Pandangan Pertama
Pagi yang menyenangkan di hari libur aku masih berkutat dengan pekerjaan kantor, memang aku lebih senang menghabiskan waktu dengan bekerja dari pada melakukan hal yang gak penting.
Ketika masih sibuk dengan laptopku, nada dering handphone mengusik konsentrasiku.
"Hallo ... Bro, jangan lupa ntar malem kita ada pesta di rumah Angga ya." Suara dari sebrang mengingatkan.
"Oke ... ntar gue bakal dateng, thanks." tanpa basa basi aku langsung memutuskan panggilan sepihak.
Aku Regan Prince Mahendra putra ketiga dari pasangan Bramantyo Mahendra dan Tamara Mahendra, seorang pengusaha properti diberbagai negara. Kakak pertamaku lelaki dan perempuan, mereka sudah berkeluarga. Hanya aku yang masih betah melajang, bukan karena tidak laku aku masih belum menemukan sosok perempuan yang aku impikan.
Hari menjelang malam aku bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan rekan kerja sesama pengusaha properti, keluargaku mengenal baik dengan keluarga rekan kerjaku karna ternyata orang tuaku dan orang tua rekan kerjaku berteman semasa sekolah dulu.
Sesampainya di tempat acara sudah banyak orang yang hadir begitu ramai, keluargaku disambut dengan hangat oleh tuan rumah.
"Selamat malam, Bram" sambut tuan rumah dengan pelukan.
"Selamat malam, Tyo" sapa papaku.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, kamu apa kabar?"
"Ya, aku juga bahagia bisa bertemu denganmu, Tyo. aku baik dan sama seperti dulu, tetap awet muda dan kuat hahaha"
"Kau memang tetap seperti dulu tidak pernah berubah ya, ayo kita masuk ke dalam"
Rumah besar yang didesain dengan konsep gedung pernikahan sangat mewah seperti acara pernikahan seorang bangsawan, dengan kehadiran para undangan dari berbagai negara dan koleganya. Aku yang tidak terlalu suka keramaian akhirnya menepi mencari tempat sepi di samping rumah yang terdapat taman berukuran luas dengan berbagai macam lampu hias memperindah suasana taman.
Ketika ada pelayan yang menawarkan minuman, aku mengambil salah satu minuman yang sedikit beralkohol untuk menemani acara yang membosankan bagiku. Aku mainkan ponsel dan mendial nomor sahabatku yang merangkap menjadi sekretarisku.
"Lo di mana? Gue udah di lokasi, so boring."
"Sorry ... Gue gak bisa hadir, ngedadak ada urusan lain, Boss"
"Alesan aja, Lo"
"Udah ya, gue masih sibuk nih, nikmatin aja acaranya, Boss"
Sedikit kesal aku menutup ponsel. Dari kejauhan aku melihat samar-samar beberapa gadis yang sedang mengobrol dan tertawa riang. Aku melihat satu gadis diantaranya yang sangat mempesona, dia bergaun softgreen warna favoritku.
Aku beranjak untuk mendekat agar bisa melihat lebih jelas gadis yang membuatku tergerak untuk sekadar memandangnya sepersekian detik berganti menit aku tak bosan melihat gadis itu bicara sampai tertawa dengan teman-temannya.
Wajah cantik dengan sedikit polesan membuatnya terlihat natural, lama kupandangi gadis itu ternyata dia sempat melihatku. Aku masih tetap mencuri pandang ketika dia tidak melihatku. Sungguh aku begitu mengaguminya, membuatku penasaran dengannya.