enak juga."
"Lumayan? Hanya lumayan?"
“Hem.” Sang pemuda mengangguk, diikuti sebuah lirikan mata untuk si gadis. "Menurutku, hip-hop enak. Seperti memerefleksikan keceriaan."
Di tempatnya, Aluna tergelak. "Paham dari mana itu?"
"Pahamku sendiri." Yudi nyengir polos. Aluna geleng-geleng kepala dalam posisinya.
Langit merubah warnanya menjadi lebih gelap. Di tempatnya, Aluna mematung, lantas mengulum senyum. Ada perasaan hangat menyelimuti celah hatinya yang kosong. Ia mengamati setiap gerik Yudistira kendati setitik debu debu.
Ternyata pria yang cukup hangat. Dewi batinnya ikut berkomentar. Sejurus kemudian Aluna menepuk pelan dahinya untuk tak berpikiran macam-macam. Dasar keganjenan.
Sejak bertahun lamanya ia menjalin kasih dengan Bimasena, sosok Yudistira sama sekali tak pernah bisa dikoreknya. Sifatnya yang cukup pendiam, dingin, dan misterius membuat Aluna merasa sedikit segan untuk sekadar menyapa.
Tentu saja Aluna mengenal Yudistira kendati pertemuan keduanya tak cukup intens. Ia tahu sosok Yudistira yang di cap alergi terhadap perempuan oleh teman satu tongkrongannya. Sebatas itu. Sebatas bertemu dan bertukar sapa. Sekadar bersepandang kemudian melempar senyum.
Lantas sekarang? Pertemuan ini?
“Kak?" tanya Aluna ragu-ragu.
Yudi melirik sang gadis. "Hm?"
"Tadi habis dari mana? Kok bisa kebetulan ketemu gini?"
Yuditira terkekeh pelan. "Aku sengaja jemput kamu."
Ha? "Loh?—"
"Bima yang nyuruh untuk aku jemput kamu."
Selagi mencerna setiap kalimat Yudistira, Aluna mangut-mangut di tempatnya. "Ah begitu, ya?"
Di sampingnya, Yudistira hanya memasang senyum tipis sebagai tanda mengiyakan. Wajah Aluna kembali murung saat mengingat janjinya yang batal dengan sang kekasih.
"Sepertinya Bima sangat dekat, ya, dengan gadis itu?"
***
Bima memarkirkan motor sport-nya di halaman rumah tepat pada pukul sembilan pagi. Setengah terkantuk merupakan resiko dari kerja malam dan Bima merasakannya saat ini. Kendati pekerjaannya tak begitu menguras tenaga, tetap saja yang keluar dari mulutnya hanya mengeluh, mengeluh dan memaki.
Manusia memang begitu. Giliran pengangguran menyalahkan pemerintah, setelah memiliki pekerjaan malah membuat postingan; 'CAPEK KERJA MELULU, KAWININ HAYATI, BANG!'
Ah, untung saja Bima berjenis kelamin laki-laki sehingga tak perlu meminta dipersunting seseorang saat sudah merasa lelah menghadapi persoalan hidup.
"Capek banget, gilak." Bima baru saja akan menyimpan sepasang sepatunya ke dalam rak yang letaknya tak jauh dari pintu saat tiba-tiba ponselnya berbunyi membuatnya mengurungkan niat untuk memasuki rumah sejenak. Alisnya mengernyit heran membaca sebuah nama yang tertulis di balik layar.
"Kalista?" Bima bermonolog saat melihat nama Kalista-anak dari pasien yang diurusnya. Lantas ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga, menyimpan sepasang sepatunya ke dalam rak, dan berjalan memasuki rumah. "Halo, Kak?"
"Ih, Kak Bima. Sudah kubilang jangan panggil aku kakak. Aku masih 22 tahun, dan kamu bukan sales hape yang sedang merayu agar aku membeli produkmu. Jadi, gak usah manggil aku kayak gitu lagi, ya." Di seberang sana Kalista merajuk tanpa penyebab yang jelas.
Bima terkekeh di tempatnya. "Jadi aku harus manggil kamu apa?" tanya Bima, menjepit ponselnya di antara pundak dan telinga sebelum membuka pintu rumah.
"Kalista saja, kak."
"Oh, iya. Kalista." Bima menutup pintu kembali, berjalan menuju arah kamar. "Ada apa, Kal?"
"Kak Bima, nanti yang bersihin luka pasca operasi Mama di sini siapa?"
Bima mengernyitkan dahi lantaran merasa Heran. "Perawat. Kamu tinggal manggil perawat atau memencet bel di sana. Mama kamu masih di ruang ICU, 'kan?"
"Masih, Kak. Kalista kira yang mau bersihin luka Mama, tuh, Kak Bima. Soalnya Mama kayak udah sreg gitu sama cara kerja Kak Bima."
Bima duduk di ujung ranjang, lantas menggaruk kepalanya yang baik-baik saja. "Kamu mau luka mama kamu aku yang bersihin?"
"Ya ... kalau boleh, sih, kak. Kalau di luar jam kerja, aku bakal bayar Kakak sesuai bayaran home care kemarin."
Bayaran home care? Boleh juga. Bima menyeringai. Kalau untuk urusan uang jangan dinanti-nanti. "Gak usah mikirin bayaran, Kal, yang penting mama kamu sembuh aja dulu."
That, bulshit.
"Iya, Kak. Terimakasih, ya."
Dalam posisinya, Bima nyengir kembali. "Kalau ada apa-apa hubungi aku saja, ya?"
"Oke."
Yes, job lagi.
***
Bima mematung di depan lemari, hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang ke bawah. Ia membuka-buka gantungan baju, memilih pakaian mana yang akan dikenakannya untuk malam ini. Niatnya, Bima akan menebus hutang yang ia janjikan pada sang kekasih tempo hari.
Mengingat Aluna membuatnya tak dapat berpikir jernih karena terkadang sifat Aluna yang terlalu posesif. Kadang Bima merasa jenuh. Ada saat di mana Bima ingin menikmati waktunya sendiri, tanpa sebuah rutinitas wajib, yaitu; mengabari sang kekasih setiap kali menghela napas—kasarnya mungkin begitu.
Bima memilih sebuah celana chinno berwarna gading dan sebuah kaus putih polos sebelum dipadupadankan dengan setelan lainnya. Sejenak ia melihat pantulan dirinya di balik cermin. Cukup malang. Mata kantuknya yang semakin hari semakin menggelap, wajahnya yang sudah beberapa malam melupakan skincare. Kulit mukanya terlihat sedikit bruntusan, bahkan akan sangat berminyak kalau sudah mulai kegerahan.
Bimaku sayang, Bimaku malang.
Itulah salah satu resiko bucin, membuatmu takut melepaskan hal-hal yang menurutmu membosankan, dan tetap kamu genggam karena tak mau menanggung sebuah penyesalan.
Lantas bima meneguhkan pilihannya pada sebuah sweater hitam yang kemudian dipakainya. Diliriknya sebuah arloji yang melekat di pergelangan tangan kirinya, dan waktu menunjukan pukul setengah delapan malam.
"Otw dulu sebelum telat. Kalau telat bisa mampus gue." Bima bermonolog, lantas membawa kunci motornya dari atas nakas dan melenggang pergi meninggalkan kamar.
Di ruang tengah, Bima menemukan Yudistira tengah berkutat dengan laptop dan tumpukan berkasnya. Sang kakak sempat melirik Bima sekilas walau tak berkomentar apa pun. Begitu pun Bima, hanya bersikap cuek bebek seraya melanjutkan langkahnya.
"Bim, mau ke mana lu?" Sang ibu tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan celemek kebesaran dan serok di tangan kanannya. "Keluyuran aja, lu."
Bima menghentikan langkahnya tepat di depan pintu keluar. "Mau pergi, Ma."
"Sama Aluna?"
"Sama siapa lagi kalau bukan Aluna?"
"Kali aja sama si Tito. Gak usah main-main lagi sama si Tito lagi, ya. Anak itu membawa pengaruh nggak benar buat hidup kamu."
Bima tergelak. "Pengaruh nggak benar gimana, sih, Ma?"
Sang mama mendekat ke arah Bima. Semerbak bau bumbu dapur memenuhi rongga hidung pemuda itu saat sang ibu berbisik tepat di kupingnya, "Yudistira jadi nggak suka cewek semenjak keseringan bergaul sama Tito."
Bima tergelak lagi, melirik Yudistira yang tetap anteng dengan deretan keyboard-nya. "Yut, mama ghibahin lo, nih."
Di tempatnya, Yudistira mengerjap beberapa kali saat sang ibu menempeleng kepala Bima dengan serokan.
***
Bima memarkirkan motor sport-nya di halaman rumah Aluna, lantas turun untuk mencopot helm-nya, menaruhnya di atas tank motor.
Sebelum melangkah memasuki rumah, Bima berkaca pada spion motor seraya merapihkan gaya rambutnya. Sudah ganteng. Dewa batinnya berdecak kagum. Lantas mengusap ubun-ubunnya beberapa kali. Bekas tempelengan di kepalanya terasa lumayan sakit. Mungkin besok akan muncul sebuah benjolan di sana. Ah, biarkan saja selagi tak membuat kepalanya terlihat peyang.
Oke, masa bodoh masalah kepala. Sekarang ia harus datang mememui sang kekasih untuk membujuknya agar tak marah lagi. Bima tahu, Aluna sedang tidak dalam kondisi baik saat ini. Tempo hari, gadis itu terdengar sangat kecewa saat memakinya lewat telepon, saat tiba-tiba ia membatalkan rencana kencan mereka, saat tiba-tiba ia menyuruh Yudistira untuk menggantikannya menjemput sang kekasih sepulang kerja.
Bima sadar bahwa itu merupakan sebuah kesalahan, sehingga ia harus datang untuk menghapus kekesalan sang kekasih. Segera ia mengambil ponselnya dari balik saku, lantas mengetikan sebuah pesan untuk sang kekasih.
To : Mbak Bulan
-Aku di depan rumah kamu, Lun.
Bima berdiri mematung, menyandarkan bokongnya di depan motor sport kesayangannya selagi menunggu balasan pesan dari Aluna. Memang benar, hubungannya dengan Aluna sudah berlangsung sejak dua tahun lamanya. Bahkan, Bima tak perlu merasa sungkan untuk sekadar main slonong memasuki rumah tanpa permisi—kasarnya begitu. Toh, keluarga Aluna cukup hangat, terlebih menerima kehadiran Bima di tengah-tengah mereka. Sayangnya, untuk malam ini Bima tak berani muncul secara tiba-tiba di hadapan Aluna. Ia perlu memastikan apakah sang kekasih masih sudi melihatnya atau justru tidak. Melalui pesan tadi, Bima akan mengetahui jawaban itu secepatnya.
Sesaat sebelum membuka kunci layar ponselnya, secara tak sengaja Bima melihat jendela kamar Aluna-di lantai dua-dengan gorden yang menyingkap. Gadis itu mengintip di baliknya, mereka saling berbicara dengan bahasa tubuh.
"Bim, masuk saja!" Aluna menggunakan jari telunjuknya sebagai isyarat. Bima mengernyit, mencerna setiap gerik Aluna dalam remangnya cahaya malam. "Ma-suk! Ka-mu ma-suk le-wat pin-tu de-pan!" Aluna mengeja setiap kata yang keluar dari bibirnya, memperjelas maksud hatinya kendati Bima hanya melongo bingung.
"Aku?" Bima menunjuk dirinya sendiri.
"Padahal tinggal keluar apa susahnya, sih, Maemunah!" umpat Bima sepelan mungkin. Bertolak belakang dengan raut wajahnya yang justru tersenyum manis pada si gadis.
Aluna mengangguk polos. Untung saja tak mengetahui umpatan Bima.
Lantas Bima menyeret tungkainya untuk melangkah masuk menemui sang kekasih saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Aluna muncul di balik layar. Bima terkekeh seraya menatap gadisnya yang kini melambai tangan ke arahnya. "Halo?" sapa Bima yang malah mematung di bawah kokohnya pendopo rumah.
"Tunggu di luar saja, Bim. Aku yang keluar."
"Oh, tadinya aku mau ijin dulu sama orangtua kamu."
"Tenang, aku udah ijin ke mereka. Sekarang mereka sedang pergi keluar."
Bima mengangguk-anggukan kepala. "Oke. Aku tunggu di luar. Dandan yang cantik, ya, tuan puteri," rayu Bima seraya terkekeh di tempatnya. Pipi Aluna bersemu merah andai gelap malam tak menutup ronanya. Bima tersenyum dari kejauhan, tangan kanannya melempar ciuman ke udara yang lantas ditangkap dengan sigap oleh Aluna.
Dasar b***k cinta!